Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 60


__ADS_3

Subuh menjelang. Aylin telah bersiap kembali ke Magelang bersama Imam. Keluarga Imam merasa masih kurang puas karena Aylin hanya menginap satu malam. Emak merengek agar Aylin ditinggal di rumah saja.


"Mam, Ay Ay tinggal kene wae yo? Awakmu nek ameh muleh, muleh dewe kono. Emak iseh kepingin turu karo Ay Ay (Mam, Ay Ay tinggal sini aja ya? Dirimu kalau mau pulang, pulanh sendiri sana. Emak masih kepingin tidur sama Ay Ay)"


Bapak berdecak mendengarnya. "Lha terus gilirane bapak kapan nek awakmu turu karo Ay Ay terus? Kan ngoyak setoran gaweke adek kanggo Syifa (Lha terus gilirannya bapak kapan kalau dirimu tidur sama Ay Ay terus? Kan ngejar setoran buatin adik buat Syifa)"


Semuanya tertawa mendengarnya. "Nanti kalau Mas Imam dapat IB lagi, Ay Ay nginap sini Mak. Masalahnya, ipar Ay Ay lagi sakit. Kami mau jenguk dulu ke Demak"


"Nunggu Imam dapat IB lama Ay, kamu kalau ada libur main lah kesini sendiri. GPS an kalau takut nyasar. Atau nanti biar diampiri Mas Deri kalau takut sendirian kesininya" balas Mbak Yul.


"Malah ngrepotin nanti Mbak, ya nanti Aylin ajak kembaran Aylin aja deh kalau main kesini" Semuanya mengangguk.


Syifa datang dari arah dalam sambil berteriak. "Mak..... Mak e! Mbak Yul! Mbak Ay! Ayo buat tik tok dulu"


"Astaghfirullah bocah siji iki, iseh subuh lho" protes Emak.


"Halah, biasanya juga sampai jam 1 Emak main tik tok. Ayo, mumpung jalanan masih sepi"


"Maksudmu meh dolanan tik tok ning dalan (Maksudmu mau mainan tik tok di jalan)" tanya Imam. Syifa mengangguk sambil menarik tangan Aylin.


Akhirnya semuanya keluar dari rumah dan berada di tengah jalan. Bapak celingukan mencari sesuatu. Bapak menyuruh Deri untuk mengambil sapu lidi, pengeruk sampah alias engkrak, tong sampah, dan selang air.


"Buat apaan nih pak?" tanya Imam. "Properti" jawab Bapak. Deri memegang sapu lidi yang ia gunakan sebagai gitar. Imam memegang selang yang ia gunakan sebagai mic. Bapak memegang engkrak yang digunakan piano. Dan Syifa memegang tong sampah yang digunakan sebagai gendang.


Yul bertugas merekam. "Lagu apa Fa?" tanya Emak.


"Yang gampang aja, mengapa semua menangis aja" jawab Syifa. Yul mengatur posisi mereka agar semua terlihat di kamera. "Mam, kamu tengah kanan Emak, kiri Ay Ay. Bapak, Syifa sama Mas Deri di depan Imam duduk ya"


Semua pada posisi masing-masing. "Nanti Imam yang nyanyi. Pas kata biasa lah, semuanya judas ke Imam yak?" Semuanya mengangguk paham.


Musik dimainkan. Yul mulai merekam. Imam mulai menyanyikan lagu itu. Dan semuanya menjawab sesuai skenario. Dan video itu pun selesai. Aylin tertawa melihat hasil rekaman itu. Semuanya kompak dan tak ada yang malu-malu.


Aylin dan Imam segera pamit. Emak membawakan makanan untuk mereka. "Bilang sama orang tua kamu, Bapak sama Emak seminggu lagi datang melamar kamu" kata Emak.


Aylin dan Imam saling toleh. "Emak merestui Aylin sama Mas Imam?" tanya Aylin senang. Emak dan Bapak mengangguk.

