Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 47


__ADS_3

Sedang di Demak, acara yang seharusnya setelah maghrib, mundur menjadi setelah Isya'. Biasa, mereka orang-orang sibuk. Alhamdulillah mereka bisa hadir dalam acara itu. Alhamdulillah juga pesanan makanan bisa diubah sesuai jam acara.


Para Camat yang hadir membawa serta istri dan anaknya. Berkumpul sekaligus temu kangen. Mereka semua memberikan ucapan selamat kepada Camat Archee dan Humaira.


"Wah Chee, tak kiro awakmu bakalan karo Zoya (Wah Chee, aku kira kamu bakalan sama Zoya)" kata salah seorang Camat yang usianya lebih tua dari Archee bernama Camat Nasik.


"Astaghfirullah pakdhe..... Ampun ngoten aaa.... Alergine kulo kumat mangkeh (Astaghfirullah pakdhe..... Jangan begitu aaa..... Alergi saya kumat nanti)" sahut Archee, membuat gelak tawa dari semuanya.


"Lha mbok undang opo ora to Chee? Kok awet mau aku urung weruh bentukane Zoya (Lha kamu undang apa gak to Chee? Kok dari tadi aku belum lihat wujudnya Zoya?)"


Archee mengangguk. "Ya diundang pakdhe, kan semua Camat saya undang"


Humai tampak akrab dengan beberapa istri Camat. "Bu Archee, sudah isi belum?" tanya salah seorang istri Camat.


"Do'akan saja bu, semoga cepat ada yang dititipkan dalam rahim saya. Kalau sekarang diisi nasi dulu"


Semuanya tertawa. Zoya datang bersama sekretarisnya, Rudi. Ia menjadi pusat perhatian, karena mereka berpikir bahwa Zoya tidak akan mau datang dan melihat pujaan hatinya sudah dimiliki oleh orang lain.


Semua berbisik-bisik atas kedatangan Zoya. Humai langsung kembali bersama suaminya. "Maaf ibu-ibu semua, saya kesana dulu" sambil menunjuk arah Archee.


"Oh iya bu Archee, silahkan"


Humai kembali bersama Archee. Ia langsung mengalungkan tangannya ke lengan Archee. Zoya dapat menangkap jelas kemesraan yang sedang dipamerkan pasangan baru itu kepadanya.


"Cih... memang saya akan cemburu apa?" katanya bergumam. Ia menghampiri Archee.


"Datang juga kamu Ya, aku pikir gak akan mau datang" kata camat Nasik.


"Ngapain juga saya gak datang pakdhe? Ada undangan makan gratis ya datang lah" jawab Zoya dengan wajah cemberut.


Para camat lain menggodanya. "Kuat hatimu Ya? Tatak yo?" Mereka semua tertawa. Zoya menyodorkan tangannya kepada Archee.


Humai menyambutnya dengan cepat. "Tidak perlu mengucapkan selamat kepada kami lagi, karena ucapanmu yang kemarin sangat berarti bagi kami. Perbaiki akhlakmu, perbaiki ibadahmu, serta penampilanmu, maka Allah akan mengirimkan malaikat penjaga hati untukmu. Mungkin bang Archee memang bukan yang terbaik untukmu, dan pasti, di luar sana ada seseorang yang memang ditakdirkan untukmu" tutur Humai.


Para tamu undangan sampai geleng kepala dengan ucapan Humai yang sangat tegas terhadap Zoya. "Bu Archee bener-bener berwibawa banget ya bu Nasikin? Cara dia menghadapi bu Zoya berbeda sekali. Kalau kita mah, ada pelakor pengennya langsung ngejambak aja. Kalau ini cuma pakai senjata kata" terang istri camat Rohib.


"Iya bu Rohib, saya setuju dengan pernyataan jenengan. Zoya wes kalah telak kalau kayak begitu" timpal istri Camata Nasikin.


"Terima kasih atas do'amu. Maaf atas kelancangan sikapku tempo hari" jawab Zoya.

__ADS_1


Humai tersenyum lalu memeluknya. "Saya tahu rasanya merelakan itu seperti apa. Tapi, percayalah bu Camat, itu semua akan cepat berlalu"


Archee dan yang lain sampai terkejut mendapati sikap Humai kepada Zoya. "Benar-benar tulus hati istrimu Chee, beruntung kamu mendapatkan dia" para Camat lain memuji Humai di depan Archee.


Acara berlangsung dengan penuh canda tawa, meskipun Zoya masih tak bisa mengikhlaskan Archee. Ia lebih banyak menyendiri. Menikmati makanan yang tersedia.


