
Selesai acara Zafran, semua keluarga langsung bersiap untuk pulang ke Magelang. Karena esok adalah hari penting bagi Maris. Rangkaian acara menyambut hari bahagia Maris akan dimulai esok hari.
"Kalian juga ikut pulang? Sudah konsul dokter kandungan kan?" tanya Budhe Yuna melihat Humai bersiap. Humai mengangguk. "Sampun budhe"
"Yank, vitaminnya diminum dulu" kata Archee menyodorkan gelas dan satu buah pil yang diletakkan di cawan. Humai tersenyum dan menerimanya. "Makasih Bang"
"Sama-sama"
Mamah Laras dan Budhe Yuna tersenyum dengan momen yang Archee ciptakan. Zoya juga akhirnya ikut ke Magelang, agar bisa diperkenalkan dengan keluarga besar dari calon suaminya.
Setelah semua persiapan selesai. Semuanya bergegas masuk ke mobil masing-masing. Archee satu mobil dengan Humai, Zafran, dan Zoya. Archee menambahkan kasur mobil agar Humai bisa beristirahat.
Rombongan itu memulai perjalanan mereka. Mulai menyusuri jalanan untuk kembali ke Magelang. Humai mengobrol asyik dengan Zoya. Terkait model kebaya yang akan dikenakannya saat akad.
"Selesai akad langsung resepsi Mbak??" tanya Humai.
Zoya menggeleng. "Kami gak pakai resepsi Mai"
"Lhoh kenapa??"
"Aku gak ingin identitas Mas Zaf diketahui banyak orang. Terkait pekerjaannya yang penuh dengan teka teki dan rahasia. Tetangga dan saudaraku tahunya Mas Zaf polisi biasa, bukan intel"
"Emang kalau intel gak boleh pakai resepsi begitu ya Mas Zaf?" tanya Humai penasaran.
"Boleh, mau mengundang orang sampai ribuan pun boleh. Resikonya adalah, identitasnya menjadi taruhan. Aku sih tergantung dia maunya gimana. Kalau mau resepsi ya ayo saja sih" terang Zafran. Humai manggut-manggut tanda mengerti.
"Gak usah lah Mas, akad saja. Aku takut kalau sampai identitasmu terbongkar dan mengancam keselamatan kamu, keluargamu, dan juga keluargaku"
Zafran tersenyum mendengar alasan Zoya. Tak menyangka bahwa Zoya sangat perhatian pada dirinya.
"Terus nanti omongan tetangga gimana? Nanti kalau cuma akad dibilang hamil duluan, atau bisa saja dicap sebagai polisi gadungan" timpal Archee.
"Dengerin omongannya netizen julit gak ada rampungnya Chee. Terserah! Hidup kita yang jalanin mereka yang mengomentari. Biarin saja, tutup telinga tutup mata" sahut Zoya
Semua bertepuk tangan atas perkataan Zoya. Mereka telah sampai Semarang, malam semakin memancarkan keindahan cahaya rembulan di langit luas.
"Mai, bobok, sudah larut ini" perintah Archee dari kursi kemudinya. "Iya Bang, belum ngantuk. Sebentar lagi ya?"
__ADS_1
"Mai" kata Archee lagi. Zafran tersenyum tipis mendengarnya. "Mai, Archee dingin apa hangat??"
Zoya dan Humai menautkan alisnya bingung akan maksud pertanyaan Zafran. "Maksudnya?"
"Sikap dia Mai"
"Awal-awal sih dingin, cuek, nyebelin! Diajak ngomong tuh ya Mas, noleh lihat aku saja gak lho!"
Archee tak terima dengan pernyataan istrinya. "Biar jual mahal lah! Kamu dulu yang mulai judas dan dingin sama Abang kok!"
"Ih! Katanya cinta, tapi jual mahal!" timpal Humai. Menghasilkan gelak tawa dari semuanya.
"Mbak Zo, Mas Zaf agresif bukan?" balas Archee.
"Ha? Apaan?"
"Mulai deh lemotnya, ha ho ha ho! Ditanyain Archee, aku ini agresif atau tidak??" Zafran mengulangi pertanyaan Archee karena Zoya tak memperhatikannya.
"Banget! Takut aku kalau sama dia Chee"
"Weh! Bisa takut juga ternyata! Padahal, biasanya kamu yang ditakuti. Tuh si Agil sampai trauma kalau lihat kamu!" Semuanya kembali tertawa.
"Pawang, kamu kira aku ular, Mai??"
