
Bab 3
Josette yang tidak pernah berkunjung ke Negri yang menyandang nama Indonesia, namun seolah dirinya pernah tinggal di Indonesia, bahkan bisa jadi dia yang lebih tahu banyak tentang Indonesia ketimbang orang Indonesianya sendiri.
Bagaimana tidak di katakan seperti itu?. Ketika obyek pembicaraan dengan Aji di satu kesempatan dalam perbincangan ringan.
Disebutkannya berapa jumlah penduduk di Indonesia keseluruhan saat itu, dan peningkatan populasi penduduknya dari tahun ke tahun, juga jumlah suku bangsa yang ada di Indonesia.
Belum lagi kekayaan alam yang terkandung di dasar tanah di seluruh daratan maupun lautan di sana juga Flora dan Fauna yang terdapat di Hutan Lindungnya.
Salah satu yang disebutkannya di dalam obyek perbincangan saat itu, adalah binatang Reptil raksasa yang ada di pulau Komodo.
Yang di ditenggarai mempunyai karakter dan bentuk fisik yang cenderung menyerupai kesamaan dengan Binatang yang pernah ada dan hidup di Zaman purbakala.
Susah untuk dipercaya, kalau tidak mendengar langsung segala penuturan Wanita itu. Yang tidak tahu bahkan pernah berkunjung ke Indonesia, apalagi tinggal di sana.
Dia menguraikan kepada Aji bagaimana halnya akan binatang dengan sebutan Komodo, atau tentang Pulau Dewata Bali dengan keanekaragaman perbedaan Suku dan kepercayaan juga keunikannya, termasuk kehidupan Beragamanya.
Oleh sebab itu, Aji merasa tidak perlu untuk mengingatkan apalagi memesan fasilitas kenyamanan selama tinggal di Brazil nanti untuk sepekan kedepan, karena dia yakin Josette telah menyediakannya untuk keperluan itu semua.
Tidak lain, semua dilakukannya. Demi untuk tidak terhambatnya semua aktivitas yang akan mereka lakukan bersama. Yakni terciptanya kerjasama di antara mereka.
Juga demi tercapainya sebuah tujuan yang untuk sementara ini, hanya Josette dan calon suaminya saja yang tahu.
Apa dan kenapa begitu besar niat mereka untuk mengundang sekaligus menghadirkan Aji di Resepsi pernikahan mereka, dengan bersusah payah berani berkorban dengan tidak menghitung berapa jumlah Biaya yang harus di keluarkan nya.
Sangat wajar kalau di dalam pemikiran Aji, timbul sebuah pertanyaan, namun diredam nya pertanyaan tersebut, karena dia yakin jawabannya pasti ada, hanya saja memerlukan kesabaran tingkat Dewa, karena dia yakin Josette seorang pemain Catur yang Handal.
Bidak yang mana yang saat ini ada di papan catur di hadapannya akan dia jalankan. Kalaupun jalan, kearah mana, juga untuk tujuan apa di jalankan ke satu arah tersebut.
Aji tahu percis siapa Wanita dengan nama Josette, dia bukan type orang yang licik, malah jauh dari sifat tersebut, tapi dia " Smart ". Kata dengan empat huruf itu kesan Aji akan Josette.
Yang lebih mengundang rasa penasaran ingin tahu dari benak Aji, ada motif apa di balik semua yang Josette dan Alfonzo perbuat atas dirinya.
Yang lebih mengundang rasa heran melebihi perasaan lainnya yang sempat membuatnya sedikit ada perasaan curiga.
Di dalam acara ini dia dilibatkan untuk menjadi bagian dari upacara tersebut yang nantinya pasti akan berbaur dengan kedua anggota keluarga dari mempelai.
" Sebuah kehormatan kah ini ?" Demikian ungkapan suara hatinya, " mudah-mudahan ini bukan suatu bagian dari sebuah rencana yang tidak baik." seperti itu lah celoteh di dalam batinnya.
__ADS_1
Sambil mengangkat tangan dan kemudian mengusap wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya yang tadi dia angkat tinggi-tinggi mengungkapkan sebuah permintaan berupa Do'a kepada Robb nya yang dia sembah dan dia yakini henya kepadanya lah dia berlindung dan juga tempatnya meminta pertolongan.
Perihal kenapa mereka berdua memajukan waktu untuk peresmian pernikahannya, tidak ada yang tahu apa alasan pastinya termasuk Aji.
Adapun Josette memberi info kepadanya sekadar bayangan berupa kisi-kisinya saja
Saat ini kondisi dirinya bagaikan seseorang yang sedang menghadapi ujian pada akhir semester di perkuliahannya.
Dengan mendapat bocoran berupa kisi-kisi saja untuk menjawab soal-soal pada kertas yang ada di hadapannya sekarang. Sepatutnya kalau dirinya harus sudah merasa bersyukur.
Khusus untuk Melindari bilamana di satu saat, baik itu besok, maupun lusa, yang pasti lain hari tapi kedepan.
Ketika dia tahu hal yang hingga saat ini masih berupa sebuah teka-teki yang hanya sebab kondisi, yang dia yakin satu saat itu akan tiba, Josette mengatakan kepadanya.
Melindari yang mau tidak mau, saat ini sudah masuk kedalam kancah permasalahan yang sedang di hadapi oleh Aji dan Josette.
Kendati kehadiran Melindari disana di luar rencana dan kehendaknya. Semua terjadi sebagai sebuah Takdir yang sedang di jalaninya.
Aji yang sedang mengikuti kemana pikirannya menjelajah itupun di ikutinya, hingga tanpa di sadarinya lampu penerangan di ruangan kabin sudah berganti dengan penerangan untuk suasana istirahat.
Kru Kabin pesawat berjalan mengitari penumpang untuk memastikan mereka sudah beristirahat.
Begitu tidak ditemukannya satu orangpun dari penumpang yang di laluinya membutuhkan uluran tangannya, maka Pramugari itu pun berlalu dari sana untuk kembali ke stasiun tempatnya bersiaga, untuk selanjutnya menanti setiap saat manakala mendapat panggilan dari penumpang yang membutuhkan uluran tangannya.
* Di Keheningan Malam.
Malam itu berlanjut dengan tidak ada satu pun kejadian yang istimewa.
Seluruh penumpang terlena di dalam tidur lelapnya, dalam mimpi indahnya masing-masing.
Aji melihat Melindari sudah bangun lebih awal darinya dan sedang melaksanakan wudhu Tayamum, apalagi kalau bukan untuk melakukan shalat wajib Subuh yang sebentar lagi akan dilaksanakannya.
Ketika dia melihat Aji terbangun, dia tetap fokus menyelesaikan lebih dahulu wudhu Tayamumnya. Untuk kemudian menyapa Aji dengan uluk salam, dengan mendapat jawaban " Wa Alaikum Salam Warahmatullahi wa barokatuhu ." Dari Aji.
Senyum keduanya yang saling berbalas itu pun,
mengawali waktu Subuh yang ceria bagi mereka berdua.
Aji melakukan hal yang sama dengan yang Melindari perbuat.
__ADS_1
Kondisinya kali ini tidak memungkinkan bagi mereka untuk melakukan Shalat Wajib Subuh dengan berjamaah. Sebagaimana yang biasa mereka lakukan di setiap saat bilamana kebetulan mereka berjumpa.
Sebagaimana di malam sebelum keberangkatan nya saat ini.
Dalam hal melaksanakan peribadatannya, Aji yang senantiasa di saksikan sendiri olehnya, lelaki itu Tampak begitu teliti dan berusaha dengan penuh ke hati- hatian, dalam melaksanakan nya.
Seperti tadi malam, begitu posisi pesawatnya baru saja sudah dalam posisi badan pesawat dalam penerbangan yang sempurna.
Terlihat oleh pandangan matanya, Aji sedang menanyakan sesuatu kepada salah seorang pramugara Pesawat, terlihat oleh Melindari dari jarak yang lumayan jauh, tampaknya lelaki itu sedang menanyakan perihal melaksanakan ibadah Shalat di Pesawat.
Karena dilihatnya Aji menggerakkan tangannya mengisyaratkan gerakan takbiratul ihram.
Setelah Aji kembali ke tempat duduknya serta Merta dia menyampaikan seluruh hasil perbincangannya dengan Pramugara Pesawat tadi.
Tanpa menunggu Melindari bertanya kepadanya terlebih dahulu.
" Melin, nanti kita melaksanakan shalat wajib Dzuhur dengan tidak berjamaah ya.?" Katanya., " Kita Jamak dengan shalat Ashar dan di Qashar, tadi aku tanya juga kepada Pramugara yang bertugas, nanti juga bakal ada pemberitahuan di Channel khusus, ada juga di buku panduan penerbangan, untuk melihat jadwal waktunya pelaksanaan Shalat wajib" Papar Aji.
Di waktu Subuh ini, mereka berdua melaksanakannya seperti yang mereka telah lakukan tadi malam.
Karena mereka ada dasar pendidikan Agama dari kedua orang tuanya masing-masing, maka. Di ibaratkan dengan Mobil yang sedang melaju pesat di jalan bebas hambatan, ketika mobil tersebut di kemudikan oleh seorang Sopir yang dasarnya asli memang Sopir, begitu mobil yang dikendarainya melenceng keluar dari jalur, hingga Bannya mengeluarkan suara yang lumayan nyaring. Seperti suara ban yang menggilas hamparan kerikil.
Sehingga Sopir yang tadi telah terserang oleh rasa kantuk yang luar biasa sekalipun, dia cepat tersadar dan sesegera mungkin. Mengurangi laju kendaraan nya, untuk kemudian di hentikan nya mobil terdebut.
Dan bersegera dengan sigapnya, dia kembalikan posisi Mobilnya ke posisi semula, dan Mobil pun kembali melaju seperti asal mulanya.
Seperti itulah mungkin Melindari yang sekarang, ibarat sebuah kendaraan yang sedang melaju di jalan bebas hambatan, dalam meneruskan perjalanan hidupnya, merajut masa depannya.
Handuk kecil dari bahan Spons yang lunak, hangat, lunak juga lembut bagian lembab dan wangi aroma bunga.
Di bagikan oleh Pramugari bertugas melaksanakan nya.
Kini pagi hari yang cerah, sedang menampakkan bias sinar mentarinya, pelindung jendela yang bukan porsinya untuk memutuskan kapan boleh mulai bertindak untuk membukanya.
Harus ada konfirmasi, dari kapten pesawat untuk melakukan sebuah perbuatan yang sekiranya punya berpotensi mengganggu system navigasi pesawat." Seperti itulah pemaparan Aji, kepada Melindari.
Mendadak sontak Aji tersenyum yang di arahkannya kepada Melindari.
Ada muncul sebuah gagasan di dalam benaknya untuk sekadar menghargai Melindari, supaya tidak merasa jenuh dalam penerbangan terjauh nya.
__ADS_1