
Aylin tengah senyam senyum sendiri di dalam kamarnya. Ia melihat hasil jepretan Hilal yang menurutnya sempurna. Hilal sangat piawai mengambil sudut terbaik dalam memotret dirinya. Ia mulai membuka laptopnya. Mulai mengunggah foto-fotonya dalam akun sosial media miliknya. Ia membagikan momen bahagianya itu di instagram miliknya.
Ponselnya berbunyi tanda ada chat masuk. Ia membuka dan membacanya lalu tersenyum.
Mas Imam : Ay sayangnya Imam sudah tidur kah??
Me : 😴
Mas Imam : Ih, kok balesnya cuma pakai emot sih sayang?
Me : 😒
Mas Imam : Masih ngambek gegara Mas salah pilih?? Waktu tadi sama Emak Mas kira sudah maafin Mas 😥
Me : Pencitraan biar Emak gak sedih! 😤
Aylin membalasnya dengan tertawa terbahak-bahak. Karena sebenarnya dia sudah memaafkan Imam.
Mas Imam : Mas buka baju nih kalau kamu ngambek
Me : Up to you! Masuk angin gak ada yang ngerokin!
Mas Imam : ðŸ˜ðŸ˜
Aylin tertawa kembali. Imam melakukan panggilan video kepadanya. Ia menghentikan tawanya dan berdahem. "Ehm..."
Ia mengangkat panggilan itu. "Halo!"
"Assalamualaikum wong sing ayu dewe (Assalamualaikum orang yang cantik sendiri)" rayu Imam. Aylin menahan tawanya.
"Pret! Nyatanya juga tadi salah! Gak bisa membedakan antara aku dan Adel. Tuh kayak si Damar! Langsung tepat sasaran!"
Imam menggaruk keningnya bingung mencari alasan. "Tebak-tebakannya keterlaluan sih. Masa diberi petunjuk kok lewat kaki doang. Kan gak adil"
"Hilih! Nyatanya Damar bisa!"
Imam menyengir. "Ay, besok Mas ada pelatihan di Jakarta tiga hari. Kamu gak papa kan ngurus kelengkapan berkas sendirian?" tanya Imam mulai mengalihkan pembicaraan.
Aylin mengangguk. "Nanti aku minta tolong sama Roni biar nemenin aku Mas"
"Sopo? Roni? Roni asistennya Adel? Moh moh moh! (Siapa? Roni? Roni asistennya Adel? Gak gak gak!)" Aylin memutar bola matanya malas. Imam mulai lagi dengan sifat posesifnya.
__ADS_1
"Ya terus???"
Imam nampak berpikir. Mencari cara agar Aylin tidak menjadi obyek pemandangan lelaki lainnya. "Oke, boleh sama Roni. Tapi...."
"Ya Allah pakai syarat pula!" jawab Aylin. Imam tertawa mendengarnya. "Pakai masker! Mas gak rela calon persit Mas dilihat sama cowok lain!"
"Hadeh...... ya sudah iya! Puas om loreng bucin??" kata Aylin. Imam tertawa kembali. "Senang sekali anda Pak! Habis menang lotre??"
"Ih, kok lotre dibawa-bawa. Ya senang lah, bisa mendapatkan hati seorang wanita yang sangat tulus. Memenangkan hatinya dan Insyaallah akan menjadi pelabuhan cinta yang terakhir dan untuk selamanya" tutur Imam.
Membuat hati Aylin berdesir. Ia tersenyum. Imam membalas senyumnya. "Mas minta maaf kalau tadi salah milih, tapi percayalah Ay, hati Mas sudah lempeng ke hatimu. Gak mau dibelok-belokkan lagi ke yang lain"
Aylin tertawa senang mendengarnya. "Mosok?"
"Ya Allah..... Wallahi"
"Iya Aylin percaya. Cantikan mana Aylin sama mantanmu Mas?"
"Mas gak inget tuh punya mantan, yang sekarang Mas ingat hanya punya masa depan. Tahu gak? Masa depan Mas tuh namanya Aylin Ayu Wicaksana, umurnya 27 tahun. Beda 4 tahun dari Mas, sholehah, hatinya lembut dan tulus, kalau sedang tertawa tuh bikin hati Mas serasa ditempelin es batu. Langsung nyessss......"
Aylin tertawa mendengarnya. "Makasih ya Mas?"
"Makasih untuk?"
"Mak! Imam dicium Aylin Mak! Rasanya Ya Allah Gusti..... Hah! Imam pengen jumpalitan Mak!" teriak Imam di kamar asramanya. Aylin tertawa mendengarnya. "Bobok gih Ay, sudah larut lho ini"
"Iya Mas, bentar lagi. Ini lagi upload foto kita di instagram. Kamu juga sudah aku tag. Hilal memang terbaik kalau soal fotografi!" Puji Aylin membuat Imam meradang.
