
Papah Duta hanya terdiam. Adel menjadi semakin bersalah. Karena keteledorannya menjadi pimpinan, membuat Papahnya harus mengetahui kenyataan pahit itu.
"Hutang di bank tinggal satu kali lagi dan akan lunas, tapi kenapa malah begini?? Padahal, aku sudah berniat saat nanti hutang bank tutup, aku akan menaikkan gaji mereka" terang Duta dengan pandangan jauh ke depan.
Adel merasa semakin bersalah. Ia sudah berkaca-kaca. Mencoba untuk kuat, namun tetap saja air matanya luruh dengan mulus. Aylin menenangkan adiknya. "Sabar Del, kita bantuin kamu kok"
Damar memberikan usulan ide bagi Adel. "Pah, Del, gimana kalau sistem penggajiannya beberapa bulan ke depan diubah, agar kita tidak mengambil pinjaman lagi di bank?"
"Maksud kamu nak?" tanya Budhe Yuna.
"Gini Budhe, jadi, kita gaji mereka dengan hanya gaji pokoknya saja. Uang makan akan kita gantikan dengan memberi mereka makan sehari, Damar rasa lebih hemat daripada harus menggelontorkan uang, boleh lah nanti tante Nina yang masak, harga keluarga ya tante? Hehehe"
"Iya, gratis!" jawab Tante Nina
"Nah, uang transport sementara hanya akan kita berikan setengahnya saja. Lebih efektif begini daripada kita memberhentikan karyawan" imbuh Damar melengkapi idenya.
Zafran sampai tak percaya bahwa Damar bisa mengutarakan idenya itu. "Pinter juga otakmu Dam!"
"Kalau gak pinter gak lolos seleksi akpol dong Mas Zaf" bela Amaris
"Siapa tahu gitu ada orang dalam. Kan biasanya dia emang jadi bahan bullying dari geng somplak!"
"Enak aja orang dalam! Itu karena aku polos aja Mas Zaf" bela Damar. Semuanya tertawa mendengarkan hal itu.
"Tante juga punya ide nih untuk nambah pemasukan. Gimana kalau ini lele kita olah? Kan bisa tuh dijadikan kerupuk, lele asap? daging lele yang dikaleng? Gimana? Setuju gak? Kan tenaga kita sudah terlatih tuh untuk berkreasi. Tinggal ngembanginnya sajaaa"
Mamah Laras dan Budhe Yuna tersenyum senang. "Setuju!" Sahut semuanya menyetujui usulan Tante Nina.
Aylin tersenyum. "Tuh lihat, mereka saja optimis, kenapa adek kakak begini? Ayo semangat!!" Adel menghapus air matanya. Memeluk Aylin dan berterima kasih kepada semuanya.
Aylin melihat jam. "Aylin balik ke rumah dulu ya? Berangkat kerja nih!"
"Iya, hati-hati ya Lin" pesan Mamah Laras. Aylin mengangguk. Menyalami orang tua yang ada disana lalu segera kembali ke rumah.
Akhirnya Papah Duta bisa mengendalikan emosinya. "Terima kasih untuk kalian semua"
"Sama-sama, sudah, jangan terlalu dipikirkan. Percaya sama Adel. Dia pasti bisa menyelesaikannya"
Adel memeluk papahnya. "Maafin Adel ya Pah"
"Sudah, jangan main salah menyalahkan terus, yang perlu kita lakukan sekarang adalah briefing sama karyawan. Memberitahukan rencana kita" terang Amaris.
Papah Duta mendampingi Adel yang pagi itu mengadakan briefing dadakan. Adel menjelaskan kepada karyawannya semua. "Saya tidak memaksa kalian untuk harus tetap disini jika kalian merasa sistem ini tidak adil"
Para karyawan berbisik. Roni mulai unjuk suara. "Saya bersedia dengan sistem ini Bu, lagian, ini hanya sementara. Semoga saja tidak sampai berlarut-larut. Saya lebih memilih untuk bertahan daripada mencari pekerjaan lain yang mana belum tentu senyaman disini"
__ADS_1
"Saya juga setuju bu"
"Saya juga"
"Saya juga"
Para karyawan itu satu per satu mulai mengeluarkan suaranya. Memilih tetap bekerja disana. Adel dan Papahnya sampai terharu melihat hal itu.
"Ini bukan janji, tapi ini nadzar saya. Kalau sampai 3 bulan kedepan omset kita bisa naik dan kita bisa menutup kerugian ini, insyaallah, saya akan naikkan gaji kalian" kata Papah Duta. Semuanya tersenyum senang mendengarnya.
Adel merasa beban dihatinya sedikit terlepaskan. Papah Duta dan keluarganya pulang ke rumah. Adel mulai menyusun strategi pemasaran bersama Roni. Membagi karyawannya dalam tim.
Tante Nina ditunjuk sebagai kepala dapur. Adel mulai mencari-cari bahan untuk mengembangkan usahanya. Hingga ia sampai lupa waktu.
Mega jingga sore itu menampakkan semburat cantiknya. Menunjukkan waktu akan segera memasuki maghrib. Adel memutuskan untuk pulang.
"Ron, jangan lupa tanggal-tanggalnya ya? Kirimkan lele-lele kita"
Roni mengangguk. "Nggih Bu Adel. Sudah sana pulang! Telpon Babang tamvan sana"
Adel tertawa mendengar ucapan Roni. Ia segera melajukan mobil kembali ke rumah. Membersihkan diri. Melaksanakan sholat maghrib. Dirinya dipanggil oleh Aylin untuk makan malam.
Sedangkan di ruang makan semuanya telah berkumpul. Mereka mulai makan dengan tenang. Saat tengah makan, ponsel Adel berdering. Ingin mengangkatnya tapi sungkan dengan yang lain.
"Del, angkat saja. Ilyas kan? Mungkin dia sedang rindu sama kamu" tutur Mamah Laras. Adel mengangguk.
"Adek gak tahu diuntung! Main suruh saja!" Aylin mengumpat. Adel hanya tertawa.
Adel masuk ke kamarnya. Lalu menguncinya. Dering telpon pun mati. Adel mencoba menghubungi Ilyas. Melakukan panggilan video.
"Halo Assalamualaikum" panggilan itu dijaeab dengan cepat. Adel tersenyum senang melihat wajah Ilyas memenuhi layar ponselnya.
"Waalaikum salam, benar dengan Pak Ilyas Saputra??"
"Hahahah, benar. Ini dengan Bu Adel ya? Gimana Bu kabarnya? Sehat kan?"
Mereka berdua tertawa geli karena ulah mereka sendiri. "Abang sudah makan?"
"Sudah, kamu sendiri sudah makan?"
"Alhamdulillah sudah" Adel terdiam. Menikmati wajah yang dirindukannya. "Abang...."
"Ya??"
"Kapan pulang?"
__ADS_1
Ilyas tersenyum mendengar pertanyaan itu dari Adel. Dirinya merasa sangat dibutuhkan Adel. Merasa diinginkan Adel. "Secepatnya. Lele aman?"
"Do'akan aman. Adel susul ke Malaka boleh?"
Ilyas malah tertawa atas pertanyaan Adel. Dia tahu, perempuannya sangat merindukannya. Tapi dirinya juga sedang tak bisa berbuat apa-apa.
"Jauh Dek, sabar sedikit ya? Abang pasti pulang untuk kamu. Nanti kita naik gunung, karena kemarin batal"
"Adek pengen, saat nanti Abang pulang. Waktu Abang hanya untuk Adek. Adek rindu sama Abang" kata Adel sambil berlinang air mata. Hati Ilyas berdesir. Adel sedang dalam fase merindu yang paling dalam. Hingga menangis dengan tetiba.
"Iya, Abang punya kamu saat nanti Abang pulang. Mau jalan-jalan kemana? Dibelikan apa sama Abang?" Ilyas mencoba menenangkan Adel.
"Terserah kemana pun, asal sama Abang. Gak dibelikan apa-apa juga gak papa. Yang penting Adel sama Abang"
"Ciee.... makin bucin saja kamu sama Abang. Sama Dek, yang sedang kamu rasakan saat ini, Abang pun merasakannya. Jangan sedih sayang, kalau kamu nangis hati Abang yang rasanya perih"
Adel menghapus air matanya dan tertawa mendengar ucapan Ilyas. "Gombal!"
"Beneran! Eh, kemarin Kak Maris sama Mas Damar acaranya lancar kan?" Adel mengangguk.
"Imam juga katanya sudah mulai persiapan berkas untuk nikah batalyon. Kamu banyak-banyak temenin Kak Aylin deh, biar ada gambaran nanti saat pengajuan"
"Iya, nanti Adel sekalian catat berkas-berkasnya"
"Pintarnya anak manis satu ini. Abang keliling dulu ya??"
Adel mengangguk. "Adel juga mau persiapan sholat isya'. Jaga hati, jaga kesehatan, ibadahnya dikencengin ya Abang"
"Iya sayang, love you"
"Love you too Abang, Assalamualaikum"
"Waalaikum salam warahmatullah"
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip
Nih pengobat rindunya. Aylin Imam otw halal. Babang Ilyas pulang