Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 54


__ADS_3

"Gak lah! Orang kamunya maksa dengan cara begitu kok! Malu tahu!"


"Ih, kok gitu sih? Kan tadi bilangnya udah dimaafin!"


Aylin menjulurkan lidahnya. Lalu pergi meninggalkan Imam. "Ih, Ay" Imam mengejar Aylin.


"Apa???"


"Tolong maafin Mas dong, Mas bakalan jujur tentang semuanya sama kamu. Please, maafin Mas dulu"


Aylin menghela nafas. "Sebenarnya tuh aku masih jengkel lho mas sama kamu, kamu tuh keterlaluan. Ngetes-ngetes kayak begitu. Mbok kira kakiku gak pegel apa?"


"Iya mas tahu mas salah. Mas minta maaf, gak lagi-lagi nguji kamu begitu"


"Hilih, itu kalau tadi gak ketahuan apa kamu bakal mau ngaku?"


Imam menyengir. Menggelengkan kepala. "Tuh kan!"


Aylin semakin kesal dengan Imam. "Ya maksudnya, jujurnya nanti setelah nikah.... heheheh"


"Gak tahu deh mas, aku masih mau nikah sama kamu atau gak!"


Imam mendelikkan matanya mendengar ucapan Aylin. Ia memasang wajah melasnya. "Ojo ngunu to Ay, Mas wes kadung tresno lho karo awakmu (Jangan begitu to Ay, Mas sudah terlanjur cinta lho sama dirimu)"


"Ya kamu nyebelin sih Mas, udah ah, aku mau pulang dulu"


Imam memanyunkan bibirnya. Aylin masuk ke mobilnya. Melajukan mobilnya. Ia mengklakson Imam. "Ayo tak anterin ke anak buahmu lagi"


Imam tersenyum. Segera masuk ke dalam mobil. Aylin melajukan mobil meninggalkan puskesmas. "Kenapa mau nganterin Mas?"


"Gak tega! Emang kamu? Tega ngerjain anak orang?"


"Ck, bukan ngerjain sayang....."


"Heh heh heh, sayang sayang! Belum resmi! Gak boleh panggil begitu!"


"Salah lagi, salah terus.... Au ah gelap!" Aylin menahan tawanya. "Makanya jangan iseng ngerjain anak orang!"


"Mas bukan iseng Ay, Mas cuma ingin tahu tentang kamu"


"Ya kan bisa tanya langsung ke aku"


"Gini deh, kalau mas cerita bla bla bla apa kamu bakalan percaya kalau belum ada bukti? Mas juga sama sepertimu, mencari yang terbaik, satu untuk terakhir dan selamanya" jelas Imam. Aylin menghela nafasnya. Mereka telah sampai dekat rombongan binsik itu.


Imam melepas seatbeltnya. Aylin menyodorkan tangannya membuat Imam bingung. Imam menyambut tangan Aylin. "Ay maafin Mas, awas aja bohong lagi. Aylin pulang dulu. Nanti malam jemput di Klinik Kartika karena aku libur di Klinik Bersama, suruh gantikan teman"


"Klinik Kartika milik kami maksudnya?" Aylin mengangguk.


"Okeh, siap nyonya!" Imam tersenyum senang. Akhirnya ia mendapat maaf dari Aylin. Aylin menyalami Imam. Membuatnya semakin bahagia.

__ADS_1


"Ini tangan Mas gak bakalan tak cuci seminggu"


"Ih jorok!"


"Hahaha, biarin! Ya sudah, mas turun ya? Hati-hati pulangnya sayang"


"Hih! Jangan panggil begitu!" Aylin memelototi Imam. Imam malah tertawa. "Resmi belum resmi, tetep sayang pokoknya. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Imam turun dari mobil. Aylin melajukan mobilnya kembali. Ia menghampiri Ilyas. "Wes? Wes bar drama koreane? (Sudah? Sudah selesai drama koreanya?)"


"Hahahah, sudah dong, gak sia-sia bikin dia malu" Junior mulai melintasi mereka. "Semangat! Sambil nyanyi Garuda Pancasila!"


Mereka mulai melaksanakan ucapan Imam. "Yok lah lanjut"


Binsik pun selesai. Imam kembali ke asramanya. Melihat jam di dinding itu. "Weh, bentar lagi mau jam 4 nih, yes! Bentar lagi ketemu Ay Ay lagi..... hihihihi. Mandi dulu ah.... biar wangi.... nongkrong di dekat klinik" kata Ilyas dengan mata berbinar-binar.


