Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN * " Mata yang Terbuka "


__ADS_3

Bab 2


Bukan sebuah opini yang bisa berkembang menjadi polemik, semua cerita tentang seorang Pramugari yang di sampaikan kepada Aji dan Melindari. Tapi Penuturan langsung dari pelakon asli sebagai seorang Pramugari, yang statusnya saat ini adalah


Mantan wanita terdekatnya.


" Aji., semua yang Gua ceritakan ke Luh tuh, ini bukan cerita plagiat dari sebuah kisah Fiktif, gua kasih cerita buat Luh berdua, tentang bagaimana suka dan dukanya mereka. Supaya Luh menghargai mereka, lagian gua percaya ma Luh Ji, Luh lelaki sejati yang menghargai kaum wanita." Pungkas Haruki saat tadi sebelum Aji dan Melindari masih sedang dalam ruang tunggu untuk saatnya nanti masuk ke dalam pesawat.


Aji maupun Melindari menanggapi saran dan usulan Haruki, mereka menganggapnya saran tersebut hal yang tidak berlebihan.


Haruki mempunyai penilaian khusus terhadap wanita yang berprofesi sebagai Pramugari, kendati banyak penilaian yang agak miring, dia tidak peduli dengan semua tanggapan negatif terhadap wanita yang mengemban tugasnya sebagai Pramugari.


Bukan karena alasan dirinya pernah dekat dengan salah seorang dari mereka, tapi lebih tepat kalau dia menyebut dirinya bukan orang yang bersikap Diskriminatif terhadap profesi.


Dia menilai personal juga terhadap profesi. Seperti itulah argumen yang dikemukakannya kepada Aji, ketika dia menghadapi kejadian Hubungan asmaranya akan kandas dan kenyataannya berakhir. dengan tanpa berujung konflik.


Pertemuan yang tanpa direncanakan, berbuah asmara di udara. Saat itu dia sering pulang dan pergi ke luar negri, terutama ke tempat yang erat kaitannya dengan komoditi usaha yang di jalankan oleh Ayahnya di bidang otomotif, Jepang dan Singapore.


" Aji., ada Raja sehari semalam, ada yang hanya dua jam, bahkan ada Raja yang tidak lebih dari Lima puluh menit saja.


Hingga kalimat tersebut, Aji belum faham makna perkataan yang terlontar dari lisan Haruki. Tapi untuk menunjukkan kepada sahabatnya itu, bahwa dirinya ada animo menyimak isi penuturan sohibnya tersebut.


" Yang kau maksud jadi Raja itu kau sendiri, atau orang lain Ruki.?" Tanya nya


" Gua Ji, gua itu.! Itulah cerminan akan kedudukan, status, dan yang setara dengan semua itu. Adalah fana, alias sementara, tidak ada yang abadi." jawab Haruki.


Maksud Haruki bercerita tentang seperti apa pelayanan terbaik yang diterima oleh penumpang yang mendapat pelayanan maksimal dari para pramugari semua itu berjalan biasa, bahkan tidak ada sesuatu yang istimewa.


Biasa-biasa saja, menurut penilaian Aji pun, selama dirinya sering pulang pergi dengan memakai jasa angkutan penerbangan.


Adapun penilaian yang sering di dengarnya baik di medsos maupun cerita yang terlontar di kalangan pebisnis sukses yang sering pergi ke luar negri,


Mereka menceritakan sisi negatif dari penyandang profesi sebagai Pramugari, tapi baik Aji maupun Haruki. Tidak satupun dari mereka mempercayai cerita yang mereka nilai negatif itu.


" Biarlah Anjing menggonggong khafilah tetap berlalu." itu semboyan yang mereka berdua pegang teguh.


...************...


Di awali oleh kegiatan yang dilakukan oleh para awak pesawat, dengan melayani penumpang yang menempati kursi di urutan paling depan yang lazim di sebut kelas VIV. Sebetulnya ada lagi kelas yang lebih atas lagi, yakni Eksekutif.

__ADS_1


Kelas itu ditawarkan oleh Josette kepadanya, ketika dia menanyakan dengan siapa Aji akan pergi berangkat. namun Aji menolaknya dengan caranya yang elegant, membuat Josette tidak membahasnya lebih jauh lagi.


Kegiatan melayani penumpang mulai berlangsung di mulai dari tempat Aji dan Josette kemudian ke kelas bisnis dan selanjutnya ke bagian Buritan pesawat yaitu kelas Ekonomi.


 Ada rasa nyaman ketika menduduki kursinya dan menikmati pelayanan dari para pramugari, dan di ruangan yang di lengkapi dengan pasilitas berbagai macam perlengkapan hiburan pula, disana tersedia juga alat bantu untuk mengoperasikan peralatan hiburan sebagai sarana yang tersedia, berupa pelayanan maksimal bagi para penumpang yang duduk menempati kursi di ruangan VIP tersebut. " Bukan main!" komentarnya singkat.


Baru kali ini dia merasakan naik pesawat dengan tiket untuk kelas VIP.


Selama dia berkarier sebagai pelaut dan sudah lebih dari seratus kali naik pesawat dari bermacam perusahaan penerbangan.


Semua atas biaya dari perusahaan pelayaran, walau pun selalu dengan tiket kelas ekonomi.


Keramahan yang tidak dibuat-buat, menawarkan minuman jenis apa yang penumpang inginkan.


Sementara para penumpang menikmati hidangan berupa makanan ringan, para awak kabin pesawat sibuk menyiapkan makan malam untuk di sajikan.


Kalau soal kenyamanan dan keyakinan akan makanan yang halal bagi Aji, memang Josette tidak salah memilihkan, memberikan fasilitas terbang dengan Saudi Arabian Air Line ini, tidak membuat Melindari apalagi Aji yang sering melakukan perjalanan dengan pesawat terbang, merasa nyaman dalam menikmati hidangan sepanjang perjalanan penerbangannya.


Di dalam pesawat ini Aji tidak mempunyai perasaan takut akan semua yang dihidangkan kepada penumpang, karena tertera di box pembungkus makanan yang berlabel, " Halalan & Toyiban ".


Tidak percuma , dahulu Josette pernah duduk di bangku kuliah jurusan Sastra dan Budaya serta ketatanegaraan Indonesia, walau tidak sampai akhir semester dan meraih gelar pada fakultas tersebut.


Di pilihannya Emirat Saudi Arabia Air Line. Padahal perusahaan penerbangan yang melayani jalur penerbangan dari Jakarta ke Rio de Janeiro Brazil, bukan hanya Emirat Saudi Arabia saja.


Josette faham penerbangan mana yang cocok untuk Aji.


Suratan takdir tertulis seperti itu, kalau saja saat itu Ayahnya tidak bersikeras kepadanya untuk memilih jurusan kedokteran.


Keniscayaan pun berlaku bagi mereka untuk tidak saling mengenal dan Termasuk Melindari saat ini tidak sedang duduk di dalam pesawat dan berdampingan dengan pria yang pernah di jadikan nya Obsesi Asmaranya.


 Takdirkan ini, atau garis tangan ?......


Menu makan malam yang ditawarkan oleh seorang Pramugari yang menyajikan, dipilih oleh Melindari atas rekomendasi Aji.


" Ayo Melin, kau lah yang jawab, tuh stewardes nanya ke kita.


" Ekscuse me mam, sir. What's would you like to


eat? We have three kind meat to serve you, Beer, Fist or Chicken." dengan senyum simpulnya

__ADS_1


" I would ike to choose Fish one." Jawab Melindari.


" Both of You with the same choice Mam ?"


" Yess i think so Miss" jawab Melindari.


" Well done ! Here is mam, have a nice dinner Mam, Sir ! " pungkas sang Pramugari. Sambil menyerahkan paket makan malam yang di ambil dari boks berjalannya. Untuk kemudian dia pun berlalu ke kursi penumpang berikutnya.


" Thank You very much." Jawab Melindari lagi.


Mereka berdua mulai membuka paket makan malam tersebut dan menikmatinya.


" Bang, kemarin waktu kita ngobrol di rumah, soal makanan yang halal dan baik, memangnya nanti di Brazil, kita bisa menemukan makanan yang seperti itu di sana nanti ?" Tanya Melindari sambil menyuap makanan ke mulutnya.


" Aku tidak tahu percis Mel, kalaupun dulu, pernah kapal tempatku bekerja, masuk ke salah satu pelabuhan minyak di sana, tapi aku tidak dengan sengaja makan di Restoran. Kan di sana mayoritas dari mereka tidak memakai aturan Halalan Toyiban, mungkin saja kebanyakan dari masyarakat disana tidak faham kalau kita bicara soal Tersebut. Kalaupun ada, ya sedikit... Seperti Josette itu lain ceritanya." Urai Aji panjang lebar.


" Lantas bagaimana nanti kita disana, ?" Ada nada cemas di wajahnya.


" Kita tidak perlu khawatir berlebihan, Josette mengatakan kepadaku, disana ada Restoran bukan saja apa menghidangkan menu ala Timur Tengah. Tapi memang asli Orang Timur Tengah yang membuka usaha Kuliner disana." tukas Aji.dengan wajah sumringah.


" Serius Bang?" Melindari menanggapinya dengan tidak kalah serius.


" Iya , seperti itu Josette mengatakan kepadaku, bahkan di buku Menunya tertera tulisan dengan huruf yang cetak yang jelas terbaca " Halalan Toyiban ". Urai Aji


" Kan disana mayoritas nggak memegang perkara halal-haram, lantas berimbas kepada omset hasil penjualannya nggak tuh Bang ? Tanya Melindari dengan nada heran.


" Justru yang Josette ceritakan kepadaku, Omzet penjualannya signifikannya malah setelah memasang label tersebut, bukan hanya kalangan Muslim yang mukim disana saja sebagai pelanggannya, tapi mereka yang notabene bukan Muslim pun menikmati makan diluar rumah mereka, dan cenderung menikmatinya di Sana.


Di Restoran Timur Tengah Baba Osman Alkatiri. yang lebih di kenal dengan sebutan "Baba Osman " , saja.


Menu "Nasi Kebuli" nya sebagai menu andalan dari restoran Baba Osman itu, dengan daging kepala dari Kambing pilihan.


Yang membuat tekstur daging Kambing yang dasarnya memang lembut, di pasak oleh tangan cekatan chef yang bertaraf Internasional seperti Baba Osman yang pernah menjabat sebagai Chef di beberapa Hotel berbintang Lima yang ada di Jazirah Timur Tengah. Khususnya di Saudi Arabia.


Info ini di dapat dari Josette, yang mungkin saja untuk mengantisipasi dan khawatir Aji tidak akan betah untuk berlama-lama tinggal di sana. Sedangkan urusan yang akan di selesaikan dengannya tidak akan cukupi dalam waktu satu atau dua hari.


Yang lebih dia khawatirkan lagi, jikalau Aji sampai tidak bersedia untuk datang, lantas perkara halal dan tidak halal jadi penyebabnya, itu konyol kalau dia tidak sanggup untuk mencari solusi untuk hal tersebut.


Itu semua bukan karena dia sudah faham akan kemauan lelaki itu, akan tetapi dia dapatkan dari pelajaran yang pernah di peroleh di sekolahnya, membuatnya seakan dia pernah tinggal di Indonesia ...

__ADS_1


__ADS_2