
Hari pernikahan Shanum digelar. Semuanya bersiap untuk datang ke acara resepsi itu. A squad semuanya bisa hadir. Archee, Aylin, Amaris rela pulang kampung untuk menghadiri pernikahan teman rasa saudara itu.
"Lin, Abang sudah cakep belum?" tanya Archee sambil merapikan rambutnya. Aylin menoleh dan membantu kakaknya membenarkan rambut dan kemeja batiknya itu.
"Paripurna! Lu kalau bukan Abangku sudah tak pacarin terus tak suruh nikahin!" kata Aylin ngasal. Adel yang mendengarnya langsung memukul pantatnya. "Dokter edan! Eling! Dia abang kita!"
"Ck, kan tadi kakak bilang kalau bukan Abangku. Pak tentara mana Del?" Adel menoleh. "Tahu dari siapa?"
"Siapa lagi? Ya Mamah ya Papah ya Shanum lah. Cieee.... ganteng gak sih? Penasaran aku orangnya seperti apa? Sampai bisa menaklukkan hati bu bos lele yang super tomboi"
Archee mengerutkan dahinya bingung. "Pak tentara mana? Namanya siapa?" sambil memakai sepatu.
Amaris baru selesai berdandan dan ikut nimbrung. "Namanya Ilyas Saputra, Danki C, ganteng....., cool, apalagi ya? Apa lagi Del? Yok pada buruan punya calon, urut nikahnya. Aku gak enak sama orang tuanya mas Damar. Buruan ah bang!"
"Kalian saja dulu, Abang terakhir saja"
"Ck, beneran diambil orang nanti gebetanmu Bang, katanya dia udah punya gandengan lho" kata Maris. Adel bingung.
"Ini lagi ngomongin siapa sih?" tanya Adel masih tak bisa menyambung dengan obrolan kembarannya. "Lagi ngomongin kamu sama Abang. Udah yok berangkat!" sahut Archee cepat.
"Cieee yang gak sabar ketemu sama gebetan.... ungkapin ngapa ungkapin! Disamber orang baru tahu rasa lu bang!" kata Aylin.
Archee hanya geleng kepala mendengarnya. "Kak, siapa gebetan Abang?" tanya Adel kepada Amaris. "Kepo lu!"
Amaris meninggalkan Adel yang memanyunkan bibirnya. Di bawah Ilyas sudah menunggu Adel.
"Itu calonnya Adel?" tanya Archee berbisik pada Aylin. Aylin mengangkat bahunya. "Entah, Del..... Ada yang nyariin nih...."
Adel yang masih menuruni anak tangga tak menyahut. Archee menghampirinya bersama Aylin dan Amaris. Ilyas tersenyum dan berjabat tangan dengan Archee. "Assalamualaikum bang, saya Ilyas. Mau jemput Adel"
"Waalaikum salam, saya Archee, ini Aylin, dan ini Amaris. Silahkan duduk" Ilyas mengangguk dan mengatupkan kedua tangannya sebagai tanda salam kepada Aylin dan Amaris.
"Kenal dimana sama Adel?" tanya Archee, Adel menghampirinya. "Adel kan gak minta dijemput" katanya.
"Disuruh kesini sama papah" jawab Ilyas. "Kenal di empang lele bang" Amaris dan Aylin tertawa.
"Oooo.... kena pathil cinta bos lele ya?" tanya Archee. Wajah Ilyas dan Adel sama-sama merona. Aylin dan Amaris semakin tertawa dengan ekspresi mereka.
__ADS_1
"Abang sih gak masalah kamu deketin Adel, tapi, tolong, jaga hati adek Abang. Jangan pernah menyakitinya, ataupun membuatnya bersedih. Janji seorang prajurit tak akan pernah ingkar bukan?" tutur Archee. Ilyas mengangguk.
"Insyaallah bang"
Archee menoleh ke Aylin. "Tinggal calonmu yang belum ketemu abang. Buruan suruh kesini"
Aylin berdecak. "Dia sibuk yo, yang penting kan ketemu papah, bukan Abang!"
Papah Duta dan Mamah Laras datang. "Wes siap kabeh? Ayo mangkat" kata Papah Duta. Semuanya mengangguk. Papah Duta, Mamah Laras, Archee, Amaris dan Aylin satu mobil. Adel satu mobil dengan Ilyas dan keluarganya.
Mereka menuju gedung tempat acara digelar. Tak berlangsung lama, mereka telah sampai. Saat akan masuk gedung, mereka bertemu dengan Habib, Maryam, Hilal dan Humaira.
Membuat Archee jadi bulan-bulanan saudaranya. "Humai tuh bang!" Archee menjadi salah tingkah. Hilal menyapa semuanya. "Pak camat pulang nih!" kata Hilal. Humai berpamitan untuk bertemu dengan pacarnya.
"Yaaah..... ada yang patah hati deh sebelum diungkapin!" goda Hilal pada Archee. Archee hanya tersenyum kecewa. "Makin lama kita nikahnya kalau Abang patah hati nih" kata Aylin. Amaris menghela nafasnya berat.