Seseorang mengetuk pintu asramanya. Imam membukanya. "Lu lagi, ngapain sih?" Ilyas menyodorkan surat tugas pada Imam.


"Latihan tembak sebentar" kata Ilyas singkat. Imam menggaruk kepalanya. "Gagal maning gagal maning son....."


Ilyas masuk dan merebahkan dirinya. "Buruan siap-siap! Gua tunggu"


"Iyo-iyo, suwe-suwe awakmu ki luwih gak sabaran daripada Emak Yas. Heran aku"


Latihan berlangsung sekitar sembilan puluh menit. Setelah selesai, Imam mengajak Ilyas melintas di depan klinik. "Ngapain sih?" tanya Ilyas bingung.


"Aylin jaga di klinik. Pengen lihat bentar" Ilyas menghela nafasnya. "Kencan lagi" katanya pasrah.


Saat mereka melintas, mereka melihat klinik ramai sekali. "Tumben banget klinik ramai? Biasanya juga cuma satu dua orang" ujar Ilyas yang melihat kerumunan pasien di depan klinik.


Imam turun dari motor dan mengenali semua yang ada disana. "Anggotamu, anggotaku, anggota Bang Bahar. Wah, ono sing ora beres iki" katanya. Ia mendekati kerumunan itu dan bertanya pada salah satu anggotanya.


"Ngapain pada disini?" tanya Ilyas.


"Siap! Ijin Danki, mau periksa"


"Sakit apa?" tanya Imam lebih detail. "Siap! Sebenarnya tidak sakit Danki, hanya ingin melihat dokter cantik"


Imam menghela nafasnya dan memelototi anggota Ilyas. "Yang disini tidak sakit! Cepat kembali ke barak kalian sebelum saya memberi binsik bagi kalian!"


"Siap!" Mereka membubarkan diri masing-masing. Asisten Aylin memanggil pasien berikutnya. Tapi keadaan menjadi sepi.


"Lhah kok ilang pasiennya?"


"Mereka bukan sakit! Mereka hanya pura-pura sakit!" jelas Imam. Aylin mendengar suara Imam. "Ngapain disini mas?"


"Tutup aja kliniknya! Meresahkan!!"

__ADS_1


"Ha?" Aylin dan perawat itu bingung dengan maksud Imam. "Yang benar aja dong Mas? Menyalahi aturan dong kalau kami tutup sekarang!"


"Ya habisnya mereka cuma pengen lihat kamu doang, bukan sakit beneran!"


"Ooo.... Danki Imam cemburu ya? Dokter Ay Ay apanya Danki Imam?" tanya perawat itu.


"Calon suaminya dong!" Kata Imam bangga. Aylin hanya geleng kepala melihat tingkah Imam yang kekanak-kanakan.


"Kak, kami balik dulu ya? Belum mandi juga. Assalamualaikum" Ilyas menarik Imam dan menjauh dari klinik. "Gebetanmu jadi primadona! Hahaha! Balik lah"


Imam membonceng Ilyas dengan kesal. Setelah Imam dan Ilyas pergi, para anggota TNI itu kembali ke klinik lagi.


Jam praktek Aylin telah usai. Imam sudah menunggunya di dalam mobil. Ia melihat Aylin yang celingukan mencari keberadaannya. Menurunkan kaca mobil.


"Ayo masuk"


Aylin tersenyum dan segera masuk ke mobilnya. Ia melihat mobil yang bisa dibilang bagus. "Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Aylin meraih tangan Imam dan menciumnya. "Kenapa cemberut?" tanya Aylin.


"Besok lagi kalau ditawari jaga klinik sini jangan mau, Mas gak mau ya mereka pada curi kesempatan lihat kamu" jelas Imam. Aylin malah tertawa lepas mendengarnya.


"Dasar bucin!"


"Mereka bukan pada sakit, tapi pura-pura sakit! Heran aku! Kenapa mereka lebih cardas nyari alasan biar bisa ketemu kamu sih?"


"Hahahah. Udah ah, jangan cemberut mulu. Ini.... mobil siapa?" tanya Aylin.


"Mas kan sudah janji sama kamu, Mas gak bakalan bohong lagi. Ini mobil Mas. Nanti mas ceritakan semuanya tentang keluarga mas"


Aylin mengangguk. "Makan dulu ya?" Tanya Imam. "Terserah kamu aja lah mas"


"Oukey"


"Hahahah, alaynya jawabanmu" Mereka meninggalkan klinik menuju tujuan mereka.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2