Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN * " Khuldi yang Menghampiri "


__ADS_3

Bab 2


...***...


Air Hujan yang turun belum menampakkan ada tanda-tanda akan mereda. Mereka berdua berteduh di emperan Warung itu.


" Teh ., kalau kita berlama-lama disini, apa Fitrie mau menerima kedatangan kita ? malam semakin larut, apalagi dengan rencana kita mau mengajaknya pergi ke Serang." Ujar Aji.


" Ya juga, betul apa yang kau katakan. Aku setuju, tapi hujan lebat begini.? sergah Shinta.


Tiba-tiba terdengar ada suara yang di tujukan kepada salah satu dari mereka.


" Kalau saya tidak keliru, ini kak Aji ya ?" Ujar wanita muda penunggu warung.


" Insya Allah, tidak salah." Jawab Aji.


" Subhanallah, kak Aji, berapa belas tahun aku tidak lihat Kakak ," ... Tapi, aku masih mengenal suara nya." . Dan diapun berteriak sambil beranjak dari duduknya," Kang Uki, kang Dede... Ini ada kak Aji !"


Suaranya yang lantang, membuat dua nama yang dipanggilnya serentak mendatangi arah panggilan.


keduanya datang menghampiri adik mereka, seraya melayangkan pandangannya ke sekitar ruangan warung.


Begitu pandangannya bertemu dengan Aji yang juga sedang mengarahkan tatapannya ke dua orang laki-laki yang datang atas panggilan adiknya,


" Eeeeeh.. Ini mah tidak salah lagi, pasti Aji, bukan begitu ?" Sahut dua laki-laki itu berbarengan.


" Tidak salah,! ini kang Uki, dan yang ini Wawan ? " Ujar Aji sambil telunjuknya mengarah ke laki-laki yang di sebut terakhir namanya oleh Aji, yakni Wawan yang lebih dikenal dengan panggilan akrab keluarganya yaitu ' Dede '.


Tidak di beri embel-embel " Kang ". Karena yang bernama Wawan itu sebaya dan sepermainan dahulu, ketika dimasa mereka masih kecil.


" Mau kemana malam-malam begini, dan di hujan lebat seperti ini pula ?". Tanya yang di panggil kang Uki.


" Dari Cimanuk kang, mengunjungi saudara, untuk bersilaturahmi ." Jawab Aji.


" Kalau ini...?" Tanya Uki sambil menudingkan jempol tangannya ke arah Shanti.


" Ini...., kenalkan kang, Teh Shinta dari Bandung, saudara dari fihak Mamaku ," jawab Aji tanpa keraguan.


Mereka terlihat puas dengan pertanyaan yang telah terjawab sesuai dengan yang mereka kehendaki.

__ADS_1


Shinta menganggukkan kepalanya kepada mereka seraya melempar senyum.


Mereka bertiga membalasnya dengan tersenyum, walau disertai dengan tatapan keheranan.


Bagaimana tidak, karena mereka tahu persis siapa Aji, seperti mereka kenal baik dengan Fitrie dan tahu siapa Fitrie bagi Aji, juga sebaliknya.


Wajar saja mereka merasa heran, benarkah wanita yang masih muda dan modis penampilannya, orang Kota banget dimata mereka, wanita itu saudara dari Mamanya Aji?" seperti itu komentar diantara mereka, itu tidak mereka utarakan di hadapan Aji dan Shinta.


" Aji yang dulu sudah tidak ada lagi kang," Ujar Wawan di tujukan kepada kakaknya yang paling tua, kakaknya Uki yang bernama, Hasan.


" Apa benar semua pelaut seperti yang kau kira ?" Hasan menimpali, " Jangan berburuk sangka, tidak baik, dik ! siapa tahu benar wanita itu memang saudara dari Mama nya. ".itu Asumsi Hasan kakak tertua di keluarga ' Saliman '.


Sebagaimana di akui sendiri oleh Aji, tadi mereka dengar langsung dari yang bersangkutan.


...ΩΩΩΩΩ....


Mereka tinggal di kota kecil, gerak-gerik penduduk yang satu boleh disebut tidak luput dari penglihatan penduduk yang lainnya.


Apa yang seseorang perbuat dalam keseharian saja seakan, wajib tetangga untuk tahu.


Selain dari itu, adat istiadat yang masih kental melekat pada generasi saat ini. Keperdulian terhadap sesama warga, yang kadarnya masih cukup tinggi.


Ucapan Wawan berupa pertanyaan yang setaraf Interogasi, cermin keperdulian yang sudah dianggap biasa dan tidak mendatangkan penilaian yang kontroversial, di lingkungan itu.


" Aji lama sekali aku tidak melihatmu datang ke Pandeglang. Lebih dari dua kali lebaran." Ujar Wawan, dan itu di benarkan oleh Aji.


" Iya Wan, aku ikut tinggal dengan kak Anggi di Jakarta, dan ikut sibuk bantu-bantu kegiatan bisnis suaminya kak Anggi ." Jawabnya.


