Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 117


__ADS_3

Azka memang sangat beruntung memilih Hilal sebagai calon imamnya. Para saudara dan orang tua Hilal, silih berganti menjaganya. Keluarga Azka juga menungguinya bergantian dengan keluarga Hilal.


Azka sudah sadar. Pada awalnya, dia terpukul melihat keadaannya sendiri. Sempat tak ingin makan. Dan menjadi tertutup. Hilal sampai pusing dibuatnya.


"Assalamualaikum" sapa Hilal. "Waalaikum salam" jawab Azka. Mereka berdua tengah berada di ruangan ICU. Hilal memastikan kondisi Azka sebagai pasiennya.


Setelah selesai melakukan kunjungan. Hilal duduk di samping ranjangnya. "Kamu tahu Yank? Dulu, kita sulit sekali untuk bertemu. Hanya bisa saling menyapa lewat video call. Terkadang, sulit untuk menjawab panggilan itu. Dan sekarang, kita malah diberikan waktu untuk saling bertemu dan bertatap muka"


Hilal menoleh dan melihat Azka yang tertunduk. "Apa yang membuat kamu khawatir? Sampai gak mau makan dan menjadi tertutup seperti ini??"


"Ayo kita putus" kata Azka tetiba. Hilal berhasil memancingnya untuk bicara. Dia tersenyum kecut mendengarkan permintaan Azka. Lalu tertawa menanggapinya. "Apakah lucu?"


Hilal mengangguk. "Apanya yang lucu?" tanya Azka.


"Kamu. Kamu itu lucu sekali. Apa kamu pikir Mas bakalan menyetujui permintaanmu itu?"


"Itu bukan permintaan, melainkan keputusan"


"Keputusan macam apa yang dibuat oleh orang yang sedang tertekan menerima kenyataan yang sekarang terjadi dalam hidupnya? Dan tidak ada keputusan sepihak yang dianggap sah! Kenapa kamu minta putus dari Mas?" Tanya Hilal ingin tahu alasan yang masih menjadi misteri itu.


Azka memalingkan wajahnya. "Apa karena kamu takut akan menyusahkan Mas?" Azka tak menjawabnya. Terdiam beribu bahasa.


"Kamu itu nyusahin dari dulu. Tahu gak kamu pertama kali kita bertemu? Di acara lamarannya Maryam dan Habib?? Semenjak itu, kamu selalu menguntitku dalam wujud kenangan. Disaat aku harus fokus dengan pendidikanku, kamu bisa-bisanya menyusahkanku lewat bayanganmu!"


Azka menatap Hilal yang berbicara sambil tertunduk. Melihat kesedihan yang sedang disembunyikan oleh Hilal. "Dan sekarang, saat aku sudah benar-benar tergila-gila denganmu, dengan entengnya kamu mengambil keputusan memilih putus denganku. Bisakah kamu bayangkan betapa merepotkannya nanti aku membuang semua kenanganmu??"


Terjadi kesunyian sesaat. Hening menghampiri mereka berdua. Hanya terdengar suara mesin dan deru nafas keduanya.


"Aku tidak ingin menyusahkanmu lebih jauh lagi" kata Azka setelahn kebisuan itu.


"Menyusahkan lebih jauh lagi?? Menyusahkan bagaimana yang kamu maksud? Menyusahkan karena harus menemanimu terapi fisik? Menyusahkan karena harus menunggumu pulih? Menyusahkan karena apa??" Hilal akhirnya meluapkannya. Bendungan kesedihannya tak mampu dia tahan lagi.


Air mata Azka menetes. Mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Hilal. "Hiks.... lihatlah kondisiku! Aku patah tulang! Luka bakarku dimana-mana! Ditambah lagi aku mengalami perdarahan organ dalam! Tidakkah kamu takut akan hidup denganku nantinya?? Fisikku akan cacat! Bagaimana jika nanti kamu takut melihatku?? Kita tidak punya anak?? Bahkan aku tidak menarik lagi bagimu??"


Hilal tertawa pahit mendengarnya. "Jangan mendahului takdir Allah. Apa kamu pikir aku peduli dengan itu semua?? Apa kamu juga tidak memikirkan bagaimana sakitnya dan hancurnya aku ketika melihatmu terbaring di IGD hingga tanganku ini gemetaran takut jika salah menghentikan perdarahan dalam organ dalam mu?? Tidak bisakah kamu tidak egois?? Tidak bisakah kamu melupakan kejadian ini dan berpura-pura tidak ada apa-apa? Tidak bisakah kamu juga melihatku terluka?? He??"


