Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 12


__ADS_3

Bunda Ais mencoba mengajak bicara Humai. Maryam dan Habib yang baru tiba bingung dengan keadaan. Mereka menyalami Ayah Farid. "Ada apa sih Yah?" tanya Maryam.


"Adekmu ngambek! Ayah dibilang pembohong lah, gara-gara nolak lamaran pacarnya. Malah dia melibatkan Mamah Laras dan Papah Duta dalam urusan ini" Ayah Farid duduk di kuris sambil menghela nafasnya.


Habib membawa barangnya ke kamar dan Maryam mengambilkan air untuk Ayah mertuanya. "Minum dulu Yah" Maryam menyodorkan air putih pada Ayah Farid. Ayah Farid meminumnya. "Makasih nak, tolong temani bunda untuk membujuk Humai"


Maryam mengangguk dan segera menyusul Bunda Ais di kamar Maryam. "Bun" Maryam menyalami bunda Ais. "Lhoh, anak bunda pulang? Kok gak ngasih tahu bunda sih sayang? Jangan capek-capek. Ingat kamu lagi hamil 2 bulan lho"


Maryam tersenyum. "Maryam gak capek kok Bun, Bunda temani Ayah saja, biar Maryam yang coba bujuk Humai" Bunda Ais mengangguk. Maryam mengetuk pintu kamar Humai.


"Dek, ini mbak. Masa mbaknya pulang disambutnya begini sih? Calon ponakan kamu pengen ketemu tantenya nih" ceklek. Humai membuka pintunya dan memeluk Maryam sambil menangis.


Maryam menenangkannya. "Cerita sama mbak yuk?" Humai mengangguk. "Kenapa adek mbak sedih?"


"Humai benci sama Ayah!"


"Kenapa bilang seperti itu?"


"Ayah jahat sama Humai mbak, masa lamaran mas Zidni, pacar aku ditolak mentah-mentah sama Ayah. Ayah bilang kalau mas Zidni bukan yang terbaik bagi Humai. Humai benci sama Ayah! Ayah nolak begitu karena gak enak hati sama Mamah Laras dan Papah Duta. Gara-gara bang Archee mau melamar Humai"


Humai menghela nafasnya lega setelah bercerita dengan Maryam. Maryam tersenyum. "Gak baik bilang benci seperti itu. Ayah yang banting tulang demi keluarga kita, memang beliau bukan yang melahirkan kita, tapi, darahnya mengalir di tubuh kita, keringatnya menghasilkan sesuatu agar kita tidak susah sayang.


Coba redam dulu emosi kamu. Cari tahu sendiri mas Zidni itu seperti apa? Cowok kalau di depan kita tidak akan pernah menunjukkan sikap jeleknya dek, tapi, sebisa mungkin kita yang harus mencari tahu sendiri. Kita sama-sama tahu, Ayah punya orang dimana-mana yang bisa melacak identitas orang dengan mudah. Apapun itu, pasti informasi itu akan dengan mudah didapatkan oleh Ayah. Iya apa iya?" Humai mengangguk.


"Nah, jadi, ada alasan kuat kenapa Ayah menolak pacar kamu. Cari tahu sendiri kalau kamu menganggap Ayah bohong. Mbak bukan mau belain Ayah ya, tapi, orang tua kita itu sudah banyak makan asam garam kehidupan. Bisa membedakan mana yang tulus mana yang kurang baik, mana yang pura-pura. Mereka instingnya seperti sudah terlatih gitu lho. Jadi, saran mbak, minta maaf sama Ayah. Cari tahu sendiri buruknya Zidni"


Humai nampak berpikir. "Lalu bagaimana dengan perjodohan ini mbak? Humai gak mau dijodohkan. Humai hanya menganggap Bang Archee sebatas kakak Humai, tidak lebih"


Maryam kembali tersenyum. Ia merebahkan dirinya di ranjang Humai. "Mbak capek, sambil tiduran ya? Orang tua kita hanya ingin yang terbaik bagi kita. Coba kita bandingkan Bang Archee sama Zidni. Dari segi pekerjaan, lebih mapan bang Archee karena dia seorang PNS, dari segi agama, kayaknya kok dalam bang Archee. Dari segi kedewasaan, sepertinya juga bang Archee lebih unggul?"


"Tapi mbak.... hati ini sukanya sama Mas Zidni, bukan sama Bang Archee"


"Hahaha, muna kamu dek, suka sama cinta itu beda sayang. Sudah, coba lakuin aja dulu saran mbak tadi. Cari, cari tahu buruknya Zidni" Humai mengangguk.


