
Humai merasa dirinya sudah sempurna menjadi istri. Bisa memberikan mahkota berharganya hanya untuk sang suami. Bisa melayani suaminya bukan hanya kebutuhan lahirnya, tapi juga kebutuhan batinnya. Ia merasa bahagia akhirnya bisa merasakan ketulusan cinta seorang Archee.
Malam itu, selepas bercinta, seperti biasa, ia akan memeluk erat suaminya. Ia sangat merasa nyaman dalam pelukan lelaki kesayangannya itu. "Bang"
"Iya?"
"Besok hasil akhir pengumuman BLUD. Kalau Humai gak keterima gimana?" tanya Humai harap-harap cemas dengan hasilnya esok hari.
Archee menenggelamkan kepalanya di dada Humai. Humai membelai lembut rambut ikal itu. "Jadi ibu rumah tangga pahalanya lebih besar 1000 kali lipat dibanding ibu bekerja sayang. Mau kamu diterima atau tidak, cinta Abang ke kamu gak pernah berkurang sedikitpun. Malah bertambah dan berkembang semakin besar setiap harinya"
Humai tersenyum. Mengecup kening Archee. "Terima kasih"
"Sama-sama" ponsel Archee tiba-tiba berdering. "Kalau ini Agil beneran tak suruh cuti dia"
Humai tertawa mendengarnya. Ternyata chat masuk dari kakak iparnya. Hilal.
Hilal : Oi! Assalamualaikum?
Me : Waalaikum salam, ada apa Mas?
Hilal : Formal banget sih Chee, gak papa, cuma pengen tanya aja. Gimana hubungan mu dengan Humai? Humai beneran belum cinta sama kamu?
Me : 😁 Udah belah duren dong! 🤪🤪🤪
Hilal : Aseeeemmmmm..... piye rasane? Mantap?
Me : 👍👍👍👍👍 Buruan nikah! Nanti rasakan sendiri!
Hilal : Bentar lagi kelar nih! Bikinin aku ponakan yang banyak!
Me : 🤣🤣🤣 kamu kira pabrik atau apa sih?
Hilal : Ya sudah, monggo dilanjut aktivitasnya. Aku malah ganggu nih. Salam buat adekku. Assalamualaikum
Me : Waalaikum salam
Archee meletakkan ponselnya. Melihat Humai yang sedari tadi melihatnya. "Mas Hilal"
__ADS_1
"Ngapain?"
"Nanya tentang hubungan kita"
"Ooohhhh" Humai memunguti pakaiannya dan memakainya kembali. Archee bingung. "Ngapain?"
"Humai lapar bang, pengen bikin sesuatu. Abang mau dibikinin sesuatu gak?" Humai menawarkan pada suaminya.
"Boleh, mau buat apa?"
"Mie rebus pakai telur, mau?" Archee mengangguk. "Cabainya 3 ya sayang" Humai mengangguk. Keluar kamar. Archee memunguti pakaiannya sambil tersenyum.
Ia masih tak percaya sudah bisa memberikan nafkah batin bagi istrinya. "Cinta memangluar biasa, mengubah yang keras menjadi lembut. Cintamu sehangat mentari pagi, seperti pelangi na na na na na..... Asekkkk....." Archee menyusul istrinya ke dapur.
Humai sedang memasukkan mie dalam air panas itu. Menambahkan telur dan mengiris cabai sesuai permintaan suaminya. Archee mendekatinya perlahan dan menyentuh pinggangnya. Membuat Humai terjengkit kaget. "Astaghfirullahal 'adzim. Abang ih.... bikin kaget aja deh"
Archee tersenyum dan memberikan kecupan basah di pipi Humai lalu menjilatnya. "Abaaaang....." Archee tertawa dan duduk di kursi makan.
"Salah kalau Abang jilat?" tanya Archee. "Ya enggak sih"
"Ya udah, gak boleh protes" Humai menghela nafasnya. Menyiapkan mangkuk untuk menyajikan mie rebus itu. Menyajikannya di hadapan suaminya.
Humai mengambil miliknya. Mereka makan berdua. "Bang, teman-teman Abang sudah pada tahu belum kalau Abang sudah menikah?"
"Mmmm..... beberapa sudah, banyak yang belum" Humai mengangguk.
"Mau ngadain selametan gak bang? Ya intinya biar semua teman Abang pada tahu gitu..." Archee menolah dan memperhatikan istrinya. Bertanya-tanya mengapa istrinya tiba-tiba memiliki ide seperti itu.
Ia melanjutkan makannya. "Bukannya kamu yang dulu ngotot gak mau dirayakan? Kenapa sekarang pengen ngadain selametan? Kamu takut Abang digodain cewek lain ya?"
"Uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk" Humai meraih air di gelasnya dan meminumnya. "Ehmm..... Abang ge'er banget siiihhh.... Gak sih, cuma pengen lihat aja teman-teman Abang seperti apa. Ada yang lebih ganteng dari Abang atau tidak?"
"Hahahahah, yang lebih tua banyak! Gih kalau ada yang nyantol di hatimu. Udah lah Mai, ngaku aja.... Kamu takut kan Abang didekati sama cewek lain?" Archee mendesak Humai untuk mengaku. Wajah Humai seketika merah.
"Tuh kan bener..... hahahaha..... Ya sudah kalau kamu maunya ngadain selametan. Nanti Abang undang temen-temen Abang untuk kita jamu. Mau di rumah atau di rumah makan?" tanya Archee.
Humai tersenyum malu. "Ya siapa sih yang pengen suaminya digoda sama cewek lain; Semuanya juga bakalan mati-matian mempertahankan miliknya Abang" terang Humai.
__ADS_1
Archee tersenyum dan mencubit hidung Humai. "Bucin ya?" Humai tertawa. "Jadi, mau di rumah atau dimana sayangku?"
"Di rumah makan saja bang, biar Humai gak kerepotan" Archee mengangguk. "Nanti Abang suruh Agil untuk nyiapin semuanya"
Mie itu pun habis tak bersisa. "Alhamdulillah kenyang" kata Archee. Humai tersenyum sambil memperhatikan perut Archee dan pipi Archee yang agak menggendut. "Kenapa?" tanya Archee.
Humai menggeleng. "Abang gendutan. Nih perut sama pipi menggembung. Perasaan kemarin pas itu..... perutnya gak segendut ini deh"
Archee tersenyum jahil "Pas kapan?" tanyanya memancing Humai.
"Itu..... pas Abang.... keluar dari kamar mandi tanpa handuk!" Humai menutup wajahnya. Membuat Archee tertawa puas. "Memang yang kemarin gimana? Bukannya waktu itu kamu tutup mata rapet-rapet?"
"Ehmmmm..... ngintip tubuh suami sendiri kan halal! Kayaknya agak sixpack ini agak amburadul"
Archee tertawa. "Kamu tahu itu tandanya apa?" Humai menggeleng. Archee membisikkan sesuatu di telinga Humai. "Karena cocok sama su*su nya, lezat!" Mereka berdua tertawa.
Archee menggendong Humai ke kamar mandi. "Mandi panas yuk! Bakar kalori! Biar Abang kembali sixpack" kata Archee sambil menaik turunkan alisnya. Humai tersenyum dan mengecup bibir Archee.
Mereka mandi dibawah guyuran shower air hangat itu. Awalnya memang mandi biasa, dan sekarang berubah menjadi mandi panas!
Mereka melakukan penyatuan kembali di dalam kamar mandi itu. Saling memuaskan hasrat bercintanya.
Selesai mandi, mereka langsung berganti baju dan tidur. "Malam sayang" Archee melayangkan ciuman dan mendatar di bibir dan kening Humai.
"Malam juga sayang. Peluk...." rengek Humai. Archee memeluknya. Mereka sama-sama membaca do'a dan mulai memejamkan mata.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip