
Bab 1
Brazil, Salah satu Negara dengan populasi penduduk yang terus meningkat dan terdiri dari beragam etnis, menurut yang Josette ketahui langsung dari riset yang dilakukannya.
Dengan mendata dari kasus per kasus di tempat tinggal orang tuanya saat ini, yaitu. Santos.
Hasil yang di dapatnya melalui data dari sarana 'Medsos', juga melalui referensi mantan teman sejawatnya, saat dia masih bekerja sebagai Asisten dari salah seorang Dokter di Rumah sakit umum Negri, Santos.
Hasil yang di dapatnya berdasarkan penelitian dari beberapa sisi, kenyataan mengatakan, disana belum setaraf dengan negara berkembang lainnya, yang jumlah mayoritas penduduknya toleran dan mau menerima korban kejadian seperti yang akan dialaminya.
Hal itu pasti akan dia rasakan langsung bukan atas dasar teori diatas kertas sekarang. Akan tetapi nanti pasca melahirkan.
Sikap masyarakat yang seyogianya, mau menerima dengan rasa penuh empati atau memaklumi kemudian merangkul, bahkan melupakan kejadian yang jelas-jelas bukan kehendak dari korban, seperti yang terjadi pada dirinya.
Terbayang di dalam benaknya, bila nanti saatnya tiba.
Seluruh keluarga besar calon suaminya hadir dan bertemu dengan pihak keluarga orang tuanya sebagai calon besan, untuk merencanakan hari besar perayaan pernikahan putra-putri mereka.
kedapatan sang calon mempelai wanitanya sudah berbadan dua.
"Nak Aji, di makan kudapannya, yang sederhana ala Desa." Kata ibu Sarinah yang keluar dari ruang dalam rumahnya.
Sengaja datang untuk menyambangi Aji yang dia anggap sebagai tamu yang sepatutnya dia hormati.
" Mohon maaf ya nak Aji, kalau ibu belum bisa menerima tamu sebagaimana mestinya." Ucapnya lagi untuk kemudian dia pamit kembali meninggalkan Aji dengan terlebih dahulu berkata.
" Maaf nak Aji, ibu pamit untuk melihat nak Shinta," yang di jawab oleh Aji dengan
" Tidak apa-apa Ibu, silahkan. Mangga Bae." Jawab Aji dengan menggunakan bahasa setempat.
Ibu Sarinah pun berlalu, pergi meninggalkan Aji yang kembali meneruskan menikmati makanan khas Cimanuk yang ibu Sarinah suguhkan, yaitu, kue 'Apem'.
Sempat Aji memperhatikan saat ibu Sarinah menemuinya sepintas, dengan kondisi hampir seluruh baju kebaya yang dikenakannya basah bersimbah keringat padahal udara di sekitarnya saat itu lumayan dingin, oleh gerimis yang belum juga reda.
Aji penikmat keindahan. Momen ibu yang relatif masih terbilang muda, malah sedang segar-segarnya dengan bentuk badan yang sintal, dipadu dengan kulit yang kuning langsat, alami.
Mungkin di saat mudanya, ibu Ini kembang Desa Cimanuk.
Sedang asyik-asyiknya dia merajut bayangan tentang kembang desa di dalam imaginasinya, sekonyong-konyong muncul Shinta dari dalam rumah ibu Sarinah, seperti munculnya ibu Sarinah tadi yang sempat membuatnya terkaget-kaget.
Karena kebetulan pikirannya saat itu, sedang menerawang jauh ketempat yang hanya bisa ditempuh dengan moda transport Pesawat Udara.
Untuk kagetnya yang kali ini, imaginasinya sedang menerawang jauh ke masa lalu, dimana Ibu Sarinah masih muda dan sebaya dengan dirinya saat ini.
" Assalaamu alaikum, " tegur Shinta, yang tidak langsung mendapat jawaban dari Aji, kembali di ulangnya teguran dengan salam oleh Shinta. Untuk kedua kalinya yang belum juga Aji membalasnya.
Setelah Shinta mengambil ancang-ancang akan mengucapkan salam untuk yang ketiga kalinya.