"Makasih ya mbak, udah mau dengerin aku" Maryam mengangguk.


"Sama-sama. Fokus sama BLUD dulu, tentang cinta lupakan sejenak. Tapi, bukannya Bang Archee itu naksir kamu sedari dulu ya dek?"

__ADS_1


Humai memutar bola matanya malas. "Bodo!"


"Hahaha, kapan tes BLUD?"


"Sampai hari jum'at besok pendaftaran sekaligus pemberkasan. Jum'at depannya tes akademik"


"Di Demak ditemenin siapa? Abang Archee kah?"


"Ogah! Aku gak usah ditemenin juga bisa sendiri" Maryam tertawa terbahak-bahak.


"Jangan terlalu benci, nanti jadinya bucin. Kayak Mbak Muti dan Mas Sigit. Dulu pada ogah dijodohin, setelah dekat, eh malah gak mau saling lepasin. Lengket kayak perangko!"


"Beda orang! Humai gak bakalan jatuh cinta sama dia! Camat nyebelin! Humai benci sama dia! Dia penyebab semua ini terjadi"


"Jangan menilai orang sebelum tahu kebenarannya sayang, kalau sampai itu gak benar berarti kamu memfitnah orang lho"


Humai diam. "Astaghfirullah..." ucapnya kemudian.


.


Sedang di Demak, Archee menjadi galau. Ia menghubungi Hilal, namun tak diangkatnya. Ia mencoba menanyakan kepada Ayah Farid. Ia menelpon.


Waalaikum salam Archee, alhamdulillah Ayah sekeluarga baik


"Alhamdulillah barakallah, Om, Archee ingin tanya, Humai kenapa ya? Tadi telpon Archee marah-marah dan menangis?"


Itu karena Ayah nolak lamarannya Zidni. Ada sesuatu yang akan terungkap dalam waktu dekat ini Chee, Ayah tidak ingin memberitahukannya pada Humai, dan dia pasti menyalahkan kamu kan?


"Oh gitu, iya om, Humai berpikir itu semua karena Archee, kalau boleh Archee tahu, memang apa yang dilakjkan Zidni hingga om tidak mau memberitahukannya pada Humai?"


Nanti kamu juga tahu sendiri, seluruh Magelang pasti akan tahu, nanti, ada waktunya. Om tidak ingin salah memilihkan jodoh untuk anak om. Chee, Om, ada zoom meeting. Om matikan dulu ya?


"Oh iya om, gak papa, terima kasih informasinya. Nanti kan kalau ketemu Humai, Archee bisa jelaskan kronologinya. Ya sudah, maaf mengganggu waktunya om, salam untuk keluarga. Wassalamualaikum"


Waalaikum salam


Archee menghela nafasnya. Ia mencoba mencari tahu profil Zidni. Melalui bantuan intel di daerah Magelang. "Gak bisa beneran nih?"

__ADS_1


Sorry bro, gak bisa. Bantuan yang lain lah jangan ini


"Hahah, orang aku butuhnya info ini kok. Ya sudah lah kalau tidak bisa memberitahuku. Itu artinya memang dia punya masalah. Itu sudah cukup sih bagi aku"


Iya, sorry ya bro


"Gak papa. Ya sudah, makasih ya bro. Assalamualaikum"


Waalaikum salam


Archee gagal mendapatkan informasi tentang Zidni. Tapi satu hal yang ia yakini bahwa Ayah Farid memang tahu sesuatu tentang Zidni.


"Sib nasib! Jadi kambing hitam buat asmara orang lain! Humai.... Humai..... Bikin pusing saja sih kamu" kata Archee pada dirinya sendiri. Ia melihat kalendernya.


"Minggu balik Magelang, mamah nih maj ngejodohin aku sama siapa.... lagi ah! Makin pusing saja kepalaku! Hish!" kesal Archee pada dirinya sendiri.


.


Hari berganti begitu cepatnya. Hingga minggu pun tiba. Archee menepati janjinya pada orang tuanya. Hari ini ia akan dipertemukan dengan perempuan yang akan dijodohkan dengannya.


"Del, kasih tahu Abang dong siapa orangnya" rengek Archee. Adel tak menggubrisnya.


"Ayo Chee berangkat" Mamah Laras dan Papah Duta sudah siap. Archee menghela nafasnya pasrah. Mereka menuju rumah perempuan itu.


"Ke rumah Ayah Farid" kata Papah Duta. Membuat Archee terkejut. "Ha? Mau ngapain?"


"Ya nglamar Humai buat kamu lah" sahut mamah Laras. "Ha?"


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2