Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 57


__ADS_3

Damar kembali menuju rumah Ali. Berpapasan dengan Habib dan Maryam. Ditertawakan oleh mereka. "Bang Dam, Maris kalah ya sama berkatan??" sindir Habib.


"Hahaha, jenenge wong lali Bib"


Berpapasan dengan Hilal dan Azka. "Ris Maris ayo tak anterin pulang sampai Magelang karena calonmu gak tanggung jawab sama kamu" kata Hilal. Damar hanya bisa tertawa.


"Digebuk pakai serok lele aku nanti Lal, duh dek.... kebiasaan LDR sih, jadi lupa kalau udah gak LDR lagi. Wkwkwk"


Ali dan Hana tertawa melihat Damar yang kembali lagi. Maris sudah bersidekap dengan wajah cemberut. "Hehehehe"


"Maksudmu piye Dam? Maris mau kamu titipin disini?" tanya Hana.


"Hahah, kebiasaan LDR an sih mbak Han, jadi lupa kan"


"Hahaha, motor juga kamu lupa Dam? Ya Allah.... yang kamu ingat itu apa sih Dam?" tanya Ali.


"Berkat. Bercanda. Ya penting kamunya lah" jawab Damar sambil menyengir. "Wes lah, balik wae aku ke Magelang"


"Ojo sayang, senin pengajuan lho"


"Habisnya kamu begitu.... penting berkatnya?" Damar mengangguk. Amaris melotot. Ali dan Hana tertawa melihatnya. "Yok pulang" kata Damar.


Maris berpamitan pada Hana dan Ali. "Hati-hati kalian" kata Ali dan Hana. Mereka berdua mengangguk. Damar mulai melajukan motor meninggalkan kediaman Ali. Mendahului semuanya yang menggunakan mobil.


"Jalan kemana nih?" tanya Damar.


"Terserah kamu aja yank" jawab Maris. Damar menambah laju motornya. Menuju kawasan kota lama. Memarkirkan motornya di area parkir polres. "Mas nyapa rekanan bentar ya?" Maris mengangguk.


Tak lama Damar kembali. "Yuk" Damar menggenggam tangan Maris berjalan perlahan sambil menikmati pertunjukan yang disajikan oleh pesona kota lama Semarang. "Kamu biasa kesini mas?"


Damar menggeleng. "Jarang, paling kalau lagi suntuk tuh ketemu sama bang Si di Polres. Kalau bang Hamka lagi pulang Magelang teman main aku ya anak Polda dan Polres"


"Ooo..... kirain" Damar mengajaknya duduk di sebuah bangku taman. Damar membeli siomay untuk mereka. "Enak gak?" tanya Damar. Amaris mengangguk.


"Mau ke kafe gak?" Amaris menggeleng. "Disini aja"


Sekelompok grup perkusi datang menghampiri mereka berdua. Mohon ijin untuk mengais rezeki. Damar meminta sebuah lagu dari mereka. "Nyanyiin sampai tutup usia" perintah Damar.


Pengamen itu pun langsung memainkan lagu itu. Mereka menikmatinya sambil makan siomay. Lagu pun selesai. Damar memberikan uang 50 ribuan kepada pengamen itu.


"Mau disini atau mau balik?" tanya Damar. Amaris melihat jam. "Balik aja yuk Mas, belum sholat isya juga"


Damar mengangguk. "Tunggu disini, mas ambil motor dulu" Amaris mengangguk. Damar segera bergegas ke Polres untuk mengambil motornya.


Tak berselang lama, ia berhenti di depan Maris. Maris beranjak. Memakaikan helm untuk Maris. Membonceng ke belakang. Motor melaju kembali ke asrama. "Sampai aku tutup usia kan ku jaga dirimu, hingga hari tua. Walau keriput di pipimu terlihat, takkan goyahkan cintaku yang begitu kuat"

__ADS_1


Damar menyenandungkan lagu itu lagi. Amaris tersenyum mendengarnya. "Tenan po rak? Nyatanya tadi aku kalah sama berkat"


"Hahahahah, jelas tenan to sayang..... Kebiasaan kemana-mana sendiri, lupa kalau sekarang udah gak LDR an lagi, makanya.... hahahah. Maaf ya?"


"Iya"


Damar menambah kecepatan motornya. "Mas..... jangan ngebut-ngebut....."


"Mas gak sabar pengen berduaan sama kamu di asrama"


"Ih..... aku gak jadi nginep di asrama deh! Di hotel aja kalau gitu"


"Hahaha, bercanda! Kamu diajak bercanda gak bisa banget sih sayang??"


