Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 50


__ADS_3

Papah Duta, Mamah Laras, dan Bunda Aisyah bertolak dari Magelang menuju Demak. Maryam memaksa ikut, tapi dilarang keras oleh mertuanya. Akhirnya ia hanya bisa menanyakan kabar adik iparnya lewat video call.


A squad pun tidak bisa ikut. Tapi mereka berjanji akan menjenguk Humai dan Archee nanti di hari minggunya. Yang artinya, acara mereka pribadi dibatalkan atau dimajukan.


Ayah Farid akan menyusul besok hari jum'at karena masih ada urusan untuk mengurus pensiunannya.


"Hati-hati di jalan. Kabari Ayah jika sudah sampai disana" kata Ayah Farid berpesan pada Bunda Ais.


"Nggih Yah, kami berangkat. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Bunda Ais, Mamah Laras dan Papah Duta berangkat dengan sopir menuju Demak.


Perjalanan dimulai. Mereka sudah tak sabar ingin segera tahu keadaan Humai. "Aku kaget saat Archee bilang Humai perdarahan. Karena sebelumnya, Humai belum menelponku dan memberitahukan jika dia hamil. Eh, ternyata, anak itu memang belum tahu kalau sudah hamil"


"Iya kak, Archee juga bilang hal yang sama seperti itu. Sampai tak marahin dia!" jawab Mamah Laras.


"Kenapa dimarahin?"


"Ya jelas lah, minta jatah kok sampai 3 kali, remuk lah badan Humai!"


Papah Duta tersenyum mendengarnya. "Gak usah cengar cengir pah, persis itu sama kelakuan mu dulu, selalu minta nambah!"


"Lhah, malah Papah kenanya. Mamah nih aneh, kalau Archee sampai begitu, itu artinya Humai itu bagai candu buat dia Mah! Harusnya Mamah bersyukur, mereka berdua saling mencintai" terang Papah Duta.


"Iya sih, tapi kan malah dapat musibah"


"Ada hikmah setiap kejadian Ras, udah gak usah berdebat. Yang penting, kita rawat anak kita. Tapi aku gak bisa kalau sampai seminggu Ras. Hanya bisa sampai minggu" kata Bunda Ais.


"Gak papa Kak, nanti biar Laras sama Abang yang jagain Humai. Hmm,..... gak sabar.... bentar lagi punya cucu pertama. Pengen tak dandanin yang lucu-lucu pokoknya"


Semuanya tertaaa mendengar ucapan Mamah Laras. "Aku nunggu anaknya Habib sama Maryam, mereka yang akan menjadi cucu pertamaku"


"Hilal piye Kak? Sama sepupunya si Maryam? Jadi?"


"Ambuh Ras, dia bilang tuh, nanti Bun mau fokus sama spesialis dulu. Maksud aku tuh, ayo diiket dulu, biar gak keduluan orang" terang Bunda Ais.


"Ya sudah lah Kak, biarkan dulu dia fokus sama 1 hal" terang Papah Duta.


"Padahal, Azka itu anaknya baik, sopan, lebih halus dibanding Maryam, hehe, seneng aku waktu Hilal ngenalin ke aku dan Mas Farid sebagai temannya"


Mereka mengisi perjalanan mereka dengan menceritakan anak-anak mereka.


.


Sedang di lain tempat, Hilal sangat senang. Akhirnya ia benar-benar bisa libur tanpa ada embel-embel apapun. Ia ingin mengunjungi seseorang. Yang sangat ia rindukan.


Ia membeli oleh-oleh untuk orang itu. "Makasih mbak" kata Hilal setelah membayar barangnya.


Ia segera menuju Magelang. Rasa senang dihatinya sangat amat ingin membuncah keluar. Tak lama, ia sudah sampai di depan Batalyon. Ia bertanya pada penjaga pos, dan disuruh menunggu sebentar.

__ADS_1


Ia bersidekap di mobilnya menunggu orang yang ingin ditemuinya muncul. Tak lama, seorang wanita, dengan senyum mengembang di bibirnya berjalan cepat.dan sedikit berlari menuju arahnya.


Hilal tersenyum dan melambai kepadanya. Azkania Ramadhani Atmajaya, menghampirinya dan langsung memeluknya. Membuatnya sedikit terkejut. Hilal membalas pelukan itu.


"Mas kangen banget sama kamu" katanya sambil mendekap erat Azka.


Azka mengangguk. Lalu melepaskan pelukan itu. Menghapus air matanya. "Kok nangis?" Hilal menghapus air mata Azka yang jatuh di pipi.


"Hehehe, maaf, jadi baper begini. Mau ngobrol dimana?" tanya Azka.


"Memang kamu sudah lepas kerja?"


"Sudah waktunya makan siang Mas"


Hilal melihat jamnya. "Oh iya... hehehe.... Nyari tempat makan yuk?" Azka mengangguk. "Bentar, ngisi buku keluar dulu"


Azka menuju pos penjagaan. Bertemu Ilyas dan Imam yang saat itu tengah bersantai di pos. "Siapa Az?" tanya Imam.


"Siap! Calon bang" jawab Azka. Imam mengangguk. "Oh iya, itu teman dekatnya mbak Aylin. Sewaktu kuliah kedokteran mereka seangkatan"


Imam mengangguk. "Siapa namanya?"


"Mas Hilal"


"Yakin cuma teman ya Az?"


"Oke" Imam melihat penampilan Hilal yang sangat rapi. "Bawain makanan buat kami ya Az" kata Ilyas.


"Siap! Bang Ilyas dan Bang Imam mau apa?"


"Gado-gado wae lah Az" Azka mengangguk lalu pamit. Ia menuju Hilal. Ternyata Imam mengekor di belakangnya.


"Az" panggil Imam. Mereka berdua menoleh. "Ada apa bang?"


"Gak papa, cuma mau kenalan saja sama calonmu" Imam mengulurkan tangan pada Hilal. Hilal menyambutnya. "Imam"


"Hilal"


"Kamu temannya Aylin?" Hilal mengangguk. "Cuma teman kan?"


Hilal tersenyum. "Iya kami cuma teman, gak lebih. Abang siapanya Aylin?"


"Lagi deket sih sama Aylin. Tapi belum jelas statusnya" Hilal mengangguk.


"Jaga Aylin ya Bang, dia wanita yang sangat baik dan tulus hatinya. Tidak pernah ada kepura-puraan dalam dirinya. Jangan pernah sekali-kali bohong sama dia atau Abang bakalan kehilangan dia"


Imam tersenyum. "Makasih sarannya. Silahkan dilanjut" Azka dan Hilal segera pamit.


Mereka menuju sebuah kafe. Mereka memesan makanan. Hilal memandangi Azka dan saling lempar senyum. "Mas, ngapain ngelihatin sampai begitu?"

__ADS_1


"Hahaha, gak papa. Az, beberapa bulan lagi mas selesai ambil spesialis"


"Waah.... selamat! Bentar lagi jadi ahli bedah dong" Hilal tersenyum. Ia memberikan boneka yang memegang kotak cincin pada Azka.


Sungguh senang hati Azka. "Dibuka boleh?" tanyanya penasaran. Hilal mengangguk. Ada tulisan dalam kotak itu.


"Ayo kita nikah" Azka membacanya dan terharu. Ia kembali menangis. Mengangguk. "Ayo" jawabnya terharu. Hilal tersenyum dan menghapus air matanya.


Hilal mengelus-elus kepalanya. "Mas takut kamu diambil orang lain" jelas Hilal. Azka tersenyum mendengarnya. "Memang aku apaan diambil orang?"


"Hahaha, ya maksudnya, takut kalau keduluan sama orang lain. Maaf kalau kelamaan, Mas bukan tipe orang yang bisa fokus sama beberapa hal. Jadi, harus satu per satu dulu diselesaikan"


Azka tersenyum mendengar pernyataan Hilal. "Yang selalu membuatku berdebar- debar hanya kamu Mas, ayo kita persiapkan semuanya mulai sekarang"


Hilal mengangguk. Makanan datang. Mereka menikmatinya. "Kamu kok bisa libur mas?"


"Iya, setelah 3 hari gantikan teman jaga malam lanjut pagi lanjut malam lagi. Hahaha"


"Uuuu..... so sweet.... biar bisa ketemu aku ya?"


Hilal mengangguk. "Selesai spesialis Mas mau nemuin Papi dan Mami kamu. Bisa kan?"


Azka mengangguk. "Tentu bisa lah mas, eh, nanti pulangnya beli gado-gado"


"Buat siapa?"


"Tuh tadi, Bang Imam dan Bang Ilyas" Hilal mengangguk. "2 minggu lagi aku dapat IB. Nanti aku jenguk kamu deh"


"Aylin kenal tentara tadi dari mana?"


"Pacarnya bang Ilyas, siapa tuh kembarannya yang paling bontot?"


"Adel?" Azka mengangguk. Mereka menikmati waktu istirahat itu dengan candaan. Meski sebentar, tapi sangat berkesan.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Maaf kemarin gak up, othor kecapekan, pasien hampir 80 again.... hr ini 2 deh. Ini satu, nanti sore 1

__ADS_1


__ADS_2