Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN * " Ambisi yang Tertunda "


__ADS_3

Bab 2


Suasana di lingkungan yang masih asri, suara kicau burung yang terdengar bersahutan dan wujud burungnya terlihat berterbangan, beberapa dari burung itu berlompatan dari satu ranting ke ranting lainnya. Pada sebuah pohon besar yang dahannya menjulur ke belakang bangunan Rumah Makan itu.


Mungkin karena terbawa hanyut oleh suasana yang lingkungannya masih asri dengan udara yang masih segar, walau mentari yang menyinari permukaan bumi desa Rumingkang tanpa terlihat gumpal awan di langit yang menghalanginya.


Namun kondisi seperti itupun sudah cukup bagi mereka berdua, mendapatkan keleluasaan untuk mengutarakan apa yang mereka ingin katakan.


" Aji yang nakal, permainan apalagi yang akan engkau pertontonkan kepadaku?" tanya Shinta. " dan Doa yang kau baca tadi, apakah itu juga engkau dapat dari tayangan acara Televisi yang sering engkau tonton, seperti yang kau katakan di Bus dalam perjalanan tadi?"


Sebagaimana kau katakan ketika melihat Fotoku saat mandi Matahari di Volendam, Belanda ? Come on Aji !!


Aku percaya kalau kau katakan berapa orang cewek bule yang pernah dekat denganmu, bahkan lebih dari sekadar dekat pun, seperti aku percaya ketika Wulan mengatakan kepadaku tentang engkau ," Dia orang yang baik kok Teh !" Sambung Shinta lagi, sembari mengangkat bahunya dan mencibirkan mulutnya.


Dan lanjutnya lagi, " Yang aku tidak percaya, kau tidak sengaja membaca Doa untuk makan, tadi.


Please ...Aji , mau kan kau mengulangi lagi dengan doa yang benar, biar kita bisa menikmati hidangan yang belum tentu kita bisa temukan lagi setelah kita makan kali ini, nikmatnya makan seperti yang akan kita santap. Oke Aji ?" Pungkasnya.


Aji menganggukkan kepalanya tanpa sepatah katapun yang bisa terucapkan lewat kerongkongannya yang entah kenapa lidahnya menjadi kelu dan tenggorokannya mendadak terasa kering, tadinya dia bermaksud menjajaki apakah Shinta tahu yang dibacakannya adalah keliru?.. Tidak ada niat untuk iseng, apalagi jahil kepadanya.


Memang sengaja dia bacakan Doa untuk PASUTRI yang syah di bawah naungan sumpah ikrar Ijab Qabul di depan Penghulu. Saat akan melakukan persetubuhan Doa itu lah yang dianjurkan untuk dibacakan.


*** ( Pembaca... Nakal ya Aji ? !! )


Dia merasa terharu mendengar penuturan Shinta..luruh Hatinya, ada rasa sesal, " Baiklah ibu Ustadzah ." Ucapnya dengan kesungguhan.


⚓⚓⚓


Di awali dengan membaca Istighfar terlebih dahulu,


di lanjutkannya dengan membaca Salawat atas Nabi, dan mulai di bacanya Do'a yang Shinta maksud kan yaitu Doa sebelum menyantap makanan yang siap sudah terhidang, dan mulailah dia baca Doa tersebut

__ADS_1


" Allahumma Bariklana,.. Fiima Rozaktana wa kina Adzaabannaar " lantas di bacanya Doa Penutup dengan terlebih dahulu dia baca Umul kitab dan dilanjutkan dengan membaca ," Wa'fuanna ya karim Wa'fuanna ya Rahim, Allahumma sbbitsna bil iman, sabitsna bil Islam, Sabbitsna bilma bili'tikad , Sabbitsna bil ma' rifat, min darid dunia , ila daril Akhirat, dan seterusnya ... Hingga akhir dari pembacaan Doa penutup yang di bacakannya dengan hidmat itu,


" Allahumma wa atahiyatuhum fiiha salam. Wa akhiru da'wahum Anil hamdulilahibrobbal alamiin .. Selesai tugas ya Teh Shinta ?" Ujar Aji. Kemudian dia usap wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya yang tadi dia angkat keatas saat membaca Doa.


Diluar kebiasaannya setiap dia ,usai berdoa dibaca nya Doa penutup, lantas diusapkannya kedua belah telapak tangannya ke wajahnya untuk beberapa saat saja, tapi kali ini dia bukan sekedar mengusap wajah, tapi menutup wajahnya hampir satu menit, belum ada tanda-tanda dia akan usai menutup wajahnya.


Namun pada menit kedua dia buka telapak tangan yang menutup wajahnya dan dilayangkan senyuman yang maksudnya ditujukan kepada Shinta, alih-alih Shinta membalas dengan senyum, malah dia tengah mematung dan terpana.


Tatapannya mengarah ke depan, tetapi kosong seolah sedang menerawang jauh, beberapa saat kemudian barulah dia terlihat kembali seperti sebelum Aji membacakan Doa , atas permintaannya tadi, lantas...


" Aku tidak menyangka seujung kuku pun, Aji. Kau seorang Pelaut yang pastinya pernah, atau mungkin sering di saat ada waktu senggang, kau pergi pesiar dan mendatangi tempat-tempat yang rentan terhadap nilai murni budaya bangsa kita, tetapi tadi saat kau membacakan ayat demi ayat, hampir aku tidak percaya kalau tadi yang membacakan Doa itu adalah kau." Desah Shinta seraya menggelengkan kepalanya.


" Aji, Kalau boleh, Aku Ingin bertanya kepadamu tentang hal yang pribadi ," Ujar Shinta lagi.


" Teh Shinta, aku akan menjawab apapun pertanyaan yang datang dari siapapun semampu aku bisa menjawabnya, pasti akan ku jawab." Timpal Aji, tanpa bertanya pertanyaan pribadi seperti apa?


Baru saja Shinta akan mulai mengucapkan kalimat bertanya seperti yang tadi dia utarakan kepada Aji.


Tiba-tiba ada suara yang mulanya samar-samar, semakin lama semakin jelas terdengar alunan musik religi dari sebuah ponsel yang tidak pelak lagi itu milik Aji.


Begitu di bukanya dengan sekali usap pada layar sentuh di Ponselnya. Aji pun pamit kepada Shinta, untuk pergi menjauh darinya. Dengan mendapat jawaban dari Shinta berupa anggukan kepala.


...********...


" Halo... Selamat siang, senang sekali dapat mendengar suaramu lagi, bagaimana kabar mu Josette,? wow..Sorry .Maksudku Dokter Josette Maria Cardoso ? Spesialis Anastesi ." Ucap Aji. lantang dan begitu gembira pada roman wajahnya, itu kesan yang terlihat oleh Shinta.


Hening beberapa saat, itu artinya si penelepon sedang berbicara. Terlihat oleh Shinta, Aji sekali-sekali menganggukkan kepalanya dan tertawa membahana.


Adegan itu tidak lepas dari pengamatannya, sejak awal pembicaraan. Wajah Aji cerah dengan mimik wajah yang sumringah, akan tetapi sejurus kemudian, dahinya terlihat mengernyit dan terdengar berdecak, hingga terdengar ketempat duduk Shinta.


" What.,?! is this true?" Seperti mau loncat saat Aji menyuarakan kalimat itu dan bernada kaget, yang tidak dapat dia sembunyikan.

__ADS_1


Untuk yang kali ini, entah lantaran rasa kagetnya yang berlebihan, atau karena terlalu terbawa oleh ucapan-ucapan yang terlontar dari seberang yang tidak lain dari Josette. Menelepon pada jam 14:00 WIB, berarti di tempat Josette menelepon pukul 03:00 Dini hari waktu Brazil.


Tadinya, sebelum Josette menyampaikan sesuatu kepadanya, Aji sempat merasa heran, " Ada hal penting apa ini ?" celoteh di dalam batinnya.


" Aji.... ( percakapan Dalam bahasa Inggris yang lancar ).


" Aku punya berita yang khusus untukmu, yang aku sangat ingin sampaikan secepatnya, apakah engkau tidak ingin mendengarnya Aji ?... Aku hamil .. .


mengandung Bayiku, Bayi kita Aji., Hal..."


Hanya sampai kata ' Hal ' yang semula akan Josette katakan adalah kata 'Halo '. namun kata tersebut terputus, karena Aji baru menyadari, bahwasanya dari pertama percakapan yang berlangsung, entah karena rasa gembira, atau karena kaget mendapat panggilan telepon dari Josette di waktu yang tidak lumrah.


Sehingga mode speaker pada Ponselnya belum di non aktifkan.


Dia menoleh kearah Shinta, dia berucap 'Alhamdulillah ' , Shinta sedang Asyik mengotak-atik Ponselnya. Itu artinya dia boleh merasa aman.


Ternyata dugaannya meleset, Tidak sengaja menguping, tapi terdengar jelas. " Aji saja yang teledor ! " gerutu Shinta, yang kadung mengikuti seratus persen jumlah percakapan yang di dengarnya.


Mengapa hatinya seperti terbakar ?.. " Inikah yang di sebut Cemburu ?! " tanya di dalam hatinya, dan terlontar lewat lisannya walau berupa desah. "mengapa aku mesti cemburu ?!" dan lanjutnya lagi...


" Sudah ketahuan hanya tinggal menghitung Bulan, aku akan bersanding di Pelaminan dengan kang Budi Andika, yang tidak kalah gagah di banding Aji, tapi tadi kenapa aku Cemburu ya ?" Berkecamuk pertanyaan demi pertanyaan di dalam hatinya.


" Kenal dia saja baru kemarin..., diiih...! Tidak etis bingit ini... Tidak..Tidak !!! Ini tidak boleh sampai keterusan. Cukup sampai di sini. Titik !!" perang di dalam Batinnya.


Sementara itu di pojok ruangan lesehan RM.GOYANG LIDAH. Aji masih berlanjut terlibat dalam percakapan dengan Josette, dan bagi Josette pribadi, penilaiannya terhadap Aji, tidak berubah, dan tidak akan pernah berubah. Terbukti di dalam percakapan di Ponsel, yang berakhir Penilaiannya terhadap Aji ...'Aji memang Laki-laki '. Seusai dia dengar langsung pernyataan laki-laki itu. Seperti ini..


" Josette, anak itu adalah anak dari pembuahan ku. Kalau kehadirannya tidak mendapat tempat di Brazil, aku Ayahnya, akan menjemputnya. Sampaikan itu kepadanya !" ucapnya tegas.


Kata ' Nya ' yang Aji maksudkan, adalah Bayi yang nanti akan dilahirkan melalui persalinan yang akan terjadi pada Josette.


Walau penyampaiannya begitu Humanisme terasa olehnya, namun sempat membuatnya larut dalam keharuan., disamping menambah rasa simpatinya atas penyampaian lelaki itu, yang masuk standar kriteria seorang ' Gentleman '.

__ADS_1


__ADS_2