Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 89


__ADS_3

Imam mematikan ponsel Aylin. "Blokir! Ganti nomor!" Aylin tersenyum mendengarnya. "Nggih Mas, jangan marah ya? Hatiku cuma untuk kamu Mas"


Imam diam dan nampak berpikir. Aylin heran melihatnya. "Kenapa sih??" Imam menggeleng. "Gak papa, Mas lagi mikir, apa benar kata orang ya Ay? Saat kita akan menuju halal, banyak cobaan yang datang"


Aylin diam. Berpikiran sama dengan Imam. Imam menoleh pada Aylin dan menggenggam tangannya. "Jangan tinggalkan Mas demi mantanmu"


Aylin memukul lengan Imam berulang-ulang. Imam merasa kesakitan. "Wong kok ngomonge ngawur! (Orang kok ngomongnya asal!)" Imam tertawa mendengarnya. "Gak bakalan! Gak ada itu di kamus Ay Ay, balikan sama orang yang sudah menyakiti hati Ay Ay!" kata Aylin tegas.


Imam tersenyum mendengarnya. "Alhamdulillah Ya Allah..... Engkau memberi hamba wanita yang memang baik akhlaqnya. Selalu menjaga ucapan dan juga janjinya. Kasih kiss kayak semalam dong! Tapi realnya gitu!"


"Ngelunjak! Sana turun! Beneran tak laporin Emak kamu Mas!"


"Ya sudah, Mas turun. Selamat bekerja sayang.... Hati-hati bawa mobilnya. Pakai masker biar gak dilihatin cowok lain!" Aylin mengelus dadanya. Masih ingat saja Imam dengan idenya itu. Aylin melambaikan tangan setelah Imam turun dari mobil. "Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Mobil Aylin meninggalkan Batalyon. Imam berkacak pinggang. "Beneran aku pithes kayak kutu rambut kalau kamu berani gangguin Aylin, No Seno! Gedheg gua lama-lama!"


.


Archee bersama Humai melakukan kontrol kandungan ke Dokter Rini. Mereka menunggu antrian. Bergantian dengan pasien yang lainnya. "Ibu Aisyah Humaira Makarim!" panggil asisten dokter itu.


"Ya mbak!" jawab Humai. Archee dan Humai beranjak dari tempat duduknya menuju ruang periksa. Dokter Rini tersenyum menyambut mereka. "Assalamualaikum dokter" sapa mereka berdua.


"Waalaikum salam Pak Camat dan Bu Camat. Mari silahkan duduk. Gimana? Keluar lagi darahnya? Pak Camat masih betah puasanya kan??" goda Dokter Rini. Archee dan Humai sama-sama tertawa.


"Alhamdulillah dibetah-betahkan dok"


"Hahaha, bisa saja si Bapak. Gimana? Ada keluhan apa Bu Camat??"


"Gak ada keluhan dokter, kami cuma mau kontrol saja, sekalian minta saran sama jenengan. Kan besok senin adik ipar jadi manten, gak enak dong dok kalau gak datang. Semisal, saya pulang ke Magelang, kira-kira aman tidak ya dok??" tanya Humai

__ADS_1


Dokter Rini tersenyum. "Kita periksa dulu yok? Nanti kita bilang sama janinnya. Mau gak dia diajak pulang ketemu sama keluarga besarnya??" Humai mengangguk. Ia dipersilahkan naik ke bed. Dokter Rini memulai pemeriksaan itu. Beliau tersenyum.


"Coba Pak, anaknya diajak ngomong. Beri tahu dia, kuat di dalam hingga nanti perkiraan lahirnya, dan kuat dalam aktivitas apapun" perintah Dokter Rini. Archee mengangguk. Oa segera mendekat ke perut Humai.


"Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum anak Abi dan Umi. Selamat pagi sayang, kuat-kuat di dalam ya nak sampai hari perkiraan lahir kamu datang. Besok Abi dan Umi mau bawa kamu jalan-jalan. Kuat ya nak?"


Humai tersenyum mendengarnya. Dokter Rini menjelaskan keadaan kantung rahim Humai yang dinilainya cukup adekuat. "Nanti saya resepkan vitamin dan penguat juga"


"Oh iya Dok, saya mau tanya, ini kan istri saya juga akan bekerja di RSUD, apakah tidak apa-apa?" Dokter Rini mengangguk mantap pada Archee.