"Bukan ular sih, malah kayak silumannya. Coba melirik mbak!" Perintah Humai. Zoya mau saja menuruti Humai. Ia melirik Humai dengan sorotan mata tajam. "Tuh kan! Aku lagi dilirik sama Nyi Blorong!" Semuanya kembali tertawa.
"Istrimu sekalinya menghina parah Chee" kata Zoya.
"Maaf ya? Cuma bercanda kok. Tapi, kalau dianggap beneran ya gak masalah"
Semua tertawa atas ucapan Humai. Meledek Zoya yang memang terkenal garang. Humai mulai menguap. Humai merebahkan dirinya. Mencoba memejamkan mata tapi tak bisa. Ada sesuatu yang kurang. Ia menjadi gelisah. Zoya merasa terganggu dengan kegelisahan yang dialami Humai.
"Kamu kenapa sih Mai?"
"Mau tidur tapi gak bisa"
Archee tersenyum. Lalu menepikan mobilnya. Mematikan mesin mobil. Menyengir ke arah Zafran. Zafran merasa bingung.
__ADS_1
"Setirin Mas, Archee mau nidurin bidadari kesayangan dulu" Zafran menganga sambil menunjuk dirinya. Archee menyuruh Zoya pindah ke kursi depan.
Humai tidur sambil memeluk Archee. Menenggelamkan wajahnya di dada Archee. Zoya dan Zafran yang melihat hal itu malah malu sendiri.
"Enak ya??! Mas nya suruh nyetirin, dia yang tidur sama bininya! Mesra lagi! Kan aku iri!"
Archee dan Humai hanya tersenyum dalam pejaman mata mereka. Mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai Magelang.
.
Pagi menjelang, sedari subuh, orang dari WO telah sibuk menghias rumah Papah Duta. Mempersiapkan untuk acara siraman, pengajian, dan midodareni.
Amaris sudah siap dengan baju basahan yanh dikenakannya. Masih menggunakan kaos manset agar lengannya tertutupi. Menggunakan hijab dan dipakaikan roncean bunga melati di atas kepalanya.
Papah Duta dan Mamah Laras sudah memakao beskap dan kebaya. Aylin, Humai, dan Adel juga telah cantik dalam balutan kebaya berwarna biru langit itu. Pembawa acara mulai mempersiapkan diri. Mengatur jalannya acara siraman itu.
Papah Duta dan Mamah Laras mengguyur puncak kepala Amaris dengan air bunga mawar. Yang lain mengabadikan momen itu. Giliran saudara-saudaranya yang menyiramkan air bunga itu ke tubuh Amaris.
Papah Duta dan Archee menggendong Amaris hingga sampai dalam rumah. Amaris segera berganti baju setelah acara siraman itu selesai. Lanjut pada sore hari, pengajian pun digelar.
Ibu-ibu dan Bapak-bapak pengajian pun mulai berdatangan. Mereka memulai acara pengajian itu. Melantunkan ayat-ayat suci Al-qur'an. Memohon kelancaran, keselamatan, dan keberkahan untuk acara esok hari.
Tiba saatnya Amaris meminta maaf dan memohon restu kepada kedua orang tuanya. Belum apa-apa, dirinya sudah menangis. Aylin memberikan tisu kepadanya dan menenangkannya.
"Bismillahirrahmanirrahim..... hiks.... Pah, Mah, Amaris sayang sama Papah dan Mamah, huhu hiks... Terima kasih.... hiks.... selama 27 tahun ini, merawat, menjaga, mengasihi, dan mendidik Amaris. Ehm.... Terima kasih atas segala ajaran yang Papah dan Mamah berikan untuk Amaris. Sekarang, Amaris sudah tumbuh dewasa Mah, Pah, huhuhuhu..... hiks. Sudah waktunya bagi Amaris menata masa depan. Maafkan segala kesalahan dan kekurang ajaran Amaris selama ini. Esok, Amaris akan melangsungkan akad bersama Mas Damar. Lelaki pilihan Maris. Hiks... tolong, ijinkan Amaris untuk menikah dengan lelaki pilihan Maris. Hiks....."
Semuanya ikut terharu oleh permintaan maaf dan permohonan ijin Amaris kepada orang tuanya. Papah Duta dan Mamah Laras tak kuasa. Mereka memeluk Amaris dengan sangat erat. Meluapkan emosi yang mereka rasakan sesaat. Pembawa acara mengendalikan keadaan. Menenangkan semuanya.
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip