Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 119


__ADS_3

Tiga tahun berlalu. Banyak yang berubah seiringin berlalunya waktu. Suka dan duka silih berganti menyambut rumah tangga A squad. Prinsip mereka semua sama. Dan hanya satu. Jika sudah menjadi pilihanmu, maka bertahanlah apapun kondisinya.


Mereka memegang teguh prinsip mereka. Namanya juga dua kepala yang dijadikan satu. Pasti banyak bentrokan jika saling berebut ego masing-masing. Cara terbaiknya adalah. Saling berhadapan atau bersampingan. Meminimalkan benturan. Agar tercipta keharmonisan dan kasih sayang.


Anak Aylin adalah lelaki, bernama Kafka Bachtiar Wicaksana, sekarang umurnya kurang lebih satu setengah tahun. Syafiq berumur 3 tahun dan akan segera memiliki adik kembar. Maris dan Damar masih menunggu kepercayaan dari Allah. Dan sekarang, Adel sedang hamil 5 bulan. Ilyas sedang satgas di Palestina.


Khawatir tentu setiap hari menghampirinya. Tapi, ia percaya dengan janji prajuritnya. Dia akan pulang, entah itu kapan. Tapi, janji itu pasti adanya. Adel hanya akan mengikuti kata hatinya. Tidak ingin memikirkan sesuatu di luar perkiraannya. Karena ia tahu, pasti dirinya tak akan sanggup mengatasinya.


"Abang, sudah makan kah?" tanya Adel saat melakukan panggilan video.


"Sudah, Adek sudah makan belum?" Adel mengangguk. Syafiq yang sedang dititipkan di Magelang karena Humai mengalami hiperemesis gravidarum, masuk ke kamar tantenya.


"Bunda lagi apa?" Panggil Syafiq pada Adel. Itulah panggilan kesayangan Syafiq padanya. "Lagi telepon sama Ayah Ilyas. Kamu ngapain gak bobok??"


Syafiq menyengir. Dia berlari dan ikut duduk di ranjang Adel. "Assalamualaikum anak Ayah. Kok belum bobok nak?"


"Belum ngantuk Yah. Mau nemenin bunda dulu!" kata Syafiq.


"Hafalan surat pendeknya sampai mana nak?" tanya Ilyas.


"Sampai Iqra', susah!" kata Syafiq polos. Adel berdecak. "Kan bunda sudab bilang, jangan bilang susah. Bilangnya, Syafiq bisa hapal! Begitu!" kata Adel.


Syafiq mengangguk sambil mengorek hidungnya. Membuat Ilyas tertawa geli. Ilyas menanyai Syafiq, tapi dia masih fokus dengan yang ada di dalam hidungnya. "Jorok banget sih kamu nak" ucap Adel.


"Ck, bukan jorok Bunda, ini kalau gak diambil gak enak. Nah dapat!" Syafiq mengeluarkan upil dari hidungnya. Membuat Ilyas tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Adel bergidik ngeri campur jijik.


"Ayah, besok Syafiq mau jalan-jalan ke tempat Bapak dan Ibu lhoh! Jangan kangen sama Syafiq ya Yah!" Bapak dan Ibu adalah panggilan kesayangan Syafiq untuk Aylin dan Imam.


"Diiiiihhhhh pedenya selangit ini bocah! Persis kayak Archee!" bantah Adel.


"Ck! Abi Archee Bunda..... Gak sopan panggil yang tua begitu" Syafiq malah menasehati Adel. Ilyas semakin terpingkal-pingkal dengan tingkah keponakannya.


"Sudah lah Dek, kamu mengalah saja! Kamu akan kalah kalau debat sama dia. Banyak pasal-pasal yang dikeluarkannya nanti"


"Iya Bang. Ayo Bunda antarkan tidur di kamar Abi. Sudah malam Fiq! Besok kalau kamu telat dijemput Bapak, Bapak marah-marah Bunda gak tanggung jawab lhoh!"


"Iya deh iya, Syafiq bobok. Ayah, bobok ya Yah! Jangan lupa cuci tangan, cuci kaki, cuci muka, gosok gigi, dan baca do'a ya Yah! Assalamualaikum"


"Waalaikum salam. Kamu juga bobom ya Bun, Ayah sayang semuanya. Love you sayang"


Adel tersenyum dan mengangguk. "Love you too Ayah"

__ADS_1


Panggilan pun berakhir. Adel menemani Syafiq untuk tidur. "Bunda, Ayah pulangnya kapan sih?"


"Hmmm..... Bunda juga gak tahu Fiq. Do'akan saja, nanti kalau dedek dalam perut Bunda mau lahir, Ayah pulang"


Syafiq mengangguk. Memejamkan matanya. Lalu tertidur dengan sendirinya. Mamah Laras masuk ke kamar. Melihat cucu pertamanya sudah tidur.


"Besok kamu pulang ke rumahmu?" tanya Mamah Laras. Adel mengangguk.


"Mending disini saja selama Ilyas tugas"


"Nanti rumah Adel ditunggu yang lain gimana Mah? Adel bisa kok ngurus diri Adel Mah. Besok kan Kak Aylin kesini sama Mas Imam. Mereka mau ngajak Syafiq ke Sleman. Mumpung Mas Imam libur katanya"


Mamah Laras mengangguk. "Kasihan lihat Syafiq kesana sini. Tapi mau bagaimana lagi? Uminya belum bisa bawa dirinya sendiri. Kasihan Mamah sama mereka" Mamah Laras membelai rambut cucunya dan mencium keningnya.


.


Pagi hari, Aylin, Kafka, dan Imam sudah berada di rumah Papah Duta. Syafiq bermain bersama Kafka ditemani Imam. Seperti biasa, Syafiq tidak rela jika berbagi mainan dengan adik sepupunya itu.


"Et et et, jangan berebut. Ayo berbagi, karena kita adalah....." kata Imam.


Syafiq memanyunkan bibirnya kesal. "Keluarga" katanya lesu. Imam gemas dengan tingkah lucu keponakannya. "Bapak, main ke rumah Mbah Uti Ais yuk..... Syafiq kangen"


"Mas Fian, Syafiq balik dulu ya? Besok main lagi" katanya senang berpamitan dengan anak Maryam.


"Yoh! Oke! Bawa tembak-tembakan ya Fiq!" Syafiq mengangguk menyetujui ide Arfian. Syafiq pulang bersama Imam dan Kafka. Mereka tidur di mobil. Aylin dan Imam langsung ke pulang ke Sleman.


Mak Siwi senang sekali dengan para anak-anak itu. Karena rumahnya menjadi ramai. Percayalah, Imam menjadi kawan yang baik untuk mengerjai Mak Siwi.


"Fiq, Ibu sama Budhe Yul bikin apa di dapur??"


"Makanan Pak, ndak tahu apa"


"Coba ambilkan Bapak, bawa kesini. Kita buat permainan yuk!" Syafiq dan Kafka mengangguk saja dengan ide Imam. Entah apa itu.


"Ibu, Bapak minta makanannya"


"Oke" Aylin mengambilkan pisang goreng yang dipotong kecil itu. "Hati-hati panas" Syafiq berjalan dengan sangat pelan dan tiba di hadapan Imam.


Imam tersenyum melihat makanan itu. "Kalian tunggu sini, Bapak mau beli susu coklat dulu"


Tak lama Imam kembali. Dia langsung menuangkan susu coklat itu di atas permukaan pisang goreng itu sampai semuanya terlapisi menjadi coklat. Lalu dia mencari keberadaan Mak Siwi.

__ADS_1


Ternyata Mak Siwi sedang berada di teras. "Mak! Imam dapat tantangan makan ta*i goreng nih! Mumpung kucingnya Syifa barusan ik ok, Mak tolong rekamin ya??"


"Ha?? Tantangan edan! Ojo! Hiiiii..... mosok kotoran mbok makan?" tanya Mak Siwi bingung. Imam tak menjawabnya. Memberikan ponselnya pada Mak Siwi. Imam memanggil Syafiq. "Siap! Satu, dua, tiga, action! Pencet tombol merah Mak"


Mak Siwi hanya menuruti perkataan Imam. Imam mulai berbicara sedikit dan selanjutnya memakan pisang goreng itu. Syafiq juga ikut memakannya. Mak Siwi melotot dan langsung membuang ponsel Imam.


Berlari ke kamar mandi dan muntah disana. Aylin dan Mbak Yul sampai saling pandang. "Mak kenapa Mak??" tanya Aylin.


"Bojomu edan! kotoran kucing dimakannya! Hoeeeekkkk"


"Ha? Kotoran kucing?? Itu bukan kotoran kucing Mak, itu pisang goreng"


Mak Siwi membuka pintu kamar mandi dengan cepat. "Warnanya kenapa coklat??"


"Mana Aylin tahu, tapi kayaknya Emak dikerjain Mas Imam deh"


Mak Siwi mengepalkan tangannya. Lalu melihat kucing Syifa yang sudah pup. Mak Siwi menyeringai kejam. Lalu membawa wadah kotoran itu dan secara tiba-tiba menumpahkannya di atas kepala Imam.


Aylin dan Yul tertawa mengikuti Mak Siwi dan tertawa melihat Imam yang jijik dengan yang ada di atas kepalanya.


"Makanya! Jangan jahil kamu sama Emak!" kata Mak Siwi. "Ay, bantuin!"


Aylin menggeleng. "Moh Mas, gilo aku..... hiiiii.... Eh, gedang gorengkuuuuuu"


Aylin berlari ke dapur lagi dan melihat pisang gorengnya yang sudah gosong.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


1 chapter lagi dan....... End

__ADS_1


__ADS_2