Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 24


__ADS_3

Ponsel Aylin kembali berdering. Telpon masuk dari Seno. Tapi ia terlalu malas untuk menjawabnya. Ia mengabaikannya lagi dan lagi. Hingga akhirnya ada chat masuk ke ponselnya.


Seno : Kok ajak Suci? Gak ah, kita berdua jalan nanti malam. Udah lama kan kita gak kencan? Oke? jam berapa


Me : Ajak dia atau aku gak mau lagi bertemu sama kamu. Jam 7


Seno : 😔 Kamu masih marah ya sama aku? Ya sudah deh iya, aku ajak Suci nanti malam. Tapi aku gak tahu ya bisa atau gak dianya


Me : Ya


Seno : Kok singkat banget sih sayang jawabnya?


Aylin melempar ponselnya ke ranjang. Ia menghidupkan music untuk mengusir kegalauannya. Ia kembali membuka laptop milik Zafran yang masih digunakan untuk meng-hack WA milik Seno. Ia membuka chat itu kembali dan meneruskan hingga akhir untuk membacanya.


"Huft.... disini aku merasa seperti aku yang jadi selingkuhanmu. Oke... keputusan ku sudah bulat. Kembali ke Magelang adalah jalan terbaik untuk saat ini" Ia menutup laptop milik Zafran.


Lalu meraih ponselnya lagi untuk mengirim pesan pada Zafran.


Me : Mas, laptopmu mau aku anterin kemana?


Mas Zafran : Biar mas yang ambil. Kamu gimana? Udah baikan hatinya?


Me : 🙄 belum lah. Tapi mencoba baik-baik saja


Mas Zafran : Yok bangkit! Banyak yang lebih baik dari dia


Me : Huum mas, do'akan semoga cepat gantinya 😜


Mas Zafran : 🤭 mas aja belum dapat kok dek


Me : Makanya jangan jadi penguntit terus! Urusin juga tuh asmara!


Mas Zafran : 😔 Mamah tiga. Males ah. Ketemu di luar atau di rumah?


Me : Di luar aja, aku juga mau nyelesaikan ini sama Seno. Di kafe Z jam 7 malam ya mas


Mas Zafran : Kamu yang traktir ya?

__ADS_1


Me : 🤦‍♀🤦‍♀🤦‍♀


Mas Zafran : Kan mau putus jadi harus dirayakan 😜. Ya udah deh, nanti mas yang traktir. Mas kerja dulu. Semangat!


Me : ☺


Aylin tersenyum. "Tuh Lin, banyak yang sayang sama kamu. So, buat apa kamu nangisin dia?" Aylin menghela nafas panjang dan tersenyum. Ia mencari kesibukan, membereskan rumah adalah hal yang untuk saat ini ia lakukan.


Saat pulang, Amaris sudah khawatir dengan keadaan kakaknya. "Kak.... Kak Aylin..."


"Apa dek? Kakak di dapur, nyusun piring sesuai urutan bentuknya" teriak Aylin dari dapur. Amaris menghampirinya dan memeluknya.


"Are you okay?" Aylin mengangguk. "Senyum dong"


Aylin menyengir, menampilkan barisan gigi putihnya. Amaris tertawa. "Gitu dong! Itu baru Aylin kakaknya Maris dan Adel, yang selalu ceria dan pecicilan"


"Hahahah, nanti malam ikut kakak, ke kafe Z. Kakak mau nyelesaikan dengan Seno. Dan.... kakak akan pindah dari Jakarta dek"


Amaris terdiam sejenak. Lalu tersenyum dan memeluk Aylin kembali. "Terserah kakak, aku juga akan segera resign, karena Mas Damar pengajuan pindahnya ditolak. Jadi, aku yang harus merelakan karirku"


"Gak papa, bakti terhadap suami lebih diridhoi Allah. Nanti kan bisa cari sekolahan di Semarang" Amaris mengangguk.


Aylin mengangguk mantap. "Aku juga ngajak Mas Zafran mau ngembalikan laptop juga"


Amaris melakukan video call kepada saudara kembarnya. "Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" jawab Adel dan Archee. "Kakak...." kata Adel dengan berkaca-kaca.


"Kakak gak papa. Jangan sedih. Malam ini aku mau nyelesaikan semuanya. Dan.... setelah itu balik ke Magelang" terang Aylin.


