
Archee telah kembali ke Demak. Menjalankan tugasnya sebagai abdi negara, pekerja pemerintahan. Kecamatan adalah kantornya bernaung saat ini. Jauh dari kata mewah, ia hidup sederhana. Mobilnya jarang ia gunakan jika hanya di kecamatannya saja. Ia akan menggunakan mobilnya jika itu sudah keluar dari kabupaten Demak.
Hatinya bimbang. Di satu sisi ia masih memendam perasaannya terhadap Aisyah Humaira Makarim, biasa dipanggil Humai, seorang dokter gigi, anak dari Aisyah Wibisana dan Farid Baihaqi. Jarang sekali ia bertemu Humai. Tapi, sekali bertemu, hatinya langsung bergetar. Senyuman manis dari Humai yang tak sengaja ditangkap matanya, membuatnya terpesona.
Namun sayang, sepertinya cinta itu harus terkubur dalam karena Humai sudah memiliki gandengan. Hatinya berkata lain, hatinya memberontak, ia tak bisa melihat Humai bersama dengan yang lain.
"Ya Allah.... kenapa bisa salah begini sih?" tanya Archee pada dirinya sendiri saat sedang memeriksa laporan anggaran. "Harusnya kan tanda tangannya disini, haduh.... Chee..... fokus Chee fokus!"
Ia istirahat sejenak. Menutup laporan itu dan meraih ponselnya. Membuka galeri foto dan memandangi foto seorang perempuan yang tertutup hijab besarnya. Tersenyum senang karena baru saja lulus menjadi dokter gigi.
Ya, itulah foto Aisyah Humaira Makarim. Ia tersenyum memandanginya. "Kamu apa kabar? Sudah makan? Sholat? Lagi apa? Abang.... kangen sama kamu, kamu sekarang lagi sama siapa? Kelihatannya kamu bahagia bersama yang lain.... Hmmm.... Apa Abang harus mengungkapkannya agar kamu tahu? Sungguh, Abang tersiksa menyimpannya sendirian"
Archee berbicara pada foto itu tanpa mendapatkan balasan apapun. Ia melihat jam sudah menunjukkan tengah malam. Ia bergegas mengambil wudhu untuk menunaikan sholat sunnah tahajud. Selesai berwudhu Archee menggelar sajadahnya dan memakai pakaian terbaiknya untuk menghadap Allah.
"Allahu akbar..." Archee mulai membaca takbiratul ihram. "Assalamualaikum warahmatullah" ucapnya setelah menyelesaikan dua raka'atnya. Ia bangkit lagi dan mulai sholat lagi.
Ia bersimpuh, menengadahkan tangan kepada Yang Maha Mendengar, lagi Maha Pengabul do'a. "Ya Allah, berikanlah hamba jawaban atas do'a hamba. Tentang perasaan hati ini, kemanakah dia akan berlabuh? Tunjukkanlah pada hamba, siapa sosok itu? Jika memang hamba bukan jodoh Aisyah Humaira Makarim, maka hapuskanlah nama itu dari hati dan pikiran hamba. Gantikanlah dengan yang lain. Tapi, jika memang masih ada kesempatan bagi hamba memilikinya, tolong, mudahkanlah jalan hamba untuk bersanding dengannya... Aamiin"
Archee mengakhiro do'anya dan melipat kembali sajadahnya. Duduk di tepian ranjang dan meraih ponselnya lagi. Membuka WA, melihat nama Humai masih online. "Ngapain dia jam segini masih online?"
"Chat gak chat gak chat? Udah deh, coba aja. Bismillah, ehm"
Me : Assalamualaikum Mai
Humai : Waalaikum salam, bang. Ada apa?
Me : Gak papa, ngapain jam segini masih online? Larut banget lho ini
Humai : Lagi nunggu kabar dari seseorang
Seketika Archee kecewa. Ia ingin membalas tapi malas. Ia sudah mengetik tapi menghapusnya lagi.
Me : Oh, ya sudah, Abang tidur dulu. Wassalamualaikum
__ADS_1
Humai : Bang
Me : Iya kenapa?
Humai : Abang sudah sholat malam?
Me : Sudah, kenapa?
Humai : Gak papa, cuma tanya saja. Ya sudah silahkan istirahat. Waalaikum salam
Archee menghela nafasnya dan menutup chatnya. "Sadar Chee, dia nunggu seseorang katanya, berarti harapan kamu semakin tipis padanya. Au ah! Pusing!" Archee menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya.
