
Setelah 5 hari di rumah sakit, Damar diizinkan pulang. Amaris sangat setia menemaninya. Selesai pulang kerja, ia akan langsung ke rumah sakit menemani sang pujaan hati.
"Yeee.... akhirnya, pulang. Tapi tetap harus terapi ya Mas" kata Amaris senang. Aylin tersenyum melihat mereka.
"Kamu temenin ya?" Amaris mengangguk. "Bantuin...." rengek Damar yang hendak turun dari ranjang.
"Modus..... modus.... modus.... biar bisa merangkul Maris tuh" goda Aylin. Damar tertawa.
"Jangan dibongkar dong Kak" Kata Damar. Amaris menginjak kaki Damar yang satunya. "Aaaa..... bisa patah jari-jarinya yank! Heels kamu aduuuhhhhhh"
Damar meringis kesakitan. Aylin tertawa melihatnya. Maris bersidekap tak mau membantunya. "Bantuin" kata Damar. Amaris menggeleng.
"Modus doang sih"
"Ih, jangan percaya kata kak Aylin dong. Beneran aku gak bisa nih. Belum terbiasa pakai tongkat. Kan lebih baik kamu yang menjadi tongkat hidupku. Memapahku menuju bahtera kebahagiaan dalam pelabuhan cinta kita" Damar mulai mengeluarkan kata-kata puitisnya.
Aylin dan Amaris berpura-pura ingin muntah mendengarnya. "Waktu pendidikan ada pelajaran gombalin cewek ya?" tanya Maris.
Damar menggeleng. "Sumpah, cuma kamu doang yang dengerin gombalan Mas"
"Mosok??" Damar mengangguk. Amaris membantunya untuk berjalan menggunakan tongkat. Memapahnya hingga keluar dari rumah sakit. Mereka sudah di dalam mobil. Aylin sebagai pengemudi.
"Eh kak, lupa aku kasih tahu kamu. Seno punya saudara yang lagi hamil?" Aylin mengangguk mantap.
"Iya, kenapa?"
"Oh, berarti yang aku lihat kemarin memang beneran Seno dong. Aku kira tuh dia selingkuh. Maaf ya udah su'udzon"
Aylin tertawa. "Seno gak bakalan begitu dek, lempeng orangnya" Amaris hanya mengangguk tanda setuju dengan ucapan Aylin.
Mereka telah sampai di rumah Damar. Ia dibantu oleh satpam rumahnya untuk bisa turun dari mobil. Keluarga Damar menyambut kepulangan Damar dengan bahagia. Amaris dan Aylin diterima hangat dalam keluarga itu.
Mereka bercengkrama dan bercanda ria. Aylin pamit pulang terlebih dahulu karena Damar meminta Amaris mengisi blangko untuk pengajuan nikah kantor.
Amaris yang baru pertama kalinya sampai geleng kepala melihat prosedur yang banyak. Ia menghela nafasnya dan mengerjap-kerjapkan matanya. Damar tertawa melihatnya.
"Kenapa?"
"Gak papa, aneh aja harus berkutat sama dokumen yang buanyak ini. Hmmm, harus bolak baliknya dan meluangkan waktunya itu lho Mas" terang Amaris. Damar tersenyum.
"Sabar. Jalani saja satu per satu, gak bakalan terasa nantinya Yank. Tahu-tahu udah fitting baju aja" Amaris mengangguk.
"Ini beneran ada ujiannya juga gitu?" Damar mengangguk. Ia mengirim link yang biasa digunakan para calon bhayangkari untuk belajar materi tentang pengajuan nikah kantor.
"Buka link yang mas kirimkan ya yank, nanti belajar disitu. Biasanya sih pada belajar disitu. Atau kalau gak ya tanya mbak Shanum" Maris mengangguk.
Maris berkutat dengan formulir yang harus dilengkapinya. Damar mengambil foto Maris secara diam-diam. Tersenyum dan menjadikannya status di sosial medianya. "Kenapa sih senyam senyum?" tanya Maris.
"Gak papa, lagi seneng aja" Maris membereskan dokumen itu dan memasukkannnya lagi ke dalam map. Menyerahkannya kepada Damar. Duduk di samping Damar dan merebut ponsel. "Ealah.... muka lagi serius begini difoto!"
__ADS_1
"Hahaha, gak papa dong, tetap cantik kok" Damar memperhatikan wajah Maris dan tersenyum sendiri. Membuat Maris merona malu. "Kenapa sih? Ada yang aneh sama wajahku?"
Damar menggeleng. "Masih gak percaya aja, cewek yang aku taksir beneran mau jadi istri aku lho". Maris tertawa mendengarnya.
"Yank, kamu kan guru"
"Terus kenapa?" tanya Maris yang tahu bahwa Damar akan menggombal lagi terhadapnya. "Ajari aku dong"
"Ajari apa? Mencintaiku?" Damar menggeleng. "Matematika? Fisika? Kimia?" Damar menggeleng lagi. "Ya terus apa?"
Damar menggenggam tangan Maris. "Ajari aku tentang apapun, tapi jangan pernah kamu ajari aku tentang satu hal. yaitu kehilangan kamu, karena aku tidak akan pernah sanggup belajar itu dan tidak akan pernah lulus dalam ujiannya"
Maris tersenyum malu. Wajahnya merona. "Beneran waktu pendidikan akpol gak diajari merayu wanita? Kok jago banget ya? Malah jadi ragu kan aku kalau begini?"
"Ck, jangan ragu dong. Mas hanya bisa merayu satu wanita yaitu kamu, Mas akan banyak bicara dan itu hanya denganmu"
Maris tersenyum. "Iya aku percaya. Jadi tolong, jaga kepercayaan aku" Damar mengangguk.
"Insyaallah"
.
Damar melakukan terapi seperti yang dianjurkan oleh dokter. Tapi, masa cutinya akan segera habis. Ia harus kembali ke Semarang. Maris mengantarkannya, dan menemaninya terapi.
"Bakalan LDR an lagi deh" kata Damar yang baru saja duduk di asrama polisinya. Maris memberikan air putih dan obat Damar.
"Ya sudah lah, jalani seperti biasa. Mau gimana lagi?" jawab Damar pasrah.
Mereka saling diam larut dalam pikirannya masing-masing. Harus mengikhlaskan jarak kembali memisahkan. Bertarung dengan waktu agar mendapatkan kesempatan, dan hanya bisa menyimpan rindu dalam angan.
Damar menghela nafasnya. "Semangat semangat semangat! Yang LDR an bukan vuma kita doang! Kalau bisa bolak balik kayak bang Hamka pasti mas bakalan milih bolak balik daripada membiarkanmu di Jakarta tanpa Mas"
Maris pun menghela nafasnya. "Sabar mas, bang Hamka juga belum Acc pindah Magelang?" Damar menggeleng. "Agak susah sekarang"
"Ya sudah, sabar saja. Kan masih bisa video call" Damar mengangguk. Ia mencoba menyentih kepala Maris. Membelainya. Dan memperhatikan wajah Maris.
Membuat jantung Maris berdegup tak menentu, wajahnya merona merah, ia meremas-remas gamisnya. "Mas....."
"Hmm?"
"Aku takut"
Damar menautkan alisnya bingung. "Takut kenapa?"
"Tanganmu itu lho" Damar berhenti membelai dan menurunkan tangannya. "Maaf"
"Gak papa. Besok aku penerbangan jam 7 pagi mas" Maris mencoba mengalihkan pembicaraan agar suasana canggung menjadi cair.
Damar mengangguk. "Nanti Mas minta tolong Mas Habib sama Maryam suruh antar kamu yank ke bandara"
__ADS_1
Maris mengangguk. "Terserah kamu saja lah. Lapar...." Maris hendak menuju dapur tapi dicegah oleh Damar. "Pesen online saja"
Maris meraih ponselnya dan mencari menu makanan yang mereka inginkan. "Mau makan apa?"
"Makan kamu boleh?" goda Damar. Maris langsung berdiri dan menjauh dari Damar. Membuat Damar tertawa melihatnya.
"Bercanda yank! Makan apa ya? Kamu mau makan apa?" tanya Damar balik. Maris tampak berpikir.
"Nasi padang aja gimana?" Damar mengangguk setuju. "Oke, lauknya rendang ya?"
"Iya wes terserah kamu"
Makanan online pun sudah dipesan. Mereka kembali diam. "Ini kenapa kita malah diem-dieman begini sih?" tanya Damar. Mereka tertawa garing.
"Bingung apa yang mau diobrolin"
"Nanti disana jaga hati jaga diri ya Yank, jangan minta putus gak jelas lagi. Ada gak sih yang pernah godain kamu?" tanya Damar. Maris mengangguk.
"Kamu juga disini jaga diri, jaga hati, jaga pandangan. Ada, tuh..... murid-murid aku pada seneng banget godain aku"
Damar malah tertawa. "Maksudnya cowok lain"
"Ya murid aku kan juga cowok sayang"
Saat mereka berdebat, seseorang mengetuk pintu. Mereka menoleh, ojek pengantar makanan pun sampai. Mereka tak jadi melanjutkan perdebatan mereka dan mulai makan.
Damar menyodorkan tangannya yang penuh dengan makanan itu ke mulut Maris. "Makan sendiri aja ah" jawab Maris malu.
"Ck, bentar lagi LDR nih" jawab Damar. Maris tersenyum dan membuka mulutnya. "Makasih ya sudah merawat mas sampai ngantarkan balik ke Semarang. Mas sayang...... banget sama kamu"
"Hmm"
"Dijawab dong"
"Lagi makan Mamas Damarku sayang.... Aku juga sayang dan cinta sama kamu"
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1