Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN * " Raga ini Masih Bernyawa "


__ADS_3

Bab 2


Pak Kyai Tubagus Ahmad Satibi yang berkiprah menjabat sebagai ketua dewan penasihat di Ponpes Turus, menyampaikan sebuah masukan berupa solusi untuk Santriwati yang di anggap telah membuat sebuah pelanggaran di bidang Akhlak.


" Anakku., engkau telah berbuat khilaf, ketika hafalan muratal mu mendadak menghilang tidak ada di dalam ingatanmu, itu artinya sejumlah Ayat-ayat suci yang erat hubungannya dengan kalimat yang telah engkau ucapkan itulah yang membuat ayat-ayat suci itu merasa tidak pantas untuk tinggal diam di dalam jiwa dan ragamu, renungkan dan telaah ucapanku ini."


Demikian wejangan untuk para Santriwati yang sengaja di hadirkan khusus untuk membahas dan mencari solusi setiap permasalahan baik itu masalah yang datangnya dari penyebab yang di sengaja maupun tidak.


Kejadian itu di Pandeglang, tempat para pencari ilmu Agama Islam, di ujung Jawa Barat, bagian barat dari pulau Jawa.


Kota Serang, Pandeglang dan Rangkas Bitung.


Tiga kabupaten yang menjadi tempat para pencari ilmu sengaja datang kesana.


Khusus kota Serang, di pelosok mana saja. seperti di Kasemen Taktakan maupun bagian kota lainnya terutama di wilayah yang mengarah ke Banten lama, tempat Prasasti peninggalan kerajaan Sultan Hasanudin.


Disana bertebaran Pesantren yang menempuh cara pengelolaannya tidak mengutamakan Administrasi sebagaimana umumnya di sebuah pusat pendidikan.


Ciri-ciri dari Ponpes semacam itu, yang pertama, Para Santri tidak di pungut biaya administrasi pendaftaran, selanjutnya, tidak di kenakan biaya bulanan. Apalagi yang namanya uang sumbangan Bangunan, uang seragam dan uang ***** bengek lainnya. Semua itu tidak ada.


Lantas para pendidiknya atau Kyai nya makan apa ?


Mereka masih makan nasi plus lauk pauk, di tambah sambal berikut lalapannya, malah ada plus satunya lagi yaitu Ngudud. Alias merokok.


khusus yang satu ini tidak putus, di saat berhenti, selalu dalam waktu yang tidak terlalu lama, ketika jalan lagi, malah lebih kencang dari sebelumnya.


Terlihat ketika mengeluarkan asap lewat lubang hidungnya begitu laju bagaikan asap pada cerobong pabrik.


Mengadopsi istilah anak remaja, adegan seperti itu mereka sebut Gaspol...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩ...


Kembali ke Haruki yang belum usai memberi pengarahan kepada Aji tentang bagaimana kriteria pendamping yang sepatutnya akan menyertainya pergi ke Brazil yang ada sisa waktu hanya tinggal dua pekan lagi itu.


" Aji Sohib gua yang paling baik gak ada duanya, Luh jangan salah, dengan suara yang barusan bikin Luh manggut-manggut macam burung pelatuk yang lagi ngantuk aja tadi gua lihat." Dan lanjutnya lagi...,


"Suara yang Luh dengar itu bukan dari TV, tapi suara asli langsung dari orang yang mengaji, kalau Luh bilang merdu itu pasti, artinya tidak sia-sia upaya yang berhasil dari polesan," Papar Haruki.


" maksudnya bukan di acara Televisi begitu kah Ruki? jadi suara yang mengaji tadi, itu langsung suara dari orang yang mengaji.? Subhanallah." Semakin terkagum-kagum Aji di buatnya.


"Suara itu hasil dari tujuh kali malam Jum'at menjalankan pemeliharaan saluran suara, yang membaca surat-surat pendek dari Al-Qur'an tadi,


Dia itu telah menjalani pemeliharaan pita suara dengan cara di Gurah, oleh cairan hasil perasaan daun dan akar dari pohon yang bernama Singugu, atau bisa juga oleh air Jeruk Nipis." Pungkas nya.


" Oowwh...ya Ruki, aku pernah mendengarnya, bahkan pernah lihat di Ponpes waktu aku ikutan jadi Santri Kalong, ( sebutan bagi Santri yang hanya malam hari mereka datang untuk belajar Agama ).


" kenapa Luh menolak, takut ya.?" Ujar Haruki.


" Jujur waktu itu aku takut, ketika melihat begitu selesai di masukkan cairan melalui lubang hidung dengan posisi wajah tengadah ke atas, cairan itu dari akar dan daun pohon Singugu.


Hanya dalam hitungan menit, orang yang di Gurah itu mengeluarkan air mata, sebagaimana layaknya orang sedang menangis, menyusul kemudian keluar dari kedua lubang hidungnya cairan yang mulanya encer seperti air, di susul oleh lelehan ingus yang masih encer.


Beberapa menit kemudian keluar perlahan tapi terus menerus, sebesar pangkal lidi. Berwarna bening yang tidak lain dari lelehan ingus.


Ujung ingus yang jatuh perlahan itu pun sudah menyentuh tanah, pada posisi jongkok dari orang yang sedang di Gurah tersebut.


Lelehan itu tidak putus, bahkan diameternya semakin membesar seukuran sedotan air sirup suguhan di Restoran, terus keluar dengan perlahan, sejurus kemudian mulailah keluar ingus yang kental dan berwarna ke kuningan, ada diantara lelehan itu, beberapa centimeter, terlihat bintik-bintik berwarna kehitaman.


Proses tersebut sudah berjalan tiga jam, namun cairan kental itu belum ada tanda-tanda berkurang, apalagi habis.

__ADS_1


Sedangkan saat proses Gurah itu di mulai tepat pada pukul 00:00 hari Jum'at." Aji berkisah, dengan mendapatkan perhatian serius dari Haruki.


" Ketakutan Luh beralasan Bro, dan bagus. Kalau Luh beraninya tanggung-tanggung, bisa fatal akibatnya, karena rasa takut macam yang Luh alami, pernah terjadi, ada orang yang mengalaminya, gua melihatnya langsung.


Kayaknya dia memaksakan diri, bisa saja oleh karena bujukan teman-temannya.


ketika proses baru berjalan beberapa menit saja, orang itu tidak kuat oleh rasa sakit yang katanya, nggak bisa ditahannya.


Konon sakitnya mirip dengan ketika kita sedang makan, lantas bersin. Butiran nasi masuk ke Hidung apalagi kalau yang masuk itu biji cabe.


Kejadian seperti itu akan tertolong hanya dengan cara di Bangsringkan, kalau untuk kondisi bersin ketika makan, bagus saja.


Tapi kalau akibat oleh proses masuk cairan sarana gurah. Malah tidak akan selesai dengan cara seperti itu.


Justru kalau di Bangsringkan apalagi dengan keras, maka darah yang akan keluar dari hidung.


Yang lebih tidak di inginkan lagi, kotoran yang semestinya keluar perlahan berupa lelehan ingus akan berhenti samasekali, dan ujung-ujungnya mengakibatkan suara malahan menjadi rusak, dan kotoran akan tetap tinggal di dalam sarana THT, itu akan menimbulkan rasa gatal yang tidak terperikan.


Yang niat semula ingin membaguskan suara, ujung-ujungnya suara nya malah jadi pecah. Mirip suara Seekor Domba Garut.


Luh bayangkan kalau kejadian itu luh yang mengalaminya, Gila..! Sahabat Gua, Domba Garut...he...he..he..." Haruki tertawa hingga ngekek.


" Ini orang, hasil blasteran Jepang dengan Serang, Banten. Menghasilkan orang semacam ini ? " Gumam Aji sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, tanda takjub.


Bukan kepada yang bersangkutan, tapi lebih condong kepada yang telah menciptakannya.


Luar biasa kalau yang maha berkehendak, dengan sifatnya yang Kun Fayakun. Yang harus terjadi atas kehendaknya maka Terjadi lah dia atas kehendaknya


Dia lah maha menciptakan, yang ada di Mayapada. yang di akui oleh maharaja yang pernah mengaku dirinya sebagai Tuhan. Yang sanggup menghidupkan dan mematikan dengan caranya yang sungguh tidak mencerminkan Ketuhanannya. Pada akhir kematiannya dia mengatakan...." Sungguh Tuhannya Musa adalah Tuhan....."

__ADS_1


__ADS_2