Berharap segera pagi, dan hatinya segera terobati dengan cinta yang lain. Ia masuk dalam alam mimpi. Berjalan di tengah gelapnya malam, melihat seorang perempuan bersimpuh menangis. Ia berniat menolongnya tapi perempuan itu menepisnya.
"Ini semua gara-gara kamu!" kata perempuan itu dan pergi meninggalkan Archee. Archee mencari keberadaannya tapi tak ketemu. Ia berjalan lagk dan melihat perempuan itu lagi. Archee berlari mendekatinya. "Terima kasih Abang, aku juga mencintaimu" ucapnya dan menghilang lagi.
"Hum.... Humai! Humai!" Archee terbangun. Qira'ah subuh sudah berkumandang, menandakan akan masuk waktu subuh. Archee mengusap wajahnya kasar. "Astaghfirullah.... mimpi macam apa itu? Di satu sisi kamu marah sama Abang, di satu sisi kamu bilang cinta sama Abang"
Archee mengambil minumnya lalu meneguknya. Ia mengambil wudhu dan melaksanakan sholat sunnah 2 raka'at sebelum subuh. Pagi menjelang, seperti biasa, Archee menyiapkan segala keperluannya sendiri. Menyenandungkan lagu untuk menghalau kesepian yang ingin merasuk dalam rumahnya.
Sekretaris Camat, Ragil Bumi, lulusan IPDN dua tingkat di bawah Archee. Agil biasa ia disapa, tersenyum melihat atasannya sudah rapi dan klimis. "Ngapain kesini?" tanya Archee sambil naik ke atas motor. "Jemput bapak, kan hari ini kita rapat di kabupaten pak?"
"Ha? Hari ini? Bukan besok? Mampus, laporane toh salah tak tanda tangani.... piye iki? (Ha? Hari ini? Bukan besok? Mampus, laporannya salah tanda tangan.... gimana ini?"
Agil menepok jidatnya. "Coba pak saya lihat dulu" Archee membuka tasnya dan mwnherapkan laporan itu pada Agil. Agil menepok jidatnya lagi.
"Kenapa pas di lembar absensi sama semua lurah sih pak?" tanya Agil sedih. Archee ikut memasang wajah sedihnya.
"Scan aja piye?" Agil menggeleng. "Kelihatan jelas nanti pak, haduuuhhh.... Bapak ih!" kata Agil sedikit kesal. Archee hanya menyengir.
"Gink saja deh pak, bapak berangkat rapat dulu, saya tak ngejar tanda tangan para lurah"
Archee tersenyum. "Oke" katanya enteng. "Anggap saja jalan-jalan pagi"
__ADS_1
Agil memaksakan senyumnya. "Mikirin apa sih pak? sampai bisa salah tanda tangan begini" Agil berjalan sejajar dengan atasannya dan membukakan pintu mobil.
"Ada deh.... kepo ya? Hihihi. Nih kunci motor saya. Semangat ya Gil"
Agil kembali memaksakan senyumnya. "Nggih pak" Archee tertawa melihatnya. Archee berangkat ke pendopo kabupaten sendirian tanpa Agil.
"Pak Yono, undangan rapatnya semua camat?" tanya Archee pada supir andalan kecamatan. "Nggih pak, tadi mas Agil sih bilangnya begitu"
"Aduh..... ketemu Zoya dong! Jangan sampai kelihatan batang hidungku....." Archee mulai khawatir. Pak Yono hanya mampu menahan senyumnya.
Zoya, salah satu camat juga di Demak, usianya 3 tahun lebih tua dari Archee, dan tergila-gila dengan ketampanan Archee. Terkadang, tingkah Zoya kelewat batas, hingga mereka menjadi bahan pembicaraan orang lain.
Archee sudah sampai di pendopo, turun dari mobil dan berjabat tangan dengan camat-camat lainnya. Zoya melihat kedatanagnnya dan langsung kegirangan menyambutnya.
"Pak Archee....." panggil Zoya saat Archee sedang mengisi daftar hadir. Archee mempercepat menulis daftar hadirnya dan segera berlalj dari sana.
"Ih, tungguin dong!" Archee tak menggubrisnya. Ia memilih barisan kursi yang sudah penuh dengan orang agar Zoya tak bisa mengganggunya.
"Pak Archee dipanggil bu Zoya tuh" kata camat Supri. Archee hanya menyengir. Zoya kesal.karena tak bisa duduk berdampingan dengan Archee
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1
Babang Archee tampillll