
Archee menemani Humai hingga menghabiskan rujak mangga muda itu. Ia tersenyum senang melihat istrinya makan dengan nikmatnya. Humai merasa heran dengan tatapan Archee. "Kenapa Bang?"
Archee menggeleng. "Gak papa, senang aja lihat kamu nafsu makan begitu. Mai, Abang mau ngomong sesuatu sama kamu"
Humai mengangguk. "Ada apa Bang?"
"Ini kan kondisi kamu sedang sakit, kamu juga lagi hamil anak kita, dan gak mungkin juga kalau orang tua kita harus bolak balik Magelang ke Demak. Misal, kita cari ART yang bisa menemani kamu, kamu setuju gak sayang?" Tanya Archee sangat berhati-hati.
Humai diam dan berpikir sejenak. Membayangkan jika ada orang lain di rumah mereka. "Kalau nanti Humai sudah tidak bed rest masih perlukah kita pakai ART Bang?"
Archee menautkan alisnya mendengar pernyataan Humai. "Kenapa nanyanya begitu?"
"Ya...... Humai gak mau aja ada ART di rumah kita"
"Coba pikir ke depannya Mai, misal nih ya, kita punya anak, kamu kerja, Abang kerja, bukankah lebih baiknya kita ada ART? Siapa yang akan mengasuh anak kita?" tanya Archee.
Humai berpikir lagi. "Oh iya, dalam kontrak kerja kamu kemarin sama pihak rumah sakit, ada larangan gak kalau misal kamu hamil?"
Humai menggeleng. "Abang gak pengen kamu kecapekan Mai, Abang hanya ingin yang terbaik untuk kita semua. Abang..... takut kalau kamu perdarahan lagi. Kalau misal, kamu batalin aja kerja di rumah sakit gimana?"
Humai menoleh cepat. "Gak! Humai gak mau!" Archee menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Kok gak mau sih sayang??? Maksud abang tuh baik lho...."
"Baik?? Baik untuk siapa Bang?? Baik untuk Abang??"
"Ck, jangan marah dulu dong sayang?? Abang hanya berpikir.... biar gak terjadi apa-apa sama kamu sayang"
"Humai baik-baik aja! Humai bukan orang sakit yang semua-semua harus dibantu! Humai bukan orang cacat yang gak bisa apa-apa! Humai dan calon bayi kita kuat Bang!" Humai terbawa emosi hingga meluapkannya. Hingga ia menghela nafas dan menitikkan air mata.
"Abang cuma pengen yang terbaik buat kamu! Ya sudah lah terserah kamu!" Archee meninggalkan Humai keluar dari kamar menutup pintu sedikit keras. Humai menghela nafasnya dan berpikir.
Ia kembali berbaring dan menutup selimutnya. "Humai ini bukan wanita lemah, Bang. Percayalah.... kami akan baik-baik saja. Huft..... hiks"
Archee menenangkan dirinya dengan duduk di teras rumahnya. Memandang jauh ke depan. Mulai beristighfar. "Ya Allah.... kenapa aku kasar sekali sama istriku?? Maafkan Abang Mai"
Archee duduk diam hingga terdengar qiro'ah. Ia memutuskan untuk masuk. Mengambil wudhu dan bersiap ke masjid dekat rumahnya. Ia masuk ke kamar. Berganti baju. Humai hanya melihatnya tanpa menyapanya. Ia berpura-pura bermain ponsel sambil sesekali melirik diam-diam ke arah Archee.
__ADS_1
Archee tersenyum tipis melihatnya. "Kalau mau mandang Abang jangan sungkan-sungkan, gak usah lirak lirik secara sembunyi-sembunyi begitu. Abang lihat kok"
Humai berbalik dan masuk kembali ke dalam selimutnya. Membuat Archee tersenyum lebar. "Abang ke masjid dulu. Kuncinya Abang bawa ya?"
Archee tak mendapat sahutan dari Humai. Ia berpura-pura membuka pintu, dengan cepat berlari ke sisi ranjang. Humai membuka selimutnya. Menoleh ka arah pintu dan terkena tipuan Archee. Archee menertawakannya.
"Hahahahaha.... jiaahhhh....... ketahuan kan?? Nyariin Abang ya??"
Humai masuk lagi ke dalam selimutnya. Wajahnya merona dan menahan senyum akibat ulah Archee. "Abang ke masjid dulu. Assalamualaikum"
Humai menjawab dari dalam selimutnya. "Waalaikum salam"
Archee segera menuju masjid karena adzan telah berkumandang. Humai membuka selimutnya dan tersenyum. "Bisa aja sih bikin orang salah tingkah! Dasar pak camat ganteng!"
.
Selesai dzuhur, seperti yang sudah dijadwalkan. Amaris dan Damar akan menjalani sidang BP4R. Orang tua Maris pun telah datang memenuhi undangan itu.
Amaris menjadi sedikit gugup. Mamah Laras menenangkannya. "Tenang sayang"
"Iya Mah, Maris sedang mencobanya" Mamah Laras menggenggam tangan anaknya dan tersenyum. Seketika hati Amaris menjadi tenang. "Senyuman Mamah memang selalu bisa nenangin Maris. Makasih ya Mah"
"Eh, Waalaikum salam Pak Menteri! Ya Allah.... apa kabar Pak? Sebentar, saya belum hormat" kata Kapolda. Ia lalu memberi hormat pada Papah Duta.
"Saya sudah bukan menteri lagi. Kenapa masih pakai hormat sih??"
"Karena saya masih mengingat betul bantuan Bapak kepada saya kala itu. Ini anaknya Bapak? Si kembar?" Papah Duta mengangguk.
"Ini yang Maris"
"Oalah..... makanya.... saya pas kemarin itu seperti pernah lihat tapi dimana dan siapa? Jebul Maris kecil.... Ya Allah.... dunia sempit sekali. Saya juga tidak membaca secara lengkap biodata Maris hingga menjadikan saya tidak tahu Pak, maaf"
"Kenapa minta maaf? Ayo lah, segera dimulai saja sidangnya" Pak Kapolda beserta jajarannya masuk ke ruang sidang. Para polisi dan pasangannya duduk di tempatnya masing-masing.
Satu per satu ditanya tentang kesiapannya menjadi seorang pendamping dari sang abdi negara. Hingga giliran Maris dan Damar. Bukan pertanyaan yang dilontarkan dari Kapolda. Melainkan instruksi untuk melakukan sesuatu.
__ADS_1
"Ipda Damar Assegaf, coba tunjukkan cara anda atau cerita saja lah kepada kami semua yang ada disini, bagaimana cara anda meyakinkan Mbak Maris kok bisa mau sama anda"
Damar tersenyum malu mengingatnya. "Jangan hanya cerita aja Pak, praktekin juga" sahut Hamka. Damar melotot ke arahnya.
"Ah, boleh juga ide komandanmu. Gih buruan!"
Damar dan Maris menjadi malu mempraktikkan ulang kejadian mereka bertemu. Mereka melakukannya seperti yang diminta oleh Kapolda. "Romantisnyaaa..... ditembaknya waktu di mobil tahanan" goda Ibu Kapolda.
"Kalau yang lain mengungkapkan cintanya di pantai, kafe, atau di gunung. Kalau ini beda dari yang lain. Nembaknya di mobil tahanan. Takutnya nanti kalau gak diterima kena borgol pak polisi ya Mbak Maris" kata Kapolda. Semuanya kembali tertawa.
"Pesan saya dengan kalian semua, jaga dan sayangi pendamping kalian nantinya. Mendapatkan itu hal yang mudah. Yang sulit adalah mempertahankannya. Untuk para orang tua maupun wali, saya berterima kasih sekali kepada panjenengan semua, sudah mempercayakan anak-anak Bapak Ibu untuk menjadi pendamping dari anggota kami. Kami juga mengharapkan bantuan dari orang tua, agar bisa menjadi penengah yang baik saat mereka ada masalah. Karena kita tahu, bahwa kehidupan rumah tangga itu pasti ada bumbu yang membuat semakin sedap. Gitu nggih semuanya?"
"Nggih pak" jawab semuanya. Acara sidang BP4R ditutup. Mereka dinyatakan resmi nikah kantor. Maris segera ikut orang tuanya kembali ke Magelang.
"Orang tuamu sudah datang belum Dam?" tanya Mamah Laras. "Sampun Mah, mereka di hotel x"
"Oh, ya sudah, nanti biar kami kesana dulu sebelum pulang ke rumah" sahut Papah Duta.
"Hati-hati di jalan Mah, Pah. Titip Maris"
"Iya... kami pamit dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Papah Duta dan keluarganya kembali ke Magelang untuk mempersiapkan acara lamaran esok hari.
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip