Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 39


__ADS_3

Adel membersihkan dirinya. Mandi dan berganti pakaian. Begitu pula yang dilakukan Ilyas. Selesai itu Ilyas merebahkan dirinya di atas ranjang sambil memegang ponsel dengan posisi tengkurap. Kepalanya beralaskan boneka Adel.


Ia mengirim chat pada Adel.


Me : Sudah bobok?


Adel Sayang : Belum


Me : Vidcall an yuk?


Adel Sayang : Ayok! ☺☺


Ia menghubungi kontak Adel. Menjauhkannya dari wajahnya. Tersambung dan diangkat Adel.


"Abang di usir sama Imam" adunya pada Adel. Adel hanya tertawa mendengarnya. "Itulah yang bang Imam rasakan kalau lihat kita berduaan Abang"


Ilyas tersenyum. "Dek, Abang ngantuk" katanya.


"Ya udah bobok" jawab Adel.


"Tapi Abang masih pengen lihat kamu, bawaannya kurang mulu waktu kita buat ketemu. Pengen nambah mulu" terang Ilyas membuat Adel tertawa.


"Ya kan bisa vidcall an"


"Beda sayang, kalau ketemu tuh hawanya ademmmm lihat wajah kamu" goda Ilyas menghasilkan senyum merekah nan dihiasi wajah merona Adel.


Mereka saling diam. Saling tersenyum. Lalu tertawa. "I love you bos lele cantik"


"I love you too Abang loreng" Mereka kembali tertawa. "Kita nih lagi ngapain sih? Gak jelas deh" tanya Adel.


"Lagi menikmati kebucinan yang tak berujung. Dek, bahas anak yuk?"


Adel terkejut. "Ha?"


"Rencanain dari sekarang" kata Ilyas tiba-tiba semangat. Adel hanya tertawa menanggapinya.


"Mau anak berapa dek?" Adel berpikir. "Berapa ya? 2 cukup lah bang"


Ilyas menggeleng. "4 ya?"


"Ih, kebanyakan sayang!" kata Adel. Ilyas menahan tawanya. "Apa tadi? Bilang apa? Ih, kebanyakan...."


Adel tersenyum malu. Jarang sekali bahkan hanya beberapa kali, Adel memanggil Ilyas dengan sebutan sayang. "Jawab ih" paksa Ilyas.


"Sayang" mereka sama-sama tertawa bahagia. "Senangnya hati Abang dapat panggilan itu. S A YA N G, bacanya apa dek?" tanya Ilyas memancing Adel agar mengucapkan kata itu lagi.

__ADS_1


"Abang" kata Adel sambil tertawa. "Ih, ketahuan, pas pelajaran ngeja tidur.... ya kan?"


Mereka kembali terdiam lagi. "Dek, beneran mau nikah sama Abang setelah kak Maris dan Mas Damar kan?" Ilyas memastikan lagi, takut jika Adel berubah pikiran. Adel mengangguk.


"Alhamdulillah Ya Allah.... Anak-anak Abang apa kabarnya?" tanya Ilyas mencoba mencari topik pembicaraan.


"Mereka nanyain bapaknya! Kemana nih Bapak gak balik-balik? Kami rindu! Gitu katanya"


Ilyas tertawa ngakak karena ucapan Adel. "Yang kangen Bundanya, bukan anak-anaknya. Ya kan?" Adel mengangguk malu.


"Sabar, tinggal seminggu doang terus dapat IB. Mau ke Demak beneran? Gak pengen jalan berdua aja? Katanya kangen?"


Adel berpikir. "Abang maunya kemana?"


"Abang pengen naik gunung Merbabu. Mau cobain gak? Nanti kita berangkatnya sabtu sore, malam kita nginap disana, minggu turun" jelas Ilyas. Adel berpikir kembali.


"Adel gak punya peralatan muncak"


"Nanti Abang belikan. Mau apa gak? Jawab dulu dong" Adel mengangguk. "Iya mau"


"Nanti kita naik bareng sama grup lain"


Adel mengangguk. "Boneka Abang mana?" tanya Ilyas. Adel mengambilnya dan menaruhnya di dekat kepalanya. "Nah, gitu dong, jangan jauh-jauh" kata Ilyas lagi.


"Tentara bucin!" jawab Adel.


Adel tertawa. "Iya Abang cakep. Bang, pengajuan gimana?" Ilyas membuka matanya lagi.


"Tenang dek, kita lalui berdua. Sama-sama berjuang"


"Susah apa gak?"


"Lebih susah lagi jika terus dihindari. Berusaha, berdoa belajar jalani. Nanti juga selesai sendiri" Adel mengangguk.


"Dek, pengen mahar apa?" tanya Ilyas.


"Terserah Abang"


"Ck, jangan terserah dong sayang. Bilang, pengen apa?"


Adel berpikir. Ia ingin sesuatu tapi takut memberatkan Ilyas nantinya. "Sayang?" tanya Ilyas. Adel tersenyum. "Iya, terserah Abang saja mau ngasih mahar apa, Adel gak ingin memberatkan Abang"


"Abang tidak merasa diberatkan dek, buruan, pengen mahar apa? Emas? Mobil? Uang? Rumah?" Ilyas menawarkan beberapa pilihan bagi Adel.


"Seperangkat alat sholat cukup bang"

__ADS_1


"Ck, dek, kamu itu dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tuamu dengan biaya yang sangat banyak pastinya. Kalau cuma seperangkat alat sholat, kamu pasti bisa beli sendiri. Abang pengen, mahar itu menjadi saksi dan bukti cinta Abang ke kamu"


Adel menghela nafasnya. "Mmmm,... kalau Adel pengen rumah?"


Ilyas mengangguk. "Insyaallah Abang penuhi permintaanmu"


"Bang, Adel pengennya rumah yang sederhana, tapi menghangatkan bagi keluarga kita nantinya, rumah yang sederhana tapi penuh canda dan tawa, rumah yang sederhana tapi mampu meredam kesedihan agar tak ada yang tahu tentang kesedihan kita. Sanggupkah Abang memberikannya sama Adel?"


Ilyas mengangguk mantap. "Rumah yang kamu inginkan adalah rumah yang dipenuhi cinta kita berdua. Berbagi suka dan duka bersama-sama. Insyaallah Abang sanggup memberikannya padamu"


"Alhamdulillah, bang, berjanjilah pada Adel, jika nanti Abang tugas dan harus meninggalkan Adel, berjanjilah, berjanjilah untuk pulang pada hati yang sama"


Ilyas tersenyum dan mengangguk. "Cuma kamu yang mampu menggetarkan hati Abang. Sejak kamu berjalan ke arah Abang dan menabrak Abang hingga jatuh. Cuma kamu orangnya"


Adel tersenyum. "Bener?" Ilyas mengangguk.


"Yakin?" Ilyas mengangguk lagi.


Ilyas sudah sangat mengantuk, tapi dia tak rela jika harus mengakhiri panggilan video itu. "Besok bisa gak ke asrama?" tanya Ilyas dengan mata terpejam.


"Ngapain?"


"Main lah" jawab Ilyas. Adel menggeleng. "Jangan di asrama lah bang, gak enak sama yang lain"


Ilyas diam. "Hmmm, ya sudah lah, tahan-tahan rindu ini. Ya sudah, sudah malam, bobok gih" kata Ilyas.


Adel mengangguk. "Selamat malam sayang" Ilyas tersenyum senang. "Malam juga sayangku"


"Assalamualaikum" Ilyas mengakhiri obrolan itu.


"Waalaikum salam" jawab Adel sambil mengembangkan senyumnya.


Panggilan berakhir. Adel menaruh ponselnya di nakas. Memeluk boneka Ilyas dan menghujaninya dengan ciuman di wajah boneka itu. "Belum bisa cium orangnya. Jadi, cium bonekanya aja.... Adel selalu kangen sama kamu sayang" cup cup cup cup cup


Adel tersenyum dan tertawa melihat tingkahnya sendiri. "Aneh kamu Del" katanya pada dirinya sendiri sambil geleng kepala. Ia melepas hijabnya dan mulai membaca do'a. Memejamkan matanya. Dan masuk ke alam mimpi.


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2