Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 56


__ADS_3

Amaris mengunci asrama Damar dan menuju asrama Shanum. Ia mengetuk pintu. "Assalamualaikum" ucapnya di depan pintu.


"Waalaikum salam" Shanum membuka pintu asrama itu. "Aaaa..... kangen kangen kangen...." Shanum memeluk Amaris.


"Sama, kangen pol!"


"Ayo masuk" Amaris mengangguk. Masuk ke asrama Hamka.


"Bang Hamka dinas?" tanyanya. Shanum berjalan ke dapur. "Iya lah, kalau dia gak libur ya aku yang nyusulin kesini. Habis gimana? Belum acc pindah e...."


"Sabar lah Shan. Aku juga akhirnya keluar dari SMK. Hmm, padahal murid ku sedang berjuang akan menghadapi UN. Tapi, apa boleh buat?" ujar Maris. Shanum membawakan minum padanya.


"Makasih" katanya. "Sama-sama"


"Udah isi belum sih Shan kamu?" Shanum tersenyum dan menggeleng. "Doain aja segera ya Ris..."


"Aamiin, semoga cepat dititipkan momongan dalam rahim kamu. Humai perdarahan"


"Iya, aku dengar dari Maryam kemarin. Kapan mau nengokin? Ikut dong!"


"Besok sih rencananya. Eh, udah beli kado buat Mbak Hana?" Shanum menggeleng.


"Cari yuk! Beliin apa ya?" ajak Amaris. Mereka berpikir sebentar. "Yang mereka belum punya pastinya" jawab Shanum.


"Iya apa?"


"Gak tahu"


"Hahahhaha" mereka berdua tertawa bersama. "Daripada bingung ayo lah jalan aja. Kita cari nanti disana"


"Kemana?"


"Ikut aja, ayo" Amaris mengangguk. Shanum segera mengambil kunci mobil dan dompetnya. Mereka keluar dari asrama dan menuju tujuan mereka.


Shanum masuk ke sebuah toko. Yang menjual berbagai peralatan rumah tangga. Mereka masuk dan melihat-lihat.


"Cari yang belum mereka punya" kata Shanum. Mereka naik ke lantai dua toko itu. Amaris punya ide apa yang perlu ia berikan pada Hana dan Ali.


"Aku beli tangga dan alat pertukangan itu saja deh!" katanya semangat. Shanum mengangguk. Ia masih belum menemukan barang yang akan diberikannya pada Hana dan Ali.


Ia memutari etalase itu dan bertemu dengan Jihan. "Jihan?" sapanya. Amaris menoleh dan menuju ke posisi Shanum. "Eh, mbak Shan, apa kabar?" tanya Jihan. Amaris tersenyum ke arahnya.


"Ada mbak Maris juga? Ya Allah.... kalian sehat kan?" tanya Jihan lagi. Mereka berdua mengangguk. Shanum melihat perut Jihan yang sudah membuncit.


"Berapa bulan?" tanya Shanum.


"5 bulan"


"Weh... unda undi sama Maryam dong ya?" timpal Maris. Jihan mengangguk. "Cari kado buat Hana dan Ali?" Tanya Amaris. Jihan mengangguk.


"Sudah dapat?" tanya Shanum.


"Sudah, aku pusing e... tak belikan exhause aja lah. hahahha"


"Hmmm, tinggal aku nih.... apa ya?" Amaris melihat tumpukan contoh wallpaper.

__ADS_1


Ia menarik tangan Shanum. "Ini aja, kan udah aku belikan tangga sama peralatannya, kamu wallpapernya" Shanum mengangguk.


"Boleh-boleh" Akhirnya kegiatan mencari kado pun usai. Jihan berpisah dengan mereka. "Ketemu nanti malam di tempat mbak Hana" kata Jihan sambil cipika cipiki pada mereka.


Mereka menuju rumah mereka masing-masing. Sore menjelang. Waktunya para polisi itu untuk pulang. Hamka membonceng Damar. "Mbak Shan" sapa Damar sambil melambaikan tangan.


"Gak usah genit sama bini gua!" kata Hamka sambil memicingkan mata. Shanum tertawa melihatnya.


"Nyapa doang! Masa iya nyapa modelnya menggeram bang?? Aneh ih"


"Pulang sono! Ingat belum halal! Jangan macam-macam sama Maris lu!" Hamka mengingatkan Damar.


"Nggih komandan. Mbak Shan, balik dulu ya?" Shanum mengangguk.


"Ada gua kenapa yang dipamitin bini gua sih!" Damar menjulurkan lidahnya dan berlalu dari asrama Hamka. "Assalamualaikum" ucap Hamka sambil tersenyum.


"Waalaikum salam" Shanum menyalami Hamka. "Sudah makan yank?"


"Belum bebeb, masak apa?" tanya Hamka. "Oseng kangkung ayam dan tempe goreng kesukaanmu"


"Abang mandi dulu. Siapkan makan ya?" Shanum mengangguk. Hamka segera mandi dengan cepat.


Damar telah sampai di depan asramanya. Amaris mendengar deru motor. Ia tersenyum senang dan segera membuka pintu asramanya. "Assalamualaikum" ucap Damar.


"Waalaikum salam" Maris menyalami Damar. "Sudah makan? Sudah sholat?"


Damar melepas sepatunya di sofa. "Belum makan tapi sudah sholat. Udah dapat kado buat Bang Al dan Mbak Hana?"


Amaris mengangguk. Ia mengambil sepatu Damar dan meletakkannya di rak sepatu. Damar tersenyum melihatnya. "Aku beliin itu" Amaris menunjuk pojok pintu.


"Sip dah! Mas mandi dulu ya? Jangan ngintip!"


"Ih, gak lah ya! Nanti ada saatnya bukan cuma tak intip! Tak lihat semuanya"


Damar tersenyum jahil. "Apa sekarang aja lihatnya hmmm?" Ia menaik turunkan alisnya. "Jangan jahil! Buruan mandi, terus makan. Udah hampir jam 5 sayang"


"Iya, ayo ikut sekalian. Bantuin mas nyabun punggung Mas"


"Ih..... nyesel aku godain kamu"


"Hahahaha" Damar tertawa puas dan masuk ke kamar mandi. Amaris menyiapkan makanan untuk Damar.


Tak lama Damar telah selesai mandi dan berganti pakaian. Ia mendekat ke arah meja makan. "Widih..... enak nih, siapa yang masak?"


"Aku lah!"


"Mosok? Udang pecel kemangi nih. Santap!" Amaris melayani Damar layaknya seorang istri. Ia juga ikut makan.


Maghrib menjelang. Mereka bersiap ke undangan Hana. Hamka menghampiri Damar. "Titip kadonya aja nih, aku mau boncengan aja sama Maris. Biar romantis...." kata Damar beralasan.


"Yaweslah sakarepmu"


Hamka mengangkut kado itu. Mereka jalan terlebih dahulu. Setelahnya disusul dengan Maris dan Damar. "Kamu gak bawa jaket yank?" tanya Damar.


"Gak mas, Semarang kan panas, gak kayak Magelang"

__ADS_1


"Semarang juga dingin kali"


"Iya, tapi daerah atas. Nah kita kan di kotanya" Mereka saling bercanda hingga sudah dekat di jalan rumah Hana dan Ali. "Ngapain bang Hamka parkir disini?" Tanya Damar. Ia menghampiri Hamka.


"Ngapain parkir sini? Kan rumahnya masih disana"


"Jalannya baru 5 hari di cor. Mobil gak boleh melintas. Yang boleh hanya motor" jelas Hamka.


"Oke, bye" Damar dan Maris tertawa meninggalkan Hamka


"Woooo junior sialan!" umpat Hamka.


Ternyata sudah banyak yang berkumpul di sana. Amaris disambut hangat di tengah-tengah keluarga genk somplak. Ia membantu Hana dan yang lain mempersiapkan berkatan (makanan yang dibawa pulang selesai hajatan)


Para lelaki memulai hajatan itu. Hanya setengah jam acara itu selesai. Semuanya dibagikan berkatan itu dan souvenir dari Hana dan Ali. Genk somplak pulang paling akhir.


"Damar gak bakalan LDR an lagi" kata Ali.


"O hiya dong!" kata Damar senang. Semuanya memberikan kado mereka masing-masing.


"Opo ki Si?" tanya Ali. "Buka aja"


Ali membukanya. Akuarium yang sudah si desain dengan konsep aquascape. "Iwak e tuku dewe"


"Tumben dia ngasih kadonya bener" Sahut Bima.


Ali membuka yang lainnya. "Weh exhause. Makasih ya Bim"


"Ini pasti AC nih" Ali membuka kado dari Danang. "Tuh kan! Makasih lho Nang"


Membuka kado dari Hamka, Habib, Hilal, dan Damar. Yang semuanya berhubungan dengan perlengkapan rumah. "Walpaper, cat, tangga, gypsum, sama lampu gantung. Tinggal nyari tukangnya nih" kata Ali.


"Wes lah yuk balik" kata Muti. "Zia rewel, rebutan mainan terus sama Aariz" Sigit mengangguk. Mereka bergegas berpamitan.


Damar keluar terlebih dahulu sambil menenteng berkatannya. Lupa akan Maris. "Mar bawa apa?" tanya Hamka


"Berkat dong!"


"Si, pulang dapat berkatan enak ya?" sindir Hamka


"Iya lah, berkatan itu bagaikan kita dapat berkah dari hajatan. Sampai lupa motor sama calon bininya dimana" sahut Bima dan Danang.


Damar menepok jidatnya. "Astaghfirullah..... Maris ku keri!" Semua menertawakan Damar.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2