Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN * " Transisi "


__ADS_3

Bab 7


" Aji., Selama kepalaku bertengger di ujung leher, belum pernah aku mengajak siapapun untuk menghadiri sebuah undangan, selain istriku.


Malam ini gua dengan sengaja mengajak Luh untuk ikut menghadiri undangan sebuah acara pesta Ulang tahun adik sepupu gua, anak Tante dari pihak Mamie.


" Tumben ini orang ngomong nya sopan..tuh kan ?, baru juga hitungan detik, sudah kembali lagi ke aslinya., he..he.he. dasar Jepang keturunan korban radiasi Bom Atom di Hiroshima,!" omelan Aji hanya sebatas di dalam hatinya saja.


" Lantas disana aku mau ngapain, Ruki ?".


" Terserah Luh maunya ngapain sama mereka,"


" Waw..! Mengejutkan, ini baru acara yang luar biasa, mana pas malam Minggu..."


" Luh sudah mandi apa belum ?, kalau belum cepat ya, sana mandi dulu ."


" Siap komandan !" Jawab Aji, yang langsung pergi menuju kamar mandi, menggunakan pasilitas yang ada di bengkel.


" Ada Khabar, bini gua gak bisa ikut. Bapak mertua Masuk Rumah sakit dan Dokter di sana mengajurkan untuk rawat inap.


" Semoga beliau cepat kembali pulih, ya Ruki."


" Ya, Ji " itu harapan kita. ngomong-ngomong, kita kan kagak pernah ngelayap sejak eluh bekerja di tempat Babe, anggap saja undangan gua ini atas nama PT NAGASAKI SERVIS, direksi hingga Staff keseluruhan yang belum sempat memberi balasan atas kinerja Luh yang patut mendapat penghargaan., Luh tau nggak sebabnya, kenapa ?"


" Mana aku tahu ?" jawab Aji sambil mengangkat bahu.


" Karena Luh mengundurkan diri, mendadak.. kawan!!" tapi tidak apalah , nanti di Kapal kalau untuk dapat gaji gede mah. Untuk kali ini gua minta Luh Ji, nginap di rumah gua, sekali-sekali boleh, mpok Luh nggak akan nyari..."


Aji tidak berkomentar, di dalam hatinya mengatakan " setuju, kalau mengatakan tidak juga percuma, Pasti di paksa."


Waktu sore di Jakarta mulai mendominasi gaya penampilannya, dengan di tunjang oleh udara yang mulai ramah, tidak lagi bersikap seakan memaksa warga nya untuk berpakaian minim, bukan oleh karena alasan mode, akan tetapi cenderung lebih di karenakan oleh udara yang panas.


Para karyawan sudah pada bersiap untuk pulang, Haruki Gawa dengan sabar menunggu Aji selesai mandi.


Setelah yang di tunggu usai dengan mandi sorenya, dengan berboncengan motor moge kebanggaannya, mereka berdua bergaya seolah dua pangeran yang akan menghadiri sebuah pesta, yang konon akan di hadiri juga oleh putri Cinderella.


Haruki tumbuh kembang sejak dari usia muda dan dewasa hingga berumahtangga, tinggal di lingkungan kehidupan yang berpenduduknya multi ras, yakni di Jakarta Utara.

__ADS_1


Perilaku penghuni di lingkungan tempat tinggal orang tuanya yang penuh dengan beragam corak gaya hidup, ada dampak yang tidak disadarinya, tapi tampak melekat pada hidup kesehariannya.


Dari mana dia hafal, bagaimana ketika orang dewasa bercinta. Ketika itu dia masih duduk di kelas 5 sekolah dasar.


Satu saat dirinya melihat dari dekat penjual obat yang penjualnya katakan," Obatnya berkhasiat bisa membuat 'Pasutri' untuk sanggup bertahan lama dalam berhubungan badan, itu belum seberapa, yang lebih dari itu pun Aji pernah menyaksikannya


.


begitu menginjak usai anak sekolah menengah atas, mulai dia suka dengan otomotif, terutama kendaraan motor roda dua.


Ayahnya membelikan sebuah motor roda dua merk Yamaha kelas Moge. yang semula dilihatnya hanya dalam adegan balap di sirkuit moto GP, itupun dilihatnya melalui layar televisi, atau hanya di dalam angannya saja, sekarang angan-angan itu menjadi nyata. Ayahnya punya perhatian khusus dengan caranya sendiri.


Ditengah perjalanan ." Bro.., mau pergi kemana memangnya.?" tanyanya santai.


" Di infokan nanti, kalau sekarang bukan kejutan namanya ." Jawab Haruki tidak kalah santai.


Dengan Motor moge hadiah dari ayahnya Haruki, mereka menyeruak jalan raya menuju pulau mas untuk kemudian tiba di Perumahan Kelapa Gading dengan melalui jalan pintas yang Aji perhatikan, sahabatnya ini begitu cekatan..tidak lebih dari 30 menit, mereka sudah sampa di sebuah gapura tanpa nama maupun petunjuk gerbang perumahan apa namanya.


Bersamaan dengan Ban depan motor hendak melewati gundukan polisi tidur, di gerbang tidak berpintu, salah satu dari dua orang berseragam keamanan, meminta motor untuk menepi, dan berhenti seraya memberikan secarik sobekan kertas kecil.


" Ambil Ji, " sahut Haruki sedikit keras suaranya karena terhalang oleh Helmet , di angkatnya helmet itu sedikit, sehingga tampak wajah Jepang nya oleh kedua anggota keamanan itu.


" Eh..Boss..!, motor baru lagi ini ?" tanya mereka berbarengan, sembari tersenyum, mengusap badan motor, sapa nya, mengandung arti.


" Iya Ndan .! ( komandan ).. Biasa lah ya .,sekalian saja, biasa kan hari minggu, besok, besok! " teriak Haruki, seperti kepada orang yang sudah kenal dekat saja, ternyata memang mereka sudah saling kenal.


Haruki sudah menjadi langganan tetap di sana, sekedar untuk bertemu dengan teman-temannya, semasa remaja. Saking seringnya, sehingga untuk parkir kendaraannya pun tidak setiap kedatangannya di tarik bayaran oleh keamanan setempat.


Tidak berselang lama motor yang mereka naiki telah memasuki halaman depan dari sebuah rumah yang Aji menduganya kediaman Tantenya Haruki, karena dari pintu masuk yang sedikit terbuka, terlihat ruangan yang dindingnya telah di hiasi dekorasi khusus untuk pesta, penampakan ini saja, sudah cukup bagi Aji, bukti di rumah ini sedang di adakan sebuah acara perayaan, yang Haruki katakan tadi di Bengkel.


Mereka berdua masuk ke rumah itu, dengan di sambut sorak yang gegap gempita dari seluruh yang sudah pada hadir, dengan gaya ala mereka.


Baru saja terjadi sebuah adegan yang sangat membuat Aji terpana sesaat, kemudian tercengang, ketika salah seorang anggota keluarga Tante Meyriska dari yang telah lebih dahulu datang kesana, menyambut Haruki dengan memeluknya begitu erat, hingga tubuh mereka tidak ada celah walau satu milimeter pun, di akhir pelukan mereka berciuman bibir, itu gila menurut Aji, yang lebih gila lagi, hampir separuh dari wanita yang ada disana berbuat begitu kepada Haruki.


Di mata mereka Aji terlalu berlebihan, perduli dengan adegan yang mungkin bagi mereka, itu hal kecil dan biasa, lebih dari itupun mereka perbuat.


Adegan yang tertangkap mata Aji, itu masih belum masuk yang istimewa. Mungkin hanya Aji satu orang saja yang tidak tahu, itu terjadi di ruang terbuka, apa yang saat ini sedang terjadi di dalam kamar, sementara Aji duduk bersandar ke dinding kamar itu?.

__ADS_1


Ucapan yang terlontar spontan tadi membuat semua pandangan tertuju kepadanya, padahal masih ada satu kata lagi yang belum sempat terlontar, yaitu , " Mack !" bagaimana kalau sampai lengkap kedua kata itu terlontar.?


Aji, masih ngedumel, menanggapi adegan Haruki yang di tanggapi oleh Aji, Haruki telah melakukan perbuatan tidak bermoral, katanya para gadis itu saudara sepupu.


Baginya, manakala orang berbuat seperti itu, sekalipun lebih dari itu, tapi kalau di tempat yang bukan peruntukkannya, apa bedanya dengan mahluk yang tidak berakal, bagaimana mau beretika ?.


Mungkin karena sikap dan tanggapan mereka terhadap kebiasaan yang telah berjalan puluhan tahun, dan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari penghuni lingkungan disana, maka kehadiran Aji saa itu, di anggap tidak pas, kalau bukan karena Haruki yang ngajak?, entah apa jadinya.


Di ibaratkan oleh mereka, Aji itu bagaikan seorang penduduk pedalaman Salah satu Hutan Tropic yang ada di Indonesia, yang di bawa ke ibu kota Jakarta dan di tinggalkan di Super mall sendirian tanpa di Bekali uang satu rupiah pun.


" Udik amat ih ?" Tampang saja Ganteng, badannya juga meyakinkan tidak perlu Viagra tuh, tapi kenapa bawaan bang Haruki yang ini, culun begitu ya ?" suara yang terlontar dari salah satu dari kerumunan orang di ruangan itu, terdengar oleh Aji , tapi dia berpura-pura tidak mendengar.


Kejanggalan demi kejanggalan yang di lihatnya juga perkataan di dalam obrolan sesama tamu, yang di dalam penilaiannya yang obyektif. Ini akan dia tanyakan kepada Haruki nanti.


" Cara berpakaian para tamu yang menghadiri pesta, bukanlah bahan murahan, penampilannya yang selaras dengan perhiasan yang mereka kenakan juga Ajib, tapi..Bahasa yang mereka gunakan?, waw.. Tobat dah.


Apa tidak ada lagi perbendaharaan kata yang sedikit santun dari yang mereka pergunakan saat ini. Bukankah saat ini sedang di forum formal ?" Aji masih ngedumel di dalam batinnya.


Suasana yang kurang nyaman bagi Aji, mungkin juga bagi semua wanita yang ada disana, kecuali beberapa wanita yang dari tadi seperti menaruh perhatian kepada Aji, dan yang cara berpikirnya ringan, tidak mau ribet.


"Kampungan bisa di poles, tapi tampang macam Abang ini,? susah di dapat," bisik lirih Susan salah satu wanita dari kelompok tadi.


Haruki menangkap gelagat kurang nyaman pada sikap sahabatnya ini, dengan sigapnya dia ambil mikrofon yang sedang dalam genggaman Pemandu acara.


"Selamat sore menjelang malam saudara dan saudariku semua yang saat ini bisa datang untuk ikut partisipasi menyambut perayaan ulang tahun yang ke...( mohon maaf, saya tidak sebutkan ), tapi bagi yg penasaran ingin tahu, silahkan tanya langsung kepada yg bersangkutan.


Hingga di situ suara tepuk tangan bergemuruh, menyambut Haruki yang sukses dalam memancing tawa..


Dengan lancar dia bertutur kata, hingga tiba di ujung


sambutannya, dia bermaksud mengusulkan kepada semua tamu yang hadir, untuk saling berkenalan satu dengan lain, tanpa kecuali.


Untuk yang kedua kalinya Haruki mendapat sambutan dengan sorak yang gegap gempita.


Namun ada seorang yang kurang menanggapi suasana yang menyenangkan ini, justru dia merasa di bohongi oleh sohibnya. Dia merasa Haruki telah membohongi nya, membuat dia sudah tidak betah lagi untuk berlama-lama berada disana.


Haruki bisa memakluminya, " Ustadz Aji sudah salah masuk nih..he..he..he." gumamnya sambil menyeruput Air mineral di hadapannya

__ADS_1


" Katanya akan ada kejutan untukku...Mana Kejutan itu ? yang begini sih biasa-biasa saja ...!"..sungut Aji..


* Benarkah ucapan Haruki kepada Aji, ketika mereka akan berangkat dari Bengkel. " Kalau di kasih tahu duluan, bukan kejutan dong namanya. kejutan macam apa gerangan ? pasti ada jawabannya di Transisi Bab ke 8. makanya baca terus...sambil minum kopinya ya Gaes ?!....


__ADS_2