Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN * " Spekulasi "


__ADS_3

Bab 2


Demi dilihatnya siapa pengirim pesan singkat itu, lantas dibacanya, mendadak sontak roman wajahnya berubah.


Dari situ saja bisa di pastikan dirinya bukanlah orang yang pandai bersandiwara, apalagi berperan untuk bermain watak.


Dirinya sebagai insan biasa yang belum punya kesanggupan untuk menepisnya manakala sesuatu yang menurut anggapannya sebuah kejadian yang istimewa, walau hanya sesaat untuk bisa luput dari perhatian orang yang berada di dekatnya.


Beruntung baginya, dua orang itu sedang asIk dengan kegiatannya masing-masing.


Haruki Fokus mengawasi kondisi jalanan yang di luar prediksinya semula, bahwa hari ini jalanan tidak sepadat dan seramai itu. Ternyata dugaannya meleset.


Sedangkan Melindari sedang asyik bertelepon ria dengan seseorang yang tidak di ketahui oleh Haruki apalagi oleh Ajii dengan siapa dia sedang bicara.


Kalau diperhatikan dari bahasa tubuhnya dalam mengutarakan isi percakapannya, yang bicara dari seberang pastilah bukan orang yang baru dikenalnya.


Padahal sebelum dia melakukan perbincangannya yang cukup panjang itu, terdengar oleh Aji mungkin oleh Haruki juga. Melindari menanggapi panggilan dari seseorang dengan mimik wajah yang tidak bersahabat. Seraya berkata ," Salah kirim....!, lagu lama !." ucapnya dengan ketus.


Namun kenapa isi pesan yang menyusul kemudian setelah ditutupnya panggilan yang tidak di tanggapi nya tadi, justru sekarang jauh berbeda sikapnya, begitu riang gembira.


bagi Melindari yang tidak bisa menyembunyikan


perasaannya tersebut dan tidak luput dari penglihatan Haruki maupun Aji.


Dia menanggapinya dengan senyum tipis yang tersungging di sudut bibirnya yang kurang jelas terlihat karena dia berhijab oleh kain tipis yang di kenakannya sebagai cadar pada bagian wajahnya.


" Memang sarana medsos sangat berguna


keberadaannya bagi hampir seluruh kalangan, itu harus di akui. Akan tetapi ada juga beberapa ketidak baikannya, contohnya?.Sambung Haruki dengan gaya seorang Narator yang sedang bernarasi di depan banyak orang.


" Contohnya..., yab tadi kita ketawa-ketawa, koq begitu ada WA yang nyasar, langsung wajah tuh berubah seperti begitu sih .?" Tanggap Haruki.


Mendengar perkataan yang terlontar dari Haruki, entah ditujukan kepada siapa, karena pada waktu yang bersamaan, keduanya sedang melakukan hal yang sama dan kejadiannya pun sama.


Aji tidak langsung menanggapi atas komentar dilontarkan Haruki tadi, sebenarnya ingin dia menanggapinya, tetapi menurut pemikiran sehatnya,

__ADS_1


Momennya tidak memungkinkan lagi untuk membahas hal itu, mereka sudah sampai ke tempat tujuan. Terminal keberangkatan untuk penerbangan Internasional Soekarno Hatta. Cengkareng.


Yang dilontarkan oleh Haruki tentang medsos tadi, bertepatan dengan bunyi nyaring decit ban mobil yang diakibatkan oleh pijakan pada pedal rem yang dilakukan sang sopir Grab dadakan itu.


Entah untuk tujuan apa, karena yang punya perbuatan tersebut, sambil menoleh ke arah Aji, dia menunjukkan senyumannya seolah dia ingin menyampaikan pesan tanpa suara bahwa itu adalah sebuah hal yang lucu dan menghibur yang dia perbuat dengan sengaja.


" Kita telah sampai ke tujuan, Gua mau ke tempat parkir dulu, Luh pada turun duluan dah, lantas Help Your self saja ya Gaes.?, Harap maklum, sopir lagi datang malasnya nih buat nurunin barang bawaan dari bagasi, he..., he...., he." Celotehnya.


Serta Merta Aji dan Melindari turun dan memindahkan bawaan mereka, dari bagasi mobil, ke lantai lobby di terminal keberangkatan tersebut.


Oleh kerena kesibukan memindahkan dari menurunkan barang bawaan yang lumayan banyak jumlahnya. Lelaki itu sepertinya sudah terlepas dari pengaruh isi pesan singkat yang diterimanya tadi, dan dikatakannya bahwa itu pesan yang salah alamat.


Sementara di tempat yang sedikit jauh dari kerumunan, dampak atas isi Pesan Singkat melalui WA yang katanya salah kirim itu, malah terlihat lebih wajah Melindari yang begitu sumringah, bahkan terlihat walau sekilas, sebuah senyum tersungging di Balik tirai tabir yang menghalangi transparan wajahnya.


...*********...


Berbagai macam ragam terpaan telah dialaminya.


Seiring beranjaknya usia, telah menghantarkan nya ke tingkat kedewasaan yang semakin matang.


Jadwal keberangkatan Pesawat dari Internasional Airport Cengkareng, dan kedatangannya kesana, terpampang di layar Monitor ukuran Jumbo.


Melindari dan Aji memilih tempat duduk yang tidak


Jauh dari tempat monitor itu terpasang, masih di lobby beranda luar pelud Soekarno Hatta.