Hilal bangkit dan pergi meninggalkan Azka sendirian. Bertemu dengan Papi Raka dan Mami Salma. Hilal menghapus air matanya yang terbendung begitu banyak di pelupuknya. "Kalian bertengkar?" tanya Papi Raka. Hilal mengangguk.

__ADS_1


"Mami masuk dulu" Mami Salma tersenyum dan menepuk bahu Hilal. Papi Raka membawa Hilal duduk di bangku depan.


Mereka menenangkan keduanya. Menasehati untuk kebaikan mereka sendiri. Hari berganti. Tepat dua hari setelah pertengkaran itu. Hilal mengunjungi Azka sebagai pasiennya.


"Pindahkan Nona Azka ke ruang perawatan biasa" perintah Hilal kepada perawat sambil membenarkan infus Azka yang macet karena darah beku.


Perawat itu mengangguk dan segera keluar untuk menelpon bangsal rawat inap. "Keadaanmu semakin membaik, kamu akan dipindahkan ke ruang perawatan. Cepatlah makan agar cepat keluar dari rumah sakit" kata Hilal tanpa menatap Azka.


Azka memanyunkan bibirnya. Dua hari Hilal tak menyapanya seperti biasa. Dia menjadi pria dingin yang tak dikenalnya. Hilal hendak pergi, dengan cepat tangan Azka menarik jas dokternya.


"Mas"


Hilal menoleh. "Kamu ingin kita bicara sebagai apa? Pasien dengan dokternya? Atau apa?"


"Antara calon istri dan calon suami!" tegas Azka. Membuatnya malu karena ucapannya sendiri. Hilal tersenyum tipis. Berbalik dan duduk di tepi ranjang Azka.


"Apa?"


"Kamu marah sama aku?" tanya Azka. Hilal mengangguk. "Sudah?"


"Apa lagi?"


"Kenapa kamu berubah?" tanya Azka


"Siapa? Aku? Berubah? Bukannya kamu yang berubah?"


"Kamu menjadi dingin tidak seperti Mas Hilal yang aku kenal"


Hilal menatap Azka. Mereka beradu pandang. "Tanya sama diri kamu sendiri. Siapa yang membuatku menjadi manusia freezer seperti sekarang"


"Oke! Aku minta maaf!"


"Hanya bilang tanpa bukti mah gampang!" Bantah Hilal.


"Oke! Mas, aku minta maaf. Maaf telah mengambil keputusan secara sepihak. Maaf"


Hilal tersenyum mendengarnya. Mengangguk. Lalu menggenggam tangan Azka. "Jangan menjadi terpuruk oleh ketakutanmu sendiri. Bukankah kamu yang bilang sama Mas, kalau musuh terberatmu adalah dirimu sendiri?"

__ADS_1


Azka tersenyum. "Maaf kemarin Mas ngomongnya kasar. Mas pusing memikirkan cara agar kamu mau makan. Mas akan menerima kurang dan lebihnya kamu Az"


"Maaf selalu menyusahkan kamu"


"Kamu gak nyusahin kok. Bagaimana kalau akad saja?" tanya Hilal tetiba. "Ha?"


"Ck! Jawab gih! Dengan kondisi seperti ini lebih baik kalau kita akad sekarang. Biar nantinya Mas bisa menemani kamu terapi fisik"


"Apa hubungannya dengan mempercepat akad??" tanya Azka masih tidak mengerti arah pembicaraan Hilal.


"Ya.... ya mumpung semua keluarga kita kumpul di Semarang. Lagian.... kalau sering ketemu seperti ini, hawanya beda!"


Azka tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Tak menyangka, Hilal bisa berpikiran ke arah yang agak vul*gar juga. Namanya juga lelaki. Pikir Azka.


"Jawab ih!"


"Terserah kamu saja lah Mas. Tapi, apa kamu yakin?? Aku nantinya belum bisa melayani kamu sebagai istri sebelum terapi fisikku benar-benar selesai lho!" bantah Azka.


"Yang penting halal dulu. Mau?"


Azka tersenyum dan mengangguk. Perawat datang dan memberitahukan bahwa Azka akan dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Hilal mengangguk dan segera membawa barang-barang Azka pindah ke ruang perawatan.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


udah tripple up yes?? ojo jaluk tanduk meneh

__ADS_1


__ADS_2