Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 83


__ADS_3

Persiapan telah selesai dilakukan. Para sanak saudara, tetangga, dan kerabat pun datang memenuhi undangan acara lamaran itu. Archee melakukan panggilan video kepada saudaranya. Ia menangis haru melihat ketiganya sudah nampak cantik dan anggun dalam balutan kebaya.


"Abang kenapa cengeng?" tanya Amaris.


"Abang sedih gak bisa sama kalian saat hari spesial kalian" Humai ikutan terharu mendengarnya. "Maafin Humai"


"Bukan salah kamu sayang, besok kita kontrol dokter Rini, kalau minggu memungkinkan pulang, nanti kita pulang ya?" Humai mengangguk.


"Wes.... wes..... wes..... ojo romantis-romantisan ning ngarepku! Ilingo.... saiki aku lagi LDR an! (Sudah.... sudah.... sudah.... jangan romantis-romantisan di depanku! Ingat..... sekarang aku lagi LDR an!)" semuanya menertawakan Adel.


"Ya sudah, selamat buat kalian berdua. Semiga dilancarkan sampai hari H nya buat Maris. Aylin segera pengajuan, Ilyas segera balik dan segera melamar bos lele kita"


"Aamiin! Nanti lihat lamarannya secara virtual ya? Telpon Maryam aja, kami mau ngeprank Mas loreng sama Mas coklat! Hahahaha" kata Adel.


Archee dan Humai terheran dengan ucapan Adel. "Maksudnya?"


"Nanti lihat ajalah pak Camat! Jangan banyak tanya! Udah ya? Itu tamunya udah pada datang. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Archee menjawab salam dari Adel.


Aylin dan Amaris semakin berdebar-debar karena rombongan keluarga Imam dan Damar datang besamaan. Mereka masih berada di kamar Amaris. Azka dan Maryam masuk ke dalam kamar itu dan mulai membantu mereka untuk menyusun rencana. Adel menyusul di belakang mereka.


"Ini heels yang belikan siapa?" tanya Azka pada Maris. "Mas Damar"


"Tuker tuker tuker! Mbak Ay pakai heelsnya Mbak Maris, punya Mbak Adel dipakai Mbak Maris, Mbak Adel pakai punya Mbak Ay" kata Azka lagi.


"Apa lagi ya yang bisa mengecoh mereka?" Maryam berpikir keras. Ia melihat kaki Aylin yang memang ada gelangnya.


"Aaa..... gelang kaki punya Mbak Ay dipakai Mbak Maris" Aylin melepasnya lalu Amaris memakainya.

__ADS_1


Sedang di bawah, para tamu sudah disambut oleh pihak keluarga Papah Duta. Yang menjadi wakil besan seharusnya adalah Kakak dari Papah Duta, yaitu Agus Wicaksana, tetapi beliau sedang tidak enak badan jadi diwakilkan ke Pakdhe Wisnu. (Tahu dong siapa?)


Ayah Indra menjadi wakil besan untuk keluarga Damar, karena Damar yang meminta langsung sang Panglima untuk menjadi wakil besan dari keluarganya.


Sedangkan wakil besan keluarga Imam adalah dari keluarga Ilyas, yaitu Ayah Bekti. Keluarga Damar dipersilahkan terlebih dahulu untuk mengutarakan maksud kedatangan dirinya dan rombongan keluarganya.


Shanum dan Hamka juga ikut dalam rombongan keluarga Damar. Ayah Indra mulai berbicara. Mengutarakan maksud dan tujuannya datang ke rumah Papah Duta. "Jadi, Mas Damar ini meminta saya. Pak, saya minta tolong dilamarkan pujaan hati saya toh Pak, saya ini sudah kebelet. Tak jawab. Kalau kebelet ke kamar mandi Mas Damar. Maksudnya bukan kebelet pipis Pak, tapi kebelet anu" Semuanya tertawa mendengarkan ucapan Ayah Indra.


"Anu itu maksudnya pengeng pup. Ojo mikir tekan kono-kono lho. Durung wayahe" Sahut Ayah Indra lagi. Tak terasa 10 menit sudah Ayah Indra mengungkapkan maksud kedatangannya.


"Mau langsung dijawab atau lanjut ke keluarga kedua?" tanya Pakdhe Bayu sebagai pengatur acara.


"Lanjut aja dulu" sahut Pakdhe Wisnu.


