Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN * " Hidup yang Nyata "


__ADS_3

Bab 2


Seusai berbelanja keperluan untuk Melindari, mereka segera pulang, karena Aji punya rencana akan menemui Fitrie di kediamannya, dengan tujuan memberitahu akan keberangkatannya lusa, kalau mendapat pertanyaan apapun dari Fitrie, dia akan mengatakan apa adanya.


Begitu juga dalam perihal kepergiannya kesana dengan siapa, juga dia akan mengatakan yang sebenarnya, bukan terpaksa karena disana ada twin Mae, yang bisa dipastikan Fitrie sudah tahu, bahwa dia berangkat ke sana dengan siapa.


Terbayang kejadian yang dahulu membuatnya sempat nelangsa, sekarang dirinya kembali tersudutkan oleh pilihan yang sama-sama memberatkan.


Mengajak Fitrie pergi kesana itu hal yang seratus persen mustahil, juga hal yang tidak dia kehendaki kalau dia harus pergi sendiri tanpa pendamping.


Untuk pergi dengan sembarang wanita yang bisa saja di dapatkannya dari Medsos, namun dirinya belum ada kesanggupan untuk berbuat sejauh itu.


Takut nanti akan timbul fitnah yang bisa saja akan berakhir dengan penyesalan.


Bukan tidak terfikir kan olehnya, apa yang bakal dia hadapi di kediaman Fitrie.


La Haula wala Quwwata illa billahil Aliyyil Adzim.


Biarlah apapun yang akan terjadi di hadapannya dia akan terima, yang terburuk sekalipun baginya, kalau itu adalah kehendak Allah SWT


Di sepanjang perjalanan menuju pulang, kembali mereka membahas rencana perjalanan yang pastinya sangat menarik, terutama bagi Melindari.


Meskipun pergi keluar negri kali ini bukanlah yang pertamakali baginya, tapi tujuan yang sekarang lain lagi ceritanya, karena dia belum pernah kesana.


Dulu waktu masih menyandang nama Susan, pernah ada seorang " Oboss " yang kesengsem olehnya, malah lebih dari sekadar kesengsem, boleh dikatakan tergila-gila.


" Itu si Oboss Pungky ! , kalau Ama gua bergendak nya udah tinggal kolor doang gua bikin." Ujar teman satu sanggarnya, ketika mereka bercengkrama.


Memang yang mereka sebut Oboss itu seorang lelaki paruh baya yang setiap datang ke sanggar hanya untuk menyambangi Susan.


Kedatangannya yang senantiasa di sertai dua orang berbadan kekar, yang selalu mengiringi kemana sang Oboss pergi.


Sang Oboss yang hafal kalau Mamie Meyriska dengan sanggarnya yang memegang Motto :


" Melatih yang belum tahu untuk menjadi tahu, nanti kedepannya agar bisa melebihi dari yang sudah tahu, nantinya bukan sekadar tahu."


Di suatu hari, sanggar si Mamie Ney kedatangan tiga wanita muda yang tidak berlebihan kalau di katakan usianya tidak melebihi angka 18.


Kebetulan Haruki sedang berkunjung ke sanggar itu.


" Berapa usiamu mbak Syantik ?" Sapa Meyriska kepada wanita yang terlihat paling muda diantara mereka bertiga.


" 17 Tahun Bu " jawab Wanita yang terlihat lebih dewasa.


" Hush.. Ibu.!!. kapan Mamie kawin sama bapakmu, panggil Mamie ya..?" Sahut Meyriska pura-pura ngambek..." Lagian Mamie tanya dia tuh, bukan kamu " Sahut Meyriska lagi sambil jemari lentiknya menunjuk kearah anak perempuan yang paling belia.


" Dia gak akan menjawab Mie..! Dia adikku, baru 17 tahun, belum pernah pergi jauh dari kampung, aku yang bujuk dia untuk ikut kesini." Jawab kakaknya dengan lancar.


" Nah.., kamu sendiri berapa tahun usiamu.?! Dan ini yang satu lagi siapa kamu ?" Tanya Meyriska bergaya seorang penyidik, sedang menginterogasi pesakitan.


" Dia tetangga ku Mie." jawab Wanita bernama Lucy, " Adikku namanya Liza," Paparnya lebih lanjut.


" Kalau yang satu itu, wajahnya lain sendiri, tidak mirip kamu juga adikmu.?!" Tanya Meyriska lagi.


" Oo itu tetanggaku namanya Markonah, itu di KTP nya, tapi biasa di panggil hari-hari ..Onah Mie !"

__ADS_1


" kalian semua akan Mamie tanya satu persatu, Mamie ingin kejelasan, siapa dan dari mana asal kalian dan untuk tujuan apa kalian datang yang tadi kamu bilang sengaja datang kemari." Papar Meyriska.


Meyriska mendadak berbinar dan bersuka-cita, terbayang di dalam benaknya, dan berkata di dalam hatinya." Memang kalau rezeki itu tidak akan pergi kemana, kalau sudah saatnya mau datang..?nyamperin sendiri tanpa di cari ! Hi...hi..hi." Celoteh Meyriska di dalam hatinya.


Meyriska tersenyum tipis tanpa terlihat oleh siapapun, di pandangnya wanita pedesaan yang tidak menyadari mereka sedang berada dimana, dan yang dihadapannya siapa.


Mereka tidak mengerti, sedang berada di belantara Ibu kota.


Dimana telah berlaku Hukum Rimba, yang lemah akan menjadi korban kekejaman dari mereka yang kuat dan cerdik bahkan licik.


Sudah terbayang oleh Meyriska, anak remaja ini akan di sulapnya menjadi wanita yang memancarkan daya tarik yang akan memberi warna semarak di White Horse.


Sanggar miliknya ini akan di sulap menjadi yang terpopuler, dengan kehadiran dua pendatang Baru kembang desa.


Di akui Mamie Mey yang lembut, Dimata mereka dan sebagai induk semang yang luar biasa super bijaksana dan dekat hubungan kekeluargaannya dengan mereka.


Namun, bukan Mamie Mey kalau tidak bisa melihat siapapun wanita yang datang kepadanya, entah dengan ilmu apa, beberapa kali dia mengeluarkan sebuah pernyataan.


Matanya yang jeli, sudah hafal bahkan yakin, bahwa yang namanya Lucy, bukan anak kemarin dan pernah tahu di bidang Hiburan " Cinta sebatas Dompet " itu.


"Dia Anak baru?, iya baru disini, di sono mah Elo Lurahnya, he..he.. Emang Gua bisa Luh Kadalin ?! Gumam batinnya Meyriska.


Maka Pernyataan itu hampir tidak pernah meleset.


Diwaktu yang lainnya, setelah ketiganya istirahat dan bersedia untuk tinggal selama tiga hari dalam proses, untuk bisa tinggal di sanggar White Horse.


Barang tiga hari atau lebih.


Mereka bertiga mengatakan kepada Meyriska.


" Ya sudah kalian bertiga untuk sementara tinggal disini sampai Mamie tahu percis apa kamu layak atau tidak, untuk tinggal disini." Ujar Meyriska


" Terimakasih ya Mie..!" Jawab ketiganya serempak.


" Mbok Yem...! , tolong kemari..." Teriak Meyriska lantang.


" Ya ..nya...! Ini mbok datang, ada apa toh nya.?"


" ini keponakanku mau berlibur disini.. Tolong antarkan mereka ke kamarnya, kan ada yang kosong yang ada tempat tidur tiga." Papar Meyriska.


" Baik nya.." Jawab di mbok.


Mereka pun berlalu dari hadapan Meyriska.


Setelah hitungan hari ketiga mereka menginap tanpa mengerjakan kegiatan apapun, tibalah saatnya Meyriska akan memberi edukasi yang biasa disebutnya " Guidance and Cunsoling " konon sesi ini lah yang bakal menentukan untuk pendatang yang ingin bergabung dengan rekan-rekan yang sudah lebih dulu ada disana.


Di luluskan kah atau tidak, karena saat penantian hasil uji kelayakan ini seperti Audisi peserta dalam ajang pemilihan di sebuah ajang pencari bakat.


Mereka masih tinggal di tempat itu, Justru situasi seperti itu membuat mereka yang berharap untuk di terima menjadi berdegup kencang jantungnya.


Tegang serasa ingin pipis tapi begitu masuk ke Toilet tidak bisa pipis.


Di tahap Guidance and Cunsoling ini, tanpa dipungut biaya satu rupiah pun. Termasuk menginap Tiga hari di sanggar.


Itulah kelebihan White Horse di bandingkan dengan sanggar yang berada di kiri kanannya.

__ADS_1


Selesai dengan sesi tanya jawab berkisar pertanyaan seputar tempat dan tanggal lahir, anak keberapa dari jumlah keluarga, latar belakang pendidikan, termasuk penyakit yang pernah di idap berikut riwayat penyakit. yang terakhir adalah sesi dimana Meyriska akan mengatakan, " Kalau saya YESS !" atau " No ! ".


Kalau evaluasi si calon yang tidak masuk kategori berhasil, mestinya di calon di nyatakan gagal dan terkena diskualifikasi.


Namun pada versi Meyriska, tidak seperti itu, yang lolos atau tidak pada sesi ini, pada akhirnya tetap di anggap masuk.


Yang dianggap oleh Meyriska perlu untuk mengikuti seleksi dan wajib Evaluasi adalah Lucy.


"Kalau Liza tidak usah mengikuti evaluasi akhir lagi, kemarin Mamie mendengar dengan tidak sengaja Liza sedang di Toilet..terdengar oleh Mamie bunyinya begitu nyaring mirip bunyi tukan kue Putu.. Cuwiiiitt. Cisss....Ciss kecepis...kecepis ..!! Hi..hi..hi.


Itu sudah Cukup membuat Mamie yaqin se yaqin yaqin nya..liza masih baru keluar dari dealer." Papar si Mamie sambil tertawa lepas.


Tetapi apakah memang benar Liza dan Onah seperti penampilan mereka, bukan Naif yang pura-pura?" Batin Meyriska., menimbulkan ide mendadak dalam benaknya.


sambil melipatkan telunjuk dengan ibu jarinya berupa Simbol " Sarang Heo ", di susul oleh seringai gigi caling nya saja yang nampak.


Dipanggilnya ketiga wanita itu. Dan di suruh nya untuk duduk di luar kamar yang merangkap ruang administrasi juga berfungsi sebagai ruangan khusus ketika dia menerima tamu resminya.


" Liza...! ayo masuk, yang lain tetap tinggal di luar." seru Meyriska dari dalam ruangan kantornya.Dan masuklah wanita muda tersebut.


" Masuk Liza... Jangan sungkan, tadi kan sudah ngobrol-ngobrol dengan Mamie di ruang lain, di sini lain lagi Evaluasinya ya Sayang.." Dengan nada lembutnya Mamie Mey.


" Ya Mie..!" Jawab Liza, mulai bersikap tenang.


" Ayo masuk, dan tutup Pintunya Liza.."


" Baik Mie.." Sahut Liza dengan santainya duduk di kursinya Rotan yang lumayan bagus.


" Nama kamu Liza.. Sudah punya KTP belum ? Seharusnya sih sudah, kan umurmu 17 Tahun." masih dengan suara yang bijak dan lembut.


" Oo..ya Bu....eh Mie !" seru Liza gugup.


" Mamie ingin tanya sama kamu, apakah kamu tahu, sedang ada dimana kamu sekarang .?"


" Tahu Mie dari teteh Lucy." Jawab Liza.


" Kalau tahu, kenapa kamu mau tinggal di Sina ?"


" Kalau sudah tahu, apakah kamu masih mau untuk tinggal disini ?" Tanya Meyriska dengan nada penuh kelembutan.


" Aku Mie ..aku...aku.." tidak dilanjutkannya, dia terdiam dan berurai air matanya.


Di diamkannya wanita muda itu dalam suasana terenyuh nya, Meyriska mengambil beberapa lembar kertas tissue dari atas meja di hadapannya dan di berikan nya kepada Liza.


Meyriska menghadapinya dengan penuh kesabaran,


didiamkan nya suasana melodius itu berlangsung.


Sementara dirinya membuka-buka konten miliknya di HP yang adab dalam genggamannya


Dengan penuh kesabaran, gaya seorang " Mamasan" yang sudah cukup mumpuni ilmu Ke masakan nya.


Nampak pada penampilannya yang penuh kesabaran sebagaimana seorang Mamie yang mengayomi anak-anak asuhnya.


Konon yang dahulu datang ke padanya dengan membawa hati yang luka, di sanggar White Horse binaannya inilah, mereka menemukan dan mendapatkan pemulihan Jiwa nya.

__ADS_1


Memang telah terbukti, terjadi pada sebuah kejadian nyata, beberapa wanita yang sudah pergi dari sana, keluar sebagai Alumni sanggar, sekarang mereka berbahagia dengan pasangannya yang berasal dari kalangan orang baik-baik.


__ADS_2