"Bercandamu gak lucu sih.... Eh, hampir lupa nanyain sama A squad besok mau ke Demak jam berapa?"


"Jangan main ponsel diatas motor, nanti aja kalau udah sampai asrama" Amaris mengurungkan niatnya untuk mengetik chat.


"Pegangan yank nanti jatuh"


"Ha? apa?"


"Pegangan" kata Damar lebih keras.


Amaris berpegangan pada bagian belakang motor. "Udah" katanya. Damar mengerutkan keningnya. Ia melihat tangan Amaris tak melingkar di pinggangnya.


"Di belakang" jawab Maris.


"Allahu akbar.... hahahaha, pegangan pinggang Mas dong"


"Gak ah, belum halal"


"Heleh.... kamu tuh aneh, tiap ketemu cium tangan, boncengan suruh pegangan gak mau. Aneh ih"


Amaris hanya diam. "Yank" panggil Damar. "Yawes lah"


Damar melajukan motornya tanpa berbicara lagi pada Maris. Tak lama, mereka telah sampai di asrama. Masuk ke dalam asrama.


Damar hanya diam saja. Amaris memanyunkan bibirnya, tahu jika Damar sedang marah padanya. "Mas" panggilnya.


"Sholat!" kata Damar sambil mengambil wudhu. Maris gantian mengambil wudhu setelah Damar selesai. Saat dirinya selesai mengambil wudhu, ternyata Damar sudah melaksanakan sholat.


Sumpah! Nyebelin abis kalau ngambek! Dasar Damar!


Akhirnya Maris sholat seorang diri. Setelah selesai ia segera melepas mukenanya dan mencari keberadaan Damar. Ternyata sedang menonton tv dan bermain ponsel.

__ADS_1


"Mas"


"Hmm? Tanya tuh sama kembaranmu, besok ke Demak jam berapa, Bang Hamka mau ikut jenguk katanya"


Maris meraih ponselnya lalu mengirim chat pada Aylin dan Adel. Salah satu dari mereka membalasnya. "Jam 8 dari Magelang, sekitar jam 10an sampai sini"


Damar tak menggubris ucapan Amaris. "Kamu marah sama aku hanya gara-gara aku gak mau pegangan sama kamu?"


"Ya kamu aneh, tiap ketemu salim. Kalau alasan kamu belum halal kenapa pakai acara salim? Ha?"


Amaris diam. Memang benar yang dikatakan Damar. Tapi dirinya tak ingin melanggar lebih jauh lagi aturan Allah. "Sana tidur!" ucap Damar kesal. Amaris beranjak dari sofa dan masuk ke kamar.


Ia tidur di ranjang Damar. Melakukan panggilan video pada Damar. "Apa??" jawab Damar dari ruang tamu.


"Jangan marah, please ngertiin aku. Aku gak mau melanggar aturan yang sudah ada"


"Ambilin seragam Mas yang paling kiri di dalam lemari, Mas mau berangkat piket"


"Ha?"


"Ha ho ha ho, gak denger?"


"Galak amat sih! Iya aku ambilin! Tahu gitu aku nginep di hotel aja!" Maris mematikan panggilan video itu. Mengambilkan baju seragam Damar dan menyerahkan ke Damar yang sudah menunggu di depan pintu kamar.


Damar menerima seragamnya dan segera berganti baju. Amaris membuatkan bekal untuknya. Damar selesai berganti baju, memakai sepatunya. Amaris memberikan kantong tas pada Damar. "Susu hangat sama roti bakar" kata Maris.


Damar menerimanya. Ia telah siap berangkat dinas malam. "Kunci pintunya" katanya. Amaris mengangguk. Damar sudah melangkah keluar pintu.


Maris memanggilnya. Ia menoleh. "Salim" kata Maris. "Gak usah, belum muhrim" jawab Damar datar. Maris menarik tangan Damar dan menyalaminya. Memberikan kecupan di pipi Damar.


"Jangan marah lagi, semangat kerjanya. Bentar lagi halal. Tahan ya??" Amaris segera masuk ke dalam asrama dan mengunci pintunya. Ia mengatur nafasnya dan memegang dadanya. "Berani banget sih kamu Maris....."


Sedang di depan pintu asrama, Damar mematung mendapatkan kecupan hangat di pipinya. Ia menampar pipinya beberapa kali. "Sumpah! Asli sakit lho! Berarti gak mimpi! Wkwkwk, apa aku marah aja terus, biar dikasih kiss lagi. Hahaha"


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2