Mereka duduk dengan santai sambil menikmati kudapan yang dibelinya di cafe yang terdapat di sepanjang pinggir lobby.


Dengan sekali-sekali melepas pandang ke arah orang yang berlalu-lalang, mereka memperhatikan setiap pergantian urutan keberangkatan yang di tayangkan pada layar khusus tersebut, sambil menanti kedatangan Haruki yang pergi ketempat parki kendaraan.


Sementara Aji maupun Melindari masih menikmati suasana hiruk-pikuk orang yang begitu banyak dan tidak ada hentinya, dari sana menyeruak diantara banyaknya orang yang sedang berjalan dengan gaya masing-masing, ada yang berjalan dengan langkah yang biasa saja, ada yang setengah berlari.


Haruki adalah salah satu dari yang disebut setengah berlari, dia menuju ke tempat Aji dan Melindari.


memilih tempat duduknya.

__ADS_1


Dengan nafasnya yang masih terengah-engah, dia berkata yang ditujukannya kepada mereka berdua yang tengah duduk mengobrol dengan santai.


" Kalian berdua, dengar nggak pengumuman yang menyebutkan kalau penerbangan pesawat yang menuju Rio de Janeiro, mengalami pergeseran jadwal keberangkatan Dua puluh menit lebih awal dari jadwal semula." Haruki menyampaikan nya sambil telunjuk kanannya mengarah ke Layar monitor.


.Dengan serempak Aji dengan Melindari serempak mengarahkan pandangannya ke arah yang Haruki tunjukkan.


" Wii..! benar juga Haruki San, pendengarannya jeli." Ujar Aji.


" Kalau begitu, kita harus segera masuk untuk timbang bagasi dan sekaligus ke penukaran E Tiket yang belum kita tukar ke " Boarding pass ". Timpal Melindari, yang tadi terkena mendengarkan penuturan Aji tentang Brazil dalam banyak hal.


" Ya lah begitu!. tuh Luh lihat di layar monitor, muncul jadwal pesawat yang Luh berdua akan tumpangi, coba lihat Nomor Kode pesawatnya sekalian samain dengan yang Luh pada punya ." Saran Haruki.


" Memang tidak percuma, kalau sopir Grab nya tukang bepergian pulang pergi Jakarta -Tokyo." Komentar Aji.


" Bukan gitu juga sih..., jujur aja Luh ma gua,tadi Luh kagak fokus ke layar monitor, fikiran Luh masih ke isi WA yang tadi kan ? Sudah lupakan dulu itu, jangan dipikirin " Saran Haruki di sertai dengan senyum kecilnya.


" Bukan di fikirin Ruki, tapi datang sendiri kedalam fikiran ku." Aji mencoba berkilah.


" Aah Luh ikut-ikutan gua aja " sergah Haruki. Dan....


" Udah sana cepat masuk..! kalau udah di dalam mah pasti enak, tahu ! Lagian terserah nanti kalian berdua mau pada ngapain ke, kalau udah disana mah, lagian ketinggalan pesawat baru nyaho Luh pada !" Saran ala Haruki.


Aji dan Melindari mengikuti sarannya, mereka bergegas menuju pintu gerbang menuju ke arah tempat pemeriksaan calon penumpang oleh sinar Ex.


" Aj., kalau Luh ada masih ada luang waktu dan belum masuk ke ruang tunggu, bisa aja Luh balik lagi keluar, nggak apa-apa sih..., cuma apa-apaan?. Lagian waktunya sudah mepet, ya sudah kita Sayonara sekarang aja, sampai ketemu lagi minggu depan. Semoga lancar perjalanan Luh pada, selamat jalan ya !" Ujar nya sambil melambaikan tangan.


Dengan balasan dari mereka berdua, yang sama-sama melambaikan tangan, setalah melewati pemeriksaan awal oleh petugas keamanan pintu masuk, untuk selanjutnya mereka menghilang dari jangkauan pandang mata Haruki terhalang oleh lalu- lalangnya para penumpang pesawat.


Haruki dalam pandangan Aji sebagai sahabat yang sangat baik hati, gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, tapi di saat mengucapkan " Sayonara ", terasa kalimat itu menyentuh, seperti sebuah kata perpisahan untuk mereka tidak akan saling bertemu lagi.


Apalagi bagi Melindari, Haruki terasa bukan hanya sekadar seorang kakak sepupu, tapi mungkin lebih cocok kalau di sematkan kepadanya status sebagai kakak kandungnya, yang telah mengayomi juga melindungi.


Entah bagaimana awal mula kisahnya, Yang Maha Kuasa telah mempertemukan mereka, yang diluar jangkauan nalarnya.


Hingga dirinya sekarang sedang berdiri, dan berjalan perlahan dalam antrean menuju pemeriksaan berlapis dari petugas Bandara, untuk kemudian bila dan nyatakan lulus, maka dia akan melenggang menuju ke ruang tunggu pesawat.

__ADS_1


Untuk selanjutnya menjalani proses pemeriksaan akhir, yaitu penyortiran tiket penerbangan dan kemudian bisa masuk kedalam perut pesawat, tempat dimana impiannya akan sebuah Kota yang hanya ada di dalam angannya, bakal jadi kenyataan terwujud. Brazilia.


.


__ADS_2