" Sekarang Aji dari mana dan mau kemana. ?"


" Aku baru saja pulang dari Cimanuk, dan mau ke rumah Mamaku, Wan. BTW ada payung yang bisa aku pinjam nggak . " Tanya Aji.


" Ada Ji, tapi yang ukuran kecil, kapasitas untuk satu orang, kalau mau nunggu yang besar kita juga punya, tapi sedang di pakai oleh Kak Hasan, pergi ke Mushola.


" O ya? Nggak apa lah Wan," Jawab Aji. Kemudian Wawan menyerahkan payung yang tadi Aji pinta.


Benar juga yang tadi kau bilang, " Payungnya untuk satu orang" , tapi apa boleh buat, tak ada rotan akar pun jadi saja lah." Ucap Aji dengan penyampaian gaya peribahasa.


Setelah pembicaraan diantara mereka dianggap sudah selesai, Aji pamit kepada ketiga kakak beradik pemilik lapak di perempatan itu.

__ADS_1


Payung sudah di kembangkan, mulanya mereka berdua merasa sungkan harus berdua menggunakan payung sekecil itu, tapi pertimbangan atas dasar kondisi darurat, mereka tidak lagi membesar-besarkan situasi yang sebenarnya bisa dikatakan sepele.


Dengan mengabaikan perasaan yang tidak akan bisa masuk ke pemikiran dalam kondisi yang biasa.


Tangan Aji yang sebelah kanan memegang gagang payung, dan dia berada di posisi sebelah kanan, sementara Shinta berdiri sebelah kirinya, tanpa ragu dengan meminta ijin terlebih dahulu kepada pemilik pinggang yang ramping itu, dia lingkarkan tangan kirinya ke pinggang kiri wanita itu, mereka pun mulai melangkah di bawah naungan payung di lebatnya Hujan deras.


Tidak di pungkiri oleh Aji, yang masih berada di usia rawan, tidak boleh tersentuh oleh piranti lunak dari lawan jenis, dari bagian yang mana pun, maka akan berakibat Celana Jeans Kasual yang dikenakannya mendadak menjadi terasa sempit.


Tidak lain karena ada penghuni disana yang menggeliat bangun, malah kalau di biarkan terlalu lama dalam kondisi yang seperti itu, membuatnya menjadi kaku, malah bisa sampai meronta-ronta.


Entah Sengaja atau tidak, bagian dada sebelah kanan wanita itu menempel erat ke bagian antara dada dan pinggang Aji.


Oleh sebab ada perbedaan ukuran tinggi badan diantara mereka, terasa oleh Aji sesuatu yang kenyal dan hangat menempel, sepertinya Shinta lupa mengenakan kembali Bra yang tadi di lepas saat menjalani Therapy.


Bertepatan dengan kebiasaan dari Aji, Kalau untuk perjalanan yang sifatnya tidak formal, dia lebih memilih tidak mengenakan pakaian dalam bagian atas, langsung saja kaus atau baju Hem itupun cenderung dari bahan yang tipis, baik itu dari bahan kaus ataupun katun. Seperti dalam perjalanannya hari ini.


Dia cukup lama tinggal di Jakarta, tapi bukan tinggal di rumah yang di lengkapi dengan pendingin ruangan semacam Air Condition.


...ΩΩΩΩΩ...


Mengenakan pakaian yang simpel, sudah menjadi kebiasaan dalam kesehariannya.


Tidak bisa dia pungkiri, keringat seorang wanita bercampur dengan minyak khusus pijat yang di pergunakan oleh ibu Sarinah sebagai media pengobatan dalam praktik Therapy nya.


Aji menghabiskan waktu kecil hingga tingkat sekolah menengah tingkat pertamanya di Banten.


Tingkat ketertarikannya akan dunia media pengobatan tradisional, lumayan tinggi, sehingga hampir setiap analisanya tentang ragam-macam pengobatan selalu tepat.


Menurut pendapatnya berdasarkan pengetahuan yang dia miliki, Ibu Sarinah adalah Pelaku Therapy kesehatan cara tradisional. Dengan cara Pijat.


Kesimpulan itu bukan tanpa dasar, tapi indra penciumannya Familiar sekali dengan minyak yang masih melekat pada tubuh Shinta.


Dan itu tercium olehnya, memicu timbulnya sensasi apalagi situasi yang mendukung seperti saat itu, dibawah payung, berhimpitan dan dada bagian samping kanan Shinta menempel lekat ke badannya.


Namun langkah mereka memang tergesa-gesa. Sehingga halaman bagian depan dari rumah orang tuanya yang di huni oleh satu keluarga adik kandungnya, yang belum memiliki hunian sendiri.


Mereka di samping menghuni, juga memeliharanya.


Tanpa terasa, mereka sudah sampai di halaman depan rumah tersebut.

__ADS_1


__ADS_2