Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 58


__ADS_3

Sedang di Magelang, Aylin menunggu di rumahnya. Menunggu Imam untuk menjemputnya. Karena rencananya malam itu, ia akan diperkenalkan dengan orang tua Imam. Degup jantungnya berdebar tak karuan. Ia mondar mandir kesana kemari cemas.


"Ih, kakak nih kenapa sih? Bikin pusing deh" protes Adel yang masih sibuk dengan laporan keuangan. Ia juga batal untuk ke puncak bersama Ilyas karena esok, mereka akan beetolak ke Demak untuk menjenguk ipar mereka.


"Del, ikut aja yuk..... temenin kakak..."


"Hahahah, grogi ya mau ketemu camer? Seorang Aylin yang pedenya selangit bisa grogi?" ejek Adel. Aylin berdecak sebal.


Seseorang mengetuk pintu rumah. Aylin segera membukanya. Ilyas berdiri di ambang pintu. "Assalamualaikum, cie yang mau ketemu sama camer.... semangat ya kak!"


"Waalaikum salam. Masuk gih Yas, Adel di dalam tuh" Ilyas mengangguk dan segera masuk ke dalam rumah.


Tak lama Imam pun datang. Aylin tersenyum melihat mobil Imam memasuki halaman rumahnya. Imam segera turun. Aylin menyambutnya. Ia meraih tangan Imam dan menyalaminya.


"Assalamualaikum" sapa Imam. "Waalaikum salam. Masuk dulu yuk... ada Ilyas tuh di dalam"


Imam mengangguk. Mereka berempat duduk berdampingan. "Dek, mbok ya Abang ini dilihat.... jangan kertas dan laptop aja yang kamu pelototi" Protes Ilyas karena Adel semakin cuek saja padanya.


"Bentar ya....." elak Adel. Ilyas menghela nafasnya kecewa. "Kalian berdua, ikut aja yuk ke Sleman. Nemenin kakak ketemu orang tuanya Mas Imam" ajak Aylin.


Ilyas dan Adel menggeleng bersamaan. "Gak ah" jawab mereka kompak.


"Cie cie cie.... kompak nih ye? Beneran jodoh dong!" Goda Imam. Ilyas hanya tersenyum tipis. Sedang Adel masih saja melihat ke laptopnya.


"E busyet.... bos lele serius amat! Pacar datang noh! Dianggurin bae! Kena srempet perempuan lain baru tahu rasa lho bos!" kata Imam lagi.


"Aku siap-siap dulu ya Mas, ambil tas dan perlengkapan menginap" Kata Aylin. Imam mengangguk. Aylin segera naik ke kamarnya.


"Salam buat Emak dan Bapak ya Mam" kata Ilyas.


"Iya. Nanti aku salamin" Tak lama Aylin pun turun. "Yuk Mas berangkat"


Imam mengangguk. Mereka berpamitan kepada Ilyas dan Adel. "Hati-hati dijalan kak" pesan Adel dan Ilyas pada keduanya.


Imam dan Aylin langsung tancap gas menuju Sleman. Mereka mengobrol dan banyak bercanda dalam perjalanan.


"Telpon Emak dulu Ay" kata Imam.


Aylin hanya mengangguk. "Video call aja Mas. bahaya kalau telpon"


"Oke" Imam memberikan ponselnya pada Aylin. Aylin mencari nomor telpon Emak. Lalu menghubungi. Tersambung dan diangkat.


"Assalamualaikum" sapa Emak dari seberang.


"Waalaikum salam, Mak, apa kabar?" tanya Imam.


"Baik, tumben telpon Emak, kenapa?"

__ADS_1


"Lhah, anak sendiri telpon kok ditumben-tumbenin. Piye sih Emakku sayang?"


"Hilih, kapan mulih??" tanya Emak. "Lha ini perjalanan pulang"


"Mam, kapan kamu bawakan Emak calon mantu? Ingat umur to Mam! Sudah tua juga masih belum nikah! Kamu pikir warisan pusaka Bapakmu yang ada dalam celanamu hanya untuk pipis aja??" kata Emak. Aylin menahan tawanya.


"Weh ngomongnya, iya doain aja bentar lagi Imam nikah. Mau cucu berapa Mak?" tanya Imam.


"Guayamu mau cucu berapa! Calon aja belum ada kok!"


Imam dan Aylin tertawa. "Kalau nanti Imam pulang bawa perempuan piye Mak?"


