Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN * " Kemenangan yang Sebenarnya "


__ADS_3

Bab 2


Tujuan Aji mengarah ke rumah Anggi, selain untuk Shinta yang ingin membersihkan badannya dari minyak khusus untuk pijat yang di pakai oleh ibu Sarinah dalam melakukan therapy pengobatannya kemarin. Terasa lengket di badannya.


Dia juga akan mengambil mobil kepunyaan Haruki yang dipinjamkan kepadanya untuk keperluan pergi ke Banten dalam rangka Acara Tahlil keluarga besar para santri dari pesantren asuhan Almarhum ayah Fitrie.


Di karenakan oleh Cerita hidup yang bisa di setarakan dengan Qadar Allah. Segala kejadian adalah sudah ada catatannya di Lauf Mahfudz yakni tempat yang tidak bisa terjangkau oleh akal fikiran maupun ilmu pengetahuan manusia secanggih apapun.


Perbuatan baik amal ibadah, banyak corak dan ragamnya untuk di lakukan.


Memberikan pertolongan kepada seseorang yang memang sedang membutuhkan uluran tangan kita, itu juga salah satu dari banyak jumlah bentuk amal kebaikan dan itu terbilang bukan perbuatan sia-sia.


Oleh sebab kepergiannya ke Pandeglang kemarin untuk urusan lain dari yang semula direncanakan nya, maka bilamana Aji tetap berangkat juga kesana untuk bertandang ke kediaman Fitrie, jelas bukan lagi dalam konteks urusan panjat doa yang mungkin Fitrie inginkan.


" La Haula wala kuwata ila Billah " Batin Aji, tidak perlu dia menjelaskannya, disana itu kota kecil, baik lingkupnya ataupun jangkauan pemikiran penduduk nya, tidak mustahil kejadian sepayung berdua di bawah derasnya hujan, berjalan dengan berhimpitan saat itu, sudah di ketahui oleh Fitrie maupun keluarganya.


Dengan tanpa menunda lebih lama lagi, mereka berdua segera menyewa Taksi dan langsung berangkat menuju ke arah Jakarta Selatan.


Awalnya tidak banyak yang mereka bicarakan, sudah berada di mana setelah Taksi bergerak beberapa menit kemudian, itu pun belum menjadi fokus perhatian mereka.


Di mulai oleh Shinta yang mencoba melumerkan suasana yang dirasakannya kaku, dengan bertanya,


" Aji., tadi di Bus aku mendengar, kau di hubungi lagi oleh wanita yang bernama Josette, maaf yang aku dengar kali ini saat kau bicara, begitu riang wajahmu sumringah, ketimbang kemarin di Rumah makan Goyang Lidah.?!" Sahut Shinta, dengan nada tanya biasa saja.


" Waktu aku menerima telepon, bukankah Teh Shinta masih tidur? Koq bisa bisanya mendengar, sengaja menguping ya ?" Seloroh Aji.


" Bukan menguping, tapi kedengaran, volume suaramu kencang, mungkin Sopir juga mendengar!" Sahut Shinta, membuat Aji ketawa lepas. " masak sih, sampai terdengar ke tempat sopir sih ?" Protes Aji.


Selanjutnya, Shinta mengulurkan telapak tangannya sebagai isyarat, dan berucap ," Selamat ya,! Jadi dong ke Brazil."


" Apaan ini, jadi apanya yang jadi?" Aji balik bertanya.

__ADS_1


" Itulah akibatnya kalau teleponan gak pakai Head set, bisa ada yang ikut mendengarkan. Yang mendengarkan itu sesama kaum Hawa.! " ujar Shinta bersemangat.


.


" Kelihatannya kita selalu harus barter Teh! Kalau Teteh tertarik untuk tahu cerita tentang Brazil, dengan segala keindahannya, aku sih siap saja.


Yang penting Barter dari objeknya yang berbobot, begitulah kira-kira teh," Pungkas Aji.


" Mudah-mudahan, aku punya info yang menarik untukmu, begitu juga sebaliknya. Aku dapat info yang tak kalah menarik darimu Ji !" Timpal Shinta.


" Wiii..., ini baru Lobby pebisnis tingkat Nasional. bukan lagi ecek-ecek!, menarik. Seharusnya di bahasnya di meeting room, sebuah Hotel, minimal di Kartika Chandra." imbuh Aji, sambil tertawa renyah.


" Belum seru ah !, kalau dalam pembicaraan kita masih ada ucapan ," Tah..Teh.Tah..Teh , mulai dari sekarang panggil aku Shinta, saja. Biar lebih enak di dengar, lagian usia kita tidak selisih jauh kan ? Cuma 4 Tahun saja., ...iyaa .ih !! , sebel tahu.! Kau anggap aku sudah tua banget ya?" bantah Shinta sambil merengut.


" Oke Shin....! Siap lah..eh enak juga ya, dengan memanggil Shinta, gak usah pakai Teteh nih, beneran ?!" Sahut Aji, dan sambungnya lagi,.., " Coba dari dulu Shin !"


" Apaan dari dahulu...! Kenal saja baru kemarin Wee!"


" Dengan orang Brazil tuh yang kenal sejak lama, sudah mahir dong ber 'Abla Espanyola' nya, atau dia berbahasa Portugis? " seloroh Shinta.


" Bahasa Spanyol Teh....eh Shin " Jawab Aji, tanpa niat keliru, tapi aku tidak mahir, karena tidak belajar sesuai anjuran yang baku." Sahut Aji.


" Maksudmu Anjuran siapa tuh ?" Shinta bertanya penasaran.


" Anjuran yang sudah tahu dan sudah menjalani anjuran tersebut tentunya."


" Seperti apa tuh, anjuran yang kau sebutkan tadi.".membuat Shanti jadi penasaran dan ingin tahu.


" Begini nih Shin, kata orang yang sudah menjalaninya, dan telah terbukti abla Espanyola nya wow, menjadi. lancar..car..car. Benar lancar." Kata Aji.


" Woi Ji..!!.Luh kalau kepingin lancar ngomong bahasa mana saja, belajarnya harus sambil tiduran di atas pusarnya cewek yang punya bahasa.

__ADS_1


Itu di jamin cepat dan Jroz dah !!" Sahut orang itu, yang tidak lain dari teman sejawatnya di kapal, dulu dia pernah berlayar, sambil mengacungkan Jempol tangannya.


" Ah..masa harus seperti itu sih ?" jawab Aji belum yakin.


" Kalau tidak mengikuti Anjuran itu, hasilnya nanti hanya bisa nyebut Komperente-Komperente nya doang...he...he...he ( tergelak ).


" Lantas kau seperti itu kah Ji ?" ..tukas Shinta.


" Tidak Shin...aku lebih memilih untuk tidak lancar saja lah ." Jawabnya santai.


" Oh begitu ya ? hi.., hi...hi..Percaya " Shinta menanggapinya.


Obrolan mereka pun terputus oleh......


" Mohon maaf pak, Jalan Asem sebelah mana ya ? Kita sudah di jalan Asem dua." Tanya Sopir Taksi.


" Ya pak di sini, nah itu yang ada tong sampah warna hijau ke depan sedikit lagi pak Sopir " Jawab Aji.


Dengan menyebutkan tarif yang harus di bayar, sopir pun memberikan struk pembayaran nya kepada Aji.


Tapi Shinta tidak mau kalah, dengan gerakan cepat, di sodorkan nya satu lembar uang pecahan berwarna merah seraya berkata kepada Sopir taksi itu. " Ambil kembaliannya ya pak." ucapnya.


" Terima kasih Bu, tapi ini kembalian nya?" Timpal Sopir Taksi itu. Mengingat ongkosnya sendiri tidak melebihi separuhnya dari nilai lembaran berwarna merah tersebut.


" Tidak apa pak, rezeki bapak hari ini." Jawab Shinta.


Aji hanya mengikuti saja pembicaraan kedua orang dihadapannya tanpa berkedip. Sementara di dalam hatinya dia mengakui, Shinta adalah salah seorang wanita yang sudah langka bisa di temukan.


" Sosok wanita seperti dia ini lah yang pantas untuk dilestarikan, malahan bila perlu untuk di kembang biakkan" Batin Aji.


" Wey...!! Wey !! Bangun Wey !" suara Shinta sambil tersenyum, menyadarkan Aji yang terpukau menyaksikan perbuatan Shinta, yang terlihat olehnya sikap tulusnya.

__ADS_1


Mereka berdua turun dari Taksi dan melangkah menuju rumah Anggi yang letaknya menjorok ke dalam sepanjang kurang lebih 30 meter, jalan yang hanya bisa di lalui oleh satu unit saja kendaraan roda empat.


__ADS_2