"Aku temui mas Damar dulu deh kak, gak tahu lah, hubungan ini bakal gimana, Papah kekeh begitu, bakalan makin lama deh. Aku gak enak sama orang tuanya mas Damar, mereka sudah menanyakan terus kapan aku siap dilamar" terang Maris. Archee merasa bersalah dengan keadaan itu. Amaris masuk meninggalkan semuanya dan mencari keberadaan Damar.
"Kayaknya Abang perlu debat lagi deh Lin sama Papah" kata Archee. Aylin mengelus-elus punggung kakaknya.
"Sabar bang, sudah lah jangan dipikirin dulu. Kita kasih selamat dulu deh sama Shanum dan suaminya" ajak Aylin pada Archee. Mereka masuk ke dalam gedung. Archee kembali bertemu dengan Humai.
"Mas Zidni, kenalkan ini Bang Archee, temennya mas Hilal. Bang Archee, ini mas Zidni pacar Humai" Mereka berjabat tangan. Ekspresi kecewa tergambar jelas di wajah Archee. Membuat Zidni bisa membaca bahwa ada rasa yang tersirat untuk Humai.
Archee pamit meninggalkan mereka. Lebih banyak duduk sendiri. Amaris menghampirinya dan membawakan makanan untuknya. "Ngapain bengong?"
"Hmm? Gak papa"
"Nyesel kan bang tahu Humai sama yang lain? Makanya dari dulu tuh diungkapin!" ketus Amaris. Archee tersenyum kecut.
"Abang memang tidak pernah ngungkapin sama dia, tapi Abang minta dia lewat Allah. Mereka baru tahap pacaran, belum serius. Jadi, masih ada kesempatan bagi Abang. Abang juga minta maaf sama kamu, karena papah bersikeras begitu. Abang akan coba bujuk beliau agar mengijinkan kalian untuk menikah terlebih dahulu" tutur Archee.
Amaris diam. "Kayaknya bakalan alot deh bang, ya sudah lah, kalau pun keputusan papah seperti itu, mending aku putus saja sama Mas Damar. Aku gak enak sama orang tuanya"
"Jangan putus, Damar anaknya baik, selalu perhatian sama kamu, sayang sama kamu, kalau kamu melepaskan dia, apakah ada jaminan kamu akan mendapatkan yang lebih baik? Tunggu Abang ngomong sama papah"
Damar ikut bergabung dengan mereka. "Kenapa sih? Kok Mas perhatikan dari jauh wajah kamu murung gitu sih Yank?"
__ADS_1
"Dam, kalau Amaris disuruh nikahnya nanti nunggu aku nikah dulu gimana? Kamu masih sanggup nunggu dia?" tanya Archee
Damar mencerna pertanyaan Archee. Ia melihat Amaris yang tertunduk. "Ini yang buat hati kamu sedih? Mas kan sudah pernah bilang, Mas akan tetap menunggu"
"Itu kan kamu mas, bagaimana dengan orang tuamu? Aku malu, setiap berkunjung selalu ditanya begitu. Aku takut mereka berpikiran bahwa aku tidak benar-benar serius terhadapmu!" Amaris berdiri dan meninggalkan mereka.
Damar ingin mengejarnya, tapi dilarang oleh Archee. "Biarkan dulu, dia butuh menstabilkan suasana hatinya. Abang minta maaf kalau karena Abang menghambat niatan serius kamu terhadap Amaris"
Damar menghela nafasnya. "Seminggu ini, memang dia selalu meributkan hal-hal kecil seperti ini Bang, dikit-dikit ngajak berantem, dan bahkan kemarin dia minta putus coba Bang"
Archee menenangkan Damar. "Stabilkan dulu emosimu, baru temui dia" Damar mengangguk. Ia mengatur nafasnya dan meredam emosinya. Mencati keberadaan Amaris yang berada di sebuah bangku taman di bawah pohon.
Damar mendekatinya dan duduk di sampingnya. "Kamu kenapa sih sayang? Kamu kangen sama Mas? Sampai ngajak berantem terus?"
Amaris menangis. "Aku bingung sama hubungan ini...."
"Kenapa bingung? Kalau kamu bingung karena pertanyaan Mamah dan Papah, nanti mas akan bicara sama mereka. Mas sayang sama kamu, mas gak pengen lihat kamu sedih hanya karena masalah ini"
"Masalah ini masalah serius Mas...."
"Iya, mas tahu. Mas siap nunggu kamu"
"Sudah lah mas, kita akhiri saja hubungan ini. Masih lama sekali kita ke jenjang pernikahan" Amaris meninggalkan Damar. Damar mengikutinya. "Mas gak mau berakhir"
Amaris diam dan melanjutkan jalannya. "Terserah! Kamu akan menyakiti diri kamu sendiri! Menyakiti hati kamu!" Damar menjambak rambutnya dan berteriak.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip
Maaf baru up. ehehehe... mulai ke Marissss dan Damar