"Oooo langsung tak panggilkan pak RT, tak suruh nikahkan sekalian"


"Hahahaha. Jan..... Emak tersadis! Mak, kulkas yang kemarin bagus kan?"


"Biasa aja"


"Lhoh. biasa aja darimana? Itu kulkas Imam beli dari Arab lho. Buka pintunya aja bukan pakai gagang"


"Ha? Njur pakai apa?"


"Pakai Assalamualaikum lah, kan belinya di Arab. Udah naik haji lho itu kulkas" Aylin menahan tawanya karena ucapan Imam.


"Gundulmu, kulkas memang gak ada gagangnya Mam! Ngerjain emak nih....."


"Langsung apa?" tanya Emak bingung. Begitu juga dengan Aylin.


"Langsung berubah jadi kurma" Aylin dan Emak tertawa mendengarnya.


"Halu awakmu Mam! Mana ada??"


"Ih, gak percaya lagi. Cobain aja! Mak.... siapkan kamar tamu ya Mak. Imam pulang bawa calon mantu Emak nih"


Emak malah semakin tertawa. "Yeee.... malah ngakak. Nih kalau gak percaya" Imam memberikan ponselnya pada Aylin. Aylin gugup harus berkata apa.


"Ngomong apa Mas?" tanya Aylin. "Sembarang" kata Imam.


"A...assalamualaikum Mak" sapa Aylin gugup. Emak terlihat sangat gembira. "Waalaikun salam, siapa ini?"


"Saya Aylin Mak"


"Pacarnya Imam beneran? Imam gak lagi ngeprank emak kan?" Aylin tertawa mendengarnya. Ia merasa Emak sangat gaul. Hingga tahu istilah anak muda jaman sekarang.


"Gak Mak, kami sedang perjalanan ke Sleman"


"Wokeh, Emak siapin kamar tamu. Emak masakin yang enak! Mam, Emak beli telur dulu, mau Mak masukin kulkas pas nanti kamu sampai udah jadi kurma!" kata Emak semangat.

__ADS_1


Aylin dan Imam tertawa mendengarnya. "Yawes, siapin yang enak-enak ya Mak, assalamualaikum" kata Imam.


"Waalaikum salam" jawab Emak. Aylin tertawa ngakak saat telah selesai telpon. "Ih, niat banget ngerjain Emak. Pakai acara bilang kalau kulkasnya ajaib lagi"


"Hahahah. Begitulah Mas dan keluarga Mas berinteraksi Ay, selalu ada candaan" Imam menggenggam tangan Aylin.


"Weh. Dingin amat tangannya bu dokter" kata Imam.


"Gugup!" jawab Aylin. Imam tertawa mendengarnya. "Grogi ya mau ketemu camer? Biasa aja sih sayang.... Tenang, berdoa semoga dilancarkan. Tapi, kalau dengar Emak tadi ya pasti ACC. Secara, Mas udah dipesan agar segera menggunakan warisan pusaka ini e...."


Aylin tertawa mendengarnya. "Dasar!"


"Seneng banget sih kamu? Tertawa terus"


"Ya gimana? Nanti kalau nangis salah lagi"


"Jangan nangis. Mas gak suka dan gak bakalan mau lihat kalau kamu nangis" Aylin tersenyum mendengarnya.


Imam mengecup tangan Aylin. Perjalanan pun sungguh tak terasa sama sekali. Tahu-tahu, mereka telah sampai di rumah. Keluarga Imam menyambut mereka.


Emak memeluk dan menghujani Aylin dengan ciuman. "Sayang banget sama calon mantum Anaknya aja kalau pulang dibawainnya gagang sapu" protes Imam.


"Hahahah, bosen Emak sama kamu"


"Ay, kenalkan, ini bapak, Andi Bachtiar, Emak, Siwi Rahayu, ini Mas Deri, ini Syifa" Aylin berkenalan satu per satu dengan keluarga Imam.


"Mas, mbak Yul kok gak kelihatan?" tanya Imam. "Ada di dalam lagi nyiapin makanan" Imam mengangguk. Aylin langsung diajak makan oleh keluarga Imam.


"Ini Yul, mantu Emak yang pertama. Kamu mantu emak nomor dua, Tinggal Syifa nanti"


"Masih lama ah Mak..... Syifa masih pengen S2 dulu" elak Syifa.


"Pendidikan sambil berumah tangga juga bisa kali Fa" sahut semuanya kompak.


"Mulai deh paduan suaranya!" Semuanya tertawa. Kecemasan Aylin berakhir, dirinya sangat diterima di keluarga Imam. Tak seperti bayangannya.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2