
Bab 3
Shinta mulai mengenal walau sedikit, siapa lelaki yang dari sejak pertama bertemu hingga detik dia mengatakan Shinta adalah salah satu adik ibunya.
Dia faham lelaki yang di beri nama ' Aji' oleh kedua orang tuanya itu adalah lelaki yang kekinian baik dalam perilaku maupun cara berpikirnya, demikian menurut pendapatnya.
" Tapi anak ini memang perlu di jewer beneran " Gerutu nya., Awas kau Aji!" Omel Shinta di dalam hatinya.
Berbagai macam alasan mereka berdua kemukakan kepada Umi, ibundanya Fitrie, namun beliau tidak bergeming pada pendiriannya, tetap tidak memberi izin putrinya untuk di ajak ke Serang.
Kendati Shinta yang di akui oleh Aji di hadapan Umi sebagai Tantenya, sebagai salah satu adiknya Mah, yang tinggal dan menetap di Bandung."
Umi mengatakan, " Umi tidak mengizinkan, dan tidak perlu ada yang bertanya ," mengapa ?" Umi tidak mengizinkan, titik ! " Jawab Umi tegas.
Malam-malam begini, mengajak pergi untuk menginap,? di Rumah siapa , nggak jelas, ya betul Umi," Komentar Fitrie.
" Kamu sendiri Fitrie, pernah bertemu, apa tidak sebelum ini dengan siapa ? ... Itu yang perempuan tadi !" sergah Umi. Yang dia maksud mungkin adalah Shinta.
" Namanya ' Shinta ' Mi !" ucap Fitrie.
" Ya betul Shinta, yang mengaku adiknya Mah, tetapi sudahlah, tidak perlu di bahas lagi. Lebih baik kamu tidur, sudah larut malam. " Pungkas Umi.
Kesimpulan akhir dari maksud mereka untuk membawa serta Fitrie ke Serang, menemui kegagalan. Kendati begitu tidak membuat mereka kecewa.
Mereka memaklumi kekhawatiran Umi sebagai Orang tua yang menyayangi anaknya.
...**********...
Perjalanan dari Pandeglang menuju Serang dengan moda transport Mobil yang dirasakan oleh mereka berdua. Mereka berdua menilai tidak atas sentimen yang di sebabkan oleh penilaian tidak obyektif.
Moda transport itu tidak kondusif, tulang punggung terasa seperti habis bekerja bakti mengangkat berpuluh-puluh ember adukan pasir dan semen. Karena ' sock breaker ' mobil itu mungkin sudah kurang berfungsi, atau mungkin malah sudah mati.
Jok tempat duduknya pun sekeras batu yang banyak di temukan pada sungai-sungai besar.
Tapi mau bagaimana lagi ? karena tidak ada pilihan, oleh karena itu. Suka tidak suka, mau tidak mau.
Terpaksa atau tidak terpaksa, Aji dan Shanti pun menaiki mobil angkutan kota tersebut.
...******...
Perjalanan dari Pandeglang ke Serang dalam kondisi biasa, akan memakan waktu kurang lebih 1,5 Jam. Itu di siang Hari.
Berhubung perjalanan ini mereka lakukan pada malam hari, hampir jam 10.00 Malam, mereka sudah masuk gapura kota Serang.
Penumpang selain mereka berdua mulai turun satu persatu, tinggal tiga orang penumpang kebetulan penumpang yang ketiga satu jurusan dengan tempat yang Shinta tuju, tapi orang tersebut masih harus menempuh beberapa ratus meter ke arah pasar Rawu.
__ADS_1
Atas kesepakatan diantara mereka bertiga dengan Sopir Angkot itu, terjadilah kesediaan Sopir untuk mengantarkan Shinta ke alamat rumah yang di tuju langsung ke depan pintu rumah, dengan imbalan bayaran yang di nilai pantas oleh sopir itu.
Mobil Angkot itupun melaju kencang, hingga tidak berselang lama, Angkot itu telah tiba tepat di alamat yang di tuju.
Mety adik kandung satu Ibu dan satu Bapak dengan nya. sedang berdiri menanti kedatangan kakak nya yang telah satu Tahun tidak berjumpa, selain melalui Medsos. Berupa sarana Video Panggil
Setelah Mety menggelandang mereka untuk masuk ke Rumahnya, rasa kangen belum tersalurkan dengan tuntas, kembali mereka saling rangkul, berlanjut dengan saling berbagi info dan cerita.
Seolah tidak ada kehadiran orang lain di sekitar mereka berdua.
Aji yang untuk sementara di tempatkan di ruang Tamu, dengan pasilitas ruangan sudah seperti Cafe pada umumnya, hanya perbedaannya di segi pelayanan.
Di sini Aji dipersilahkan untuk melayani sendiri, di sana sudah tersedia berbagai macam bahan untuk minum juga makan kecil, ada yang panas dan juga untuk yang dingin, termasuk alat panggang untuk Roti, sudah barang tentu termasuk bahan yang akan di panggang nya sudah tersedia, ada juga lemari pendingin berukuran sedang, dengan isi di dalamnya berbagai macam keperluan seperti Telur dan Keju juga Susu dan makanan beragam lainnya.
" Mas Aji, silahkan membuat sendiri apa yang mas Ingin meminumnya atau memakannya," Ujar Mety, kemudian dia pamit untuk kembali menemui Shinta. Dengan mendapat jawaban " Terima kasih banyak ." Dari Aji.
Perbincangan berlanjut.....
Dengan dimulai dari kenapa lama tidak berkunjung lagi ke Serang, kemudian ke saling bagi cerita. dan bermuara di pertanyaan, " Siapa berondong ganteng yang kak Shinta gaet ini ?" tanya Meity dengan suara yang sengaja di kecilkan." Untuk tujuan tidak di dengar oleh Aji.
" Teh., apa nggak membuat kang Budi meradang nanti, kalau sampai dia tahu,? Si Teteh ada-ada saja ih !" ujar Mety.
Di ceritakannya dengan terperinci oleh Shinta, ketika dia menoleh pandangannya ke arah jam yang menempel di Tembok yang pas berada di depannya.
Jarum pendek sudah berada di angka sebelas dan jarum jam yang panjang menunjuk ke angka enam.
" Ya Teh .., ada apa ya?" ujar nya
" Maaf, tidak terganggu dengan kedatanganku?" Tanya Shinta.
" Tidak sama sekali" Ujar Aji lagi.
" Aku mau kasih lihat tempat untuk kau beristirahat, dan Aku tidak tahu kebiasaanmu, apakah mau ke ******, karena aku belum dengar kau minta untuk ke ******." Ujar Shinta.
"Sebetulnya sih aku mau dari tadi ingin ke air, jujur nih Teh, aku mau langsung mandi, lantas mau shalat, dan mau langsung tidur." jawab Aji.
" Benar juga..., aku dan Mety keenakan ngobrol, padahal mengobrol tadi belum masuk ke topik obrolan, itu baru mukadimah." gumam Shinta perlahan. Dan lanjutnya lagi,
" Ayo akan aku unjukkan dimana tempat kau nanti istirahat dan sekalian letak kamar mandinya." sahut Shinta.
Maka dengan serta Merta Aji bangkit dari tempat duduknya, langsung mengikuti kemana Shinta berjalan.
...********...
Selang beberapa saat kemudian, terdengar suara lantunan ayat suci Alqur'an di bacakan, sepertinya seseorang sengaja mendengarkan murotal dari aplikasi you tube atau dari flash disk lantas di stel menjelang tidur tapi semakin lama semakin jelas suara itu datangnya dari kamar yang tadi Shinta tunjukkan kepada Aji untuk dia beristirahat.
__ADS_1
Dengan langkah yang perlahan sebagai tuan rumah, Mety yang melihat. Untuk memastikan suara dari mana datangnya, dan jelas terdengar oleh Indra pendengarannya itu suara langsung dari orang yang membacakan, bukan dari suara pita rekaman ataupun MP3, yang banyak orang suka stel menjelang tidur.