"Besok Mas mau belajar fotografi! Biar kamu gak muji-muji si Hilal!" Aylin tertawa kembali. "Iya maaf ya sayang. Sudah selesai uploadnya. Ayo istirahat. Besok berangkat jam berapa?"
"Pagi Mas sudah berangkat"
"Ya sudah, besok Aylin berangkat dari rumah pagi biar kita bisa ketemu dulu. Aylin tunggu depan Batalyon. Assalamualaikum Mas"
"Waalaikum salam" Mereka mengakhiri percakapan itu. Aylin tersenyum melihat postingannya banyak yang mengomentari, padahal baru dua menit dirinya mengunggah foto-foto itu.
Mata Aylin tertuju pada nama orang terakhir yang memberikan like. Siapa lagi jika bukan Seno, sang mantan yang pernah melukai hatinya. Karena memang, Aylin tidak memblokir akun sosmed milik Seno. Ia hanya tak menerima pertemanannya dengan Suci. Seno pun meninggalkan komentarnya.
Seno : Dia yang dulu pernah menangis karena ku sudah bisa tersenyum kembali. Selamat! Dan semoga lancar hingga hari H. 🎉🎉🎉
Imam yang masih memegang ponsel pun membacanya. Lantas ia membalasnya.
__ADS_1
BachtiarImam : Dia tidak menangisi kehilanganmu kawan! Yang dia tangisi adalah kebodohannya pernah mencintai orang seperti dirimu!
Aylin tersenyum melihatnya. "Semoga besok macan jantanku kagak ngamuk!" Aylin menutup laptopnya. Ia beranjak mengambil wudhu, lalu naik ke ranjang, membaca doa dan memejamkan mata.
.
Sedang di Jakarta, Seno yang telah menikah dengan Suci dua minggu lalu, sedang memandangi foto Aylin. Foto yang sangat cantik nan anggun dalam balutan kebaya islami. Bersanding dengan seorang lelaki yang juga gagah nan tampan.
"Kenapa kamu senyam senyum begitu Mas??" tanya Suci yang baru saja selesai memakai perawatan wajahnya. Seno menggeleng. "Gak papa"
"Bohong! Sini lihat hapenya!" Seno memberikannya kepada Suci. Inilah Suci setelah menikah. Seno merasa terkekang saat istrinya seperti itu. "Oooo..... kamu baru saja mengomentari mantanmu iya?? Kenapa?? Nyesel kamu putus sama dia??"
"Apa sih?? Sudah lah Ci, Mas ini cuma memberikan selamat kepadanya! Salah??" Seno membalikkan badan dan menarik selimutnya. Membiarkan Suci dengan kekesalannya.
.
Pagi menjelang, Suci menampakkan wajah cemberutnya kapada Seno. Seno mencoba merayunya. "Sayangku kenapa sih?? Cemberut terus!" kata Seno sambil memeluk Suci dari belakang.
Suci menepisnya. Ia mengambil anaknya dari box bayi. Lalu menyu*suinya. "Syafiq, bantuin Papah dong nak.... Mamah merajuk terus tuh!"
Suci hanya diam saja. Seno menghela nafasnya. "Maafin Mas Ci, oke, Mas akan blokir akun sosmed milik Aylin"
Suci tersenyum mendengarnya. "Janji??" Seno mengangguk. "Iya janji. Ayo temani Mas sarapan"
"Lagi nyu*suin Syafiq Mas, sarapan sendiri ya?"
"Ya Allah.... cuma nemenin doang! Sambil nyu*suin kan bisa" Suci menyengir. Seno seakan tahu maksud Suci. "Diet buat apa? Ingat! Syafiq perlu asupan nutrisi! Kalau kamu makannya gak bener, dia dapat gizi lengkap dari mana?? Terserah kamu lah!"
Seno turun dan sarapan sendiri. "Buat apa punya istri tapi tetap saja menyiapkan segalanya sendiri?" tanya Seno. Akhirnya ia sarapan sendiri. Selesai sarapan, ia tak melihat Suci turun. Akhirnya ia berangkat ke kantor dengan perasaan kecewa.
Di dalam perjalanan, ia memutar lagu dari radio. Terputar lagu berjudul karma dari cokelat. "Salah gak sih kalau aku bandingkan istriku dengan mantanku? Dulu, Aylin yang selalu menanyakan kabar dan keberadaanku. Tapi, kenapa Suci tidak pernah melakukannya untukku?"
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip