
Bab 2
Selera dan lidah yang terbiasa dengan rasa pedas membuat keringatnya meleleh Kendati ruangan tempat mereka menikmati hidangan khas Negri setempat itu di lengkapi dengan alat pendingin.
" Ternyata makanan di sini ada yang mirip sekali dengan di kita ya Bang?"
" Ya Mel., Aku yang beberapa bulan yang lalu hampir sempat seperti penduduk di sini saja, belum tahu apalagi menemukan dan mencicipinya kudapan yang seperti kau makan tadi." Jawab Aji yang merasa telah cukup waktu rehat nya untuk kemudian menemui seseorang di pintu gerbang tempat para penjemput, untuk tujuan itu mereka pun keluar dari Cafe tersebut.
Dengan sedikit bergegas mereka melangkahkan kakinya menuju ke pintu gerbang keluar dari ruang kedatangan Bandara sebagaimana arahan Josette, di sana Diego Morales akan menjemput mereka berdua.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Atmosfer dari nuansa negri Tropis di luar gedung kedatangan dengan pandangan ke bagian luar dari gedung yang terhalang dinding kaca tebal tembus pandang.
Di permukaan atas jalan aspal yang terbentang seolah ada kristal yang bertebaran yang sebenarnya itu adalah uap air dari tanah yang sepanjang malam yang berlalu di hinggapi udara lembab yang jatuh ke bawah oleh beratnya air yang terkandung pada udara lembab tadi.
Saat ini ketika mentari mulai menampakan kekuatan sinarnya yang mampu membuat kering dalam
waktu tidak terlalu lama, pakaian basah yang tergantung di rentangan tambang yang terikat pada tiang jemuran.
Kondisi seperti ini adalah salah satu dari beberapa ciri khas yang di miliki Negri tempat tari Samba. Itu Tercermin lewat kondisi teriknya sinar Mentari di halaman luar dari gedung Bandara.
Sinar Mentari yang seakan siap untuk menyengat dengan terik sinarnya apa saja yang berada dalam jangkauannya
Sementara udara di luar naungan atap gedung di sana yang saat itu panasnya melebihi tingkat panasnya kota Jakarta saat kemarau melanda.
Jadi bukanlah sebuah keputusan yang keliru bagi mereka berdua. Aji maupun Melindari, mereka berdua sudah semenjak jauh - jauh hari membuat persiapan untuk perjalanan yang lumayan jauh kali
ini.
isi perbekalan kali ini, diantaranya Kacamata peredam teriknya sinar mentari, yang selalu setia.menyertai kemanapun majikannya pergi.
Kacamata tersebut ber merek cukup di kenal yaitu
" Ray Band " kacamata kesayangannya. Sehingga perangkat tersebut tidak pernah sampai terlupakan di masukkan kedalam Traveling Bag nya.
__ADS_1
Saat ini Ray-band nya itu sudah terlihat melekat di wajah mereka masing-masing.
Keduanya memiliki kesamaan dalam memilih pelindung mata dari teriknya sinar matahari, dan keduanya pernah mengutarakan pernyataan yang sama, tidak ada ucapan meng " Copy Paste " satu dari yang lain.
" Aku lebih menyayangi dan memanjakan kenyamanan mataku ketimbang perduli apa kata orang, mau di bilang Sok Borju kek, atau apa lah kata mereka, masuk Mall saja kalau aku lihat tata penyinaran di sana menyilaukan pandangan mataku. Aku pakai tuh kacamataku." Ujar Melindari, membuat Aji tercenung dan bertanya meski hanya di dalam batinnya saja.
" Ini Melindari yang alias Susan kah ?". Ucap batinnya, karena sepanjang dia ketahui, Susan lah yang pernah berucap akan fungsi kacamata terhadap kelangsungan fungsi Mata yang senantiasa terjaga dari kelelahan.
" Ah... Bikin mumet kepala, ngurusin hal sepele seperti ini. Mau dia ini Susan, mau hantunya, pokoknya wanita ini mau ikut mendampingiku, sudah selesai urusan!" Batinnya lagi.
" Bang....! Kita nggak janjian lho ya ?!, Ujar Melindari sembari membuka kacamata Ray-Ban nya, lantas dalam genggamannya lantas diperlihatkan kepada Aji yang memperhatikannya dengan dengan seksama.
" Wadduh... Itu mah yang mahal punya Mel!".
" Ya. Bang....Hadiah dari seseorang. Konon belinya di luar negri, entah aku nggak sempat menanyakan luar negri nya di mana. Swear...., seperti itu kejadiannya!"
" Percaya...., lagi pula untuk apa bohong untuk hal sekecil itu, yang boleh gak percaya, itu lho, kenapa merk nya bisa sama ya?" Timpal Aji.
" Itu yang aku kepingin bilang dari tadi, tapi model kan kan berbeda, punyaku corak dan karakternya Feminim." Sanggah Melindari.
Banyak hal lainnya yang menjadi objek dalam perbincangan mereka, selain hal kecil seperti yang baru saja diperbincangkan nya.
Mereka merasakan efek segar pada badannya setelah mengambil rehat walau hanya dalam hitungan puluhan menit saja, padahal perjalanan di ketinggian ribuan kaki yang sempat membuat pendengarannya berdengung walau hanya untuk waktu-waktu tertentu.
Karunia nikmat seperti inilah yang senantiasa dia syukuri, di saat telapak kaki menginjak permukaan Bumi. Seolah seluruh fungsi organ pada tubuh telah kembali dengan normal sebagaimana biasa.
Sambil bercakap-cakap langkah kakinya mengayun keluar dari ruang dalam Bandara menuju pintu keluar.
Terlihat begitu ramai kerumunan orang yang menjemput kedatangan penumpang salah satu pesawat dari beberapa pesawat yang baru saja sandar di Sana, pesawat tersebut yang di tumpangi oleh Aji dan Melindari.
Diantara kerumunan orang yang bertujuan menjemput, terlihat oleh mereka. Seorang laki-laki dengan ciri-ciri seperti yang Josette gambarkan di dalam WA yang di kirimkan kepada Aji dan di teruskan nya kepada Melindari melambai sesuatu yang di pegangnya.
Ketika jarak mereka semakin dekat, terlihat jelas pria tersebut memegang sebilah papan tipis persegi empat dengan ukuran sedang, dengan tulisan yang bisa terbaca dengan jelas dari jarak mereka saat ini berada.
Pada papan yang di pegangnya tertera nama mereka berdua, yang membuatnya tidak syak lagi kepada mereka berdua lah pria itu melambaikan tangannya.
__ADS_1
Begitu rasional pemikiran Wanita cerdas itu, demikian pendapat Aji akan Josette, dia ingat ketika menjelang keberangkatannya dari Bandara Soetta Cengkareng, masih ada signal untuk saling ber komunikasi di antara mereka., Wanita Itu masih sempat menanyakan Warna pakaian maupun Jacket yang dikenakan oleh Aji maupun Melindari.
Berkesan Wanita itu Kepo bingit. Seperti itu tanggapan dan kesan yang tersirat dalam batin Aji saat itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩ...
Tulisan nama keduanya semakin terbaca dengan jelas, jarak merekapun semakin dekat, tidak kurang
dari sepuluh meter. Semakin jelas terlihat oleh keduanya dan merekapun spontan membalas lambaian tangan dari pria pemegang papan nama mereka. Pria itu membalas dengan senyumnya.
Setelah jarak mereka semakin dekat dan berakhir dengan saling tegur sapa sambil mengulurkan tangan, terlihat pria itu menghela nafas panjang.
Mungkin saja itu merupakan ekspresi dia merasa bersyukur dan lega hatinya atas keberhasilannya telah melaksanakan tugas dari pengguna Jasa yakni Josette, sedangkan pria tersebut sebagai pekerja pada Biro khusus penyedia jasa yang bergerak di bidang yang mencakup, pengawalan perlindungan dan keamanan.
Sambil menebar senyum, pria tersebut menempelkan jari telunjuknya kepada Tulisan pada papan yang dipegangnya, sembari menganggukkan kepalanya.
Dengan serempak Aji dan Melindari mengacungkan Ibu hari mereka di sertai anggukan kepala sebagai bentuk pernyataan ," Benar, kami berdua adalah yang namanya tertulis di papan itu". Di sertai ulas senyum sebagai balasan atas keramahan yang pria itu perlihatkan kepada mereka.
" Mel, nggak keliru tuh Josette mengirim orang yang menjemput kita,?" Tanya Aji dengan mimik wajah heran
" Emangnya kenapa Bang, keliru apanya?!" Timpal Josette yang lebih merasa keheranan.
" Itu...., orang nggak bisa ngomong, bukan seperti katanya di telepon kemarin, orang itu kurang ngomong." Timpal Aji dengan suara yang di sengaja nya perlahan.
" Masak sih Bang? Atau mungkin orang itu pikir, kalau ngomong pun harus berteriak-teriak, kondisinya hiruk pikuk seperti in, itu menurut pendapatku Bang!" .ujar Melindari lebih jauh
" Cerdas kau Mel ! , sejak kapan seperti itu?" Tukas Aji, sembari tersenyum.
Suara Ha...Ha pun terdengar berderai dalam waktu yang berbarengan, lepas tanpa beban, yang sempat mendapat reaksi dari pria berbadan tegap seperti layaknya sikap seorang pengawal pribadi dalam tayangan sebuah film-film yang pernah di lihatnya di Gedung Film 21.
Dengan gaya jaim dan kaku, pria itu seakan ingin memperlihatkan hati dirinya, walau dia kurang berkenan atas adegan spontan dari Aji dan Melindari
perbuat tadi, tetapi pria berbadan tinggi dan berperawakan Atletis serta cambang dan kumis tipisnya yang berpenampilan rapi dengan sorot matanya yang tajam itu, tetap menjaga sikap profesionalnya.
Ekspresi kurang berkenan itupun hanya sepintas, selepas itu dengan senyum ramahnya dia menyapa Aji dan Melindari dengan tutur kata yang sopan dan bahasa Inggris yang terdengar fasih.
__ADS_1
Mereka pun mulai saling bertegur sapa, dan saling menyebutkan nama masing-masing. Sebagai perkenalan pertama dalam perjumpaan pertama mereka