
Amaris lega mendengar pernyataan Mamah mertuanya. Kekhawatirannya sirna. Dia tak memusingkan urusan Suci. Karena bagi dirinya, kepercayaan mertua adalah paling utama. Dia tersenyum lega dan senang terpancar di wajahnya.
Damar memeluk istrinya. "Maafin Mamah ya sayang" Amaria mengangguk. "Gak papa Mas, aku paham dengan keadaan Mamah saat itu. Mungkin, Mamah ingin sekali tidak percaya, tapi Mamah kan juga butuh pembuktian untuk kecurigaannya. Ambil sisi positifnya saja, alhamdulillah Mamah gak percaya dengan Mbak Suci"
Damar mengangguk. "Besok Mas mau buat perhitungan dengan Mbak Suci dan Mas Seno. Gak masuk diakal, dendamnya ke siapa pelampiasannya ke siapa. Lagian tuh ya, Kak Aylin sama sekali gak tertarik dengan kehidupan mereka! Masih saja sirik itu Mbak Suci!"
Amaris tersenyum. Mengelus-elus dada suaminya. "Sabar, jangan marah maka bagimu surga. Ingat hadist itu kan Mas?"
Damar mengangguk. Damar mendorong tubuh istrinya hingga jatuh di ranjang. "Mulai nakal ya??" Damar tersenyum licik menjawab pertanyaan Amaris.
"Main yuk!" ajaknya. Amaris mengangguk menyetujui ide suaminya. Aktivitas penuh gairah pun dimulai. Melupakan sejenak masalah yang menggelayuti rumah tangga mereka. Meluapkan rasa bahagia. Mengungkapkan dengan cara yang tak biasa.
.
"Ayo sholat subuh" ajak Damar kepada Amaris. Amaris mengangguk tapi masih belum membuka matanya. Damar tersenyum melihatnya. Dia tahu jika Maris kelelahan karena permainannya semalam benar-benar membuat remuk badan Maris.
Entah apa yang membuat Damar begitu bergairah. Tapi sungguh dirinya menikmatinya. Merasa kurang dan meminta lebih pada istrinya. Maris kembali tertidur. Akhirnya Damar menggendong tubuh Maris.
"Ngantuk Mas"
"Iya, Mas bantuin bersih-bersih"
Amaris mengangguk. "Mas, aku boleh minta sesuatu gak sama kamu?"
"Apa?"
"Kita ke rumah Mamah yuk. Aku mau masakin sop iga kesukaan Mamah"
"Kurang apa istriku ini? Mamah harusnya bersyukur punya mantu berhati malaikat begini. Ya sudah, nanti kita ke rumah Mamah. Sekalian aku juga mau ngomong sama Mbak Wulan"
Amaris mengangguk. Damar membantu istrinya mandi. Setelahnya dia yang mandi. Selesai mandi mereka langsung melaksanakan sholat subuh berjama'ah karena waktunya hampir habis. Selesai itu, mereka turun untuk menikmati sarapan.
Damar memesan makanan. Dia memilih makan di pinggir kolam renang. Sambil tertawa melihat channel lucu di ponsel mereka. Menikmati ketenangan yang sangat mereka nantikan.
__ADS_1
Selesai sarapan, mereka bersiap checkout dari hotel. Sesuai rencananya, Damar menemui Seno dan Suci terlebih dahulu. Maris berpesan pada suaminya agar tidak terlalu larut dalam emosinya.
"Mas, apa yang bakal kamu lakukan sama mereka??"
Damar hanya tersenyum licik menjawab pertanyaan istrinya. "Mas, aku gak suka kalau kamu mendendam seperti ini"
"Mas hanya akan memberikan efek jera kepadanya. Dengan cara membuatnya tertekan dan malu"
"Caranya??"
"Mas akan putar itu rekaman yang berhasil disadap Mas Loundry. Mas pakaikan sound biar tetangganya pada dengar. Biar mereka bisa menilai sendiri Mbak Suci seperti apa. Dia kira hanya dia yang bisa membuat kamu tertekan? Cara Mas lebih sadis dari caranya"
Amaris hanya menghela nafasnya. Sebenarnya dia tidak setuju ketika Damar ingin balas dendam. Tapi, dia juga ingin Suci menghentikan tindakannya itu. Tindakan yang bisa menghancurkan semuanya, termasuk diri Suci sendiri.
Maka dari itu, dia setuju dengan tindakan suaminya. Dia hanya bisa berharap semoga Suci bisa berubah lebih dewasa dalam hal problem solving. Menyelesaikan masalah dengan cara yang tenang dan bukan malah menambah masalah baru.
