
Bab 1
Desa Rumingkang, Kabupaten Pandeglang Banten. Di kaki gunung Karang, ke arah sana Aji dan Shinta menuju, tetapi beberapa kilometer sebelum ke tempat tujuan, mereka akan meminta turun.
Posisi tepatnya rumah makan Goyang Lidah ini berada di sebelah kanan Jalan utama menuju ke jurusan Labuan. Tepatnya di ujung Jembatan Rumingkang.
...ΩΩΩΩΩΩΩ...
Masih terlintas dalam ingatannya di pekan yang lalu, calon suaminya yang bernama Budi Andika mengajaknya mampir kesini dan menikmati makan siang di rumah makan yang berkesan sederhana ini.
Kental sekali dengan ciri kedaerahan, dengan dinding bangunan Bilik dan tiang Bambu, beratap daun pohon Sagu, separuh dari bangunan terebut dari tengah bangunan hingga ke bagian belakang berada di atas sungai yang mengalir air bening di bawahnya.
Bagi pengunjung yang sudah berulang kali berkunjung kesana, dengan sengaja membawa serta peralatan memancing, dan berkunjungnya kesana malam hari, di sungai itu masih terdapat banyak ikan jenis Lele.
Nilai lebih dari Rumah makan ini ketimbang lainnya yang berada di sekitarnya, suasana bersih adalah prioritas utamanya.
Dengan hidangan khas kota Pandeglang Banten seperti : Angeun Lada , Rabeg, Pepes Gurih, juga ada Mamangut yang bahan utamanya dari kembang buah melinjo dan kulitnya, dan banyak lagi selain dari itu.
Ada menu andalan dari Rumah makan ini. Adalah nasi Gunjleng, mungkin saja ada di daerah lain makanan yang hampir sama dengan nasi Gunjleng ini, namun cita rasa dari rempah dan Bumbu yang di racik oleh tangan yang sudah puluhan tahun dalam menangani masakan khas Pandeglang, Banten.
Di topang oleh bahan utama untuk masakannya, yang hanya tumbuh di Gunung Karang saja, konon hingga saat ini, belum terdengar ada yang berhasil untuk membudidayakan tanaman tersebut, yaitu daun" Solempat ", kalau di buat pepes nasi gurih, lantas di sisipkan daun yang bernama Walang. Dijamin rasanya akan Joss melejoss.
Aroma khas nya dari Daun itu, yang mengangkat nama dan membuat Rumah makan Goyang Lidah mampu menyedot para pengunjung baik yang kebetulan lewat ataupun yang sengaja datang setelah mendapat cerita dari orang yang pernah berkunjung kesana.
Kalau Sambal Daun Honje, bukan menu Andalan Di Rumah makan ini. Tapi sambal itu juga tetap di sediakan, sebagai menu pelengkap..
Seakan mereka kepincut dan terkena " Pelet " nya Rumah makan Goyang Lidah, padahal pemiliknya mengatakan;
" Demi Allah SWT dan Rasulnya, di sini tidak ada menggunakan cara-cara yang di haramkan oleh Agama yang saya anut, yakni, Islam.
Agama Rahmatan lil alamiin." Pungkas pemilik rumah makan tersebut kepada para pengunjung yang menanyakan perihal kunci sukses dan keberhasilan dalam usaha kulinernya ini.
Rumah makan Goyang Lidah memegang teguh kesan kedaerahan juga dalam hal pelayanan, tidak sampai berlama-lama-lama menunda rasa lapar pengunjungnya.
Dan dalam hal pelayanan pun, tidak tertinggal oleh restoran lain yang banyak bertebaran hampir di tiap belokan pada jalan utama menuju Labuan.
⚓⚓⚓
__ADS_1
" Pak Sopir, saya turun di Goyang Lidah !" Suara Shinta dengan lantangnya.
Demi mendengar suara permintaan penumpangnya, sopir pun dengan sigapnya mengurangi laju kendaraannya dan menghentikannya percis di Seberang restoran yang di maksudkan oleh Shinta.
" Terima kasih pak Sopir !" Ucap Shinta. Yang di balas oleh Sopir dengan Anggukan kepala sambil berkata," Iya sama-sama. Hati-hati menyeberang nya Neng !" Jawab Sopir sembari menjalankan kembali Bus nya.
Dari tempatnya berdiri, Shinta melihat dengan jelas spanduk bertuliskan " Rumah makan Goyang Lidah Rumingkang ".
Jelas terlihat, dengan ukuran sedang, hurufnya sederhana dan berkesan tidak ada campur tangan Seni, sederhana namun jelas terbaca.
Sesuai dengan namanya, nyata, jelas terlihat oleh kasat mata nama restoran itu. Melebihi jumlah hitungan Jari tangan dan kaki, jumlah pengunjung yang datang kesana, dalam setiap harinya.
Konon menurut banyak cerita, atau pun hari ini Aji dan Shinta melihat langsung, berapa banyak jumlah pengunjungnya.
Bukan tanpa alasan, konon siapapun yang pernah merasakan masakan yang terhidang dari hasil olahan tangan Juru masak merangkap pemiliknya yang bernama Ibu Gemoy. Cenderung pengunjung akan datang kembali kesana untuk menggoyang Lidahnya mengunyah makanan yang terhidang disana.
Shinta dan Aji berdiri beberapa saat sambil mengawasi situasi jalan raya yang sangat padat oleh laju kendaraan yang menuju jurusan Labuan, mungkin saja tujuan dari banyak orang yang berkendaraan saat itu, mereka mau mengunjungi obyek wisata Tanjung Lesung.
Penantian untuk redanya jumlah kendaraan yang menuju banyak obyek wisata ke jurusan labuan, dan yang searah. Diantaranya pantai Karang Bolong, dan pantai pasir putih "Florida".
Mungkin atas dasar untuk tidak berlama-lama berdiri di pinggir jalan, dengan spontan Aji meraih pergelangan tangan Shinta, dan menghelanya untuk menyeberangi jalan raya yang cukup rapat jarak di antara bagian depan sebuah kendaraan dengan belakang mobil yang ada di depannya.
Sekarang mereka sudah berada di seberang dengan selamat, dan langsung berjalan menuju halaman rumah makan Goyang Lidah untuk kemudian mereka mulai memasuki pintunya.
Setelah mendapatkan ucapan, " Terima kasih telah berkunjung ke Restoran Goyang Lidah," yang terlontar lewat lisan petugas di bagian penerima tamu.
Mereka berdua mulai memasuki ruangan dalam dari Restoran itu. Dengan di pandu oleh pekerja bagian melayani untuk menunjukkan tempat yang pengunjung inginkan.
Belum banyak pengunjung yang datang, membuat Shinta dan Aji bisa dengan leluasa untuk memilih tempat yang enak bagi mereka untuk menikmati makanan dan juga enak untuk bercakap-cakap.
Sengaja Shinta memilih tempat duduk lesehan dan di bagian belakang Restoran, dengan penghalang pagar bambu setinggi setengah meter, hingga penglihatan bebas ke aliran air sungai yang bening bersih dengan riak kecilnya.
" Panorama yang membuat sejuk pandangan," desahnya lirih, namun terdengar oleh Aji, yang langsung menanggapi, " Teh Shinta pecinta keindahan juga ya !" Sela Aji.
Shinta menanggapinya dengan senyum kecil, namun mampu membuat lesung Pipit pada kedua pipinya timbul.
" Wahai lukisan alam yang nampak semakin indah perpaduan antara sungai yang mengalir di teriknya mentari siang dengan lesung Pipit , terasa menjadi teduh.
__ADS_1
Hampir seperempat Jam Aji memperhatikan aliran air sungai sebening air isi ulang yang bisa menggoda untuk menikmatinya mandi berenang di sana. Tidak terlihat sampah plastik atau barang yang sejenis itu yang lumrah di temui di sungai yang ada di kota-kota besar.
⚓⚓⚓
Bagi Shinta yang berkunjung entah untuk ke berapa kalinya ke restoran itu, untuk kesekian kali pula merasakan semua menu yang di hidangkan terasa cocok di lidahnya, tidak dia hiraukan rumor yang beredar santer di medsos tentang Berita miring Restoran " Goyang Lidah".
Hal itu dia sempat dia bicarakan ditempat mereka duduk sekarang, sambil menikmati pemandangan jernihnya air yang mengalir di bawah tempat yang mereka duduki.
" Bagiku persetan dengan rumor itu semua, aku datang kesini, duduk manis, lantas pesan makanan yang ku sukai, yang ku pesan datang, Tancap!... Sudah tentu dengan berdoa terlebih dahulu." Tegasnya kepada Aji.
" Kok sama ya Teh ?! Kebiasaanku juga seperti itu." sambut Aji.
" Ngomong-ngomong. Tuh makanan pesanan kita datang." Tukas Shinta..." Kau kan laki-laki, Khalifah bukan ? ayo Aji kau yang berdoa!" tegas Shinta. "
" Siap Teh!" Jawabnya.
" yang khusyuk ya!" Pinta Shinta.
" Insya Allah..," dengan.membaca Basmallah terlebih dahulu, Aji mulai membacakan Doa sesuai permintaan Shinta.
" Bismillah, Allahumma janibna syaitan, wa Janibna Syaitan maa Rozaqtana." Selesai pungkas Aji. Dan lanjutnya, " kok nggak mengaminkan ?" tanya Aji seperti terheran-heran.
Akan tetapi, balasan Shinta terhadap pertanyaan itu bukan dengan jawaban, tapi pandangannya mengarah langsung ke bola mata Aji, sementara tangannya dimasukkannya kedalam tas jinjingnya sambil meraba-raba mencari sesuatu. Setelah didapatkan apa yang dicarinya itu.
Sebuah benda seperti kartu nama yang rapi dengan laminating, sudah berada pada genggamannya, dan.....
" Naaa.. Kal kau ya !" sembari dilontarkannya kartu yang tidak lain dari Tanda keanggotaan Aji di kesatuan Pelaut Indonesia miliknya itu ke bagian dadanya, padahal dia mencarinya, sempat merasa kehilangan malah membuatnya menyerah, dan berniat akan mengurusnya ke kantor KPI di Cikini Jakarta pusat.
Dia merasa heran kenapa kartun itu berada di tangan Shinta ?.
" Dasar Pelaut ! Awas kau ..akan ku jewer kuping kau itu ..." Shinta terlihat gemas. Sambil mengambil ancang-ancang mau menjewer. Walau sebetulnya dia merasa geli, dan ditahannya rasa ingin tertawa itu sejak Aji mulai membaca doa.
Yang pada akhirnya bobol juga pertahanannya untuk dia tidak tertawa." Cling !.... Deretan gigi depannya yang putih dan rata itu pun tampak, berlindung di balik bibirnya yang ranum merah merekah.
Beruntung Shinta bertemu Aji saat ini. Yang sudah berada di level " Pegangan Hidup ". Jadi Shinta boleh merasa aman. Coba kalau bertemunya di Lima apalagi di Sepuluh Tahun yang lalu. Saat Aji berada di level " Pandangan Hidup " ( baru memandang sudah Hidup ). Akan apa jadinya ?......mana di sana hanya mereka berdua, pengunjung lain belum terlihat ada yang menempati lesehan di dekat mereka.......
"
__ADS_1