Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 86


__ADS_3

Azka terdiam sesaat. Hilal menghela nafasnya. "Mamas harus ngomong gimana lagi biar kamu percaya cah ayu? Sumpah! Kalau ada rasa antara Mamas dan Aylin, sudah dari dulu Mamas halalin dia"


"Yakin??" tanya Azka lagi.


"Astaghfirullah Yank..... masih gak percaya sama Mamas??" Hilal pasrah. Ia memukul-mukulkan kepalanya di setir mobil. Azka tertawa melihatnya.


"Jangan dipukul-pukulin kepalanya.... Nanti sakit gimana?" Hilal menoleh padanya. "Mamas pusing cara menjelaskannya ke kamu"


Azka tertawa mendengarnya. "Malah tertawa! Senang kamu lihat Mamas pusing??"


Azka menarik bahu Hilal. "Enggak.... aku gak mau Mamas sakit. Iya deh iya aku percaya sama Mamas. Maaf ya?"


Hilal tersenyum. "Alhamdulillah.... cuma kamu mbak Kowad, yang mampu menggetarkan hati seorang Baihaqi Hilal Makarim"


"Jiaaah....... Hahahahahaha, gombal!"


"Ya Allah..... kita ngomong jujur dibilang ngaousi! Kita ngomong apa yang kita rasakan dibilang gombal! Dasar wanita!" kata Hilal. Azka tertawa terbahak-bahak mendengarnya.


Hilal menikmati tawa itu. "Senang? Senang banget?" Azka mengangguk. "Makasih sudah membuatku selalu tersenyum"


"Sama-sama. Terima kasih juga sudah percaya sama Mamas. Sudah malam, sampai asrama istirahat. Gak usah mikir macam-macam. Mas dan Aylin beneran hanya sebatas sahabat. Gak ada perasaan lebih ke dia. Mas selalu datang saat acara penting dia, karena dia juga baik sama Mamas. Nanti lah, Mamas ceritakan semuanya tentang kami" terang Hilal kepada Azka.


Azka mengangguk. "Ya sudah, aku turun ya? Mamas juga hati-hati bawa mobilnya. Beri kabar setelah sampai"


Hilal mengangguk. "Eh sampai lupa kan Mamas mau ngasih tahu tentang wisuda Mamas. Jadi, tiga minggu lagi Mamas wisuda. Kamu.... mau kan jadi pendamping wisuda Mamas?"


Azka tersenyum malu. "Jangankan pendamping wisuda, jadi pendamping hidup kamu pun aku mau kok" katanya sambil menutup wajahnya. Hilal tertawa mendengarnya.


"Ih, kok malu sih? Jangan malu dong! Makasih ya?"


"Makasih apa?" tanya Azka. "Terima kasih sudah mau menjadi pendamping wisuda Mamas dan menjadi pendamping hidup Mamas nantinya"


"Sama-sama. Ya sudah, aku turun dulu. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam cah ayu"


Azka turun dari mobil dan melambaikan tangannya. Hilal tancap gas meninggalkan Batalyon.


.


Adel masuk ke kamarnya. Hendak membersihkan dirinya dari make up dan berganti pakaian. Ponselnya berdering. Matanya seketika membelalak lebar. Ia tak percaya dengan nama yang muncul di layar ponselnya.


Ia mengerjap-kerjapkan matanya. Memang benar yang muncul adalah nama 'Abang'. Ia tersenyum senang. Segera ia mengangkatnya. Muncul wajah seorang yang sekarang teramat ia rindukan.


"Assalamualaikum, eh, cantik benar!" sapa Ilyas.


"Waalaikum salam, tunggu 15 menit Adel ganti baju dulu" jawab Adel.


"Jangan ganti dulu. Abang pengen lihat si cantiknya Abang nampak anggun dalam balutan kebaya. Nanti foto ya? Kirimkan ke Abang" Adel tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


"Apa imbal baliknya buat Adek?" tanya Adel.


"Adek minta apa dari Abang? Jangan minta Abang cepet pulang, karena itu tidak akan mungkin bisa Abang wujudkan untuk sekarang"


Adel menggeleng. "Mmm.... minta foto Abang juga dooong......" katanya malu-malu. Membuat Ilyas tertawa gemas melihat tingkahnya.


"Iya nanti Abang kirimkan. Mau pose terganteng apa terjelek?" tanya Ilyas mencoba menggoda Adel. Adel tertawa lepas memdengarnya. "Lhah, serius Abang nanya, mau yang pose gimana?"


Adel nampak berpikir. "Mmm.... pose yang lain dari pada yang lain" kata Adel akhirnya. "Oke nanti Abang kirimkan"


"Abang...."


