Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 13


__ADS_3

Adel berdecak. "Otakmu semenjak jadi camat apa lemot atau kurang di upgrade sih Bang? Daritadi diajakin ngomong Ha ha ha terus?"


Mamah Laras dan Papah Duta tertawa. "Ini.... serius ah!" kata Archee masih dengan ekspresi bingung.


"Serius Archee Putra Wicaksana, kamu itu mau dijodohin sama drg. Aisyah Humaira Makarim. Pujaan hatimu yang selalu kamu impi-impikan, yang selalu kalau tiap ketemu bikin kamu ngewel..... grogi" sahut Adel heran dengan kebingungan kakaknya.


"Oooo.... pantesan kemarin dia ngamuk ke aku, ternyata ini yang dia maksud. Jadi beneran papah dan Mamah minta Om Farid nerima Archee?"


"Wes toh Chee.... banyak tanya ok. Kami disuruh kesana. Bukan kami yang minta" jelas papah Duta. Tak lama mereka telah sampai di rumah Ayah Farid dan Bunda Ais. Hilal dan Habib menyambut mereka.


Sungguh, tak karuan hati Archee saat ini. Senang, tapi juga sedih. Ia memilih diam. Seperti biasa, mereka mengobrol terlebih dahulu, hingga Papah Duta mengutarakan maksud kedatangannya.


"Jadi, maksud kedatangan kami kemari adalah untuk menanyakan istilahnya ndodhok, Aisyah Humaira Makarim untuk anak kami Archee Putra Wicaksana"


"Bun, tolong bawa Humai kemari" Bunda Ais mengangguk dan menyuruh Maryam untuk memanggil Humai. Tak lama, Humai datang dan didudukkan di tengah-tengah keluarga itu. Archee menunduk. Hatinya sedang bergumul. Otaknya ingin menolak, tapi hatinya ingin Humai menjadi miliknya.


"Hari ini, datang seorang pria yang sudah kita kenal baik keluarganya, luar dan dalamnya seperti apa, untuk melamarmu. Jawablah" kata Ayah Farid pada Humai.


Humai masih merasa kesal dan menganggap Zidni ditolak karena Archee. Ia memasang wajah cemberutnya. "Humai gak ada hak untuk menjawabnya. Ayah yang lebih berhak menjawabnya. Suara Humai tidak akan berarti apa-apa disini. Jadi, terserah Ayah dan Bunda kalau mau menjualku pada keluarga Mamah Laras dan Papah Duta!"


Semuanya tercengang mendapatkan jawaban dari Humai. Tak menyangka, Humai yang biasanya bisa menahan mulutnya, kali ini meluapkan segalanya. "Humai!" Bentak Ayah Farid.


"Apa Yah? Benar kan yang Humai katakan? Kenapa? Oke, kalau Ayah menginginkan Humai bersama Bang Archee, tolong semuanya dengarkan jawaban Humai! Humai menerima lamaran ini! Tanpa unsur keterpaksaan, Puas?" Humai berderai air mata. Ia menangis dan berlari menuju kamarnya lagi.


"Humai! Balik kesini kamu!" bentak Ayah Farid. Humai tetap melanjutkan langkahnya. Semuanya menjadi tak enak hati.


Papah Duta menghela nafasnya. "Sebaiknya kami pulang Bang, kami anggap jawaban dari Humai adalah menolak Archee"


"Sebentar Pak, jangan terburu-buru dulu. Humai sendiri yang bilang menerima lamaran ini. Dia bilang sendiri tanoa unsur keterpaksaan. Mungkin hanya karena gengsi dia begitu"

__ADS_1


"Gak bang, jawabannya dilandasi kemarahan, itu bisa dikatakan tidak sadar dan keterpaksaan"


"Ehm... boleh Archee ngomong sama Humai berdua?" tanya Archee pada semuanya. Ayah Farid dan Bunda Ais berpandangan. Mereka mengangguk.


"Mar, temani aku bicara dengan Humai" pinta Archee pada Maryam. Ia pun mengangguk. Mereka menuju kamar Humai. Maryam mengetuknya dan dibuka oleh Humai.


"Bang Archee mau ngomong sama kamu"


"Ngomong apa lagi? Bukannya sudah jelas? Aku menerima lamarannya!" Archee mendorong pintu kamar Humai. Maryam ikut masuk ke dalam kamar.


"Apa? Puas kan kamu?" bentak Humai pada Archee.


"Bisa jangan nangis di depan Abang? Hati Abang sakit lihatnya. Dari waktu kamu video call abang, nuduh abang, sumpah abang gak tahu apa-apa. Bahkan sampai hari ini, abang baru tahu jika akan melamarmu. Kamu nuduh abang tapi tak ada bukti, jatuhnya fitnah. Abang akan menolak perjodohan ini. Abang gak mau, menikah dengan orang tapi hatinya terpaksa. Abang tidak bisa memaksa hatimu jika ia tak ingin mendampingi abang


Sudah, jangan sedih-sedih lagi. Fokus saja sama besok jum'at karena kamu harus tes akademik dan kesehatan. Abang akan bilang sama orang tua kita bahwa kita sepakat mengakhiri perjodohan ini. Abang pamit. Assalamualaikum"


Archee hendak keluar dari kamar. "Maaf, huhuhu" Humai menangis. Archee berbalik. "Jangan minta maaf untuk hal yang tidak kamu lakukan. Kejar kebahagiaanmu"


Archee membaca data yang dikirimkan oleh seseorang itu. "Dapat dari siapa ini?"


"Aku minta tolong sama orang bawahan Ayah"


"Lantas, apa dengan malumu kamu menerimaku?" Humai menggeleng "Aku tidak ingin membuat Ayah kecewa lagi. Aku menerimamu atas dasar kesadaran"


"Katakan dari hatimu. Mar, kamu yang jadi saksi atas jawaban Humai" Maryam mengangguk. Ia mengambil ponselnya dan merekamnya.


Humai menghapus air matanya, "Aku, Aisyah Humaira Makarim, dengan sadar dan tanpa unsur keterpaksaan, menerima lamaran dari Archee Putra Wicaksana, tapi dengan satu syarat, nikahi aku dalam seminggu ini tanpa ada resepsi. Aku hanya mau akad nikah. Dan jangan menyentuhku sebelum aku benar-benar siap"


Archee menghela nafasnya. Ia dalam kebimbangan. Tapi, hatinya begitu yakin bahwa bisa membuat Humai jatuh cinta dengannya. Ia mengambil nafas dan membaca basmalah. "Aku, Archee Putra Wicaksana setuju dengan syarat yang diajukan oleh Aisyah Humaira Makarim, dan perjanjian ini akan otomatis batal jika Aisyah Humaira Makarim sudah benar-benar mencintaiku"

__ADS_1


Maryam menggeleng-gelengkan kepalanya. Archee melihat mata Humai. Menatap dalam mata itu. "Abang akan buat kamu jatuh cinta" lalu pergi meninggalkan kamar.


Maryam mematikan rekamannya. "Sama-sama bodoh kalian itu. Dek, jangan main-main sama ikatan halal. Kodrat kamu nantinya akan menjadi istrinya, sudah menjadi kewajiban kamu memberikan hak bagi bang Archee. Mbak cuma ngasih tahu aja, jika Ayah dan Bunda sampai tahu, mereka akan lebih kecewa dengan kalian"


"Itu urusan belakangan. Aku hanya tidak ingin membuat semuanya kecewa karena hari ini aku membaca dengan jelas, bahwa Mas Zidni terlibat kasus pemalsuan data perolehan suara pilkada"


Maryam menghela nafasnya. "Terserah kalian saja lah. Mbak gak mau ikut-ikut" Maryam meninggalkan kamar Humai.


"Beneran jatuh cinta nanti kamu sama dia dek, bandel banget aih dibilanginnya" Maryam kembali bergabung. Ia memutar rekamannya. Semuanya tercengang dengan apa yang mereka dengar.


"Ayah gak setuju! Panggil Humai kemari!"


"Om, tolong, stop sakiti Humai. Dia bicara seperti itu saja anugrah bagi kita semua. Archee sudah setuju dengan ini. Biarkan nanti cinta tumbuh dengan sendirinya, ia hanya tak ingin membuat semuanya kecewa. Nikahkanlah kami. Urusan membuatnya jatuh cinta, biar Archee yang pikirkan. Percayalah, cinta akan tumbuh diantara kami"


Akhirnya semuanya menghela nafas. Kecewa. Tapi, itulah keputusan mereka berdua. "Buat Humai jatuh cinta kurang dari 3 bulan Chee. Aku akan membantumu" kata Hilal. Archee mengangguk dan tersenyum.


Semenjak acara lamaran itu, baik Archee maupun Humai tidak pernah saling komunikasi. Urusan nikah mereka semuanya diurus oleh orang tua mereka. Hingga tiba saat tes akademik dan tes kesehatan bagi Humai di Demak.


Humai : Bang, Aku sudah di terminal Demak.


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2