"Gak papa Pak Camat, tapi Bu Camat juga harus ingat ya? Kalau sudah merasa capek ya artinya harus istirahat. Gak boleh memaksakan"


"Nggih Dokter. Tuh dengerin apa kata Dokter Rini. Humai itu boleh bang beraktivitas, yang penting tidak berlebihan" jawab Humai sambil turun dari bed pemeriksaan. Ia kembali duduk di sebelah suaminya. Archee hanya tersenyum. "Ini sudah mau masuk minggu ke delapan. Alhamdulillah kalau gak ada keluhan. Ada yang mau ditanyakan lagi?"


"Kalau dia mah memang gak ada keluhan Dok, tapi sukanya ngambek itu lho!" terang Archee. Membuat Dokter Rini dan asistennya tertawa. Humai melotot ke arahnya sambil menahan tawa. "Tuh kan Dok! Nyeremin!"


"Nyeremin tapi cantik ini pak! Pak Camat nih paling bisa kalau suruh godain bininya. Ini resepnya, ini hasil USG nya, oh ya, jangan lupa cek Hb, golongan darah, HbsAg, penyakit kela*min, dan HIV/AIDS ya Bu Camat. Di puskesmas paket lengkap"


"Gak usah masak, nanti biar Abang beli di luar" kata Archee. "Abang masih gak bisa menalar kata Dokter Rini??" kata Humai sambil mencuci tangannya.


"Abang gak mau kamu kecapekan Mai"


"Humai semakin capek kalau mendengar larangan Abang. Percaya lah, kami kuat Bi!" Archee tersenyum mendengar panggilan itu. Terasa sangat merdu didengarnya. "Tadi kamu panggil Abang apa??"


"Apa??" jawab Humai menghindar dan menuju dapur. Dilihatnya bahan makanan di kulkas yang masih bisa ia gunakan untuk membuat suatu masakan. "Ih, yang tadi! Panggil apa?" Tanya Archee lagi sambil membuntuti istrinya.


"Buruan berangkat sana! Sudah jam tujuh kurang seperempat lho!" Archee memanyunkan bibirnya. Ia meninggalkan Humai. Humai tersenyum melihatnya. Ia menyusul kemana perginya suaminya itu.


Archee siap untuk berangkat. Humai menyodorkan tangannya. Mencium tangan Archee. Merapikan kerah baju milik suaminya. "Semangat kerjanya ya Bi, pulangnya bawakan Umi buah kiwi ya!"

__ADS_1


Archee tersenyum senang mendengarnya. Ia mendaratkam ciuman di kening dan bibir Humai. "Insyaallah, kalau ada buah kiwinya. Kalau semisal gak ada? Mau buah apa??"


"Yang asem-asem pokoknya. Mau dimasakin apa?"


"Garang asem! Bisa buatnya kan? Nanti biar mbak Yanti yang kesini ngantar bahan-bahannya. Sekalian bantuin kamu" Humai mengangguk. Ia tak ingin membantah suaminya yang masih khawatir terhadapnya.


"Baik-baik di rumah. Kunci pintunya setelah Abang berangkat. Hanya boleh masak! Gak boleh yang lainnya!"


"Nggih Pak Camat.... sendiko dawuh....." kata Humai dengan menggeram. "Hihihihi" Archee tertawa.


Archee berangkat ke kantor. Humai menutup pintu rumahnya lalu menguncinya. Ia memilih mengerjaan pekerjaan memilah bahan yang ada di kulkas. Mengeluarkan yang sudah busuk dan menyimpan yang sekiranya masih bisa digunakan.


Ia membaca artikel tentang kehamilan melalui aplikasi yang ada di ponselnya. Mencari tahu apa yang harus dipersiapkannya selama kehamilan. Ia sangat takjub dengan proses yang akan ia alami. Begitu besar kuasa Allah, sempurna-Nya dalam menciptakan tubuh manusia.


"Masyaallah..... sungguh sempurna ciptaan-Mu. Sayang, kuat ya nak di dalam. Biar Abi tidak selalu khawatir dengan kita. Kasihan Abi, dia sudah capek di kantor. Jadi, kita jangan menambah beban pikirannya ya! Semangat sehat bersama Umi!"


Terdengar suara pintu diketuk. Humai melihatnya dari jendela. Ternyata Mbak Yanti. Ia membuka pintunya. Lalu mempersilahkan Mbak Yanti masuk. Mereka langsung mengeksekusi bahan makanan tersebut.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


Othor butuh suntikan semangat. Please give me!


__ADS_2