
Archee selesai rapat dan baru menyerahkan laporan anggaran milik kecamatan yang dipimpinnya. Itu karena kelalaiannya semalam. Sehingga ia menjadi bulan-bulanan sekretaris daerah.
"Mikir opo toh Chee, ngasi salah olehmu tanda tangan. Hahaha, Gil Agil kowe dikerjani karo bosmu! ( Mikir apa toh Chee, sampai salah kamu menandatanginya. Hahaha, Gil Agil kamu dikerjain sama bosmu!)"
Archee menyengir. "Lha pripun pakdhe, lha wong mpun ndalu kok, mpun ngantuk dados e nggih salah hehehe (Lha gimana pakdhe, sudah malam kok, sudah ngantuk jadinya ya salah hehehe)" jawab Archee dalam bahasa jawa yang lebih halus. Agil hanya memaksakan senyumnya.
"Ya sudah, ini sudah tak terima, wes mulih kono (Ya sudah, ini sudah tak terima, sudah pulang sana)"
"Matur sembah nuwun nggih pakdhe (Terima kasih banyak ya pakdhe)" Pak SetDa mengangguk. Archee pamit beserta Agil. Saat akan keluar kantor, Agil disuruh Archee memastikan keberadaan Zoya.
"Aman pak" kata Agil. Mereka mengendap-endap dan memperhatikan sekitar takut jika Zoya masih mengintainya. "Ehm" suara daheman itu membuat langkah Archee dan Agil terhenti. Degup jantung mereka berpacu dengan cepat. Tangan Archee menjadi dingin. Seperti pencuri yang ketahuan oleh polisi. Begitulah gambaran Archee saat ini.
"Gil, siapa Gil?" Archee menyuruh Agil memastikan siapa yang berdahem. Agil menoleh dan menyengir. "Lari!" Agil meninggalkan Archee dalam keadaan tak siap dan terkejut. Membuatnya jatuh. Zoya menolongnya.
"Tuh kan jatuh! Pada ngapain sih ha? Memang saya setan yang bikin kalian takut??"
Archee bangkit dan menjawabnya. "Iya" Zoya melotot mendengarnya. "Maksudnya.... iya gak jadi hantu juga bu Zoya. Ada apa sih? Saya masih ada urusan lho"
"Gak papa pak, cuma kangen pengen ketemu saja" Archee memaksakam tawanya dan berbalik memunggungi Zoya. Ia berpura-pura muntah.
"Maaf ya bu Zoya, saya ini sudah punya tunangan lho" Archee berbohong agar Zoya menjauh darinya.
"Bohong! Mana buktinya?"
"Oh, minta bukti, ada.... sek yo?" Archee mengeluarkan ponselnya. Ia menunjukkan foto Humaira pada Zoya. "Tolong hargai kekasih hati saya ya bu, jadi jangan ngejar-ngejar saya terus" tegas Archee yang jengah dengan sikap Zoya.
Zoya mendongakkan kepalanya lebih tinggi. "Saya ngejar-ngejar kamu? Idih! Yang cakep dari situ lebih banyak keles! Bye! Saya mau pulang!" Zoya berjalan dengan sombongnya, hingga tak tahu di depannya ada anak tangga dan membuatnya jatuh. Archee menahan tawanya.
Ia menghela nafasnya. "Kenapa gak dari dulu saja aku tunjukkan foto Humai pada Zoya biar gak gatel kayak ulet bulu?"
Archee tersenyum melihat foto Humai. "Makasih ya Mai, maaf melibatkanmu dalam kebohongan" Archee menyimpan kembali ponselnya dan berjalan menuju mobilnya. Ia kesal dengan Agil.
"Pak" panggil Agil. Archee memelototinya. "Hop! Gak usah ada yang dijelaskan. Ayo mulih!"
Agil yang hendak mengungkapkan sesuatu menjadi terhenti karena Archee marah padanya. Mereka pulang kembali ke kantor kecamatan. Dalam perjalanan Archee lebih banyak diam dan bermain ponsel.
Ada chat masuk dari Hilal. Ia segera membukanya dan membacanya.
Hilal : Chee, Beneran Demak ada pengadaan BLUD?
__ADS_1
Me : iya memang ada, kemarin surat resminya baru keluar. Kenapa? Kamu mau ikut daftar? Ada tuh di RSUD 1 dokter umum, 1 dokter gigi, dan 1 bidan
Hilal : 😁 bukan aku
Archee : Terus? Siapa dong?
Hilal : Ayo tebak siapa ayo??
Archee : Siapa? Habib? Bukannya dia udah BLUD di Ungaran?
Hilal : Bukan Habib juga. Perempuan dokter gigi. Ada yang naksir dia sih sedari dia masih kuliah. Namanya camat Archee
Deg. Wajah Archee langsung sumringah. Ia tahu siapa yang dimaksud Hilal. Adiknya Hilal, Humaira.
Hilal : Ada yang lagi bermekaran tapi bukan mawar. Ada yang sedang merekah tapi bukan melati
Archee : 🤣🤣🤣 belajar puitis dari siapa? Apaan sih?? Dah lah, adikmu sudah bahagia dengan pilihannya.
Hilal : Lhaaaahhhh.... dia patah semangat. Kejar dong! Belum ada ikatan halal dalam hubungan mereka
Archee : Tapi aku tidak mau menjadi perusak hubungan orang Lal
Archee : Iya kalau dia sendirian, kalau sama pacarnya? Kan aku yang sedih.... ku menangiss..... 😭😭😭😭
Hilal : 🤣🤣🤣🤣 Ya sudah, pokoknya Ayah titip dia ke kamu. Jagain sampai jannah ya Chee
Archee : 🤔🤔 maksudnya gimana nih?
Hilal tak menjawab lagi chat itu. Archee tersenyum sendiri melihat chat itu. Mungkinkah ini jawaban dari Allah? Ah, sudahlah, aku tidak mau terlalu berharap. Toh sampai sekarang dia masih sama pacarnya.
Archee telah sampai di kantornya. Melakukan pekerjaan seperti biasanya. Ia masih terngiang akan chat nya dengan Hilal. Ia membuka kembali ponselnya dan membacanya lagi. "Ini maksudnya ngejagain sampai jannah apa sih?"
Ia tersenyum. Sebuah chat masuk lagi ke ponselnya. Dari Humai. Wajahnya menjadi merona merah, tangannya gemetaran. Hatinya bergetar. Senyum mengembang sempurna di wajahnya.
Humai : Assalamualaikum bang, ada waktu gak?
Me : Waalaikum salam, kenapa Mai? Abang ada waktu kok, lagi gak sibuk
Humai tiba-tiba melakukan panggilan video. Membuat Archee semakin gugup. Ia mencoba mengatur emosinya dan mengangkat panghilan video itu.
__ADS_1
Disana wajah Humai terlihat marah. "Assalamualaikum" kata Humai. "Waalaikum salam, ada apa Mai?"
"Humai benci sama Abang! Karena Abang menjadi perusak hubungan orang! Sadar diri dong bang! Humai sukanya sama Mas Zidni! Jangan mentang-mentang Abang gak bisa dapatkan apa yang Abang mau, terus bisa seenaknya minta Humai sama Ayah dan Bunda!" Humai marah-marah tak jelas. Membuat Archee kebingungan.
"Apa sih? Abang gak ngerti?"
"Halah! Pokoknumya Humai benci sama Abang! Gara-gara Abang, lamaran Mas Zidni ditolak mentah-mentah oleh Ayah! Humai benci Abang! Humai benci!" Humai menangis. Ia mematikan panggilan video itu tanpa mengucap salam.
Archee terdiam. Mencerna semua kata-kata Humai. "Memang aku nglakuin apa sampai dibilang perusak hubungan orang? Astaghfirullah Mai.... Abang mengutarakannya saja belum, sudah kamu hancurkan lagi perasaan Abang"
Archee menghela nafasnya berat. Ia mengetik chat untuk Humai
Me : Abang minta maaf kalau punya salah sama kamu, Abang beneran gak tahu apapun Mai, nanti lah kalau Abang pulang ke.Magelang kita ketemu dan luruskan kesalahpahaman ini. Maaf jika Abang menggores luka hingga membuatmu menangis seperti itu. Maafkan Abang.
Pesan terkirim dan dibaca oleh Humai, tapi tak ada balasan. Archee memilih mematikan ponselnya. "Astahgfirullah..... cobaan apa lagi ini Mai? Bahkan sebelum rasa itu Abang ungkapkan, sudah kamu patahkan lagi. Lupain Chee.... Lupain..... Jangan bikin anak orang nangis Ataupun sedih. Ikhlaskan.... Huft.."
.
Sedang di Magelang sana, Humai bertengkar hebat dengan Ayahnya. "Sadar kamu Humai! Zidni bukan yang terbaik untuk kamu. Perlu Ayah bongkar kepada kamu siapa Zidni? Ayah ini menahan agar kamu tak terluka terlalu dalam setelah mengetahui kenyataannya nak..."
"Ayah pembohong! Ayah menolak mas Zidni karena Ayah dan Bunda menyuruh Mamah Laras dan Papah Duta bersama bang Archee datang melamar Humai minggu besok kan?" tutur Humai sambil berderai air mata. Bunda Ais menenangkannya.
"Yah, sudah. Ayah ngalah dulu. Biarkan Humai tenang dulu"
Humai berlari ke kamarnya. Menangis di dalam kamarnya dengan perasaan kecewa.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1