Aji menoleh terlebih dahulu kepada Shinta yang berdiri terpana menyaksikan Aji yang belum pulih fokusnya.
__ADS_1
Shinta tidak akan menyangka apa yang saat ini membuat Aji, hingga jiwanya seperti tidak ada di dalam raganya.
Sesaat kemudian." Wa Alaikum salam, warahmatullahi wa barokatuh " Jawab Aji kemudian, walau terlambat.
" Lama ya menunggu.?" Ucap Shinta.
" Lumayan, tapi masih mendingan daripada Lumanyun !?" Balasnya ditambah sedikit kelakar.
" Aji, pintar juga bercanda ya!?" Tanggap Shinta.
" Ya, sedikit "
" Kok jawabannya irit amat sih ?" tegur Shinta.
" Sengaja di irit. Kan perjalanannya masih jauh." jawab Aji sekenanya.
" Gak bisa di oplos emangnya ?" Tanya Shinta, meladeni.
" Tidak ah.! Takut rusak mesinnya." Aji meladeni.
" Jadi ke mesin larinya ?" Tanya Shinta, serius tidak faham, tapi membuatnya ingin tertawa, walaupun dia belum faham betul, perasaan tersebut ditahannya. Dia tak menginginkan di katakan oleh Aji SKSD ( sok kenal sok dekat )
" Aji., Aku baru saja dapat telepon dari kang Budhi, bahwasanya, pesawat yang ditumpanginya menunda penerbangan. Tadi sempat terbang dan keliling satu putaran di atas Angkasa pelabuhan Udara, untuk kemudian kembali lagi ke landasan.
Dinyatakan tidak dapat melanjutkan penerbangan dalam waktu yang belum bisa dipastikan.
Perusahaan penerbangan bertanggung jawab untuk para penumpangnya, dengan di sediakan nya sarana menginap di Hotel yang masih berada di sekitar area lapangan udara Halim Perdana Kusuma.
Untuk kemungkinan di selenggarakan keberangkatan ulang, sewaktu-waktu akan di beritahukan melalui management Hotel, untuk kemudian diteruskan kepada penumpang yang di inapkan sementara di sana.
" Jadi bagaimana dengan rencana Teh Shinta, dengan kondisi seperti ini Teh ?" Aji bertanya dan di biarkannya Shinta yang berfikir, harus bagaimana dalam mencari solusi yang terbaik.
Menurut hematnya, ini perjalanannya Shinta. Maka dibiarkannya dia yang memutuskan. Walau sebenarnya dia punya buah fikiran yang dia perkirakan yang terbaik.
Karena dia lebih tahu kapan Kendaraan umum yang mengangkut penumpang dari arah Labuan menuju Jakarta. Juga yang dari Merak dengan tujuan yang sama, Jakarta.
" Kalau kemungkinan besok perusahaan penerbangan sudah siap untuk memfasilitasi penumpangnya dengan pesawat cadangan misalnya, itu artinya kita harus berada di Halim Perdana Kusuma besok pagi." Ujar Shinta.
" Sudah hampir petang begini, kita masih di Cimanuk, Teh Shinta !" Jawab Aji.
" Dini hari kita berangkat dari Serang. Bukan dari Pandeglang. " Ucap Shinta.
" Kalau untuk tujuan ke Serang, masih bisa kita kejar, karena ada mobil omprengan yang narik muatan hingga tengah malam," Jawab Aji.
" Tidak ada lagi Bus yang dari Labuan ke Jakarta ?"
" Sudah tidak ada, kita harus ke Jakarta sekarang kah Teh?" Tanya Aji.
" Aku rasa tidak harus seperti itu juga Ji,. Hey !... Aku ada ide kita ke Serang saja, ada adikku yang tinggal disana Jawab Shinta.
__ADS_1
" Tapi, bagaimana mungkin di malam-malam begini, aku harus pergi ke sana sendirian, kalau aku datang kesana dengan mengajak kau, itu hal yang tidak mungkin juga.
Adikku pasti akan panjang lebar bertanya tentang siapa kau dan banyak lagi pertanyaan." Tegas Shinta.
" Kalau aku ada usul, boleh Teh ?" Ujar Aji.
" Usul apa tuh, silahkan saja."
" Usulku yaitu,.. Kalau kita jemput Fitrie, dan kalau sudah sampai ke tempat kediamannya, kita ajak saja dia untuk nginap di Serang."
" Memang segampang itu, kau mengajak anak gadis orang malam-malam begini."
" Kalau keluarganya menanyakan tentang teteh, bilang saja kepada mereka, Teteh dari Bandung, adiknya Mamaku, beres bukan ?" Aji begitu antusias.
" Kita berbohong? lantas dosanya siapa yang nanggung ?" tanya Shinta, sungguhan. Dengan tanpa ada jawaban sepatah kata pun dari Aji, selain ," No Komen Teh !" Ujar Aji lagi.
" Kalau begitu l, tunggu apa lagi.., Ayo kita harus segera bertindak, waktunya sudah sangat mepet.
Maka, mereka pun berangkat. Berlomba dengan waktu, demi untuk jangan sampai terlalu malam tiba di rumah Fitrie, dengan harapan, Orang Tuanya memberi izin putrinya untuk di ajak menginap di Serang. bukan di tempat orang lain , tapi di tempat tinggal adiknya Shinta.
...*****...
Ada sebuah bingkisan kecil yang harus disampaikan dari Anggie kakak perempuannya Aji yang tinggal di Jakarta, menitipkan kepada Aji sesuatu untuk Ibunda mereka di Pandeglang.
Setelah mereka berdua pamit kepada ibu Sarinah, kembali mereka menggunakan jasa Ojek untuk minta diantarkan ke jalan raya, perempatan Batu Bantar. Tempat mereka menyetop mobil angkutan umum yang tujuannya ke Pandeglang.
Akhirnya mereka tiba di jalan raya, hari mulai menginjak ke waktu petang.
Dari sana dengan menggunakan tumpangan Angkutan Kota, yang sering berhenti di hampir setiap mulut jalan ke Perumahan. Membuahkan keterlambatan.
Saat waktu salat magrib mereka baru tiba di perempatan Alun-alun kota Pandeglang. Sopir Angkutan Kota itu tidak mau membelokkan arah ke kiri padahal tempat orang tua Aji yang dia akan datangi hanya berjarak kurang lebih Lima puluh meter saja dari perempatan Alun-alun tersebut.
" Mobilnya mau pulang Kandang, Om !" seru sang Sopir. Tanpa mau diajak untuk berkompromi, padahal Aji mengatakan, akan menambah ongkosnya, namun Sang Sopir tidak bergeming dengan pendiriannya, sementara, curah Hujan yang turun bertambah lebat.
Aji Hafal dengan perempatan itu. Yang di kenal dengan sebutan Perempatan ' Mang Saliman ', hanya karena dari semenjak Aji masih kanak-kanak, atau mungkin sebelum lahir. Pedagang yang berjualan di perempatan itu bernama Pak Saliman.
Hingga Aji sudah bekerja sebagai Pelaut dan berlayar, dengan melewati perjalanan usia. Telah lulus dari sekolah perguruan tinggi pelayaran.
Mang Saliman yang Informal telah di nobatkan oleh Masyarakat di kota itu, sebagai pemilik perempatan.
Saat ini, dia temukan masih berjualan disana, walau sudah diturunkan kepada generasi berikutnya, yaitu putra-putri beliau.
Aji kenal baik dengan putra putrinya pak Saliman yang lebih di kenal dengan sebutan 'Mang Saliman'. Tersebut.
Hujan yang mengguyur permukaan bumi ,dengan lebatnya saat itu, membuat Aji berlari kecil untuk ikut berteduh pada emperan di warung mang Saliman.
Dalam pencahayaan lampu yang tidak begitu terang, penunggu yang ada di dalam warung itu, dari sejak awal kedatangan dua orang yang berlari kecil untuk kemudian numpang berteduh.
Seakan menjadi perhatiannya. Berulang kali penjaga warung tersebut melihat sekilas dan mencuri pandang kearah Aji berdiri.....dia seorang wanita yang usianya berkisar tiga atau empat tahun lebih muda dari Aji....
__ADS_1