Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
" GARIS TANGAN * " Spekulasi "


__ADS_3

Bab 1


Tinggal beberapa ratus meter lagi dia akan tiba ke tempat yang dituju, yaitu kediaman Haruki Gawa San.


Perjalanan terus berlanjut, hanya berselang beberapa menit saja Kendaraan yang di pergunakan nya, telah tiba dan langsung masuk ke halaman depan Rumah dan di terasnya terlihat sedang berdiri seorang laki-laki yang tidak lain dari Tuan rumah yang sengaja akan di temuinya.


Mungkin sudah bawaan sejak lahir, dia tidak diam berdiri atau duduk manis di kursi, entah sudah berapa kali orang itu bolak-balik dari teras ke ruangan. Kemudian, hanya berseling beberapa detik saja, sudah kembali kakinya melangkah ke teras.


Tidak ada yang membuatnya kesal atau dirinya merasa ilfill kepada seseorang misalnya, murni ini sudah gaya sekaligus menjadi ciri khas nya.


Seperti gaya seorang centeng di legenda Betawi, dimana para Centeng sedang menjalankan jaga malamnya, alias Shift Malam, maka gerakan mondar -mandir seperti setrikaan itu sudah menjadi suatu kebiasaan dari mereka.


Haruki terlihat sedang berdiri tidak jauh dari tangga di ujung teras, bagian dari teras yang pasti akan dilalui oleh siapapun yang datang dan, untuk kali ini Aji yang datang.


Melihat Haruki dengan gelagatnya seperti sedang ada masalah, Aji tidak berani coba-coba untuk


menggodanya dengan ucapan.


Aji melewati lelaki itu dengan mengucapkan Salam, terlebih dahulu, lantas melintas di hadapannya dengan berjalan hampir membungkuk sebagaimana sikap seorang abdi dalem di Kraton sebuah kerajaan yang sering di perlihatkan pada layar kaca Televisi, dalam program acara dengan Thema " Seni dan Budaya Bangsa".


Dengan suara yang jelas dan lantang, seorang narator menuturkan riwayat berdirinya salah sebuah Kerajaan dari beberapa yang ada di tanah Pasundan.


Adegan demi adegan yang di lakukan oleh pemeran adegan dengan menggambarkan bagaimana para keluarga Kerajaan memperlakukan, para dayang dan Abdi dalam kerajaan.


Sikap Aji yang dibuatnya sedemikian rupa seakan Haruki seorang putra mahkota dari sebuah kerajaan, dan Aji adalah seorang Abdi dalam Kerajaan itu.


Dengan langkah yang terbungkuk, dia langsung duduk di salah satu kursi di beranda dan fokus arah pandangnya ke lantai, dengan bibir tertutup rapat


Berhasil membuat Sohibnya tergelitik ingin tertawa


"Pintar juga si Aji ini bikin lelucon," Batinnya, hingga dia tidak dapat menahan keinginannya untuk tidak tertawa


" Ha..,ha...,ha...Seorang calon TKI yang akan terbang jauh ke Brazil, untuk menjadi tukang kebun disana.


Memang boleh kemampuan Akting Luh Ji..! Di sana Luh bisa naik peringkat, jadi pemain sinetron. Udah ah ! berdiri Luh Ji..! Gak lucu tahu?!" Tanggap Haruki tapi gelak tawa nya masih membahana.


Membuat Aji turut tergelak-gelak, bukan di sebabkan ulahnya yang mungkin di anggap oleh Haruki lucu, tapi perkataan yang terlontar, " Tidak lucu " dari Haruki, akan tetapi tertawa hingga terpingkal-pingkal.


" Assalaamu Alaikum ." Kata Haruki, yang baru menyadari, kalau mereka baru saling bertemu lagi.


" Wa'alaikum salam warahmatullahi wa barokatuh ," jawab Aji, dan," Subhanallah, yang baru pulang dari Banten, jadi ada bawaan Sultan Hasanudin nya ya ?"


" Bukan di bawa tapi ngikut, he..,he..,he." Jawab Haruki, sambil menepuk-nepuk pundak sohibnya.

__ADS_1


Suasana pun menjadi tidak kaku seperti tadi mereka baru bertemu.


Walau sikap Haruki masih seperti Centeng di Zaman nya Abang Jampang yang legendaris itu, hanya saja Haruki tampil tanpa sebilah Golok di pinggangnya.


" Kapan datang dari Serang dan bagaimana Khabar keluarga Mamie di sana Ki ?!" Tanya Aji.


" Alhamdulillah Ji, semua sehat-sehat saja, tidak ada yang sakit serius, kalau keluhan sakit Flu sih tidak dianggap sakit oleh mereka. Itulah kelebihan orang yang hidup di pedesaan. Mungkin tadinya mereka paksakan, tapi akhirnya jadi kebiasaan." Haruki berhenti sejenak untuk kemudian melanjutkannya.


" Ada satu yang tidak bagus dari kebiasaan mereka itu, Luh tahu nggak apa itu?" Haruki bertanya seakan memberi Aji sebuah tebakan.


" Kasih tahu saja lah Ki ! Emangnya kalau aku bisa menebaknya kau kasih aku Hadiah?" Jawab Aji dengan berkilah.


" Sebentar, pasti di kasih tahu. Nggak buru-buru kan.? Emangnya mau kemana ?" Seloroh Haruki.


" Cepat sedikit kenapa, kau kan tahu, aku mau menemui Ronaldinho, kasihan takut dia kesal nungguin kami." Papar Aji berseloroh.


" Nengok siapa tadi?.. Luh bilang Ronaldin ho-oh ya Ji! Ha...ha..ha, Awas Luh , jangan tenang-tenang, Luh harus tetap waspada, siap dengan jurus silat luh dari Cimande, ntar di jitak kepala Luh ma si Alfonzo."


" Kenapa dengan Alfonzo, kenal saja belum?! orang sana gak seperti orang kita Ruki. mereka lebih memilih jalur Hukum" Jawab Aji.


" Ya bener yang Luh bilang, tapi ini beda kasus, kalau dia kagak terima, Luh yang duluan ngambil kue Bakpao, yang sengaja dia diemin biar mateng, eh.. Begitu Mateng Luh yang nyamber ! Kepikir gak ma Luh Ji...kalau luh di posisi dia?" Papar Haruki lebih jauh.


" Haruki San, banyak berasumsi, aku sih Husnuldon saja tuh sama dia " Jawab Aji enteng, dan lanjutnya lagi, " BTW , mana jawaban tebakan yang tadi ?" Aji penasaran.


" Itu, yang Haruki San bilang Orang Ndeso!"


" Ooo yang itu ? Penasaran Luh ya Ji..!


Iya..., mereka tuh kalau baru sakit-sakit dikit sih gak mereka gubris, beberapa orang saudara Mamie gua seperti begitu, katanya sih masuk angin doang, sambil dia gerak-gerakin badannya gaya orang lagi senam...Tahu-tahu, selang sehari doang, gak pake lama tuh.


Di Mesjid ada suara pengumuman melalui pengeras suara. Ina lillahi wa Inna ilaihi rodziun, telah berpulang ke Rahmatullah saudara kita ( di sebutkan namanya ).


Baru kemarin senam-senam di depan gua Ji.., yang di sebut di Pengumuman itu, dia tuh yang Meniho."


Papar Haruki, ada terbersit perasaan terharu, terlihat di raut wajahnya.


Konon yang tadi dia sebut Meniho, itu adalah Pamannya, adik sepupu dari Mamienya. Tapi hubungannya cukup erat dengan keluarga Mamienya.


" Ngomong-ngomong jam berapa Luh pada berangkat, di jadwal keberangkatan yang tertulis di E- Tiket nya.?


" Di sini ditulis pukul 18:16 Wib."


" Gua sarankan Luh harus sudah ada di sana dua jam sebelum jadwal keberangkatan, memang kagak pernah gua ngalamin, mungkin luh yang lebih hafal yang sering pakai jasa penerbangan, gua kagak pernah ngalamin namanya jam berangkat di majukan, yang sering itu, mundur." Papar Haruki.

__ADS_1


" Ini hari Sabtu, belum terlalu ramai, nanti kalau sudah lewat dari jam 6 Sore, itu mengerikan, macetnya jangan di sebutkan ya Ruki!" Timpal Aji.


" Luh kira - kira aja sendiri, kalau yang gua tahu, 90 menit dari sini tanpa ngebut. Sudah cukup waktu." Ujar Haruki lagi.


" Mel.., akhirnya jadi juga Luh pergi ke sana ya?, Ji.. Nih adik Gua yang terobsesi, untuk melihat Patung Jesus di Rio De Janeiro langsung, bukan dari tayangan siaran Televisi." Haruki berucap dengan semangat.


" Alhamdulillah Abang berdua sangat baik buat Mel, hingga aku sekarang akan menggapai apa yang aku impikan sejak lama, kepingin lihat Patung itu di tempatnya berdiri, Bang !" Ujar Melindari serius.


Syahdan mereka bertiga bertolak menuju Bandara Soekarno - Hatta dengan terlebih dahulu memeriksa kembali seluruh barang bawaannya, jangan sampai ada yang tertinggal.


" Kali ini, biar gua yang nyetir, anggap aja gua nih sopir Luh Ji."


" Serius nih Ki ?" Timpal Aji, nanti di pelud Soetta bagaimana.?"


" Gimana, apanya yang bagaimana ?" Tanya Haruki belum faham


" Bagaimana? Kan kalau sopir suka tolong ngangkat tas juga Kopor bawaan Majikannya." Sela Aji.


" Itu kan sopir beneran, kalau sopir bohongan kayak gua begini mah kagak atuh Broo ! Ha.., ha ., ha." Sambil tersipu, merasa hampir terjebak oleh pernyataannya sendiri.


Haruki sebagai Sopir Grab dadakan menurut versinya. Dengan cekatan mengatur kecepatan, untuk agar tiba ketempat tujuan tepat waktu.


" Menurut Luh pada, gimana dengan gua jadi sopir Grab ini, pantes kagak.?" Tanyanya dengan senyum khasnya Haruki. Tapi dengan nada serius.


" Pas banget dah! Kalau diumpamakan masakan, tidak usah ditambahin penyedap lagi. Mantul dah Ki ! Ya kan Mel.?" Sahut Aji.


" Gerrr...." Suara tawa mereka bertiga membahana, setelah Melindari mengatakan ," Setuju " dengan pernyataan Aji.


Ketiganya tenggelam dalam suasana gembira, dan kegembiraan itu akan terus berlanjut kalau saja tidak ada bunyi dering nada panggil pada telepon genggam nya Aji.


Dia hafal nomor Ponsel itu, demi melihat dan membaca pesan singkat yang dia baca berulang ulang dari ponsel si pengirim, mendadak sontak roman wajahnya terlihat berubah.


Menunjukkan bahwa dirinya bukan pemeran sandiwara apalagi sebagai pemain watak.


Dirinya hanya insan biasa yang belum mempunyai kesanggupan untuk menepis manakala sesuatu yang menurut anggapannya itu sesuatu yang istimewa, walau kejadian nya sekilas untuk bisa luput dari perhatian dua orang yang berada di dekatnya.


Beruntung baginya, karena mereka berdua sedang Asyik dengan kegiatannya masing-,masing.


Haruki yang sedang Fokus dengan kondisi yang luar prediksinya.semula., bahwa jalanan tidak akan seramai ini.


Ternyata dugaannya keliru dan meleset, sementara Melindari sedang menerima panggilan dari entah siapa, karena sebelum dia melakukan pembicaraan nya, beberapa saat sebelumnya terdengar suara panggilan, dia lihat sejenak dan bergumam lirih tapi terdengar di telinga Aji yang duduk di jok depan.


" Salah sambung, lagu lama !" Melindari menggerutu.

__ADS_1


Dan langsung senyap. Pertanda dia telah mematikan HP nya, mengakhiri panggilan dari seseorang yang salah sambung tersebut.


__ADS_2