
Humai memeluk Bundanya tanpa ingin melepasnya. Persis seperti anak kecil yang enggan berpisah dengan ibunya. Bunda Ais tersenyum melihatnya.
"Kenapa anak Bunda malah manja begini? Gak malu sama suaminya?" tanya Bunda Ais. Humai memanyunkan bibirnya.
"Memang gak boleh kalau meluk Bundanya sendiri?" jawab Humai. Semuanya tersenyum.
"Boleh, ingat, sekarang sudah jadi istri, gak boleh manja-manja lagi. Layani suamimu dengan sebaik-baiknya. Jangan membangkang sama suami ya nak, karena ridhonya sekarang adalah ridho Allah" Bunda Ais memberi nasehat kepada Humai.
Humai mencerna setiap kalimat Bunda Ais dan mengangguk. "Humai bakalan kangen sama rumah, kangen sama semuanya"
"Kan masih bisa video call dek...." kata Habib dan Hilal bersamaan.
Humai gentian memeluk kedua kakaknya. "Alhamdulillah, udah gak ada yang malakin duit kita Bib" canda Hilal pada Humai. Semuanya tertawa.
"Targetnya beda dong Mas sekarang, ada pak Camat kok, tinggal merengek langsung kasih deh" sahut Maryam.
"Gak gratis dong.... Ada imbal baliknya, ya gak Bang Chee?" balas Hilal. Archee mengangguk. "Iya dong, nambah rondenya" membuat semuanya tertawa kecuali Humai.
Ia melempar bantal sofa pada Archee. "Ya sudah, Yah, Bun, Mas-mas ku, mbak iparku, kami pamit ke rumah papah, pamitan lalu langsung berangkat ke Demak"
Semuanya mengangguk. Archee dan Humai menyalami satu per satu orang yang ada disana. Lalu berangkat ke rumah Papah Duta.
Tak lama, mereka pun sampai. Humai dan Archee turun. Mereka mengobrol sebentar dengan keluarga Papah Duta.
"Mai, kalau nanti anak Mamah nakal sama kamu, bilang ke Mamah, biar Mamah bawakan sapu" pesan Mamah Laras. Humai tersenyum dan mengangguk.
"Kak, tolong cintai dan sayangi Abang kita ya?" Pinta Maris. Humai memaksakan senyumnya. "Pasti, gak usah kamu minta dia sudah jatuh cinta sama Abang" jawab Archee. Membuat wajah Humai merona.
"Ih, iya ik..... tuh lihat wajahnya merona, ih kak Humai.... ketahuan ih" goda Aylin dan Adel bersamaan.
Humai menutup wajahnya malu. Archee tersenyum melihatnya. "Ya sudah, daripada nanti kemalaman, hati-hati di jalan Chee, kalau lelah istirahat dulu" pesan Papah Duta. Archee mengangguk.
__ADS_1
"Gak bisa ya kalian pulang Demaknya besok saja? Mamah kan juga pengen manjain anak mantu Mamah" Mamah Laras mulai merengek.
"Archee gak bisa ninggalin kerjaan Archee Mah, cuti nikahnya mau Archee rapel nanti untuk cuti tahunan, buat honeymoon...." kata Archee sambil menaik turunkan alisnya.
Mamah Laras pasrah. "Ya sudah lah, buatkan kami cucu yang banyak ya? Sekali hamil langsung 2, nanti 3 kali hamil lan langsung dapat 6" Semuanya tertawa mendengar permintaan mamah Laras.
Akhirnya mereka saling peluk untuk berpamitan, memulai hubungan yang baru, jauh dari orang tua dan mertua. Archee mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena dia memburu waktu agar tak sampai Demak terlalu larut.
"Bang, jangan kenceng-kenceng bawa mobilnya" Humai mengingatkan suaminya. Archee mengangguk dan mulai mengurangi kecepatannya. "Abang besok kerja?"
Archee mengangguk. "Kenapa?" Humai menggelengkan kepalanya. "Gak papa cuma tanya saja, memang kita ada rencana honeymoon?"
Archee tersenyum jahil dan melirik Humai. "Ya ada dong, Abang kan mau menikmati tubuhmu dalam suasana romantis dan tak akan pernah terlupa" jawab Archee asal. Membuat Humai takut. Ia langsung menurunkan sandaran mobil dan berbalik memunggungi Archee.
Archee menahan tawanya. Humai memejamkan matanya dan mulai mengantuk. Ia tertidur di dalam mobil. Hampir 4 jam lamanya Archee berkutat dengan jalanan. Akhirnya mereka tiba di Demak.
