Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 7


__ADS_3

Malam itu Archee bicara dengan Mamah dan Papahnya. Archee meminta agar papahnya mengubah keputusannya untuk mengizinkan yang lain menikah terlebih dahulu.


"Gak bisa" jawab papah Duta. Archee berdecak dan memijit keningnya. "Pah, Archee ini belum punya calon, jadi, izinkan saja mereka terlebih dahulu menikah. Memangnya kenapa sih kalau mereka menikah terlebih dahulu?"


Papah Duta tersenyum. "Papah tidak ingin kamu dilangkahi"


"Tidak akan ada yang langkah melangkahi pah, kami ini seumuran, kami ini kembar, ayolah pah...." Mamah Laras datang membawakan kopi untuk Papah Duta.


"Pah, ubahlah keputusanmu. Amaris memutuskan Damar secara sepihak. Dia malu sama orang tua Damar, karena mungkin mereka berpikir bahwa Maris tidak serius dengan Damar" Mamah Laras membantu Archee untuk mengubah pemikiran Papah Duta.


"See? Papah lihat sendiri? Siapa yang akan tersakiti disini? Hati para anak-anak papah sendiri. Ini baru Maris, besok kalau Adel yang putus? Aylin? Oke, gini saja deh, Archee mau menerima perjodohan yang Mamah tawarkan, tapi dengan syarat, biarkan mereka menikah terlebih dahulu"


Papah Duta menyerutup kopinya. "Chee, temui Maris, tenangkan dia. Karena dia hanya manut sama kamu kalau lagi kalut begitu" Mamah Laras meminta Archee menemani Amaris. Archee mengangguk dan meninggalkan orang tuanya.


"Pah, ubahlah pemikiranmu. Archee sudah setuju kita jodohkan"


"Apa kita tetap bisa menjodohkan Archee dengan Humai? Tadi kamu lihat sendiri kan dia menggandeng pria lain?" kata Papah Duta.


"Kak Ais dan Mas Farid gak pernah setuju dengan pacar Humai. Mereka bilang, kita disuruh datang melamar minggu depan"


Papah Duta mengangguk. "Siapkan lah semuanya mah"


Mamah Laras mengangguk. "Jadi?" tanya Mamah Laras.


Papah Duta menghela nafasnya. "Ya sudah lah, papah gak tega melihat mereka bersedih karena keegoisan papah"


Mamah Laras mengangguk. Sedang di dalam kamar, Archee menenangkan Amaris. "Kan tadi abang sudah bilang, jangan putus. Biar abang bujuk papah dulu"


Amaris tidur di pangkuan kakaknya. Archee membelai rambut Maris. "Aku malu sama orang tuanya mas Damar... Iya kalau abang berhasil bujuk papah. Nyatanya? Abang gagal kan?"


Archee menghela nafasnya. "Berdo'a saja yuk biar hati papah gak keras kayak batu"


Ponsel Amaris berdering, telpon dari Muti. "Assalamualaikum mbak" sapa Maris.


Waalaikum salam, Mbak Maris, Damar kecelakaan!


Deg. Jantung Amaris serasa berhenti berdetak. Tangannya gemetar. Bibirnya kelu tak bisa mengeluarkan suara. Lemas tubuhnya mendengar berita itu. Archee menautkan alisnya bingung.


Muti masih berada dalam sambungan telpon itu. Halo mbak Maris, masih dengar saya kan?


Archee mengambil ponsel milik Amaris dan menempelkannya di telinganya. "Maaf, mbak Muti, ini abangnya Maris, ada apa ya?"


Ini mas, Damar, kecelakaan


"Innalillahi wa'inna ilaihi roji'un... dimana mbak? Sekarang keadaannya gimana?"

__ADS_1


Dia sekarang di rumah sakit daerah Ambarawa. Patah tulang kaki kirinya. Karena tertindih motor


"Baik mbak, terima kasih informasinya, kami akan segera kesana. Wassalamualaikum" Archee mematikan panggilan itu. "Abang antar ke Ambarawa. Buruan siap-siap"


Amaris mengangguk. Ia bersiap dengan air mata mengalir. Archee memberitahu keluarganya. Papah Duta malah semakin merasa bersalah.


"Papah ikut" katanya.


"Gak usah pah, ini sudah larut banget. Papah di rumah saja, biar Archee yang mengantarkan Maris" Mamah Laras mengangguk. Mencegah suaminya untuk ikut.


