
"Ck, ha ho ha ho, kamu itu bukan anak kecil lagi Zoya sayang..... Sudah mengerti semuanya. Sudah dewasa. Panggil aku dengan sebutan yang lebih sopan. Misalnya saja, Abang kek, Mas kek. Bisa kan?"
Zoya mengangguk. "Coba aku pengen denger" goda Zafran. "Apa?"
"Coba panggil aku dengan sebutan yang lebih sopan"
"Ih maksa" jawab Zoya enggan untuk memanggil Zafran seperti yang diminta. "Ayolah"
Zoya menggeleng. "Tak gelitikin ya?" Zafran menggelitiki pinggang Zoya. "Jangan pegang-pegang ih"
"Biarin, salah sendiri gak mau nurutin apa maunya aku"
"Oke stop Mas! Geli tahu! Kamu ih" Zafran menghentikannya. Matanya bertemu dengan mata Zoya.
"Nyetirnya yang bener Mas" Zafran tersadar dan menatap jalanan lagi. "Aku tuh agresif lho. Yakin, masih mau sama aku?" tanya Zoya.
"Aku suka yang agresif" jawab Zafran. Zoya menahan tawanya. "Ketawa aja sih, ngapain ditahan gitu? Aku kan pengen lihat dan dengar tawa kamu"
"Apaan sih Mas? Udah deh, jangan godain aku mulu. Kenapa milih aku untuk jadi teman dekatmu?"
"Ehm.... karena kamu itu dewasa"
"Darimana kamu tahu aku dewasa? Kita baru bertemu beberapa jam"
"Dari cara kamu menyikapi masalah. Kamu hanya mengumpat, dan kamu bisa mengendalikan diri untuk tidak bercerita ke orang lain tentang yang aku lakukan sama kamu"
Zoya tersenyum mendengar pujian dari Zafran. "Kemarin aku bukan orang yang seperti kamu sebutkan. Aku lebih buruk"
"Gara-gara Archee?" Zoya mengangguk. "Yang penting sedang berusaha berubah. Aku yakin kok, kamu itu perempuan baik dan dewasa. Makanya aku yakin sama kamu. Heheh, kapan libur?"
"Kenapa nanyain libur?" Zoya mengambil minumnya dan menegaknya. "Mau ngajak kamu ketemu Bunda dan Ayah lah"
"Uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk"
"Pakai acara keselek lagi. Santai sayang, bukan sekarang. Nunggu kamu libur dulu"
Zoya meminum airnya lagi. "Emang aku udah jawab bakalan mau sama kamu?"
"Kalaupun kamu gak mau, tak paksa. Ini nanti aku mau kenalan sama orang tua kamu"
"Ha?"
Zafran berdecak lagi. "Ha lagi, ini lurus terus?" Zoya mengangguk. "Busyet, jauh amat yak rumah jodohku? Makanya sekian lamanya aku menjomblo, nemuinnya aja harus digebukin orang dulu"
Zoya tertawa kecil mendengarnya. "Duh manisnya..... sumpah, kamu tambah cakep kalau ketawa begitu"
__ADS_1
"Di depan ada gang nanti belok kanan Mas"
"Siap nyonya Zafran!" Zoya tertawa lagi dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ngarep banget sih kamu! Belum juga dijawab. Rumah warna hijau yang ada pagernya"
Mereka telah sampai di rumah Zoya. "Yakin mau ketemu orang tuaku?" Zafran mengangguk. "Lain kali aja deh..... gih telpon Archee suruh si Agil jemput"
Zafran menggeleng lalu turun. dari mobil dan masuk terlebih dahulu ke dalam rumah. Zoya sampai tercengang melihatnya. "Beneran serius lho ini orang" katanya sembari menyusul Zafran.
Zafran mengetuk rumah orang tua Zoya. Seorang lelaki paruh baya hanya mengenakan singlet membuka pintu untuknya. "Assalamualaikum pak"
"Waalaikum salam. Siapa ya?" tanya pak Yono. "Zafran pak, calonnya anak Bapak, Zoya Meydianti" ucap Zafran sambil menyalami Pak Yono.
"Ha?" jawab Pak Yono tercengang. Zoya bingung harus menjelaskan seperti apa lagi. Ibu Dewi yang mendengar dari dalam langsung menghampiri keluar.
"Ini beneran calon anak Ibu? Ayo masuk! Bapak ngapain bengong?" Bu Dewi langsung menarik tangan Zafran untuk masuk ke dalam rumah.
Pak Yono berbisik dengan Zoya. "Beneran? Ganteng amat calon mantu bapak? Tapi, wajahnya kayak mirip siapa ya?"
"Archee. Dia sepupu Archee Pak"
"Oh iya bener! Wes lah, setuju Bapak!" Zoya melotot tak percaya. Orang tuanya yang terkadang alot, langsung luluh sekalinya bertemu dengan Zafran. "Hih! Gantian kamu yang bengong! Ayo masuk!"
Zafran dibawa oleh Bu Dewi ke ruang makan. "Zo, ambilkan makanan buat calon mantu Ibu. Ooo.... kamu pergi tuh buat jemput calon mantu Ibu. Haduh, kok gak bilang sih? Gak bisa masakin yang enak-enak deh. Mas, kapan orang tuamu melamar Zoya? Kasihan tuh dia diomongin tetangga. Katanya gak laku-laku"
"Ibuk!" jawab Zoya. Zafran tersenyum. "Tergantung dek Zoya bu, siapnya kapan. Kalau saya sih, disuruh besok juga siap!"
Zoya duduk di samping Zafran dan mengambilkan makanan untuknya. "Banyak apa dikit?" tanya Zoya. "Dikit aja"
Mereka menikmati makanan itu. "Rumahmu dimana Nang?" tanya Pak Yono. "Jakarta Pak"
"Kerja apa?"
"Kerjanya di kantor polisi pak"
"Oh, polisi berarti? Gak nyangka anak Bapak dapat polisi. Anak nomor berapa?"
"Dua pak" Pak Yono dan Bu Dewi mengangguk paham. Makan pun selesai. Mereka beralih ke ruang keluarga. "Nang Zafran, Bapak sama Ibuk setuju-setuju saja kalau kamu memang serius sama anak Ibuk dan Bapak. Sudah pada dewasa, mapan. Jadi, apa yang perlu ditunda? Yawes, kalian lanjut ngobrol. Bapak dan Ibuk mau nyari angin di belakang"
Orang tua Zoya meninggalkan mereka berdua yang duduk berdampingan. Zoya mencubit lengan Zafran. "Bisa ya ngomong begitu! Hish!"
"Apa sih sayang? Aku gak pernah main-main sama ucapanku lho. Kamu ni aneh, ada yang ngajakin serius malah bingung. Ayo nikah sama aku" kata Zafran menatap mata Zoya.
"Ngebet banget sih!" balas Zoya memalingkan wajahnya. Zafran tersenyum melihatnya. "Tak telponin si Agil deh biar kamu bisa dijemput"
Zafran merebut ponsel Zoya. "Jarang bisa ketemu lho kita nanti. Puas-puasin berduaan sama Mas"
__ADS_1
"Ih, balikin gak??" Zafran menggeleng. Ia sengaja menjauhkan ponsel Zoya. Membuat Zoya yang hendak mengambilnya tersungkur ke dada bidang Zafran. Zafran tak melewatkan kesempatan itu begitu saja. Ia memeluk Zoya.
"Mas lepasin"
"Gak! Udah deh ah! Nikmati waktu kita berdua" Zoya membiarkan dirinya dipeluk oleh Zafran. "Mau ya jadi istri Mas?" tanya Zafran masih memeluk Zoya.
"Kasih waktu dong"
"Gak! Daritadi Mas udah kasih kamu waktu lho ya"
"Kita itu belum kenal terlalu jauh. Jangan sampai menyesal nantinya"
"Mas gak pernah nyesal. Beruntung iya. Mau kan?"
Zoya menghela nafasnya. Ia menatap wajah Zafran. Melihat mata Zafran dalam-dalam. "Iya"
"Yes! Akhirnya! Mas ajukan pindah kerja dari sekarang" kata Zafran semangat. Zoya hanya tersenyum mendengarnya. Baginya, hari ini adalah hari keberuntungannya. Berniat hanya membantu seorang lelaki yang malah membawanya bertemu dengan jodohnya.
"Libur kapan?" tanya Zafran. "Minggu libur"
"Ya sudah, sabtu depan Mas ke Demak lagi. Sama Ayah dan Bunda. Dandan yang cantik ya sayang"
"Wegah!"
Zafran tertawa mendengarnya. "Yawes, telponkan si Agil suruh jemput kesini"
"Lepasin dulu pelukannya"
"O iya lupa. Hehehe, pengennya meluk kamu terus" Zafran memberikan ponsel Zoya. Lalu menghubungi Agil.
"Gil, ke rumah saya sekarang! Jemput pak Zafran!" Zafran tersenyum kecut mendengarnya. "Galaknya!"
"Kenapa nyesel?" jawab Zoya sinis. Zafean menggeleng. "Senang aja bisa tahu sifat kamu tanpa harus mancing dulu" Zoya tersenyum mendengarnya.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip