Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 74


__ADS_3

Para orang tua tiga krucil jahil pun datang menjemput anak-anak mereka. Melihat Damar yang menekuk wajahnya. Cemberut akibat ulah tiga krucil itu.


Sigit dan yang lain tertawa saat melihat wajah Damar. "Wajahmu kenapa Dam?" tanya Sigit berbasa basi.


"Wes ngerti malah takon. Goro-goro anak-anakmu wi lho.... sesuk piye aku? Mesti intuk hukuman. Sesuk sidang BP4R lho..... (Sudah tahu malah tanya. Gara-gara anak-anakmu itu lho.... besok gimana aku? Pasti dapat hukuman. Besok sidanh BP4R lho....)"


"Hahahaha, ya maklumin aja sih Dam. Mereka emang suka banget kalau suruh ngerjain kamu" terang Ali. Damar memanyunkan bibirnya.


"Wes to... ojo cemberut ngono. Mosok meh dadi manten kok nesunan? (Sudah lah.... jangan cemberut begitu. Masa mau jadi pengantin kok pemarah?)" timpal Danang.


Damar ingin menangis menanggapi trio somplak itu. "Ya Allah..... kenapa para krucil plek ketiplek sama orang tua mereka??" Semuanya tertawa mendengar ucapan Damar.


Luna memanggil Aariz. "Riz, kenapa wajah Om Damar ditempelin stiker banyak-banyak?"


"Bial tambah caem budhe, kalau polosan, Om Damal kayak hantu, telalu putih" jawab Aaris lugu. Membuat semuanya kembali menggelar tawa.


"Kalau gede bakalan tak jitak kamu Riz.... hish...... kesel Oom sama kalian.... selalu kena kerjain dan kena jahilnya kalian"


Maris datang dengan membawa sabun cair. "Coba dipakein ini Mas"


"Ini lagi satu, bukannya dicegah para ponakannya nempelin beginian, malah ketawa lepas!"


Hana berdecak. "Itu pembalasan buat kamu karena kemarin ninggalin mbak Maris karena berkatan!"


"Sesuk aku piye? Hua..... kudu nangis aku lah (Besok aku gimana? Hua..... pengen nangis aku lah)"


Semuanya tertawa. "Coba dulu cuci muka sama sabun Mas. Biar lem perekatnya pada luntur dulu" terang Maris. Muti mencari cara untuk membantu Damar.


"Coba cuci muka dulu Dam, habis itu bersihkan pakai baby oil" kata Muti. Damar beranjak dan segera mencuci wajahnya pakai sabun. Maris membantunya menggosoknya sedikir keras.


"Sakit Yank!" katanya kesal. Maris menertawakannya. "Seneng lihat Mas dikerjain sama biang kerok itu"


"Sabar to Mas.... namanya juga anak-anak. Mau gimana lagi? Dunia mereka kan tahunya bermain. Termasuk kita ini objek permainan bagi mereka" tutur Maris.


"Piye?"

__ADS_1


"Rada ilang sih. Tapi belum semuanya. Nanti aku bantuin lagi pakai baby oil"


Eyang Tari menyuruh semuanya masuk untuk sholat maghrib berjamaah dilanjutkan dengan makan malam bersama. Tiga krucil ikut-ikutab sholat berjamaah. Baim kembali membuat ulah.


Ia masuk ke dalam sarung Papahnya. Baim bermain ciluk ba dengan Zia. Yang mengakibatkan sarung Danang tertarik ke bawah dan mlorot. Membuat semua makmum perempuan tak kuasa menahan tawanya. Hingga Hana dan Muti jatuh terpingkal-pingkal karena ulah Baim.


Akhirnya, Luna membawa dua bocil itu menjauh dari semuanya yang sedang sholat. Ia memilih sholat terakhir. Selesai sholat Damar tertawa. "Kena juga kamu Bang! Bapaknya sendiri aja dijahilin, apalagi gua?? Hadeh..... dulu kalian tuh ngidamnya apa sih? Sampai lahir generasi penerus bangsa yang Masyaallah jahilnya?"


"Ngidam pengen mencet hidungnya mister bean kae lho Dam" jawab Ali.


"Ya Allah..... untung aku pakai celana pendek" kata Danang setelah tertinggal 1 rakaat. "Kalau gak, bakalan malu aku sama makmum perempuan!"


"Itulah anak-anak kalian. Kamu itu belum seberapa Nang, Ayah aja pernah dikerjain sama Aariz. Pantat Ayah dikasih tempelan gambar barongan!" sahut Eyang Tristan. Semuanya tertawa dan menuju meja makan.


Semuanya makan dengan tenang. Zia dan Aariz makan sendiri. Baim disuapkan oleh Luna. Maris bergabung dengan dua anak kecil itu.


"Suka gak sama sayurnya?" tanya Maris. Zia dan Aariz menggeleng. "Ini nih kepaksa Onty. Kalena kalo kami ndak maem sayul, itu mata Mamah Ia bisa copot kalena melotot"


Amaris tertawa mendengarnya. "Sayur bagus lho buat tubuh"


"Ck, Onty nih gak peka. Coba kalo Onty gak cinta sama Om Damal? Pasti Onty gak mau kan ketemu sama dia? Makan sayul itu bagaikan jatuh cinta Onty. Kalau gak sleg ya gak sleg" balas Zia. Amaris semakin tertawa mendengarnya.


"Gak sleg gak sleg, gak sreg!" Balas Damar.


"Ya itulah namanya"


"Kalian ini, kecil-kecil udah pinter banget ngomongin cinta. Emang cinta apaan?" tanya Damar.


"Cinta itu saling belbagi" terang Zia. Amaris bertepuk tangan atas ucapan Zia. "Anak sholehah, pinter lagi!" puji nya.


"Onty, kenapa mau sama Om Damal? Gantengan juga Aaliz kemana-mana" kata Aariz merayu Maris.


"Allahu akbar.... calon bojoku digodain sama anak ingusan! Bang Ali..... iki anakmu piye??"


"Hahahah, Onty jawab Onty, kenapa mau sama Om Damar?" sahut Ali.

__ADS_1


"Mmm,,,...... kenapa ya? Karena Om Damar, bisa jadi Imam yang baik untuk Onty"


"Aaliz juga bisa. Ya kan Ia ya?" Aariz meminta pendapat Zia. Zia menggeleng.


"Baca patihah aja lupa kok" kata Zia membuat semuanya kembali tertawa. "Tuh! Zia emang berpihak sama Om Damar! Ponakan cantikkkk"


"Gak gelatis om, bayal!"


"Ya Allah gusti..... sumpah! Cetakan kalian plek ketiplek sama kalian! Ini tukang palak kayak Bang Si, yang ini pedenya selangit kayak Bang Al, yang onoh paling bisa dikomporin"


"Ya kalau gak sama gua masa sama kayak lu sih Dam?? Heran deh gua! Eh, tes dulu dong ijab qobulnya" kata Sigit.


"Wes nglothok dong!" jawab Damar. "Tenane? Jajal sek! Ayo! Anggep aku pak Duta" kata Sigit.


"Bismillahirrahmanirrahim, Damar Assegaf, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, dengan putri saya yang bernama Amaris binti Duta dengan mas kawin bla bla bla dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Amaris Ayu Wicaksana binti Duta Wicaksana dengan mas kawin seperangkat alat sholat, sebuah mobil, dan emas batangan 10 gram dibayar tunai"


"Sah!" Damar senang bukan main. "Ayo yank pulang, sudah sah kok" katanya. Membuatnya disorak sorai oleh semuanya. "Pengenmu Dam!"


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


segini dulu ya, othor capek. pasien ruamai pakai buanget.... 😥😥. Gak boleh ngeluh ya? 😌😌😌

__ADS_1


__ADS_2