Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 81


__ADS_3

Setelah menemui besannya, Papah Duta dan keluarganya pulang ke rumah. Tiba-tiba saja Papah Duta ingin mampir ke empang lele. Membuat Maris gelagapan mencari cara agar Papahbya tak jadi ke empang.


"Papah ngapain mau ke empang??" tanya Maris mencoba mengulur waktu.


"Ya mau lihat kondisi empang lah!"


"Gak usah lah Paaahhhh..... lain waktu saja.... Maris beneran capek Pah.... Mah"


Mamah Laras menangkap sesuatu yang berbeda dari sorot mata Maris. Seperti ada yang disembunyikan oleh Amaris. Mamah Laras mengetik pesan untuk Maris.


Me : Ada apa Ris? Ada masalah di empang?


Maris membuka pesan tersebut. Menoleh ke arah Mamahnya dan mengangguk. Mamah Laras paham. "Hoam..... huh! Mamah juga capek banget nih Pah, balik ke rumah dulu deh. Papah juga jangan kecapekan. Minggu malam senin acara siraman, pengajian, dan midodareni lho Pah, seninnya akad sama resepsi. Mamah gak mau ya kalau Papah sampai sakit" Kata Mamah Laras berpura-pura untuk mencegah niatan Papah Duta.


"Hmmm..... ya sudah lah. Kita pulang dulu. Istirahat, padat banget acaranya. Berarti kita setelah acara lamarannya si Zafran langsung putar balik ke Magelang. Suruh Nina dan Dirga sebagai wakil kita dulu kalau ada tamu di rumah Mah"


Mamah Laras mengangguk. "Nggih Pah"


Akhirnya mereka tiba di rumah. Keadaan rumah tampak sepi. "Aylin masih jaga di klinik? Kok gak ambil libur sih untuk mempersiapkan acaranya?" tanya Papah Duta.


"Mungkin, ya mungkin sudah diurus semua kali Pah sama keluarga Imam" jawab Mamah Laras.


"Balasan untuk keluarga Imam dan Damar sudah siap semua kan Mah?"


"Sudah Pah, sudah Mamah pasrahkan semua ke Nina. Papah nih kenapa sih? Kayaknya khawatir banget"


Papah Duta merebahkan dirinya ke sofa. Mamah Laras ikut duduk di sampingnya. "Maris buatkan teh dulu"


Papah Duta mengangguk. Maris menuju dapur. "Gimana gak khawatir sih Mah? Dua anak perempuan kita besok akan dilamar. Mereka akan meninggalkan kita. Menjadi istri dari lelaki pilihan mereka. Papah yang membesarkan mereka lalu mereka diambil oleh keluarga lain" Terang Papah Duta sambul berkaca-kaca.


Mamah Laras tersenyun dan menggenggam tangan suaminya. "Abang kenapa jadi cengeng? Bersyukurlah Bang, kita dapat menyaksikan anak-anak kita menikah. Bersama dengan orang yang Allah pilihkan untuk mereka"


Papah Duta menghapus air matanya. Lalu tersenyum ke arah Mamah Laras. "Terima kasih sudah selalu setia menjadi penenang Abang Ay, terima kasih sudah menjadi dunia Abang. Abang bukan cengeng sayang, Abang hanya masih tidak menyangka. Waktu berlalu begitu cepatnya. Padahal, rasanya seperti baru kemarin tangisan mereka mengisi malam-malam kita, dan sekarang...."


"Dan sekarang alias beberapa bulan lagi akan ada tangisan bayi lagi, meskipun bukan di rumah kita. Itulah kehidupan Bang, ada yang pergi maka akan ada yang datang mengisi. Bukankah itu yang Abang ajarkan sama Laras?"

__ADS_1


Maris tersenyum haru di belakang mereka. Matanya berkaca-kaca. Tak menyangka sebesar itu cinta orang tua mereka terhadap ia dan saudara-saudaranya. Ia tersenyum lalu menghapus air matanya. Memberikan teh itu kepada Papah dan Mamahnya.


"Romantis banget sih! Jadi iri kan Maris lihatnya"


Mereka semua tertawa. Papah Duta dan Mamah Laras meminum teh itu. "Memang Damar gak seromantis kami?" Tanya Papah Duta.


"Mmm, gimana ya? Kalau romantisnya Papah dan Mamah tuh bikin iri"


"Hahaha, itu yang perlu kamu contoh dari kami. Oh ya Ris, terus setelah menikah, kamu berhenti kerja atau tetap lanjut bekerja?" tanya Mamah Laras.


"Mas Damar sih mengizinkan Maris untuk bekerja Mah. Tapi, sampai sekarang, Maris belum dapat panggilan dari lamaran Maris"


"Mau Papah bantu?" Maris menggeleng cepat. Ia bukan tipe orang yang suka menggunakan bantuan dari Papahnya. Ia lebih suka menjadi orang mandiri. "Maris masih dengan prinsip Maris Pah, sekecil apapun KKN yang kita lakukan, akan membuat hidup kita tidak diberkahi Allah"


Mamah dan Papah tersenyum mendengarnya. Adel datang dan mengucapkan salam. Tersenyum menyambut kedatangan keluarganya. "Kangen" kata Adel memeluk Papahnya.


"Papah juga kangen sama anak bontot Papah. Tadi Papah mau mampir ke empang, tapi batal"


Adel menghela nafasnya lega. Mamah Laras menangkap ekspresi itu. "Ya sudah, bersih-bersih badan, terus istirahat. Ris, tanya kakak pulang jam berapa?" kata Mamah Laras. Amaris mengangguk.


Adel menoleh ke Amaris. Amaris mengangguk. "Mah.... Janji ya jangan kasih tahu Papah dulu? Biar Adel nanti yang menjelaskan ke Papah duduk perkaranya. Setelah acara Kak Maris rampung"


Mamah Laras mengangguk. "Jadi, ada salah satu karyawan kita yang ketahuan korupsi Mah, Adel ciduk dia, dia gak terima, dan kemarin, dia meracuni air yang ada di empang besar. Sampai empang itu harus ditutup rata dengan tanah"


"Innalillahi wainna ilaihi roji'un.... terus?? Ada yang jadi korban gak??"


Adel mengangguk. "Keracunan ringan, sudah diatasi sama Yohan. Sekarang lagi libur"


"Alhamdulillah..... Lalu keadaan kas?"


"Itu yang membuat Adel agak kelimpungan Mah, mana sudah dekat akhir bulan lagi" kata Adel.


"Tenang Del, kami apa gak kamu anggap? Kami ini kakak-kakak mu sayang.... Jangan khawatir. Kakak pesan 50 kilo lele kirimkan ke Aemarang setelah kakak resmi nikah. Berapa totalnya?"


Adel terharu mendengarnya. "50 kilo siapa yang mau menghabiskannya? Mas Damar kamu suruh makan lele tiap hari?"

__ADS_1


Maris menjitak kepala adiknya. "Itu lele kakak jual lagi lah.... Nanti hasil penjualannya buat disumbangin ke empang"


"Eh, jangan!"


"Jangan nolak! Kami sudah sepakat melakukan hal itu. Kami melakukannya untuk karyawan kita"


"Aaaa..... jadi terharu deh..... sayang kalian banyak-banyak" Adel memeluk kakaknya. Mamah Laras tersenyum mendengarnya. Anak-anaknya sangat kompak dalam menyelesaikan permasalahan. "Kamu sama Ilyas gimana?" tanya Amaris.


"Ehehehehe, balikan dong!"


"Jiahhhh......... hahahaha, jangan ngambil keputusan saat emosi Del. Kakak sudah pernah mengalaminya dan rasanya nyesel dan nyesek"


"Tapi Abang sekarang lagi Satgas"


"Ha?" ucap Amaris dan Mamah Laras bersamaan. "Iya, dia lagi Satgas di Malaka. 8 Bulan disana"


"Yah..... nanti fotonya gak lengkap dong. Udah lah si Bang Archee gak datang. Ilyas Satgas"


"Gampang, nanti foto keluarga lagi" sahut Mamah Laras. "Nunggu 8 bulan lagi, sekalian kan nambah ponakan" kata Mamah Laras.


"Iya bener! Kan nanti anaknya Abang pasti udah lahir tuh! Dan Kakak bunting! Hahahah" kata Adel.


Semuanya tertawa mendengarnya. Sedang di kamar Papah Duta sedang duduk di tepi ranjang setelah selesai mandi. Ia tersenyum melihat foto kecil A squad. "Papah berharap dan selalu berdoa, semoga kehidupan kalian nantinya selalu dikelilingi oleh kebahagiaan Nak"


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2