Mereka telah sampai di depan rumah Suci dan Seno. Tampak kesibukan di pagi hari di jalanan rumah itu. Orkes keliling yang dipesan oleh Damar melalui Mas Loundry sudah melengkapi rencana Damar.
Damar dan Amaris menunggu rekaman itu terputar dengan sendirinya. Dan terputar!. Pada awalnya tak ada yang menggubris rekaman itu. Hingga ketiga kalinya, para warga yang melintas di depan rumah Seno, berhenti dan mendengarkan rekaman itu.
Semuanya tak menyangka dengan ulah licik Suci yang dengan sengaja ingin menghancurkan keluarga orang lain. Banyak yang mencibirnya. Seno yang sedang sarapan dengan Suci heran mendengar rekaman yang samar-samar mengganggu pendengarannya.
"Di depan ada apa sih?" tanya Seno. Suci mengangkat bahunya tanda tak tahu. Seno segera mengakhiri makannya dan mencari tahu kejadian yang sedang terjadi di depan rumahnya.
Seno menuju gerbang rumahnya. Membukanya. Rekaman masih terputar terus. Seno nampak bingung. Dia melihat Damar dan Maris. "Ada apa nih?" tanyanya.
"Dengarkan saja dulu Mas" jawab Damar dengan wajah datar. Seno mendengarkab isi rekaman itu. Membuatnya tercengang tak percaya. Suci datang dan bingung dengan situasi yang terjadi.
Plak. Seno menampar pipi Suci. "Kamu apa-apaan sih Mas??" tanya Suci tak terima. "Kamu yang apa-apaan! Kamu apakan keluarga mereka??" Seno menunjuk Maris dan Damar.
Damar bertepuk tangan atas kepolosan Suci. "Selamat ya Mbak Suci, rencana busukmu baru saja terbongkar dan gagal. Saya peringatkan sekali lagi terhadap kalian, jika kalian berani menyentuh dan mengganggu semua keluarga saya, jangan harap kalian bisa bernafas. Camkan! Semua keluarga saya! Kalau sampai Mas Imam dan Kak Aylin tahu, saya jamin, kepala istrimu gak akan utuh dibuat oleh mereka"
Amaris hanya diam menyaksikan semuanya. Damar mengeluarkan uang untuk membayar orkes keliling itu. Tetangga Suci mencibir keluarga mereka. "Kok ada ya orang berhati licik begitu? Cantik sih! Tapi tidak dengan moralnya" kata para Ibu-ibu itu.
__ADS_1
"Iya, amoral ya bu??" sahut yang lain. Damar dan Amaris meninggalkan mereka. Suci menarik tangan Amaris.
"Tolong maafkan aku" ucapnya. Amaris tertawa mendengarnya. "Kamu itu gak tulus Mbak, kamu minta maaf hanya untuk formalitas. Oke, aku maafkan. Silahkan ulangi jika kamu masih berani"
Amaris mendekati Seno. Menatap lekat pria itu. Dan berkata. "Tolong didik istrimu dengan benar dan sesuai hukum agama. Jangan berharap lagi dengan Kak Aylin. Karena kalian memang bukan jodoh. Jodohmu adalah cerminanmu. Dan memang Allah sudah punya jalan sendiri untuk memisahkan kalian. Please, jangan datang dan membayangi lagi keluarga kami. Kalian sudah bahagia dengan kehidupan kalian masing-masing"
Seno terdiam mendengar permintaan Maris. Maris langsung masuk mobil. Damar mengemudikan mobil menuju rumah Mamahnya. Sampai disana, semua orang terkejut melihat mereka. Amaris langsung memasak sop iga kesukaan mertuanya.
Damar sedikit bersitegang dengan Mamah dan Mbak Wulan. Amaris tak ingin mencampurinya. Setelah masakannya matang, Maris memanggil semua orang untuk makan. Papah mertuanya yang datang ke meja makan pertama kali.
"Makan Pah?" tanya Maris penuh senyuman. Papah mengangguk. Maris menyiapkan segalanya. "Maafkan Mamah ya Ris"
Maris tersenyum. "Gak papa Pah. Dari kejadian itu Maris sadar, bahwa Mamah sangat sayang sama Maris. Beliau lebih percaya ke Maris Pah"
Mamah mertuanya datang dan memeluk Maris. "Bodoh kalau Mamah mencurigai kamu sayang. Maafkan Mamah ya nduk??"
"Iya Mah, ayo, makan dulu"
"Mmm, enak nih!"
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1