Untuk lebih memastikan kebenarannya, di ajaknya Shinta untuk ikut menguping dari depan pintu kamar yang belum tertutup rapat, mereka berdua berdiri berdampingan didepan pintu kamar yang di dalamnya memang ada Aji yang sedang murotal Al Qur'an.
Setelah mereka yakin bahwa itu memang suara Aji.
mereka bukannya kembali ketempat semula untuk melanjutkan obrolan, akan tetapi melanjutkan mendengarkan bahkan menikmati lantunan suara.orang mengaji yang tidak lain dari suara Aji.
Kurang lebih 30 menit kemudian hilang suara itu, dan tidak terdengar suara apapun , ketika di lihatnya jam yang ada di dinding ruang Tamu tempat mereka berbincang. Waktu menunjukkan pukul 24:00 tepat.
Bagi Mety yang pernah mengikuti pendidikan P3K sehubungan dengan kedudukan suaminya sebagai kepala Dinas di Perhubungan Darat, di Serang Kota.
Suara yang mengaji tadi terdengar olehnya ada semacam getaran seperti menggigil, namun dia tidak berani memastikan bahwa yang mengaji tadi sedang mengalami semacam serangan demam. ketika di sampaikan hal itu kepada kakaknya, Shinta.
" Astagfirullah hal Adzim... Bisa jadi dia terserang Flue.karena tadi di Pandeglang, kehujanan," ucap Shinta kaget.
Tergesa-gesa Shinta berjalan menuju kamar tempat Aji beristirahat.
Dengan berjalan perlahan, takut kehadirannya malah mengganggu Aji yang dia perkirakan sudah tidur.
Di bukanya dengan perlahan pintu kamar itu, belum lagi seukuran badanya, pintu itu terbuka, bias cahaya dari terangnya lampu penerangan diluar kamar, menembus ke dalam ruangan kamar yang gelap gulita. Yang memang sengaja oleh Aji di matikan sebelum dia tidur, sebagaimana kebiasaannya.
Oleh dorongan tangan Shinta, daun pintu semakin terbuka.
Namun tidak membuat yang ada di dalam menjadi terganggu, Shinta pun berpikir untuk jangan sampai kehadirannya mengganggu Aji yang mungkin sudah tidur nyenyak.
Daun pintu pun sengaja di buka oleh Shinta hanya seukuran penuh badannya.
Sebenarnya Aji belum tidur lelap setelah kurang lebih setengah jam dia tertidur.
Lantas, matanya terbuka terganggu oleh pikirannya yang tiba-tiba menghadirkan kembali pembicaraannya melalui telepon dengan Josette tadi siang.
.
Gelisah dan pikirannya yang tidak menentu, membuat matanya belum mau di pejamkan.
Walaupun telah dia usahakan untuk dapat tidur.
Ketika Cahaya terbersit, sementara kedua kelopak matanya belum terpejam penuh.
Wajah dan pandangannya memang mengarah ke pintu sesuai letak tempat tidur yang dia pergunakan saat itu.
Terlihat dengan jelas, bayangan sosok seorang wanita yang datang menghampirinya, dalam bungkusan gaun yang tipis transparan dan terlihat olehnya semakin mendekat.
Lekuk tubuh sempurna seorang wanita, dia belum bIsa memastikan tubuh siapa yang terbalut gaun tipis yang memperlihatkan lekuk tubuh yang aduhai sempurna, indahnya bagaikan sebuah lukisan itu.
__ADS_1
Aji belum memakai bantuan penglihatan kacamata. Matanya masih bisa melihat dengan jelas, wanita itu memakai CD yang kecil menyerupai bikini dan Bra yang seperti asal-asalan sebagai syarat saja, buah ranum yang terbungkus nya seakan menyembul berontak seakan ingin melompat keluar dari tempatnya....