"Hhmm.... berubah menjadi pribadi yang lebih baik Zoy, agar jodohmu juga baik. Karena jodoh adalah cerminan diri sendiri. Pantas lah Archee gak menggubrisku sama sekali, kalau diingat-ingat memang memalukan aku mengejarnya sampai begitu" kata Zoya pada dirinya sendiri.


Para tamu undangan berpamitan satu per satu pada Archee dan Humai. Mengucapkan terima kasih dan selamat serta berpamitan pulang.


"Nanti ketemu pas PKK lagi bu Archee" pamit istri Camat Nasikin.


"Oh, nggih bu" jawab Humai sambil cipika cipiki. "Kami pamit lho, Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" jawab Humai dan Archee. Zoya pun pamit.


Agil berpapasan dengannya. Rasa tamparan itu masih terasa di pipi Agil. Membuatnya sedikit bergidik ngeri. Ia balik badan berniat menghindari Zoya. Namun sayang, Zoya sudah melihatnya. "Gil!"


"Mampus lu Gil!" Agil mengatur nafasnya dan berbalik badan lagi. Zoya mendekat ke arahnya. Agil sangat susah menelan salivanya.


Zoya berhenti tepat di depannya. Agil semakin grogi. Tubuhnya gemetar. Ia menangkupkan telapak tangannya bertemu dengan telapak tangan yang lain. "Ampun Bu, apalagi salah saya?"


Agil menghela nafasnya lega. "Ya bu, tidak apa-apa. Saya sudah memaafkannya"


Zoya mengangguk. "Makasih banyak Gil, masih sakit Gil?" tanyanya.


Agil mengangguk. "Lebih ke trauma sih bu jatuhnya. Jadi kalau ketemu Ibu bawaannya pengen kabur mulu. Nakutin, memang kayak mak kunti yang baru aja dicabut pakunya" terang Agil polos.


Membuat Zoya mendelik padanya. "Agiiiiillll......."


Agil baru saja sadar dengan apa yang diucapkannya. "Ahahahaha, bercanda bu.... Mulut saya memang suka begitu...." Agil memukul mulutnya yang keceplosan bicara.


"Huh! Tahu gitu gak minta maaf saya sama kamu!" Zoya pergi meninggalkan Agil. Agil mengurus pembayaran di kasir. Ia memberikan tagihannya pada Archee.


"Yank, ATM Abang kamu bawa kan?" tanya Archee. Humai mengangguk. Mengambil di dalam dompetnya dan memberikan pada Agil.


Mereka segera kembali ke rumah setelah menyelesaikan semuanya. Humai segera membersihkan dirinya dan berganti baju. Archee memilih sholat terlebih dahulu. "Yank, gak sholat?" tanya Archee selesai sholat.


"Oiya lupa" Humai kembali ke kamar mandi dan berwudhu lalu melaksanakan sholat. Selesai itu mereka berdua mengobrol di ranjang.

__ADS_1


"Kenapa tadi waktu Zoya minta maaf kamu peluk?" tanya Archee masih heran dengan sikap Humai.


Humai merapatkan dirinya pada Archee. "Dia itu sudah minta maaf, apresiasi dan sikapku memaafkannya adalah dengan memberinya pelukan. Karena, bagi Humai, itu salah satu tindakan kita bahwa kita sudah memaafkannya"


"Menurut kamu mungkin gak sih Zoya godain Abang lagi?"


Humai melepaskan pelukannya dan menjauh dari Archee. "Pengen banget digodain sama Zoya?" katanya sambil memukul Archee dengan guling.


"Aw, sakit yank! Hahaha, gak lah. Amit-amit jabang bayi jangan sampai digodain lagi sama Zoya. Ih..... ngeri!"


Humai tertawa. "Terus kenapa pertanyaannya gitu?"


"Gak papa"


"Kalau sampai si Zoya godain Abang lagi, hmm, jangan harap hidupnya tenang! Bakalan Humai pukulin itu wajan penggorengan di dekat telinga dia! Biar dia budheg sekalian! Dikasih tahu sekali apa kurang denger??"


"Lhah, malah jadi emosi sih? Hahaha, takut banget kehilangan Abang ya? Hmm?"


Archee mencubit hidung Humai. "Takut banget Abang diambil orang?" tanyanya dengan menahan senyum. Membuat Humai ikut menahan senyum dan merona merah di pipinya.


"Ih apa sih?" kata Humai. Archee mencium bibir Humai. "Bucin ya? Hmm?"


Humai berbalik arah membelakangi Archee. Archee memeluknya dari belakang. Membisikkan sesuatu di telinga Humai. "Ayo main dengan posisi baru"


Humai menoleh. Mereka sama-sama tertawa. Mulai melakukan keinginan hati mereka.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


Maaf lama..... buk sibuk sibuk belajar


__ADS_2