
Aylin dan Amaris memperingatkan Adel untuk memperhatikan anak tangga terakhir. Membuat Adel semakin grogi. Damar menahan tawanya karena mendengar mereka bertiga ribut sendiri.
"Awas awas awas, tangga terakhir" kata Papah Duta ikut-ikutan memperingatkan Adel. Ilyas berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Adel sambil tersenyum dan membawa sebuket mawar merah.
Adel dan rombongannya berhenti di anak tangga terakhir. Membalas senyuman Ilyas. Aylin dan Amaris melepaskan genggaman tangan adiknya. Menyerahkannya pada Ilyas.
Ilyas memberikan buket bunga itu. Meraih tangan Adel dan turun melewati anak tangga dengan mulus. Jantung Adel sudah ingin melompat dari otot-otot yang menyangganya. Dia sedang sangat bahagia.
Begitu juga dengan Ilyas, tangannya sudah sangat dingin karena grogi akan mengutarakan maksud keseriusannya. Semua mata memandang mereka dengan senyuman bahagia.
Adel duduk bersama kedua orang tuanya. Ilyas berhadapan dengan dirinya. Acara dilanjutkan dengan mengutarakan maksud hati Ilyas. Ilyas berdiri diantara kedua keluarga itu.
"Dek, malam ini, Abang datang bersama keluarga Abang. Menepati janji Abang kepadamu. Abang ingin memiliki kamu seutuhnya. Bukan menjadi pacar atau teman dekat, melainkan untuk menjadi pasangan hidup hingga ke akhirat. Abang mau mengajakmu pengajuan. Insyaallah Abang sudah siap Dek, begitu juga dengan kedua orang tua kita. Mereka semua telah memberikan restu untuk kita berdua.
Abang sudah tidak ada waktu lagi untuk main-main Dek. Jika kamu mau Abang ajak untuk pengajuan, maka terimalah lamaran Abang malam ini. Tapi, jika kamu masih belum siap untuk Abang ajak pengajuan, maka Abang tetap memaksamu untuk menerima lamaran Abang" Semuanya tertawa mendengar permintaan Ilyas.
"Heheheh, biar dibilang Abang orangnya maksa, ya memang beginilah Abang. Karena, Abang sungguh sangat mencintaimu Adelia. Jadi jangan tolak lamaran Abang"
Ilyas mengakhiri pidato lamarannya. Adel berdiri dan mendekati Ilyas. Mereka sama-sama tertawa tak jelas. Adel bersiap menjawab lamaran Ilyas.
"Ehm.... Bismillahirrahmanirrahim. Terima kasih atas kedatangan Abang dan keluarga ke rumah Adek. Jujur, sampai tadi selepas Maghrib, Adek kira Adek dikerjain sama kalian semua. Adek masih tidak percaya kalau malam ini, Abang benar-benar datang untuk melamar Adek. Adek sungguh tersanjung akan semua ini. Terima kasih karena sabar menunggu hingga Adek siap. Dan.... Insyaallah, Adek siap untuk Abang ajak pengajuan. Adek.... Menerima pinangan Abang"
Semuanya mengucap syukur atas jawaban yang diberikan Adel. Mamah Laras dan Bunda Siwi memakaikan cincin tanda jadi pengikat diantara keduanya. Acara dilanjutkan dengan makan-makan dan berfoto.
Amaris, Aylin, dan Damar berkumpul dengan Mak Siwi dan Pak Andi. Mereka tertawa.karena cerita-cerita lucu yang dibawa Mak Siwi.
"Syifa kemarin tuh datang-datang bikin heboh! Emak sampai kaget dibuat itu anak. Mak, si ayam, kucingnya si Syifa, mati karena diinjek sama si doggy, kambingnya si Syifa....."
Amaris merasa bingung dengan ucapan Mak Siwi. "Jadi yang mati itu si kucing Mak??"
"Bukan, si ayam" jawab Emak. Membuat semuanya tertawa. "Ya sudah lah, terserah Emak saja" kata Aylin.
__ADS_1
"Maris, sudah hamil belum?" tanya Mak Siwi. Amaris tersenyum dan menggeleng dengan kepala tertunduk. Mak Siwi memeluk Maris.
"Jangan sedih, dengerin Emak. Dulu, Emak sama Bapak susah sekali dapetin Imam. Delapan tahun Emak sama Bapak baru dikaruniai Imam. Gak usah terlalu memikirkan omongan orang. Termasuk kalau mertuamu yang bilang. Karena jalan rezeki orang itu beda-beda nak" terang Mak Siwi.
Damar hanya terdiam melihat ketulusan hati dari Mak Siwi. Pak Andi memberikan semangat bagi Damar. "Jangan putus asa Dam"
Damar hanya mengangguk.
"Makasih Mak, Insyaallah Amaris dan Mas Damar sabar kok nunggu hadiah dari Allah" jawab Amaris.
"Main ke Sleman, nanti Emak kenalkan dengan doggy, yang membuat mati si ayam"
Adel bersama Ilyas. Tak ingin jauh dari calon suaminya itu. Dia bergelayut manja di lengan Ilyas.
"Dek, besok mulai ngurus berkas ya?"
"Iya Bang. Nanti Adek tanya-tanya sama Kak Aylin" Ilyas mengangguk. Mamah Laras mendekati keduanya. Duduk diantara keduanya.
"Mah, besok Ilyas mau ajak Adel naik gunung sekalian prewed di Sindoro, boleh kan Mah??" Ilyas meminta izin kepada Mamah Laras.
"Boleh, tapi jangan macam-macam ya Yas! Ingat, kalian belum halal" Mereka berdua mengangguk.
"Mamah bahagia, akhirnya kalian akan segera menikah. Kamu ingat Del? Kamu pernah ngotot bilang ke Papah bahwa kamu yang akan menikah paling akhir. Dan.... terbukti kan? Apa yang bisa kamu ambil dari kejadian itu Del??"
"Ucapan itu adalah do'a Mah. Tapi Adel gak papa kok kalau nikahnya memang paling akhir"
"Ya kamunya gak papa Dek, Abang ini sudah ngebet!" Ketiganya tertawa.
.
Damar memeluk istrinya dengan erat. Mengecup keningnya berulang-ulang. Membuat Amaris terheran. "Mas, kamu kenapa sih?"
__ADS_1
"Gak papa. Pengen meluk kamu saja. Dek...." ucapan Damar terhenti. Amaris mendongak. "Kenapa Mas?"
Damar memeluknya kembali. "Mau gak Dek kalau kita program bayi tabung??"
"Ha?" Amaris melepaskan pelukan Damar. Duduk sambil berpikir. "Mas, kita sebelumnya sudah pernah konsul dengan dokter kandungan kan? Kalau kita berdua ini sehat semua. Kita juga menikah belum lama Mas, satu tahun saja belum genap. Dan Mas juga dengar sendiri kan bayi tabung itu bukan murah Mas"
"Mas tahu Dek, Mas cuma gak mau kamu sedih. Maa gak mau nantinya Mamah gimana-gimana sama kamu. Mas cuma ingin yang terbaik untuk kamu"
"Terbaik menurut Allah adalah yang paling baik diantara semuanya Mas. Kita tunggu hingga 2 tahun. Jika saat itu Adek masih belum hamil, Adek setuju kalau kamu mau melakukan bayi tabung. Kita ikhtiar lebih kencang lagi Mas"
Damar menghela nafasnya. "Ya sudah lah. Ayo tidur" Akhirnya mereka tidur. "Maafin Adek yang belum bisa memberikan keturunan untuk kamu"
"Sssttttt, jangan bilang seperti itu. Mas mencintai kurang dan lebihnya diri kamu. Besok kita ke Jakarta. Tiga hari disana. Tapi, kita gak akan pulang ke rumah Mamah. Mas mau memastikan sesuatu. Mas pengen kamu menemani Mas"
Amaris mengangguk dalam pelukan Damar. Pelukan hangat yang mampu membuatnya tenang dalam situasi apapun. Dan sekacau apapun dunianya, dia akan begitu tenang jika dalam pelukan lelaki itu.
"Terima kasih atas pelukan hangatmu ini"
"Sama-sama"
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip