
Hilal dan Azka juga tengah sibuk mempersiapkan acara mereka. Seperti janji Hilal di awal, dirinya akan menikahi Azka saat sudah menyelesaikan pendidikan spesialisnya. Dan kini, mereka sedang menjalani pemotretan di sebuah studio di kota Semarang.
Hilal sangat sibuk semenjak menjadi dokter spesialis. Hari-harinya dipenuhi dengan visite pasien, tindakan pembedahan yang segera, dan konsultasi dengan oara pasiennya. Azka mengerti akan kesibukan Hilal. Dia mengalah untuk mengunjungi calon suaminya di Semarang.
Fotografer sedang mengarahkan bermacam-macam gaya untuk mereka. Setelah beberapa kali ganti kostum, akhirnya pemotretan itu pun selesai. Mereka berganti baju kasual lagi. Mencari tempat makan untuk berbincang sedikit mengenai persiapan pernikahan mereka.
"Mamas kopi atau teh?" tanya Azka menawarkan menu yang ada.
"Teh susu ada gak Yank?" Azka mengangguk. "Teh susu satu, capucino satu, udang saus asam manis 1 porsi dan nasinya 2 piring ya Mas" kata Azka memesan makanan itu.
Mereka melihat pemandangan sekitar. Fotografer mereka mendekatinya. "Mas Hilal, Mbak Azka, ini mau dibingkai sekalian gak?"
"Iya Mas" jawab keduanya kompak. Lalu tertawa. "Oke, aku kasih frame warna hitam ya? Biar terkesan elegan"
"Iya, manut lah pokoknya" jawab Hilal. Makanan datang. Mereka menikmatinya sambil berbagi cerita.
"Minggu depan kita lihat rumah kita ya Yank??"
"Hari ini saja Mas, aku belum tahu bisa dapat IB lagi atau tidak"
Hilal mengangguk. Nanti, setelah menikah mereka akan menetap di Semarang. Azka sudah mengurus pindah satuannya. Dan disetujui.
Selesai makan, mereka langsung menuju perumahan yang dimaksud. Masih di area Semarang. Dekat dengan rumah sakit tempat Hilal bekerja dan dekat dengan kesatuan Azka nantinya. Hawa sejuk sangat terasa saat mereka memasuki kawasan itu.
"Sejuk ya Mas"
"Iya, kamu suka?" Azka mengangguk senang. Mereka telah sampai di halaman rumah mereka nantinya. Hilal membuka pintu. Azka masuk dan melihat sekitarnya. Dinding yang masih berwarna putih polos. Perabotan yang belum lengkap. Menyambut kedatangan mereka.
"Mas, nanti dindingnya di cat warna hijau ya?"
Hilal mengangguk. "Iya, kamu adalah penentu desain interior rumah kita"
"Ah, makasih sayangkuuuu"
"Sama-sama" Azka berkeliling. Ruang tamu adalah ruangan pertama yang ditemuinya. Berbatas penyekat langsung terhubung dengan ruang makan dan dapur. Ada sebuah pintu yang terhubung dengan pantry dan tempat menjemur.
Ada dua buah kamar yang saling bersebelahan. Lalu kamar mandi di belakang. Azka senang dengan rumahnya. Mungil, tapi terasa hangat untuknya. Dia sudah berangan-angan untuk mendesain seperti apa rumahnya nanti.
__ADS_1
Hilal mendapatkan pesan masuk di ponselnya. Ia segera membacanya. Seorang pasien membutuhkan penanganan segera. "Yank, Mas ada panggilan darurat nih!"
"Ya sudah Mas, kamu balik ke rumah sakit saja dulu. Aku nunggu kamu disini saja Mas"
"Yakin? Berani sendirian?"
Azka mengangguk mantap. Membuat Hilal yakin untuk meninggalkannya seorang diri. Hilal segera tancap gas meninggalkan Azka sendirian.
Hampir satu jam Hilal belum memberinya kabar. Ia melihat jam tangannya. Dia bisa kembali masuk Batalyon. Akhirnya dia memutuskan untuk mencari ojeg online dan mengantarnya hingga jalan besar. Dan berencana untuk naik bus untuk pulang ke Magelang.
Dia mengirim pesan pada Hilal.
Me : Mas, aku pulang dulu ya? Gak usah dijemput. Kunci rumah aku yang bawa. I love you.
Hilal masih sibuk dengan pasiennya. Belum membaca pesan dari Azka. Sedangkan Azka, sudah sampai di pinggir jalan. Sedang menunggu bus jurusan Magelang lewat. Berdiri di trotoar sambil celingukan menunggu busnya.
Ada panggilan masuk dari Maryam. Yang menyuruhnya untuk mampir ke rumahnya terlebih dahulu sebelum pulang ke Magelang. Tapi, Azka mengatakan jika dirinya tak bisa mampir karena sudah akan masuk sore hari. Tiba-tiba saja ada mobil dengan kecepatan tinggi melaju.
Dor!
Halo, Az, Azka! Ada apa Az??
Orang-orang ramai berkerumun melihat kejadian itu. Salah seorang melaporkan bahwa terjadi kecelakaan. Ada korban seorang perempuan yang terpelanting hingga terjerembab di tempat pembakaran sampah yang sedang menyala apinya. Pengemudi tak sadarkan diri di dalam mobilnya.
Para warga yang berkerumun, memastikan keadaan pengemudi dan korban. Salah seorang mengambil ponsel yang ada di tangan si korban.
"Halo Mbak, ini temannya kecelakaan" terang warga itu. Membuat Maryam terkejut tak percaya. Polisi datang dan segera menangani kasus yang terjadi. Ambulance datang untuk membawa keduanya menuju rumah sakit.
"Tolong segera ke rumah sakit x Mbak, karena lukanya parah. Korban terpelanting ke tempat pembakaran sampah yang sedang ada apinya tadi"
Maryam menangis mendengarnya. Ia menjawab dengan tersedu. Nggih Pak, saya kesana sekarang. Tolong jagakan saudara saya. Hiks.
Ambulance melaju dengan kecepatan tinggi. Menerobos semua yang ada di depannya. Hilal baru saja selesai melakukan pembedahan. Dia sedang mencuci tangannya setelah selesai tindakan. Salah seorang perawat menghampirinya.
"Dok! Pasien kecelakaan dengan luka bakar patah tulang kaki kanan dan kemungkinan ada perdarahan pada organ dalam"
Hilal mengangguk dan segera berlari ke IGD. Mencari yang dimaksud oleh perawat tadi. Matanya tak percaya dengan yang dilihatnya. Seorang yang sangat dikenalnya. Seorang yang sangat berarti baginya. Terkapar tak berdaya di bed IGD. Tubuhnya lemas dan membuatnya terjatuh di lantai.
__ADS_1
Perawat menolongnya. "Dokter Hilal gak papa?"
Hilal masih terdiam. Air matanya berkumpul dan luruh di pipinya. Perawat itu menggoyang-goyangkan tubuh Hilal. Habib datang bersama Maryam, dan langsung mencari keberadaan Azka. Melihat Hilal di lantai. Menyadarkan kakaknya.
"Mas! Sadar Mas! Mbak Azka butuh pertolonganmu! Mas!" Habib menampar pipi kakaknya.
Hilal tersadar. Dadanya sesak. Ia mencoba bangkit dibantu dengan Habib. Dia mendekati Azka. Memeriksa bagian tubuh Azka yang mengalami pembengkakan di area perut.
"Ba Bawa pasien ke ruang IBS sekarang. Hub Hubungi dokter orthopedi. Lakukan rontgen abdomen" Hilal mencoba mengontrol emosinya. Perawat langsung melaksanakan perintah dari Hilal. Dokter umum yang berjaga di IGD memberikannya laporan cairan dan obat yang diterima pasien.
Maryam dan Habin dipersilahkan oleh perawat untuk mendaftarkan Azka. Ali dan Hana menyusul mereka. Mencari keberadaan Hana. Mereka diarahkan ke ruang IBS dan menunggu disekitaran sana.
"Mbak....." Maryam menangis dan memeluk Hana.
"Jangan nangis.... kita do'akan saja Azka. Mbak sudah tahu kronologinya dari polisi"
Habib dan Ali mencoba menenangkan istri mereka masing-masing. Mereka hanya saling berdiam. Merasakan gundah yang menghampiri mereka.
"Sudah kasih tahu Om dan Tante Mbak?" tanya Habib. Hana mengangguk. "Aariz sama siapa?" tanya Habib lagi.
"Aariz kami titipkan sama Muti dan Luna. Danang dan Sigit dalam perjalanan kesini. Bib, jagain mereka dulu. Mas beli makanan dan minuman dulu untuk mereka" tutur Ali. Habib mengangguk.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
Othor ketiduran hahaja 🙈🙈
__ADS_1