Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN * " Fatamorgana "


__ADS_3

Bab 4


Aroma dari Kopi asli , kesukaan mereka berdua, telah merebak, tercium hingga ke halaman tempat mobil yang baru saja Aji parkirkan.


Sedangkan diatas meja didepan Haruki, ada cangkir yang berisi seduhan, apalagi kalau bukan Kopi asli dari Medan.


" Sudah tidak tahan nih mulut. Kepingin segera cerita kepada sohib, Haruki. Tentang berbagai macam rencana, satu diantaranya, yang semestinya sih sudah bisa disebut pasti.


Niat sudah ada, uang juga sudah siap, kalau pakaian, itu sih perkara gampang, walau tidak bisa dia pungkiri, yaitu pada kenyataannya tidak semudah yang di duganya, lantaran....


Sekalinya waktu ada, kesempatan yang tidak ada,


" Kemana itu Tuan Huru-hara?" Seloroh Aji di dalam batinnya, " wangi kopi kesukaan berdua sampai ke pekarangan, tapi orangnya masih belum kelihatan, aku klakson saja ah.!" Gumamnya.


Guuk..,guk.., guk !' Suara nyaring Klakson mobil, dia hapal betul itu suara khas klakson mobilnya. Yang jarang orang punyai, unik, suara yang terdengar, mirip gonggongan seekor Anjing.


" Wah , si Aji nih beneran !!, kadang ulahnya nyeleneh. udah tahu sekarang ini Maghrib waktunya orang melaksanakan shalat." Gerutu Haruki.


kalau saja bukan Aji yang berbuat seperti itu, sudah bisa di pastikan, Haruki akan merasa terusik, dan bisa saja mengomel, tapi ini tidak.


" Ada yang gak beres nih orang, waktunya orang pada shalat Maghrib, ini mijitin klakson.! Kalau tidak perbuatan anak kecil, Pasti orang yang baru punya mobil". Dan lanjut lagi komentarnya,


" Kalau suara klaksonnya, ada kemiripan dengan klakson pada mobil kepunyaan gua, berarti mobil yang sekarang sedang berada di depan rumah, itu mobil orang lain.


Dan yang nyetirnya pasti orang lain juga dong !. Tapi nyatanya ini si Onyon Aji" Gerutu nya.


...ΩΩΩΩΩΩ...


Aji sudah hafal betul bawaan sejak orok, sohibnya ini, yang mengatakan bahwa, sejak siang tadi telah dengan sengaja, tidak bepergian kemana- mana.


Khusus menunggu kedatangannya, dia ingin berbincang-bincang banyak hal dengan serius.

__ADS_1


Seperti itu lah karakternya, kalau Haruki sudah punya sebuah niat tidak ada agendanya dia mau untuk menundanya.


Seperti suara yang baru saja Aji perbuat, membuat nya mendadak sontak keluar dan langsung mendatangi Aji layaknya orang yang lama tidak saling bertemu. Padahal baru beberapa hari yang lalu mereka saling bertemu.


" Ji...! Kalau bukan Luh ini yang barusan udah bikin polusi suara, sudah gua usir beneran !... Maghrib tahu..!! waktu Shalat, ini tat, tot.. Tat ..tot mainin klakson." Tegur Haruki, walau disertai senyum, karena tidak bisa di pungkiri nya. Aji orang yang sanggup membuat dirinya malu untuk mengulang kembali dirinya sebagai masa lalu yang sangat tidak terpuji.


Haruki masih merasa dirinya lah orang yang paling berdosa atas kepergian istri yang sebetulnya sangat di cintainya.


Hingga saat ini, ketakutan akan terulang lagi peristiwa itu masing menghantuinya.


Itu penyebab utama yang membuatnya masih belum berani mengambil keputusan untuk kembali membangun mahligai rumah tangga.


Kilas Balik :


Dalam keadaan ekonomi keluarga tidak menentu. Emosi begitu cepat tersulut, saat itu sang istri yang dalam kondisi berbadan dua, mengajukan sebuah permintaan yang menurut Haruki, hal itu sungguh diluar jangkauan pikirannya.


Adapun permintaan sang istri itu untuk menjalin kembali hubungan baik dengan orang yang telah mengkhianati usahanya, dia orang yang di percaya.


Namun siapa sangka, di puncak kejayaan usahanya itu, sang kakak ipar, yang sekaligus sebagai orang kepercayaannya, begitu tega dengan membawa lari, raib entah kemana.


Sejumlah uang bukan dalam hitungan kecil, yang sedianya uang itu untuk di setorkan ke Bank mitra usahanya, tempat dia minta bantuan sebagai penopang yang mengucurkan dana guna usaha.


Telah dirasakannya sangat membantu dengan baik.


Kerjasama itu sudah berjalan dengan harmonis dan akan menginjak Tahun ke sepuluh, Bank Negara itu bagi Haruki adalah sebagai mitra usaha yang tepat.


Ketika pulang ke Serang itulah sang istri meminta dengan sangat, setengah memaksa Haruki untuk mengunjungi kakaknya di Rutan dan menggalang kembali persaudaraan sebagaimana waktu yang lalu


Haruki sempat berfikir apakah ini bawaan bayi,? Tapi dia menepis dan berfikir jernih, " Ah..., Mitos !" Bantahnya


Mobilnya sedang masuk Bengkel untuk servis rutin tahunan, yang ada di rumah mertua sebuah sepeda motor, dengan perasaan penuh kesal, Haruki pergi berboncengan demi memenuhi permintaan istrinya.

__ADS_1


Di pacunya motor itu dengan Kecepatan di atas rata-rata dan masih di pacunya lagi lebih cepat lagi. Ketika tiba di tikungan ada anak kecil berlari menyeberangi jalan, karena kaget maka motor oleng, dan hampir saja jatuh namun dengan sigap segera di kuasainya. dan kembali motor berjalan seperti semula.


Setelah berjalan kurang lebih seratus meter kedepan, ada sesuatu yang dia rasakan itu sebuah kejanggalan, setelah tadi hampir terjadi kecelakaan begitu mudahnya dia menguasai motor, seakan dia sedang sendirian.


Terkesiap dan serasa jantungnya hampir berhenti berdegup ketika di tengoknya ke jok belakang. ternyata dia memang sendirian. Lantas kemana istrinya?.. Tanpa menunggu lebih lama lagi dia putar balik arah dan di tancap gas untuk mencari tahu dimana istrinya.


Dari kejauhan dia melihat banyak orang berkerumun di pinggir jalan. Ketika di hampiri nya kerumunan itu,


Dengan teriakan yang membahana di rebut nya istrinya dari orang yang sedang membopongnya, orang itu berniat membawanya ke rumah penduduk di sekitar itu untuk mendapatkan pertolongan pertama.


Ketika berangkat dari rumah mertua, dia menyarankan kepada istrinya untuk tidak duduk dengan posisi menyamping, tapi duduk seperti normalnya orang naik kuda, tidak semua kaki barada di samping kiri badan motor.


" Tapi Bang Ruki, Aku kan pakai rok." jawab istrinya.


Dia tidak punya sedikitpun gambaran, ucapan istrinya itu, adalah kalimat terakhir yang di dengarnya. Dan baru itu kali pertama dia mendengar istrinya membantah, dan ucapan bernada bantahan itu ternyata kalimat terakhir yang di lontarkan nya.


Kalau saja Haruki Tahu bahwa kalimat yang terucapkan dari lisan istrinya itu adalah kalimat terakhir, dia tidak akan tersulut emosi, tapi sang waktu tidak akan pernah surut ke belakang.


Singkat cerita : Dengan kejadian kecelakaan terhadap istrinya yang terjatuh dalam posisi duduk.


Ketika di bawa ke Rumah Sakit terdekat saat itu juga, dan di tangani oleh ahli medis yang bertugas.


Setelah melalui usaha maksimal dari team medis, di ruang ICU. Sayang sekali si korban yang sedang hamil dan sudah masuk usia kelahiran itu, jiwanya tidak tertolong. Inna lillahi wa Inna ilaihi Rodziun.


Namun masih di golongkan beruntung karena Bayinya terselamatkan walau melalui proses penanganan kelahiran darurat.


Itulah kisah yang melatar belakangi Haruki yang dikenal senantiasa optimis dalam menghadapi terpaan kehidupan sekeras apapun, dia tidak pernah berkata menyerah. Sebagai orang yang mempunyai cikal bakal putra negeri Matahari Terbit, dia pegang betul Jiwa kesatria pantang menyerah, Mati Harakiri itu lebih terhormat ketimbang menyerah.


Tapi untuk kejadian kali ini. Atribut putra negeri Matahari Terbit pun dia tanggalkan untuk sementara. paling tidak sampai usai masa berkabung.


Hingga putrinya sudah duduk di Sekolah TK besar, dirinya belum mendapat keberanian untuk mencoba memulai kembali. kehidupan berkeluarga, sebagaimana dulu dia menjalaninya.

__ADS_1


__ADS_2