Archee tersenyum melihat adiknya sudah kembali ceria lagi. "Abang senang lihat kamu sudah kembali bangkit. Kasih kontak Seno ke Abang"


"Buat apa?" tanya Maris. Archee berdecak. "Mau Abang kasih pelajaran"


"Gak usah, dia bukan murid sekolahan lagi yang harus belajar cara menjaga hati dan simpati. Biar Aylin sendiri yang selesaikan. Tapi, nanti kalau kena mentalnya gak tanggung jawab ya hahaha"


Semuanya tertawa. "Ya sudah, kami mau siap-siap dulu. Dandan cantik biar si Seno nyesel mainin saudara kita" Mereka mengangguk. Akhirnya panggilan video itu berakhir.

__ADS_1


Malam menjelang, Zafran sengaja menghampiri mereka di rumah. "Mas sudah di depan rumah. Buruan keluar" kata Zafran dari dalam mobil.


Dua saudara kembar itu segera keluar. Tampilan cantik maksimal. Siap menyelesaikan apa yang harus diselesaikan. Siap mengakhiri apa yang harus diakhiri.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Aylin menyerahkan laptop Zafran. "Makasih ya mas bantuannya. Malam ini biar Aylin traktik, jadian aja dirayakan apalagi putus?"


Amaris dan Zafran tertawa. "Semangat banget yang mau putus?"


"Iya dong! Wajib semangat! Biar dia nyesel siapa yang dia sia-siakan!" Sahut Amaris. Tak lama mereka sampai di kafe Z. Ternyata Suci dan Seno sudah berada disana.


Aylin dan yang lain menghampiri mereka berdua. Aylin tetap bersikap baik dan melempar senyum kepada Suci. "Lhoh, kamu bukannya yang kemarin sama mbak Wulan ya?" tanya Suci. Amaris mengangguk.


Aylin tak menggubris. Ia memesan makanan. Sembari menunggu makanan datang, ia menarik Zafran untuk ikut dengannya ke atas panggung dan bernyanyi.


"Malam, suasananya sedikit sendu ya? Seperti suasana hati saya. Hahaha. Saya mau sedikit cerita. Jadi, saya ounya pacar, namanya Seno Baskara, ia seorang pengusaha, ada di sebelah sana" Aylin menunjuk meja mereka. Seno memaksakan senyumnya. Suci agak bingung ketika Aylin menyebut Seno adalah pacarnya.


"Malam ini saya ingin memutuskan hubungan saya sama dia, karena saya tidak ingin menjadi pengganggu dan penghambat hubungan antara Seno dan Suci, yang dibilang adalah saudaranya tapi ternyata bukan. Pacar saya sudah melamar cewek ini lewat Wa. Dan si cewek nunggu bayinya lahir dulu baru mau menikah dengan pacar saya." Aylin tersenyum dan menghela nafasnya. Seno dan Suci dipermalukan di depan umum.


"Selamat, kalian berhasil membuat harapan saya hancur. Tapi, kalian juga harus tahu, saya bukan cewek lemah, yang dengan bodohnya dan ngemis cinta hanya buat seorang cowok? Kamu itu beneran cinta atau cuma kasihan sama Suci karena perbuatanmu di masa lalu? Tolong pastikan dulu itu. Dan kamu tidak perlu repot-repot untuk bertemu orang tuaku. Karena malam ini, aku melepasmu. Kita resmi putus. Sebuah lagu dari almarhum pakdhe Didi Kempot, Pamer Bojo. Mainkan!"


Band itu mulai memainkan lagu yang diminta Aylin. "Dudu..... klambi anyar..... sing ning jero lemariku..... nanging bojo anyar.... sing mbok pamerke ning aku.... Ning ngopo seneng aku.... yen... mung gawe loroku.... pamer bojo anyar ning ngarepku......" Semuanya bertepuk tangan. Mereka berpikir, Aylin adalah gadis yang tegas. Tak akan menjadi pengemis cinta jika sudah tahu tak terbalas.


Lagu pun selesai. Zafran tersenyum pada sepupunya. Mereka kembali ke meja itu. Seno sudah tak tahan lagi. "Kamu apa-apaan sih Ay?"


"Apanya yang apa-apaan? Makan, ini untuk merayakan putusnya kita. Aku sudah melepaskanmu dan merelakanmu untuknya, jadi hargai usahaku untuk bahagia"


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2