"Hati-hati di jalan" pesan Mamah Laras. Archee mengangguk. Mereka berpamitan dan segera berangkat. "Maafkan papah nak"


Amaris tersenyum dan memeluk papahnya. Mereka segera menuju rumah sakit Ambarawa. Dalam perjalanan Maris lebih banyak diam. "Dek, jangan melamun. Perbanyak dzikir"


Amaris mengangguk. "Coba saja tadi siang aku tidak memutuskan dia bang, pasti dia tidak akan mengalami kecelakaan"


"Bukan salah kamu, semuanya sudah menjadi takdir Allah. Sudah, dzikir saja" Amaris mengangguk. Setelah 1 jam akhirnya mereka sampai di RSUD Ambarawa. Archee dan Amaris langsung turun.


Mereka bertemu dengan Muti dan Sigit. "Damar sedang operasi kaki. Patah tulang karena tertindih motor" jelas Sigit.


Amaris hanya mampu menangis. Muti menenangkannya. "Pak Sigit dan mbak Muti kalau mau pulang gak papa, biar kami yang menjaga Damar"


Sigit dan Muti mengangguk. "Kami pamit pulang"


Sigit dan Muti pulang. Operasi Damar telah selesai. Ia dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Maris duduk di sampingnya. "Kamu kenapa ceroboh banget sih Mas?" tanya Maris dengan menangis saat Damar masih dalam pengaruh bius.


"Sudah, Abang keluar dulu untuk urus administrasi, telpon keluarganya besok pagi saja. Biar tidak membuat khawatir" Amaris mengangguk. Archee keluar. Maris menggenggam tangan Damar.


"Yank...." kata Damar lemah. Amaris segera memencet bel. Seorang dokter datang. "Alhamdulillah, pasien sudah sadar. Mungkin masih dalam pengaruh obat bius makanya belum bisa membuka mata"


Amaris mengangguk. Ia menggenggam erat tangan Damar. Matanya menjadi berat. Ia tertidur sambil terus menggenggam tangan itu.


Archee mengistirahatkan dirinya di sofa. Waktu menunjukkan tengah malam. Damar terbangun. Melihat sekeliling dan ada orang di sampingnya. "Maris?" katanya masih sedikit lemah.


Damar mencoba untuk melepaskan tangannya yang kesemutan karena digenggam Maris. Maris terbangun. "Mas" katanya dan melihat Damar sudah bangun.


"Tangan Mas kesemutan" katanya. Amaris melepaskannya. Mereka saling diam. Hati menjadi berdesir-desir tak karuan. "Kenapa masih peduli sama Mas kalau kamu minta berakhir?" tanya Damar.


"Yang sakit bagian mana?" Maris mengalihkan pertanyaannya. Damar menunjuk dadanya. "Paling sakit"


"Aku belum memberitahu orang tuamu"


"Jangan diberitahu, atau kamu mau membuat aku makin sakit? Terserah kamu, lakukan jika itu membuatmu bahagia"


Amaris menangis. Damar melihatnya. Menggenggam tangan Maris. "Jangan sedih"

__ADS_1


"Kamu bikin aku sedih terus"


"Terus kamu maunya apa? Mending tadi dibiarkan saja aku mati, biar gak membuatmu sedih lagi" Amaris berdecak. "Ngawur kalau ngomong!"


Damar mengecup tangan Maris. "Bilang kalau kamu gak akan mengakhiri hubungan kita, bilang kalau kamu sayang sama aku"


"Sudah malam, istirahat sana" Amaris mengelak. "Tangan kamu masih boleh digenggam saja menandakan kamu sayang banget sama aku, kamu nungguin aku disini sudah menjadi bukti, please, ayo kita sama-sama lagi"


Archee terbangun. "Dam" katanya.


"Bang"


"Gimana? mana yang sakit?" Damar kembali menunjuk dadanya. "Terbentur?"


Damar menggeleng. "Mawar itu menancapkan durinya disini, dan hanya dia yang mampu mengobatinya"


Amaris merona, ia tersenyum. "Gombal!"


Archee tertawa. "Sakit bisa juga ngegombal begitu! Ris, sudahlah, berbaikanlah dengan Damar. Urusan papah biar Abang yang urus. Setelah sembuh, segera urus nikah kantormu Dam, Abang akan membujuk papah"


"Kalau gagal?" tanya Maris cemas. "Pasti berhasil" jawab Archee optimis.


"Jadi?" tanya Damar. "Apa?" tanya Maris.


"Jadi kita gimana? Mas gak mau kalau harus kehilangan kamu"


Amaris tersenyum. "Bisakah kita memberi pengertian orang tuamu tentang pemikiran papah?" kata Amaris. Damar mengangguk. "Pasti bisa yank"


"Hmm, baiklah, kita coba bertahan dalam hubungan ini"


"Mas akan selalu bertahan dan memperjuangkan kamu" Archee tersenyum mendengarnya. Ia bahagia melihat Amaris benar-benar dicintai oleh pria yang mencintainya dengan tulus.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2