Archee memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya. Membuka pintu dan menurunkan barang-barangnya beserta kado dari teman-temannya. Ia menggendong Humai, belum sampai kamar, Humai terbangun. Ia terkejut dan meronta minta turun. Archee menurunkannya. "Abang melanggar perjanjian!" katanya kesal.
Humai masuknke kamar Archee untuk pertama kalinya. Melihat sekelilingnya. Tembok kamar yang berwarna biru, ditambah dengan meja kerja yang ada di kamar itu, dan sebuah ranjang yang cukup digunakan 2 orang. "Rapi banget" komentar Humai. Ia mendekati meja itu, melihat segala barang disana dan terhenti pada foto keluarga. Archee beserta kembaran dan orang tuanya, dengan pesan di bawah foto itu. "Suatu saat kami akan hidup masing-masing bersama pasangan pilihan kami yang akan menjadi pelabuhan hati bahi kami" A-Squad.
Humai tersenyum dan meletakkan foto itu lagi. Archee datang membawa beberapa koper milik Humai. Ia memindahkan sebagian bajunya agar bisa berbagi dengan pakaian Humai.
"Biar aku yang nata sendiri barangku Bang" Archee mengangguk. Humai menata pakaiannya di lemari itu. Archee mengambil wudhu dan melaksanakan sholat isya'. Hunai syok mengetahui isi kopernya penuh dengan baju seksi. "Malam ini aku pakai apa? Masa iya pakai begini sih?" Archee yang telah menyelesaikam sholatnya menoleh. Ia menahan tawanya.
Archee melepas sarungnya, membuatnya hanya menggunakan boxer. "Astaghfirullah Abang!" Humai menutup pandangannya. "Kenapa? Kan kita sudah halal. Ayo tidur"
"Abang tidur cuma pakai boxer?" tanya Humai "Boxer dan kaos, kenapa? Apa kamu mau Abang polosan? Hmm?" goda Archee sambil naik ranjang.
Humai bingung dengan pakaian yang akan ia kenakan. Ia mendekati Archee. "Bang, aku harus pakai baju apa?"
Archee menautkan alisnya. "Baju kamu lah"
__ADS_1
"Ih, tapi, baju aku begini semua. Pasti ini kerjaan mbak Shanum. Ya sudah lah aku tidur pakai gamis saja"
"Kalau kamu gak gerah ya terserah. Matiin lampunya" perintah Archee pada Humai. Humai memanyunkan bibirnya, mematikan lampu kamar dan keluar untuk berganti pakaian. "Terpaksa deh"
Tak lama, ia kembali. Ia berjalan mengendap agar tak ketahuan Archee lalu masuk dalam selimut itu. Archee berbalik arah padanya. Membuat degup jantung Humai tak beraturan.
"Madep sana ah" kata Humai. "Dosa tidur saling membelakangi" Humai kembali telentang. "Merem gih bang,.... jangan lihatin aku terus"
"Memang salah kalau Abang lihatin istri Abang sendiri? Kamu cantik, mau pakai hijab ataupun tidak. Di mata Abang kamu sempurna"
Wajah Humai kembali merona. Untung saja lampunya temaram. "Abang cinta dan sayang sama kamu Mai, Abang jatuh cinta sama kamu pada pandangan pertama, dan setiap malam Abang selalu menyebut namamu dalam do'a Abang. I love you istriku, Humaira"
Archee berhasil mengungkapkan perasaannya. Humai diam mematung. "Tidurlah, Abang tidak akan menyentuhmu kecuali kamu sendiri yang mengijinkan Abang" Archee memejamkan matanya.
Humai menghadap Archee. Mengamati dan menikmati wajah Archee yang begitu tampan dan membuatnya adem. Ia tersenyum tipis. Ternyata benar, kamu selalu menyebutku dalam do'a-do'a mu. Kamu tahu? Setiap malam, aku menantikan kabar darimu. Aku bilang bahwa diriku menunggu kabar dari seseorang, dan itulah dirimu bang, karena setiap kamu selesai sholat aku menjadi tenang dan tidak bermimpi tentangmu. Dan inilah jawaban semuanya. Ya Allah.... terima kasih atas jawaban-Mu. Engkau mengirimkan pada hamba lelaki yang tulus mencintai hamba. Dan tolong, tumbuhkanlah rasa cinta di hati hamba untuknya. Aamiin
Humai memejamkan matanya. Mereka tidur saling berhadapan, dengan guling sebagai pembatas mereka.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1