
Bab 2
Terlihat dari kejauhan, dari tempat para pengantar berdiri, pesawat mulai bergerak kedepan dengan menambah laju kecepatannya.
Untuk kemudian melesat bagai anak panah yang dilepaskan dari busurnya, di ujung landasan pacu pesawat mulai mengudara untuk selanjutnya dengan perlahan menjauh dari jangkauan pandangan dan menghilang tertutup tabir awan putih yang tebal di langit yang biru.
Para pengantar mulai berlalu satu persatu, tinggal beberapa gelintir orang saja yang tersisa, di antara yang masih tinggal adalah mereka bertiga, itupun di tempat yang terpisah walau mereka bisa melihat satu sama lain.
Aji melihat dari jarak yang tidak terlalu jauh, Wulan sedang fokus mendengarkan seorang wanita yang berdiri dihadapannya, untuk kemudian Aji melihat Wulan menudingkan telunjuknya ke arah dia berdiri, serta merta dia melihat ke kiri dan kanannya, siapa tahu Wulan menunjukkan kepada wanita itu seseorang yang berada di sekitar tempatnya berdiri, dan bukan dirinya, namun tidak ada orang lain di sekitar itu, selain dia.
Akan tetapi, setelah diperhatikannya dengan seksama, Wulan mengulang lagi menudingkan telunjuknya bukan kepada orang lain, barulah dia menyadari memang dirinyalah orang yang dimaksud oleh kedua wanita itu.
Mereka bertiga saling mendatangi dan mendekat, Wulan yang pertamakali membuka percakapan.
" Aji., ini teh Shinta, sok atuh berkenalan, teh Shinta ini Aji saudaraku yang tadi aku. Ceritakan ke teteh, ini orangnya." Papar Wulan.
Aji mengulurkan tangannya, di sambut oleh Shinta dengan melakukan hal yang sama, seraya tersenyum.
" Aji ya ? Aku dapat info tentangmu dari Wulan, kamu asli orang Pandeglang Banten bukan ? Syukur Alhamdulillah Allah SWT pertemukan aku dengan orang yang kata mbak Wulan, kau tuh orangnya baik, semoga info itu benar, he he he." Kata Shinta tanpa rasa sungkan.
" Kok teh Shinta percaya sama Wulan sih ? Kan baru pertama bertemu di tempat umum pula." Sahut Aji.
" Hatiku mengatakan untuk percaya dia " Jawab Shinta singkat.
Aji merasa tersanjung, tetapi juga jadi teringat akan ucapannya sendiri bahwa dirinya adalah seorang Pengacara, dia pun harus menerima segala konsekuensi yang berlangsung kepada dirinya.
Sebagai pengangguran banyak acara, nah sekarang terbukti lagi, tetapi dia menikmatinya, bagaimana
tidak? . " Teh Shinta ini kalau di perhatikan dengan seksama, kok ada kemiripan dengan gambaran seorang Dewi Shinta pasangan Prabu Rama di kisah pewayangan. Dikisahkan Dewi tersebut membuat seorang Raja Denawa bernama Rahwana, bergelar Dasamuka seorang raja dari kerajaan Alengka. Yang kesengsem oleh ke elok rupawan nya Dewi Shinta, sehingga membuat sang prabu bertitah kepada bawahan yang sangat dipercayanya untuk menculik Dewi tersebut.
__ADS_1
" Ala Mak...itu bulu matanya, asli bukan sambungan tapi mirip dengan yang biasa di pakai oleh wanita pesolek." Aji memandangi nya dengan penuh rasa kagum.
Tidak bisa dia membohongi dirinya bahwa Shinta memang satu lagi wanita yang di akuinya sebagai gambaran wanita yang anggun mempesona, ketika Wulan mengatakan butuh seorang pengacara seperti dirinya saat ini dia berceloteh di dalam hatinya, " Tidak perlu di pinta untuk kedua kalinya, Aji siap.!"
Adapun bentuk permintaan tolong yang Shinta ajukan kepada Aji melalui Wulan, yaitu untuk mengantarnya pergi ke daerah Pandeglang, Banten.
Tepatnya ke Rumingkang, tidak jauh dari restoran bernama " Goyang Lidah " , konon kepergian Shinta kesana, bukan untuk yang pertama kalinya.
Tidak ada minat Aji untuk mengetahui, dengan tujuan apa Shinta pergi kesana. Karena di samping dia merasa tidak perlu juga yang seperti itu bukan dirinya banget. Yang berprinsip ," kalau mau menolong ya menolong saja, tidak harus bersyarat ."
⚓⚓⚓
Ketika mereka pergi ke Halim Perdana Kusuma, menggunakan mobil dinas kantor mas Bramanto, Aji berniat untuk sesegera mungkin mengembalikan mobil itu ke tempat seharusnya mobil itu berada, dia telah perhitungkan waktu perjalanan nanti ke Rumingkang, kalau tidak sesegera mungkin, maka akan kemalaman di perjalanan. Apalagi kalau menggunakan moda transport Umum.
" Wulan, aku rasa, untuk mengembalikan mobil kantor ini ke Daerah Pejompongan atau sekitar Bendungan Hilir, dari sini bukan jarak yang dekat." Ujar Aji membuka percakapan.
" Lantas menurut mu, yang terbaik harus bagaimana?" Timpal Wulan.
Entah kebetulan atau memang sengaja, Barmanto menelepon dengan menggunakan fasilitas telepon seluler milik salah seorang Pramugari pesawat. Tadi sebelum pesawat mengudara. Dia hubungi sopir kantor bernama Emat, dan Barmanto pun memberikan Nomor telepon seluler milik Aji kepada pak Emat.
Adapun tujuan Barmanto menghubungi pak Emat, untuk keperluan pengembalian mobil dinas ke Kantornya di sekitar Bendungan Hilir, tepatnya di Pejompongan. Yaitu kantor Dinas Air bersih PDAM di DKI Jakarta.
" Mbak Wulan, enggak sekalian ikut kita ke Pandeglang?" Shinta menawarkan.
" Untuk kali ini tidak dulu Teh, sedang ada tugas dari perkuliahan, dari tempat kerja juga. Kepinginnya sih ikut, lain kali kalau Teteh kesana lagi, ajak aku ya?" Timpal Wulan.
" Sayang sekali ya, padahal kalau ikut jadi ada teman ngobrol sesama wanita ," Timpal Shinta.
" Maaf ya Ji, sungguh aku ingin ikut, ingin tahu Rumingkang atau tempat-tempat lainnya yang ada di pinggir kota Pandeglang, sekali lagi maafkan aku ya Ji, tidak apa-apa kan ?" Wulan memohon untuk di maklumi.
__ADS_1
" Tenang saja Lan, tidak apa-apa, nanti begitu datang pak Emat, kami berdua mau minta tolong dia untuk mengantar ke terminal Kampung Rambutan. Kalau kamu kan, tinggal order saja di Konter Travel, mau Primajasa, City Trans, Jacket atau Baraya atau kalau mau sedikit santai tapi asyik ramai-ramai, pakai DAMRI, Bus Air port. Nyaman tidak akan ada yang mengamen, silahkan mau bobok juga, tahu-tahu sampai di Garasi DAMRI , he he he ," Seloroh Aji, sambil tertawa.
Pesawat yang mengudara mungkin telah jauh tinggi mengangkasa dan membelah awan putih yang bergulung terkadang menutupi jarak pandang bagi para Pilot yang menerbangkannya, atau mungkin sedang berada di atas awan.
Bersamaan dengan itu, kedatangan pak Emat di pelataran Bandar udara Halim Perdana Kusuma, dan menghubungi Aji melalui Ponsel dari nomor telepon yang dia peroleh dari Barmanto, hingga tidak sulit baginya mendapati orang yang harus di temuinya, yakni Aji.
Tidak banyak yang pak Emat tanyakan, selain dari,
" Kapan datang dan apa khabar mas Aji ?"
" Alhamdulillah Khabar baik, pak Emat bagaimana?" Jawab Aji.
" Sama Pak, semoga bapak juga demikian." Timpalnya.
Sesuai dengan rencana Awal dan tidak ada perubahan, Wulan pergi menuju Konter Travel City Trans dan boking tiket untuk tujuan Bandung.
Setelah mendapat kepastian jam berapa mobil Travel akan datang untuk line up di teras loby Bandara, dan tahu nomor kursi untuknya, maka...
" Mari pak, kita harus segera berangkat, karena tujuan perjalanan kami masih sangat jauh " Kata Aji di tujukan kepada pak Emat. Dengan sigapnya pak Emat pergi mendatangi mobil terparkir di pelataran parkir khusus pengunjung Bandara.Untuk kemudian dikemudikannya mobil itu mengarah ke tempat Aji dan Shinta berdiri menunggu, untuk selanjutnya kendaraan itu melaju menuju Terminal Bus Kampung Rambutan .
⚓⚓⚓
Keberuntungan masih menjadi milik mereka, tidak lebih dari satu Jam berselang, mereka sudah tiba di terminal Bus Kampung Rambutan, pak Emat mengantarkan mereka berdua hingga masuk ke Terminal, bahkan sampai naik Bus, untuk kemudian pak Emat meninggalkan mereka dengan Bus yang masih terparkir untuk beberapa menit lagi baru akan berangkat sesuai jadwal.
Hubungan kekeluargaan nya dengan Barmanto yang cukup lama terjalin, ketika Barmanto belum menjadi Pimpinan Proyek di Bali yang membidangi sektor air bersih. Pak Emat yang lebih sering mendapat tugas dari pimpinan proyek di Jakarta. Untuk mengantar hampir setiap kegiatan Barmanto dinas keluar daerah masih di sekitar Jawa barat. Pada saat itu Barmanto baru menduduki posisi Kabag di kantor pusat , Jakarta.
Walaupun dia tahu, Aji bukan saudara sedarah dengan Barmanto, namun beberapa kesamaan pada kedua orang itu ditemukannya seakan mereka berdua adalah saudara kakak beradik yang sekandung.
Seraya fokus pandangannya ke arah depan, pikirannya masih terkesan dengan keserasian kedua sejoli yang menurutnya sungguh pasangan yang berbahagia.
__ADS_1
" PASUTRI muda yang sedang berbahagia" . Kata pak Emat dalam gumamnya.sendirian.
( Pembaca yang Budiman, sok tahu ya pak Emat, tidak bertanya lebih dulu kepada kita )