"Iya?"


Mereka sama-sama terdiam. Lalu tertawa. "Ih, kenapa tertawa sih?" tanya Adel. "Ada yang lucu?"


Ilyas menggeleng. "Ya kamu kenapa tertawa?"


"Gak papa, lucu aja.... Eh, tapi kok Abang bisa video call Adek? Katanya tiga minggu lagi" protes Adel mengingat perkataan Ilyas.


"Abang sedang patroli malam di desa yang mana disini ada jaringan. Ya sudah, Abang coba hubungi kamu. Berarti tadi acara lamaran Imam dan Damar ya?"


Adel mengangguk. "Gak pengen seperti mereka kah?"


"Hmm?? Siapa? Aku??" tanya Adel. Ilyas mengangguk. "Ya..... ya.... ya..... pengen lah, tapi orangnya lagi jauh.... di Malaka" ungkapnya malu-malu.


Mereka kembali tertawa. "Pulang dari Malaka, pengajuan sama Abang ya Dek??"


Adel tertawa "Bang"


"Apa sayang??"


"Cepet pulang.... Adek.... kangen"


Ilyas tersenyum. "Abang pun merasakan hal yang sama. Sampai terbawa mimpi"


Adel menahan senyumnya. Ia ingat betul semalam ia berteriak dengan keras saat memandang rembulan. "Oh ya??"


Ilyas mengangguk mantap. "Beneran! Abang mimpi kamu sedang manggil nama Abang, dan bilang bahwa kamu rindu Abang"


Ilyas melihat jam di tangannya. "Bobok gih, sudah larut malam" Adel menggeleng. Ilyas malah tertawa melihat jawaban Adel. "Abang temani"


"Adek masih pengen ngobrol sama Abang" terang Adel. "Cie.... segitu kangennya sama Abang?"


"Memang Abang gak kangen sama Adek?"


"Ck, kan sudah Abang bilang Dek, Abang kangen sama kamu. Setiap hari kangen dan pengen ketemu terus sama kamu"


Adel merebahkan dirinya di ranjang. "Eh, foto dulu..... kirimkan ke Abang!"

__ADS_1


Adel bangun kembali. Ia berlari ke kamar Amaris. Hingga Amaris terkejut melihatnya. "Ada apa sih Del??"


"Fotoin buruan, kirim ke nomorku..... cepetan Maris!"


Amaris segera mengambil ponselnya dan mengikuti kemauan Adel. "Yang bagus lho ya" kata Adel.


"Bawel ih, buat siapa sih fotonya?"


"Aku lah!" katanya. Ilyas hanya tersenyum mendengarnya. Adel berpose sedang duduk anggun di kursi. Tersenyum lebar"Sudah?" tanya Adel. Amaris mengangguk. "Nanti kakak kirimkan"


Adel mengangguk. Hendak keluar dari kamar Maris. "Eeeh.... bentar Dek, Abang belum ngucapin selamat buat Kak Maris!"


Amaris tersenyum jahil pada Adel. "Cieee.... yang ditelpon mantan! Ups.... salah! Kan sudah. balikan lagi.... Hahahahah"


Ilyas tertawa mendengarnya. "Ehmm.... Kak, selamat ya, semoga acara akad dan resepsinya lancar. Maaf gak bisa datang" terang Ilyas.


"Terima kasih calon ipar! Buruan balik lu! Nikahin adik gua!"


"Gak usah disuruh!" jawab Ilyas. Mereka tertawa. Adel agak tak suka melihatnya. "Busyet! Si cuek bisa cemburu buta!" kata Amaris. Aylin datang karena mendengar keramaian.


"Wooo.... ternyata lagi divideo call sama yang jauh..... pantesan ramai! Cieeee" goda Aylin.


Ilyas juga mengucapkan selamat kepada Aylin. "Bilangin ke Imam, pulang ditantangin Ilyas binsik gegara berani godain Adel!"


Amaris dan Aylin tertawa. "Segitu cintanya sama Adel sampai gak boleh banget dia dilirik sama yang lain??" goda Amaris.


"Jelas dong! Sudah! Jangan godain Abangku terus!" jawab Adel sambil berlalu meninggalkan mereka. "Hahahahah,,, dia cemburu!" kata Aylin dan Amaris.


Ilyas tersenyum senang mendengar pernyataan Adel. "Coba Dek, ngomong yang tadi lagi"


"Yang mana?"


"Ck, yang sesaat sebelum kamu balik ke kamar!"


Adel nampak berpikir. "Jangan godain siapa??"


"Abangku" jawab Adel. "Aduh..... bergetar hati Abang Dek! Lagi lagi lagi"


"Iya Abangku sayangg......"


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2