Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN * " Nuansa Baru "


__ADS_3

Bab 1


Melihat raut wajah Melindari yang nampak ada gurat - gurat penat, walau ketika Aji bertanya akan hal itu kepadanya sebelum dia tertidur dengan senyum ceria dia menjawab.


" Nggak koq bang, aku senang dan belum merasa lelah, hanya terasa bosan duduk terus ." Ujarnya, menanggapi pertanyaan yang di ajukan oleh Aji kepadanya.


Di tatapnya wajah yang masih tertidur lelap itu, spontan timbul rasa kasihan mengingat betapa Melindari yang begitu terlihat ikhlas bersedia untuk mendampinginya menempuh perjalanan yang jauh, hanya karena Dia sahabat dari Haruki, kakak sepupunya.


Apakah Melindari masih mau mendampinginya bilamana Haruki tidak ada hubungan apapun dengan dirinya,? Pertanyaan itu pun timbul di dalam benaknya.


Bias sinar dari Mentari mulai menyeruak ke celah tirai jendela yang membuka sedikit penutup kaca jendela oleh salah satu penumpang yang duduk di dekatnya.


Ternyata hari telah menjelang pagi, sudah ada izin bagi penumpang yang ingin melihat Atmospher angkasa di luar ruang pesawat, dengan membuka penuh penutup jendelanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Handuk spons dari bahan yang halus, lunak dan hangat , lembab, tercium wangi aroma bunga itu, di bagikan oleh pramugari kepada penumpang, seperti kemarin. Begitu usai pesawat melakukan manuver dalam proses mengangkasa.


Tiba-tiba terlihat seulas senyum tersungging di sudut bibirnya, melihat wajah kelelahan dari wanita itu membuat timbul sebuah gagasan untuk sekadar menghiburnya agar tidak jenuh menapaki waktu yang terasa begitu lambat sehari semalam, jumlah waktu penerbangan sudah termasuk transit di Pelud Changi Singapore.


* Permainan akan segera di mulai.


Aji sengaja memanggil Pramugari melalui " tombol panggil " yang terdapat di sandaran tangan pada kursi penumpang.


Tidak lama kemudian salah satu dari beberapa orang pramugari itu, datang memenuhi panggilan tersebut.


Aji mulai menanyakan sesuatu kepada Pramugari yang ternyata bernama " Farah Diba". Jelas terbaca pada plat nama yang di tempel pada bagian dada kanan di uniform yang di kenakannya.


" Selamat pagi Miss, saya mau bertanya, apakah di antara seluruh penumpang pesawat ini , ada yang bernama..., sambil di perlihatkannya tiga buah nama yang telah di tulisnya pada secarik kertas, dia merasa bersyukur dengan mendapat tanggapan yang baik dari sang Pramugari


Secara profesional berupa keramahan yang pantas.


Pramugari itu tersenyum dan berkata," Tidak mungkin ada di sini Tuan, bukankah itu Kapten Sinbad si pelaut legendaris.? Dari Baghdad Timur Tengah, itu kah yang anda maksud." Sambil tersenyum, kali ini seperti menahan tawa.

__ADS_1


" Wah, kebanyakan di Udara nih cewek, cantik tapi Bolot, bukan Sinbad Nona, tetapi Limbad !." Aji menjelaskan sambil menggerutu. Merasa seakan dia di lecehkan, karena percakapan itu berlangsung di depan penumpang lain, sebelah kiri dan belakangnya yang tidak mustahil mereka ikut menyimak pembicaraan antara mereka berdua, dengan topik yang berakhir mengundang tawa bagi yang ikut menyimak pembicaraan tersebut.


" Oo...Mohon maaf kalau saya salah tanggap, baiklah akan saya lihat di data penumpang di ruang Komputer." Jawabnya sambil berlalu, kepergiannya demi untuk memenuhi permintaan penumpang, di kelas Eksekutif, yang dimaksud penumpang disini adalah Raja tigapuluh jam saja." Demikian istilah sang Raja dan Ratu versi Haruki.


Tidak lama berselang, Pramugari itu sudah kembali ke tempat tadi dia pergi meninggalkan Aji dan Melindari, dan berkata,


" Mohon maaf atas ketidaknyamanan yang anda alami bilamana pelayanan kami di anggap kurang maksimal. Sekali lagi saya memohon maaf Tuan, karena setelah saya periksa di data Penumpang keseluruhan, ternyata tidak saya temukan nama yang anda maksudkan.


Artinya, disini tidak ada penumpang dengan nama tersebut juga dua nama lainnya yang anda tanyakan tadi," Papar Pramugari itu.


" Terima kasih Miss, anda telah meluangkan waktu khusus untuk menanggapi pertanyaan yang saya ajukan, " Dengan di akhiri oleh kalimat dalam gumam berirama www gerutu lirih.com. " Aman dah kalau begitu !" Batin Aji.


Dimulainya dari pramugari yang bernama Farah Diba.


Aji meminta tolong kepada Farah Diba untuk memanggil temannya yang dia ingat betul bernama " Syifa Salma " tertera pada plat nama yang melekat di dada sebelah kanannya pada baju seragam yang di kenakannya.


Aji masih hafal, tadi Syifa Salma ini yang dia pintai air teh panas, sudah dia terima, tapi air teh tersebut dingin bahkan cenderung mendekati dinginnya air es, itu yang akan Aji tanyakan.


" Ada yang bisa saya bantu.?" sapanya santun.


" O.oo , Nona Farah Diba !." jawab Aji


" No.. Tuan. nama saya Syifa Salma." Menyanggah ucapan penumpang yang memanggilnya itu, seraya menudingkan telunjuknya ke arah dada kanannya dimana tersemat namanya.


" Miss, anda tidak boleh berbuat kebohongan seperti itu kepada saya, sebagai penumpang yang layak mendapat prioritaskan, semestinya mendapat pelayanan terbaik dong!, seperti Itu semboyan perusahaan penerbangan ini bukan.?" Sahut Aji seolah Jengkel, padahal di dalam hatinya tertawa.


" Ada sesuatu yang salahkah Tuan?" Pramugari Syifa Salma bertanya masih dengan suara santun dan wajah ramahnya.


" Ada !. Yang pertama saya tadi minta kepada anda air teh Panas, tapi.... Anda bisa lihat apa yang anda berikan kepada saya?" Sahut Aji sambil telunjuknya di tuding kan ke arah cangkir berisi air Kopi dengan kepulan asap, tapi terlihat bukan asap panas yang mengepul, akan tetapi asap dari air es.


" Dan yang kedua, anda telah dengan terang-terangan mengaku bernama Syifa Salma padahal papan nama Anda bertuliskan " Farah Diba". Apa saya yang salah baca?" Sergah Aji sengit, seakan merasa telah dipermainkan.


Demi pandangan matanya melihat kearah Cangkir air yang berisikan air Kopi yang masih penuh pertanda belum diminum, mungkin karena dingin bahkan mendekati beku seperti es.

__ADS_1


Sang Pramugari pun berubah wajahnya mendadak jadi pucat pasi, terbayang sanksi apa yang akan dia peroleh dari atasannya beberapa saat nanti.


Itu kalau dia melakukan hanya untuk satu perbuatan yang dianggap sebuah keteledoran, bagaimana kalau yang di perbuatannya itu di nilai oleh atasan, tergolong sebuah tindak pelanggaran.


Sudah bisa dipastikan sanksi berat apa yang akan didapatkannya.


Untuk kali ini juga, ketika di bacanya sendiri papan nama yang tersemat pada dada kanan di baju seragam Pramugarinya.


Dengan mulut ternganga, mungkin saja matanya terbelalak, demi terbaca olehnya tulisan nama Farah Diba, bukan namanya Syifa Salma.


" Mati aku.!" desisnya perlahan. Dua pelanggaran sekaligus dalam waktu yang bersamaan, telah di perbuat nya.


Menggunakan seragam yang kepunyaan sendiri, itu jelas sebuah pelanggaran yang dianggap berat dan sulit bagi management untuk mentolerir. Itu tertulis di dalam aturan yang baku.


Kalau sampai penumpang yang satu ini mengajukan keluhan kepada atasannya di sini, tidak mustahil dirinya akan mendapat sanksi yang tidak ringan.


Selain dia merasa yakin sekali akan pekerjaan rutin yang telah dilakukannya tidak ada yang bakal menghasilkan yang baru saja penumpangnya perlihatkan kepadanya.


Di samping pikirannya yang berkecamuk dengan dua kejadian yang tidak lumrah, menurut akal sehatnya. Ini adalah sebuah kejadian yang sungguh tidak masuk di akalnya.


Seluruh pekerja di atas pesawat yang jangkauan terbangnya hingga ke manca negara seperti dirinya, dan juga bukan baru untuk pertamakali ikut terbang sebagai Pramugari yang sudah lebih dari sepuluh tahun mengabdi dan bekerja di perusahaan penerbangan Saudi Emirat Arabian ini.


Dia tidak begitu saja langsung menerima kejadian yang menimpanya ini.


Tidak habis pikir, karena masih dia ingat betul, yang tadi dituangkannya kedalam cangkir di hadapan penumpangnya, seorang lelaki yang diakuinya ganteng dan menarik, begitu komentar dari rekan sesama Pramugari berpendapat seperti pendapatnya juga, yang kebetulan rata-rata mereka berstatus masih pada sendiri, yang dihidangkannya saat itu adalah Air teh yang panas.


Selain menurut menu yang di hidangkan saat itu, tidak ada di sediakan minuman dingin kecuali atas permintaan khusus dari penumpang.


Mengapa sekarang berubah jadi air kopi, dan dingin pula? Padahal saat dia tuangkan, kejadiannya baru berlangsung kurang lebih Lima belas menit yang lalu, air teh yang di hidangkan nya itu masih dalam kondisi panas.


Kalimat seperti itu yang bercokol di benaknya. Membuat kepalanya terasa panas dan berdenyut.


" Wadduuuh, bagaimana ini? Apa aku sudah Fatigue, karena telah melakukan terbang melebihi jam standar bagi pramugari pada umumnya." Dia bergumam sendiri dengan mengernyitkan dahinya. Tidak habis pikir atas kejadian ini.

__ADS_1


__ADS_2