Akhirnya Ayah Bekti juga mengungkapkan maksud kedatangan keluarga Imam ke rumah Papah Duta. "Saya miris ini nanti kalau ketuker bagaimana?" ucap Ayah Bekti melucu. Semuanya tertawa mendengarnya. Setelah Ayah Bekti selesai berbicara, giliran Pakdhe Wisnu yang menjawab satu per satu lamaran itu.


"Tuh kan! Padahal aku gak ngapa-ngapain lho!" Pakdhe Candra berdiri dan membalikkan tubuh Pakdhe Wisnu. Ternyata ada sebuah tulisan yang menempel di punggungnya. Pakdhe Candra mengambilnya lalu membacanya. "Wajib tertawa ketika orang gila ngomong! Kalau tidak tertawa saya akan ngamuk! Haiyo mereka semua tertawa, ancamanmu menakutkan kok Wis"


Semua kembali tertawa lagi. "Ealaaaahhh.... jebul iki masalah e. Sopo toh sing nulis ngeneki? Ngertinan nek aku ki tau dadi pasiene Laras (Ealaaaaaahhhhhh..... ternyata ini masalahnya. Siapa toh yang nulis seperti ini? Tahu aja kalau aku ini pernah jadi pasiennya Laras)"


Pakdhe Bayu maju. "Mau jadi wakil besan apa mau jadi pelawak? Ini kan yang nulis kamu sendiri tadi. Yang nempelin memang aku"


"Mosok Bay? Aku kok ora ngeroso!" jawab Pakdhe Wisnu


"Jelas dia gak ngerasa, lemak udah puluhan tahun ditimbun terus kok" jawab Candra.


Lawakan mereka menghibur semua yang ada. Pakdhe Wisnu mulai serius. Ia menjawab maksud kedatangan kedua keluarga itu. "Saya jawab dulu salamnya. Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih untuk keluarga Pak Andi Bachtiar dan Pak Ali Assegaf atas kedatangannya bertamu ke rumah kami. Kejadian ini mengingatkan saya sama masa lalu. Dulu, Ibunya calon mantu panjenengan itu juga dilamar oleh dua orang di hari yang sama. Bedanya, kalau sekarang kan memang calonnya masing-masing. Kalau dulu itu Ibunya yang jadi rebutan. Insyaallah Pak, Bu, yang panjenengan lamar untuk putra panjenengan itu dari bibit bobot dan bebet yang kualitasnya bagus. Insyaallah. Saya berani bilang seperti ini karena memang saya kenal sekali dengan anak-anak mereka. Insyaallah diterima Pak, Bu. Tolong sampaikan kepada Mas Imam dan Mas Damar, untuk persiapkan diri mereka. Pantaskan diri mereka untuk kedua keponakan saya"


Pakdhe Wisnu menghela nafas. "Jebul dadi wakil besan ngomong terus ki yo kesel lho yo (Ternyata jadi wakil besan ngomong terus itu ya capek lho yo)"

__ADS_1


Semuanya kembali tertawa. "Tuh kan ketawa lagi. Kenapa sih?? Masih ada tempelan di belakang punggungku?"


"Gak ada" jawab semuanya kompak. "Ternyata aku memang banyak fans. Kalah kowe Dut karo aku! Berarti gantengan aku dong ya daripada Duta!"


Pakdhe Bayu maju lagi. "Kamu itu tidak ganteng. Tapi gak papa. Karena percuma kalau ganteng tapi gak lucu!" Semua lelaki yang ada disana bertepuk tangan atas ucapan Pakdhe Bayu.


"Salaman sek! (Salaman dulu!)"


Pakdhe Bayu menjabat tangan Pakdhe Wisnu. "Amplopan bagi loro lho yo! (Amplopan bagi dua lho ya!)"


Semuanya kembali tertawa. "Sudah-sudah, jangan bercanda terus. Lihat itu wajah Mas Damar dan Mas Imam yang sudah tidak sabar. Langsung saja lah. Panggilan dua ponakan cantik ku kemari. Biar mereka jawab sendiri lamaran pujaan hati mereka"


Tante Nina naik ke atas dan memanggil kedua ponakannya. Dari atas, Azka dan Maryam sudah membentangkan kain untuk menutupi ketiganya.


Imam dan Damar saling toleh. Bingung dengan yang terjadi.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2