__ADS_1


"Iya lah, Emak udah sreg sama kamu" Aylin memeluk Emak. "Makasih ya Mak"


"Emak yang makasih sama kamu, mau sama anak Emak. Emak kira itu warisan pusaka nunggu lumutan dulu baru mau dipakai sama dia"


Semuanya tertawa. "Enak aja lumutan! Gak lah!" balas Imam tak terima. "Ya sudah, Imam dan Aylin balik dulu Mak. Nanti kalau ada libur Imam balik lagi"


"Gayamu bolak balik mas. Nyatanya?" sanggah Syifa


"Beda Fa, kalau kemarin kan belum ada jawaban dari pertanyaan Emak. Kalau sekarang kan sudah ada. Jadi kalau mau balij sudah aman dari gagang sapu"


Semuanya kembali tertawa. Mereka berangkat ke Magelang kembali. Aylin melihat beberapa truck berjajar di samping rumah Imam. "Itu truck siapa Mas?"


"Hmm? Oh itu, punya keluarga. Biasanya disewa orang buat angkut pasir dari Muntilan" Aylin mengangguk. "Mas bukan mau sombong nih, Emak dan Bapak juga punya sawah 3 hektar, sama kafe. Mas Deri dikasih tanggung jawab ngelola truck itu dan sawah 1 hektar. Mas dikasih tanggung jawab ngelola kafe. Syifa sisa dari sawah tadi"


"Ooo..... berarti mantanmu dulu salah sangka dong ya? Dikira kamu gak punya apa-apa?" Imam mengangguk.


"Cantikan aku apa mantanmu Mas?" tanya Aylin.


"Mas udah lupa sama wajahnya. Yang jelas, perasaan Mas sepenuhnya buat kamu"


"Gombal!" kata Aylin menahan senyumnya senang. "Bukan gombal Ay, Mas beneran! Suapin makanan dong, laper nih"


Ia menyuapi Imam dengan telaten. "Kalau kembaran kamu yang satu lagi siapa namanya?"


"Amaris. Calonnya polisi. Satu kantor sama suaminya Shanum"


"Ooo.... di Polda berarti ya? Busyet, anak mantan menteri dapatnya abdi negara semua kecuali yang laki"


"Ya namanya juga jodoh? Mau gimana? Kamu tahu gak Mas? Ilyas pernah mau ngenalin aku ke kamu, tapi aku nya bilang, abdi negara ya? Aduh Yas, aku kalau sama abdi negara ngeri-ngeri sedap"


Imam tersenyum. "Kenapa? Kamu takut kalau ditinggal mati?"


"Ih! Ngomongnya! Jelek banget sih!"


"Jangan takut, kalian adalah alasan kami untuk kembali dalam keadaan hidup. Kematian itu memang ada dan pasti akan terjadi Ay, jangan khawatir. Kalau kita tidak berjodoh di dunia. Berdoalah kita berjodoh di akhirat" kata Imam. Aylin menggeleng.

__ADS_1


"Aku maunya jodoh sedunia dan seakhirat sama kamu Mas" Imam menoleh dan tersenyum. "Aamiin. Udah siap jadi Persit?"


Aylin mengangguk. "Berarti udah siap ditinggal tugas dong ya? Mas hanya pesan satu hal sama kamu. Kasih kepercayaan penuh untuk Mas, Mas akan jaga sampai mati"


"Iya"


"Jangan cengeng kalau ditinggal tugas"


"Iya, udah ah ngomongnya tugas mulu. Emang mau berangkat tugas?" Imam menggeleng. "Tapi itu pasti terjadi nduk cah ayu"


"Iya. Mas, keluarga kamu asyik banget sih. Hahaha. Betah deh jadinya"


Imam tertawa. "Cie yang udah siap jadi calon mantunya Mak Siwi. Eh, tadi malam Emak cerita apa aja?"


"Kepo ih"


"Hahahaha" Mereka berdua tertawa bersama. "Serius Mas nanya, Emak tadi malam cerita apa? Bukan hal yang memalukan, bukan?"


"Mmmm, Mak cerita waktu SMA kamu tuh pernah nembak guru perempuan kamu sampai kamu minta sama Emak dan Bapak suruh ngelamarin ke rumah itu guru. Apa lah kata emak tadi ya? Bocah sodrun!"


"Hahahahahaha" Imam tertawa keras mengingat hal itu. "Cinta monyet itu Ay. Kalau diingat-ingat memang gila kelakuan Mas, nyuruh Mak dan Bapak nglamarin itu guru. Hahahaha"


"Dasar!"


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


Maaf ya kalau kurang greget. Radang, Vertigo, darah rendah othor kumat berbarengan. Baru busa jenggelek tadi sore. Masih gluyur2


__ADS_2